Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Tidak Usah Baper!

Bukankah hidup ini indah? Seindah wajah pak bosnya pagi ini yang tampak bersinar―sangat berkebalikan dengan dirinya. Raesha bukanlah orang munafik yang tak mengagumi wajah tampan Anugrah, dia bahkan sempat merona ketika memandangnya, tetapi itu tak akan berlangsung lama.

Seperti biasa di pagi hari, Raesha akan menyuapi Anugrah sementara pria itu bekerja. Hal itu tak membuat Raesha kesal. Hanya saja saat ini, Raesha disuruh memotong kuku Anugrah, bahkan kuku kakinya yang alot. Kuku pak bosnya tak bau, tetapi Raesha merasa kesal karena ia seperti bukan sekretaris saja. Anugrah mungkin menganggap hari ini indah, tetapi tidak dengan Raesha.

"Sudah?" tanya Anugrah, ketika Raesha selesai memotong kuku kaki jari kelingkingnya. "Gosok biar tumpul."

Ampun! Bolehkah Raesha memotong jarinya saja?

Laporan yang diberikan Anugrah sudah selesai ia kerjakan, membuat pria itu puas membacanya pagi ini. Namun, kuku-kuku si Anu telah menghancurkan kebanggaan akan dirinya sendiri.

"Kenapa wajah kamu ditekuk begitu?"

Tak tahukah siapa yang membuatnya seperti ini?!

"Kamu ada masalah?" Anugrah bertanya lagi. Meniup kuku tangannya yang sudah tumpul.

"Tidak ada, Pak." Raesha beralih ke kuku kaki Anugrah. Wajahnya diusahakan agar terlihat normal walau hati tengah merutuk.

Gosok-gosok dengan hati-hati, takut Anugrah menendangnya karena kesakitan. Anugrah itu seorang pria, tentu tendangannya bisa membuat Raesha terpental jauh. Selesai melakukannya, Raesha memasang kaus kaki Anugrah, lalu sepatunya.

Dia bahkan belum pernah melakukan hal tersebut kepada orang tuanya. Lebaran di desa, paling juga hanya sungkeman. Lha, ini? Pak bos memang luar biasa!

"Kamu cuci tangan dulu."

Raesha menurut. Pergi ke toilet di ruangan itu guna menghilangkan bakteri yang tertempel di tangannya dari kaki pak bos. Beruntung kaki pak bosnya terlihat bersih dan mulus, sehingga tak perlu menghabiskan banyak sabun.

Entahlah apa yang akan diinginkan Anugrah selanjutnya. Toh Raesha bisa apa?

"Copy semua ini, lalu berikan pada divisi keuangan," ucap Anugrah, saat Raesha sudah berdiri di depannya, dan memberikan beberapa lembar kertas.

Alis Raesha mengernyit ketika membacanya. "Kenapa? Bukankah semuanya sudah―"

"Berikan saja!"

Raesha mengangguk, tak bisa membantah atasannya. Dia tak berhak mengatur Anugrah walau dia adalah sekretaris pria itu. Apapun itu, Raesha hanya bisa menuruti dan membantunya.

***

"Raesha! Kau merasa tidakak punya hutang dengan kita?"

Raesha melongo, bingung dengan yang Ava katakan. Hutang apa? Bukankah semua makanan dan minuman yang ada di kantin ini gratis? Atau ... dia pernah meminjam duit?

"Hutang apa?" tanyanya bingung.

Kantin sudah mulai terisi penuh, Raesha menoleh ke arah orang-orang yang mengantre makanan di depan sana, takut-takut mereka memberikan uang pada pegawai kantin. Namun, tidak ada dari mereka yang mengeluarkan uangnya sepeser pun.

"Kau benar-benar nggak tahu? Tidak bertanggung jawab!" Nimas menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mana aku tahu. Ucapan kalian ambigu."

Tangan Ava sudah ada di depan wajahnya, menunjukkan ketiga jarinya. "Tiga hari. Mana update tentang pak bos?"

Oh ... masalah itu ....

"Tidakak ada update terbaru. Sama saja. Dia masih minta yang aneh-aneh," jawab Raesha malas.

Lagi pula, dia tidak mau membeberkan penderitaannya selama jadi sekretaris. Ampun! Pak bos memang selalu membuatnya kesal, tetapi tidak baik membicarakan kejelekan pak bos di kantor―terkecuali memang harus.

"Yakin?" Ava tampak tak puas. "Tidak ada berita tentang perjodohan, atau ... saudara yang kembali setelah lama berpisah, gitu? Atau apalah?"

Raesha harus menambahkan julukan pada mereka berdua: Si Kepo Akut, dan Ratu Gosip kedua setelah Karin dan antek-anteknya. Ingat si mbak berkacamata yang ditemuinya pertama kali? Namanya Karin.

"Tidak ada. Aku nggak pernah dengar, tuh. Ngomong-ngomong, di mana Elvan?" Raesha mengalihkan pembicaraan. Bisa gawat jika ada orang yang nanti melaporkan gosip mereka pada pak bos. Bisa hilang pekerjaan sekretarisnya.

Sudah beberapa hari ini Elvan dan kekasihnya, Adisa tidak bergabung bersama mereka. Raesha bukannya tak tahu ke mana mereka, hanya saja dia sedang tak mau kehilangan mood makannya gegara pembahasan tentang Anugrah.

"Biasalah. Elvan berusaha jadi pria gantle, traktir Adisa ke restoran. Tidak elit sekali membawa pacar traktiran di kantin yang menyediakan menu makan gratis."

"Kalau nggak mau gratis, bayar dong, Mbak." Pegawai kantin tiba-tiba menimpali tanpa menoleh ke meja mereka.

"Elah, Bang. Nggak usah baperan!" Ava melirik sinis pada pria berpakaian biru tersebut. "Aku nggak ada mood buat makan!"

Raesha melongok ke dalam mangkuk Ava, lalu saling berpandangan dengan Nimas. "Makananmu sudah habis," ujar Raesha malas.

"Niatnya aku mau nambah. Tapi mendengar pegawainya begitu, hilang deh, selera makanku." Tangannya menarik tisu di depannya, lalu mengelap mulutnya hati-hati takut lipstiknya hilang.

"Nggak usah baperan!"

Karena tidak ada bahan obrolan, jadilah mereka membicarakan hal yang tidak penting. Ava yang katanya tidak mau tambah soto, dia memesannya lagi dan terjadi adu mulut singkat dengan pegawai kantin yang mendengar sindirannya tadi.

Karena kantin ini disekat dengan kaca transparan, mata tajam Nimas menangkap sesuatu di koridor sana. Mencolek Raesha dan Ava, dia memberitahukannya, mengabaikan protesan Ava tentang daging sotonya yang kembali tercebur.

"Pak Anu sama siapa, tuh?"

Di sana, Raesha bisa melihat Anugrah tengah berjalan bersama seorang wanita yang menggandeng mesra tangannya. Tak hanya mereka bertiga yang memandangi objek tersebut, beberapa pegawai kantin pun teralihkan. Lihatlah wanita yang duduk di dekat sekat, ia tampak merapalkan umpatan bagaikan mantra penolak bala.

Rupanya, kejadian yang berlangsung beberapa menit tersebut berdampak besar bagi pegawai yang mengidolakan Anugrah. Karin sudah beraksi dengan mulutnya. Dan Ava bersama Nimas menatap Raesha menunggu jawaban.

"Sumpah! Aku tidak tahu." Sudah berapa kali ia mengatakan kalimat tersebut, tetapi mereka tidak percaya.

"Masa tidak tahu."

"Kau pikir aku ibunya?"

"Yaelah. Nggak usah baper!"

"Siapa yang baper?" Rasa-rasanya, Raesha ingin menusuk mata kedua temannya. Dia bahkan terkejut melihat Anugrah berjalan bersama wanita tadi. Entah siapa dia, yang pasti wanita itu punya hubungan dengan Anugrah. Pacar? Tunangan? Atau ... simpanan?

Simpanan dari siapa?

Jika keluarga, pasti tidak seperti yang ia lihat, bukan?

Ponselnya berdering, dan mendapati nama Anugrah tertera di layar gawainya. Tanpa berlama-lama, Raesha segera menerima panggilan tersebut. Sudah pasti hal penting. Siapa tahu ia diberi kesempatan melihat wajah wanita tadi.

"Ke ruangan saya!"

Telepon dimatikan, tak mengizinkan Raesha menjawabnya.

"Pak bos?" tanya Nimas.

Raesha mengangguk. "Aku duluan."

"Jangan lupa informasinya."

***

Seindah-indahnya kue, belum tentu enak rasanya. Raesha hampir lari terbirit-birit saat ia baru memasuki ruangan Anugrah dan dihadiahi pelototan tajam dari wanita yang masih menempel pada pria itu.

Dari pandangan pertama saja, Raesha bisa melihat kalau wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Wajahnya Raesha akui cantik, mengingatkannya pada Adisa. Namun, Adisa lebih cantik dari wanita dedemit itu. Rambutnya pirang pucat, dan polesan wajahnya membuat Raesha membatin. Make up mahal, tetapi pemborosan.

Hidup ini bukanlah untuk bersaing siapa yang lebih cantik. Raesha risih ditatap merendahkan dari ujung kaki sampai rambut oleh wanita itu. Entah siapa namanya dan siapa dia, Raesha sudah menganggapnya sebagai musuh.

"Raesha, ada tugas untuk kamu." Anugrah masih berdiri, tampak risih dan berusaha melepaskan gandengan tangan lentik seperti ular itu. "Hubungi keamanan dan suruh mereka datang ke ruangan saya."

"Baik, Pak." Entah kenapa, hati Raesha terasa lega mendengarnya. Mungkin karena ia tak perlu membuang tenaga untuk mengusir mbak itu ... atau yang lainnya?

Tanpa menunggu lama, Raesha segera menelepon keamanan.

"Kamu jahat!" jerit wanita itu, suaranya melengking sampai-sampai kepala Raesha sakit, tangannya makin mencengkeram erat lengan Anugrah.

"Aku tidak akan main fisik dengan wanita. Apa kau mau aku pukul?" Perkataan Anugrah terdengar kasar, tetapi Raesha senang mendengarnya.

"Atau kau mau dipukul sama sekretarisku."

Nah loh ... nah loh? Kenapa Raesha dibawa-bawa?

"Kenapa? Apakah aku kurang cantik di mata kamu?" isak wanita itu, pipinya sudah basah karena air matanya berderai.

"Ya," jawab Anugrah tanpa mau memandang wanita yang menggelayut di lengannya. "Sekretarisku bahkan lebih cantik dari kau."

Rona merah di pipi Raesha langsung hilang saat wanita dedemit itu menatap tajam dirinya, lalu mulai mengamatinya lagi dari ujung kaki hingga rambut.

"Seriously? Dadanya bahkan nggak kelihatan."

Siapapun tolong pegang lengan Raesha! Hampir saja Raesha berlari ke arah wanita dedemit itu dan mencakar wajahnya, beruntungnya ia bisa menahan diri.

Setelah mengatakan dada, mbak dedemit merapatkan posisinya pada Anugrah, berusaha menggodanya dengan tubuh berlekuk. Namun, Anugrah bukanlah pria hidung belang. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal semacam itu. Ingin sekali dia mendorong wanita itu, tetapi tidak bisa karena tenaganya seperti magnet, dan ia pun tak mau berbuat kasar.

"Aku tunangan kamu, ingat?"

Otak Raesha macet. Galat. Loading lama.

Tunangan?

TUNANGAN?!

Woah .... Berita besar!

"Kau bukan tunanganku!"

Raesha tahu. Pertunangan ini pasti atas nama paksaan. Tidak mungkin wanita itu bersikeras sementara Anugrah menolaknya. Bisnis, misalnya? Penyatuan dua perusahaan dengan cara pernikahan. Seperti di novel dan drama. Klise!

Hampir saja Raesha kelepasan tawa, tetapi syukurlah, keamanan telah tiba, dan wanita dedemit itu berteriak kesetanan saat diseret paksa oleh pak berkumis. Lengan Anugrah bahkan terasa sakit, dan Raesha hampir terkena cakaran kuku tajam wanita itu jika ia tak segera menghindar.

Hening. Setelah wanita dedemit itu pergi, Anugrah duduk di kursi kerjanya, sementara Raesha masih berdiri di tempat. Ingin sekali Raesha bertanya mengenai kejadian tadi, tetapi itu bukanlah urusannya. Lagi pula, untuk apa ia bertanya? Untuk dibagikan kepada Ava dan Nimas?

"Kamu mendengar yang tadi?" tanya Anugrah, berhasil menghentikan lamunan Raesha.

Raesha mengerjap. "Iya? Ada apa, Pak?"

Anugrah terdiam, tak langsung menjawab. Namun, Raesha tetap menunggu dengan sabar. Mungkin Anugrah mengatakan sesuatu selagi ia melamun.

"Tidak ada. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu."

***

Sore. Pulang tepat waktu. Tak ada lembur untuk hari ini. Raefal seperti biasa menjemput Raesha dengan motornya. Sebelum itu, Nimas menyempatkan diri menggoda Raefal, tetapi pria itu dengan sok bersikap dingin, yang mana telah membuat Nimas semakin terpesona olehnya.

Abangnya sedang baik. Membawa Raesha ke tempat makan, tentu Raefal yang membayar. Namun, hanya makanannya saja, tidak dengan minumnya. Raefal memang kampr*t!

"Aku capek." Raefal merebahkan dirinya di atas sofa, setelah selesai mandi dan berpakaian. Kerjaannya memang duduk dan sesekali berjalan, tetapi badannya serasa remuk hanya karena duduk di depan komputer.

Raesha sudah antisipasi mendengar ucapan Raefal.

"Tolong pijat badanku." Air muka Raesha berubah keruh, "'Kan, aku udah traktir kau."

Ada udang di balik batu!

"Ogah!"

Kakak sepupunya pikir, Raesha juga tidak lelah? Kerjaannya bahkan lebih berat. Anugrah tak membiarkannya duduk santai, dan terus menyuruhnya ini-itu.

"Pelit amat!" ujar Raefal tak terima. Tangannya meraih remot di atas meja, dan menyalakan televisi dengan malas.

Namun, suara ketukan pintu berhasil membuat Raefal bangkit. "Siapa itu?" Kewaspadaan dalam dirinya bangkit, menerka-nerka, atau sudah bisa memastikan siapa yang ada di balik pintu itu. Jika apa yang ada di dalam kepalanya benar, Raefal sudah siap dengan segala hal pengusiran.

"Mana aku tahu." Raesha berdiri hendak membukakan pintu, tetapi Raefal mencegahnya. Siapa tahu itu Anugrah―Raesha sudah mawas. Jika Raefal yang membukanya, akan terjadi perdebatan yang bisa membuat tetangga melempar sapu kepada mereka.

"Katanya capek. Sudah, biar aku saja."

Raesha kalah cepat dengan Raefal. Pria itu sudah melesat meninggalkan sarungnya yang teronggok di lantai, dan Raesha segera menyusulnya, takut terjadi sesuatu.

Kakak sepupunyanya sudah menganggap Anugrah sebagai musuh. Banyak hal yang menjadi alasan Raefal membencinya, salah satunya ialah: Anugrah selalu meminta hal seenak jidat, membuat Raefal iri.

"Bang Rea?" Jelas itu bukan Anugrah. Jika bosnya memanggil Raefal dengan sebutan seperti itu, wajah Anugrah mungkin sudah basah karena semburan ludah dari Raefal.

"Kenapa ketuk pintu?"

Biasanya, Elvan tak akan repot-repot untuk mengetuk pintu indekosnya―terkecuali pintunya terkunci. Dan entah kesasar dari mana, Elvan justru melakukannya.

"Belajar sopan."

"Ampun ...! Kau kena mantra?"

Elvan tersinggung mendengar perkataan Raesha. Memangnya, dia pria bar-bar yang tak tahu sopan santun? Dasar sahabat kampr*t!

"Abang kapan ke sini?" tanya Elvan, mengabaikan Raesha yang masih mencemoohnya.

"Seminggu yang lalu."

"Kenapa aku nggak tahu?" Kini, pria itu menatap Raesha.

"Lha? Memangnya penting, ya?" Raesha menekan tombol remot, mengganti saluran televisi yang lebih menarik.

"Tidak juga, sih. Eh, by the way, kau kangen aku, tidak?" Pertanyaan Elvan sungguh tidak masuk akal bagi Raesha. Namun, alasan pria itu datang ke indekosnya begitu masuk akal dilihat dari bawaannya. Banyak sekali makanan, Raefal sudah penasaran dan mulai membukanya.

"Nggak, tuh." Mata Raesha melirik pada kantung plastik yang disambangi tangan Raefal.

Tahu apa yang sedang Raesha lirik, Elvan memindahkan bawaannya ke samping kanan, membuat Raefal hampir protes. "Tidak, ya? Gimana kalau Abang?"

Raefal mengangguk tak acuh. Namun, tindakan di luar kesadaran dirinya ternyata memberikan hal yang bagus.

"Nih, Bang. Martabak buat Abang." Kotak itu isinya martabak. Melihatnya diberikan kepada Raefal, membuat Raesha protes.

"Lho? Buat aku?"

"Nggak ada. Sold out!" Tangan Elvan menyilang di depan dadanya, menyeringai ke arah Raesha.

Biarkan saja. Elvan ingin memberi pelajaran pada Raesha karena telah membuatnya kesal.

Namun, dia datang ke sini dengan tujuan.

"Aku mau curhat sama kamu."

"Ogah!" Raesha merajuk, dan Elvan mendesis, sementara Raefal memakan martabak dengan tenang.

Siapa dulu yang membuat Raesha kesal? Harusnya, kalau ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya, tidak usah bersikap menyebalkan.

"Bang, martabaknya bagi dua sama Raesha."

"Tidak!"

Nasi sudah menjadi bubur.

Raefal dan Raesha jika sudah dihadapkan dengan makanan, tidak bisa diganggu. Elvan meringis, menyesali perbuatannya.

"Aku serius, Sha," ucap Elvan tampak lelah, menyugar rambutnya lemas, lalu menatap Raesha.

Jika Elvan sudah seperti itu, dia serius akan ucapannya. Entah apa yang akan dibicarakan Elvan dengan Raesha, yang pasti itu bukan hal yang bagus.

"Ayo!" Dengan tiba-tiba, Elvan menarik lengan Raesha hingga gadis itu hampir terjatuh ke lantai.

"Mau ke mana?"

"Kau tidak mendapatkan martabak, tapi aku membawamu makan. Aku butuh teman curhat, cuma berdua."

Perkataan Elvan membuat Raefal tersinggung. Oh ... jadi keberadaannya di sini menjadi pengganggu? Enak sekali Raesha mendapat makanan di luar.

"Ya sudah, sana pergi!" Kini, giliran Raefal yang merajuk. Memasang sarungnya yang tergeletak di sofa, kembali memakan martabak sementara matanya menatap lurus pada televisi.

Elvan tak menghiraukannya, menarik Raesha keluar indekos, dan menaiki mobilnya menuju rumah makan yang membuat gadis itu senang.

***

"Terus? Kau diam saja?" tanya Raesha gemas, setelah Elvan menyelesaikan sesi curhatnya.

Pria itu membawanya ke restoran yang terlihat berkelas dengan harga menu yang mahal. Awalnya Raesha ragu-ragu untuk masuk ke dalamnya karena pakaiannya hanya kaus dan celana pendek, tetapi melihat makanan di salah satu meja, membuat rasa malu akan penampilannya menguap.

"Makanya, aku cerita ke kamu."

Elvan terlihat lesu, dan baru Raesha sadari terdapat kerutan di sudut mata pria itu. Curhatannya membuat Raesha iba. Bagaimana tidak, jika kekasihmu diharuskan menikah dengan orang lain? Raesha mengerti perasaan Elvan saat ini. Membayangkan Adisa dipaksa menikah dengan orang lain yang tak disukainya, mampu membuat perasaan Raesha bercampur antara sedih dan marah.

Sudah hampir satu tahun mereka menjalin hubungan. Elvan sering bercerita kepadanya tentang bagaiman Adisa. Dia wanita baik dan lemah lembut. Bertemu dengannya, Raesha sudah langsung menyukainya.

Raesha tak tahu apa yang harus ia lakukan, jika seandainya dia mengalami hal yang sama dengan Elvan. Merelakannya? Atau merusak pernikahannya?

"Kau tidak tahu," jawab Raesha, pada akhirnya. Ayam baladonya bahkan sudah tak terlihat menggoda. "Tapi ... jika kau benar-benar cinta sama dia, kau pasti tahu apa yang harus dilakukan." Raesha bahkan tak yakin dengan ucapannya. Dia tak pandai memberi saran atau merangkai kata-kata.

"Begitu?" Elvan menyentuh sop ayamnya tanpa minat.

"Dengar! Kau tidak harus membuat Adisa terluka."

"Adisa sudah terluka," sela Elvan, melepaskan sendok dari tangannya dengan kasar.

"Kalau begitu, kau tahu apa yang harus dilakukan."

Elvan terdiam, mencerna perkataan sahabatnya. Raesha tak mau melihat sahabatnya bersedih seperti itu. Elvan yang biasanya ceria dan selalu membuatnya kesal, kini terasa aneh melihat pria itu bersedih. Raesha tak menyukai pemandangan seperti itu.

"Kalian berkencan?"

Seseorang duduk dengan tiba-tiba di kursi sebelah mereka, membuat Raesha dan Elvan menoleh secara bersamaan. Raut kesedihan pada wajah Elvan segera dihilangkan, dan Raesha mengangguk sopan pada pria di sampingnya.

"Ada kursi kosong di sana. Kita ke sana saja."

Kampr*t! Wanita dedemit lagi! Kenapa pula Anugrah pergi bersamanya jika ia merasa risih dengan wanita itu? Penampilan glamornya membuat Raesha hampir gumoh.

"Aku ada urusan, kau pergi saja!" Anugrah tampak kesal, tetapi wanita dedemit itu tak kalah kesalnya dengan Anugrah.

"Ayah menyuruh kita kencan, Nugrah."

"Ayah kau yang membuat peraturan seperti itu, bukan ayahku!" Gigi Anugrah bergemeretuk menahan amarah.

Sementara itu, Raesha menghela napas. Drama lagi. Tak bisakah membiarkannya makan dengan tenang? Napsu makannya sudah kembali, tetapi hilang lagi berkat kedatangan dua makhluk dedemit ini.

"Tenang ... ini tempat umum." Elvan berusaha menengahi, tetapi malah ditatap dengan tak enak oleh wanita itu.

"Tidak usah ikut campur!" Geramannya terdengar seperti deru mesin, wanita itu terlihat menyeramkan jika dilihat dalam jarak dekat. Kini, mata berlensanya menatap Anugrah yang tak acuh. "Nugrah Sayang―"

Namun, sayangnya, ucapan wanita disela oleh derit kursi dari Anugrah yang tiba-tiba berdiri. Dan tanpa tedeng aling-aling, menarik lengan Raesha keluar dari restoran, mengabaikan teriakan wanita di belakangnya, dan Raesha yang terus berceloteh tentang ayam baladonya.[]

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel