Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

bab 5

Malam terakhir rumah masih benar-benar kosong. Papa Mama baru pulang besok sore. Gue udah nggak bisa tidur dari jam sembilan malam. Badan panas dingin, kepala penuh sama Freya. Gue coba main game di laptop tapi nggak konsen. Akhirnya gue cuma rebahan di kasur sambil ngeliat langit-langit kamar.

Jam setengah sebelas, ada ketukan pelan di pintu kamar gue.

“Kak… masih bangun?”

Suara Freya lembut banget. Gue langsung bangun dan buka pintu.

Dia berdiri di depan pintu pakai handuk putih yang sama kayak kemarin yang super mini. Rambutnya terurai basah, kayak baru keramas. Wajahnya merah, entah karena malu atau sudah kepanasan duluan.

“Gue nggak bisa tidur, Kak,” katanya pelan sambil ngeliat ke lantai. “Stres banget besok presentasi skripsi… plus… mikirin kita.”

Gue tarik napas dalam. “Mau sauna lagi?”

Freya ngangguk cepet. “Iya. Yang terakhir.”

Kita berdua jalan ke belakang rumah tanpa banyak omong. Suasana malam sepi, cuma ada suara jangkrik. Begitu masuk sauna, gue langsung nyalain heater sampe suhu 87 derajat. Pintu ditutup, uap langsung tebel.

Kita duduk di bangku atas, berdampingan. Freya langsung lepas handuknya tanpa malu-malu lagi. Tubuhnya yang curvy, montok, dan berkeringat langsung terpapar full. Gue juga lepas handuk gue. Kontol gue udah setengah keras dari tadi.

Freya ngeliat ke bawah, lalu tersenyum tipis. “Kak… gede banget dari awal ya.”

Dia ambil HP gue yang ada di bangku, buka Pornhub, dan cari kategori “brother sister taboo”. Dia pilih salah satu video yang judulnya mirip banget sama situasi kita. Begitu video nyala, suasana sauna langsung berubah jadi panas banget — bukan cuma suhu-nya.

Video mulai main. Suara desahan cewek di video langsung terdengar. Freya geser lebih deket, pahanya nempel total ke paha gue.

“Kak… boleh gue sentuh?” tanyanya dengan suara manja.

Tanpa nunggu jawaban, tangan Freya langsung pegang kontol gue yang udah fully hard. Dia gosok pelan dulu, naik turun, jempolnya ngusap kepala yang udah basah precum. Gue mendesah berat.

Freya turun dari bangku, berlutut di lantai sauna yang hangat. Dia ngeliat ke atas ke gue dengan mata yang penuh nafsu, lalu masukin kontol gue ke mulutnya perlahan.

“Fuck… Frey…” gue pegang rambutnya.

Dia kasih blowjob yang basah dan dalam. Lidahnya muter-muter di kepala, kadang dia hisap kuat sampe pipinya kempes. Sesekali dia keluarin kontol gue, jilat dari bawah sampe atas, terus masukin lagi sampe nyentuh tenggorokannya. Suara gluck-gluck bercampur sama desahan di video.

Gue nggak tahan lama. Gue angkat Freya berdiri, dorong badannya ke dinding sauna yang panas. Gue angkat satu kakinya tinggi, lalu gesek kontol gue di selangkangannya yang udah banjir.

“Kak… masukin… please,” erang Freya sambil goyang pinggulnya.

Gue dorong pelan di awal, tapi begitu kepala kontol masuk, gue langsung tekan dalam satu kali dorongan kuat sampe habis.

“Ahhhh! Kak… besar banget… penuh banget…” Freya jerit kecil, kukunya nyakar punggung gue.

Gue mulai gerak keras. Standing sex di dinding sauna. Setiap dorongan bunyinya basah dan keras karena keringat sama cairan Freya. Payudaranya goyang-goyang tiap gue tabrak. Gue remas satu, hisap putingnya yang keras.

Freya klimaks pertama cepet banget. Badannya gemetar hebat, selangkangannya ngejepit kontol gue kuat-kuat. “Kak… gue keluar… ahh!”

Gue nggak berhenti. Gue balik badannya, tekuk Freya, lalu masuk dari belakang (doggy style). Gue tarik rambutnya pelan sambil ngocok pinggulnya keras. Suara tabrakan kulit basah makin kenceng.

“Kak… enak… lebih keras lagi…” Freya minta sambil erang-erang.

Gue kasih yang dia minta. Gue pukul pantatnya ringan beberapa kali. Freya malah makin excited. Dia goyang balik pinggulnya, ketemu setiap dorongan gue.

Beberapa menit kemudian gue ngerasa mau keluar.

“Frey… Kakak mau keluar…”

Freya langsung jawab dengan suara manja yang bikin gue gila:

“Isi adikmu, Kak… Creampie… Please… gue mau rasain panasnya di dalam…”

Gue dorong sedalam mungkin dan meledak di dalamnya. Sperma gue keluar berkali-kali, ngeisi Freya penuh. Freya klimaks bareng gue, badannya kejang-kejang, cairannya netes ke lantai sauna.

Kita ambruk bareng di bangku sauna. Freya langsung naik ke pangkuan gue, peluk gue erat sambil napasnya masih ngos-ngosan. Kontol gue masih di dalamnya, pelan-pelan lemes.

Kita diem cukup lama, cuma pelukan dan napas yang saling terdengar.

Freya angkat kepalanya, liat gue dengan mata yang masih berkabut nafsu.

“Kak… ini salah ya? Tapi gue belum pernah sesatisfied ini seumur hidup gue.”

Gue usap rambutnya yang basah. “Salah banget, Frey. Tapi gue juga nggak mau berhenti.”

Freya senyum malu, lalu cium bibir gue dalam-dalam. Ciuman pertama kami yang bener-bener.

“Rahasia kita berdua ya, Kak,” bisiknya di bibir gue. “Besok kita pura-pura biasa aja di depan Papa Mama… tapi malamnya… kita ulang lagi.”

Gue ngangguk sambil peluk pinggangnya lebih erat.

“Deal.”

Kita berdua masih duduk telanjang di sauna yang mulai dingin, tubuh saling nempel, tahu bahwa semuanya sudah berubah selamanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel