Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 2

Aaron Ryan Oxtoon, merupakan pewaris perusahaan raksasa Oxtoon Grup Company. Ia adalah cucu laki-laki, dan anak laki-laki satu-satunya di keluarga konglomerat itu. Ia memliki satu kakak perempuan yang sudah menikah dan menetap di Mexico, sedangkan sang adik tengah menempuh pendidikan di Spanyol.

Suara baritonnya menggema di sudut gedung besar ini, semua hadirin mendengarkan apa yang sedang disampaikan olehnya.

Berbeda dengan Zia yang terus mencoba menganalisis suara lelaki tampan itu, lalu ia samakan dengan suara laki-laki yang ada di dalam mimpi nya.

“Ayo Zi, coba diingat lagi siapa nama lelaki itu?” Gerutunya.

Zia masih belum mengingat nama lelaki itu, ia masih belum menemukan jawaban atas keragu-raguannya atas lelaki yang tengah berpidato di atas podium.

“Kenapa..?” Tanya Steffy yang aneh melihat Zia terus tertunduk.

Zia dengan cepat menggelengkan kepalanya, ia harus memastikan terlebih dahulu, baru akan mengatakan kepada sahabatnya ini.

Pidato itu pun berakhir, semua hadirin bertepuk tangan.

Lalu pembawa acara menyebutkan nama mahasiswi yang selama hampir empat tahun ini terus berhasil menerima beasiswa dari Oxtoon Grup Company.

“Sezia Alderia” Panggil Pembawa acara yang tidak lain adalah dekan di kampus ini.

Zia terus mengepalkan tangannya, dirinya yang biasa nya percaya diri, kini tampak gugup untuk berdiri dan memberikan pidato khususnya. Dirinya masih ragu, apakah lelaki itu Tuan tampan yang ia temui empat tahun lalu, atau bukan.

“Zi, cepat dipanggil tuh" Gumam Steffy menarik tangan sahabatnya ini.

Zia terperanjat, ia berdiri lalu menoleh ke arah Steffy terlebih dahulu sebelum melangkahkan kaki ke depan.

Semua orang tengah memusatkan perhatiannya kepada wanita dengan tinggi 168 cm ini, wajahnya memang cantik tapi karena sedang gugup tampak pucat pasi sehingga membuat Steffy menggelengkan kepalanya.

Zia memberanikan kakinya untuk melangkah ke depan, lalu ia genggam kertas pidatonya yang sudah disiapkannya di tangan kanannya.

Kakinya menaiki anak tangga ini perlahan, lalu ia tatap wajah Aaron yang tampak biasa saja.

“Bukan dia sepertinya, baguslah aku bisa tenang” Gumamnya dalam hati.

Zia lalu melangkahkan kaki mendekati podium, lalu meraih microphone ini. Ia atur nafasnya terlebih dahulu, lalu dihembuskan dengan perlanan. Senyumnnya tersibak, lalu kedua bola matanya melihat ratusan calon alumni di depannya.

“Selamat pagi, saya Sezia Alderia. Mahasiswi angkatan ke-35 Oxtoon University jurusan Economic of business” Kata pertama yang keluar dari mulutnya.

Zia pun mulai berpidato dengan cukup lancar, setelah memastikan kalau Pria dewasa yang sedang duduk di belakangnya bukanlah Tuan yang ia temui empat tahun lalu di diskotik.

Selang tiga menit, pidatonya pun berakhir, lalu pembawa acara mengarahkan Zia untuk menerima selempang dan juga pemindahan toga oleh Aaron dan juga Rektor yang sudah berdiri.

Zia bersiap di depan lelaki tampan ini, bibirnya tersenyum manis.Tidak mungkin juga ia cemberut saat melihat lelaki ini bisa-bisa pekerjaan yang baru saja didapatkannya di perusahaan milik lelaki ini akan dicabut dan dialihkan ke orang lain.

Aaron mengambil selempang, kemudian ia pasangkan pada tubuh Zia.

Tubuh lelaki ini sangat dekat dengan tubuhhnya, terasa mendekap, saat Zia merasakan kedua payudaranya terhimpit dada kekar lelaki ini. Tapi mencoba terus terlihat tersenyum, sembari menahan nafasnya.

Aaron tersenyum, lalu memegang pundak Zia. Kemudian kedua maniknya menatap dengan lekat wajah wanita yang ada di depannya.

Tentu saja Zia semakin gugup.

“Kenapa lelaki ini menatapku seperti ini?” Gerutunya dalam hati.

Aaron lalu menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman. Zia meraih tangan ini, lalu bibirnya menyungging senyum tipis.

“Zia, sampai bertemu kembali” Ucap Aaron.

Zia terdiam, ia berpikir sejenak untuk mencerna ucapan lelaki ini.

“Bertemu kembali ?” Gumamnya dalam hati.

Zia lalu melangkahkan kaki mendekati Rektor untuk pemindahan tali toga nya.

*

Setelah hampir dua jam, Prosesi kelulusan selesai.

Zia bersama dengan Steffy sibuk berfoto, bersama dengan keluarga mereka lalu mengambil gambar dengan semua anggota keluarga lengkap.

Ia lalu menoleh saat Aaron berjalan bersama rektor kampusnya, tidak tampak kalau lelaki itu mengenalnya, akhirnya bisa membuatnya bisa bernafas lega.

*

*

*

Tiga hari setelah prosesi kelulusan, Zia tengah bersiap di kamar tidur kecilnya untuk berangkat ke kantor di hari pertama ini. Wajahnya tampak sumringah, sembari memoleskan lipstik merah muda pemberian Steffy.

“Tidak ada niat untuk bekerja?” Tanya Zia pada panggilaan video ini kepada sahabatnya yang sekarang sedang berada di Singapura.

“Buat apa aku kerja, uang Ayah sudah banyak” Jawabnya santai.

Zia menggelengkan kepalanya, lalu ia tatap cermin di meja rias ini.

“Zia, mau aku belikan Tas Chanel terbaru?” Tanya Steffy.

“Kau gila Stef, tas itu mahal sekali !” Jawab Zia, ngegas.

“Hadiah dariku, karena kamu sudah bekerja” Jawab Steffy.

“Tidak, itu uang Om Anton aku tidak berani “ Jawabnya.

Steffy mendengus kesal, lalu ia matikan sambungan video ini tanpa pamit.

Zia terkekeh, lalu ia kembali menyisir rambut panjangnya dengan sisir kayu ini.

“Aku urai saja” Gumamnya.

Tangan kanannya mengambil tas hitamnya, lalu kedua kakinya berjalan keluar dari kamar ini.

*

Di ruang makan, pukul 07.15.

“Pagi Nek..?” Sapa Zia.

“Pagi sayang” Jawab Nenek Laura.

“Ini Nenek bawakan bekal” Ucap Nenek sembari memberikan wadah plastik berisi makan siang untuk cucu tersayang nya.

“Terimakasih Nyonya Laura” Jawab Zia.

Ia ambil segelas susu yang sudah terletak di atas meja, lalu meneguk perlahan hingga habis.

“Nek, Zia pergi dulu” Ucap Zia.

“Nasi gorengnya tidak di makan?” Tanya Nenek.

“Zia takut terlambat Nek” Jawab Zia.

Ia dengan terburu-buru melangkahkan kakinya, lalu keluar. Mobil Vw nya sudah siap di depan, sudah bersih karena sudah ia cuci kemarin.

“Ayo Creppy, kita akan menjadi rekan yang solid untuk mencari uang” Ucapnya sembari menyalakan mesin mobil.

*

Mobil pun tiba di depan perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia ini. Wajahnya tampak sumringah, baru pertama kali ia berada di gedung tinggi yang memilik 102 lantai ini.

“Wahh, aku akan bekerja disini” Gumamnya sembari memegang setirnya untuk mencari tempat parkir.

Setelah memarkirkan mobilnya, ia keluar dari dalam mobil, dengan sigap merapikan Blazer hitamnya lalu ia rapikan rambut panjang

bergelombangnya. Tangannya menenteng tas hitam pemberian Nenek Laura, lalu kakinya melangkah masuk.

Zia menghampiri meja resepsionis terlebih dahulu untuk menanyakan lantai divisi sumber daya manusia.

“Di lantai lima belas Nona” Jawab Wanita cantik yang ramah ini.

Zia menganggguk, lalu berjalan melangkahkan kaki menuju Lift yang baru saja terbuka. Ia masuk ke dalam, lalu jemarinya menekan tombol menuju ke lantai lima belas.

Tapi ada seseorang yang menahan pintu ini, tidak lain adalah Henry,. Orang kepercayaan pimpinan perusahaan ini sekaligus sebagai manajer umum di perusahaan Oxtoon.

Selang beberapa detik, Seorang lelaki tinggi memasuki Lift ini dengan langkah tegapnya.

“Aaron..”Gumam Zia dalam hati.

“Zia menundukkan kepalanya di belakang kedua orang ini, lalu ia tutupi wajahnya dengan rambut panjang bergelombangnya.

TING !

Pintu Lft kembali terbuka, dengan terburu-buru Zia melangkahkan kakinya keluar dengan dilihat oleh Aaron dan juga Henry.

Nafasnya terengah-engah, lalu ia terdiam sejenak untuk mengatur nafasnya.

“Kenapa aku ketakutan, memang nya aku salah apa?” Celetuknya.

Ia lalu melangkahkan kakinya menuju ke ruang Kepala HRD.

*

Zia bersama wanita tinggi nan Sexy ini berjalan menaiki lantai lima puluh, ia akan dibawa ke ruangan tempat nya akan bekerja.

Degupan jantung yang terus berdetak tidak karuan, Zia tampak bersemangat untuk memulai hari pertama nya.

“Sezia, nanti kamu akan bekerja langsung di bawah arahan Pimpinan dan CEO” Ucap wanita dengan rambut di gelung kebelakang ini.

Zia membulatkan mulutnya, lalu ia tutup dengan rapat. Seketika sadar akan menjadi bawahan siapa.

“Kenapa aku takut ? Aku tidak melakukan kesalahan” Gumamnya lagi dalam hati.

Kata-kata itu terus keluar dari sanubarinya, hingga pintu Lift ini terbuka.

Suara sepatu hak tinggi wanita ini terdengar jelas, berbeda dengan Zia yang hanya mengenakan sepatu dengan tinggi tidak lebih dari dua Centimeter.

*

TOK..TOK..TOK..

“Masuk..” Sahut seseorang dari dalam.

Pintu dibuka oleh wanita ini, lalu mengajak Zia untuk masuk.

“Selamat pagi Tuan, saya perkenalkan sekretaris baru anda” Ucap wanita ini.

“Apa ?! Aku sekretaris, bukannya aku bekerja di bagian perencanaan, ada apa ini ?” Racau nya dalam hari.

Kursi kulit itu berbalik, lalu laki-laki itu menatap Zia yang tampak sedikit gugup.

Pimpinan ini tidak lain Adalah Aaron Ryan Oxtoon, ia tersenyum lalu berdiri.

Jantung Zia terasa berhenti berdetak, lalu ia teguk salivanya karena terlalu tegang dan gugup.

“Zia, tenang. Kalau gugup bagaimana aku bisa bekerja” Gerutunya dalam hati.

Aaron menyodorkan tangannya, lalu diraih oleh Zia.

“Senang melihatmu, Zia” Ucap Aaron.

Zia mengerutkan keningnya, lelaki ini memanggilnya dengan sapaan akrabnya.

"Kenapa dia terus memanggilku dengan nama panggilan ku?" Tanyanya dalam hati

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel