Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Tawaran Kerja

Bagaimana ini, bekerja saja belum tapi sudah dipecat?

Kedua bola mata Nyonya Sutiyoso seolah menusuk tajam bak harimau yang ingin menerkam mangsa.

Pantas saja, Pak Sutiyoso begitu takut padanya. Terlihat sekali dari sikap wanita itu kalau ia sangat angkuh dan sok berkuasa.

Aku berusaha mengendalikan diri tanpa menanggapi pemecatan sepihak yang dilontarkan oleh istri Pak Sutiyoso.

“Ngerti ndak?!!”

“Ngerti.” Sahutku seraya membuang muka ke arah Pak Sutiyoso, lalu dengan sengaja menyunggingkan senyum nakal.

“Dasar jalang! Ndak tau tata krama!!” Tubuhku didorongnya hingga terhuyung.

Jalang? Dia bilang aku jalang? Kurang ajar sekali mulutnya si Ratna.

Aku mendongak, membalas tatapan mata bengisnya.

“Eh, Nyonya! Tolong ya dijaga mulutnya! Saya bukan jalang! Saya Cuma sekretaris suami Anda! Gayanya aja sok berpendidikan tapi bicara Anda busuk!!” ucapku geram.

Entah kekuatan dari mana yang merasuki, hingga begitu beraninya membalas hinaan istri Pak Sutiyoso.

Di sini, tidak boleh ada satu orang pun yang menghinaku. Kalau pun ada, aku tak akan tinggal diam seperti di desa. Harus aku lawan!!

Wajah wanita paruh baya itu memerah, giginya gemeletuk, bibirnya yang bergincu merah bata menganga.

“Lancang!!” Seketika tangannya terangkat hendak menampar pipiku, namun tangan kiriku berhasil menangkis.

Beberapa pengunjung pusat perbelanjaan melihat ke arah kami. Praktis menjadi tontonan gratis.

Dengan kasar kuhempaskan tangan Nyonya Ratna.

“Jangan coba menamparku, Nyonya!!” Hardikku sambil mencengkram kuat lengan istri Pak Sutiyoso lalu menghempaskannya.

Kupandangi secara bergantian kedua pasangan lansia itu. Kedua mata Ratna Ayu melotot, wajahnya memerah menahan amarah. Aku menyunggingkan senyum sini,

“Kalau suami Anda takut direbut wanita lain, puaskan dia lahir bathin, Nyonya!” Sengaja kuucapkan kalimat itu tepat di depan wajah wanita sombong macam Ratna Ayu. Dia hendak melawan, tapi tangan kanan Pak Sutiyoso menghalau gerakan istrinya.

“Sudah, Bu ... malu dilihat orang-orang.” Lembut, lembek, begitulah nada suara si Bandot tua. Aku terkekeh geli melihat ekspresinya.

Kulihat kedua tangan istri Pak Sutiyoso mengepal. Namun aku tak peduli, melenggang santai meninggalkan pasangan lansia itu.

Si tua bangka membiarkanku pergi begitu saja. Tanpa ada pembelaan atau apapun. Dasar suami takut istri!

***

Sudah menjadi hal biasa, jika hari menjelang petang, ibu-ibu kontrakan duduk di depan teras rumah. Aku yang baru saja tiba dengan tiga goodie bag disambut dengan tatapan menelisik.

“Om-om nya mana, Teh? Kok naik taksi?” Si Yeni bertanya sambil menyusui anaknya.

“Halah kepo!” jawabku ketus. Melengos masuk ke rumah.

Samar-samar kudengar umpatan Yeni. Lagi-lagi aku tak peduli. Si Yeni sering cemburu padaku. Suaminya yang berprofesi sebagai tukang ojek online kerap kali menawarkan tumpangan. Aku Wulandari, sudah bukan waktunya lagi panas-panasan naik motor. Gak sudi!

***

Sebulan menghuni kontrakan ini, tak butuh lama bagiku untuk mengenal karakter tiap orang yang berada di sekeliling.

Aku merebahkan tubuh ke alas tidur berupa kasur lipat. Menatap nanar ke atas plafon. Bayangan orang-orang yang menghinaku terlintas.

Orang yang paling kuingat adalah Teh Marni. Perempuan itu pernah meludahi Ambu karena tak terima dengan perlawanan Ambu. Mencaci maki keluarga kami dengan sedemikian rupa.

Aku yang tak punya daya upaya saat itu hanya mampu menangis. Meratapi nasib miskin kami.

Hingga saat ini, hutang padanya sengaja belum dilunasi. Biar nanti aku saja yang langsung membayarnya.

Kulirik lemari usang. Di dalam sana ada beberapa lembar uang yang kusimpan di bawah pakaian. Esok akan aku tabungkan di salah satu Bank di kota ini.

***

Setengah enam sore sudah tiba di tempatku bekerja. Bang Sur menyambutku dengan suka cita. Ada gurat kebahagiaan di balik wajahnya.

“Lan, cepet masuk. Ada yang cari kamu.” Seloroh Bang Sur menarik lenganku.

“Siapa, Bang?”

“Pak Dewantara. Ayo sana temuin. Jangan lupa minta tips yang banyak.”

Aku mengangguk tersenyum. Walaupun tips dari pelanggan menjadi hakku sepenuhnya, tapi Bang Sur selalu mendapat bagian lima persen dari tips yang kudapat setiap malamnya.

“Cuma kamu, Lan yang baik sama Abang. Yang lain jarang sekali membagi hasil tipsnya," ujar Bang Sur tempo hari.

Setengah berlari aku menuju ruang karaoke, di mana Pak Dewa sedang menunggu.

Kubuka pintu perlahan. Terlihat laki-laki seumuran Pak Sutiyoso. Tatapannya sedang mengarah padaku.

“Saya mau bicara sebentar,” ujar Pak Dewa. Dia menggeser tempat duduk. Tak perlu pikir panjang aku duduk di sebelahnya.

“Biasa ya, Om. Satu jam ngobrol satu juta, gak boleh kurang, boleh lebih.” Kataku sambil menyimpan tas di atas meja.

“Iya, Om pasti bayar.”

Gaya genit langsung kutampilkan. Menyelipkan tangan kanan ke lengan Pak Dewa. Namun, dengan lembut ditepisnya.

“Maaf, Lan. Saya ke sini mau nyampein pesan Sutiyoso. Tentu Wulan kenal kan?” Aku malas mendengar nama itu. Merapikan rok yang sempat tersingkap lalu menyeruput Jus mangga yang sejak tadi sudah terhidang di atas meja.

“Kenal. Kenapa dia?”

“Dia minta maaf atas kejadian kemarin. Mungkin untuk dua atau tiga hari kedepan dia gak bisa temui Wulan dulu.”

Bodo amat! Siapa juga yang ngarepin laki tua bangka macam dia. Aku membatin.

“Terus?”

“Masalah kerjaan yang Sutiyoso janjikan, Wulan tetap kerja di kantor tapi di kantor saya. Sebelumnya maaf, Nanti sambil kerja, usahakan Wulan kuliah. Ambil kelas karyawan. Bagaimana, Wulan mau?”

Penuh sopan santun Pak Dewa menyampaikan kabar yang membuat wajahku berbinar. Sontak kupeluk laki-laki yang sedang menghadapku itu. Berkali-kali ucapan terima kasih aku lontarkan.

“Iya, sama-sama.” Tangan kekar Pak Dewa berusaha melepaskan pelukan.

“Tapi Wulan ditraining dulu. Nanti biar asisten saya yang ngasih materinya. Wulan siap?”

“Siap, Om! Wulan janji gak akan sia-siain kesempatan ini. Makasih banyak ya, Om!”

“Baiklah, kalau begitu Om pulang. Besok jam sembilan pagi Om tunggu di kantor. Benar kata Wulan, jangan sia-siain kesempatan emas. Ini uang yang Wulan minta. Gak kurang, mungkin sedikit lebih.” Aku menatap lembaran-lembaran rupiah di atas meja. Tanpa pikir panjang aku mengambil dan menghitungnya.

Tanpa menunggu aku selesai menghitung uang, Pak Dewa sudah keluar ruangan karaoke.

Laki-laki itu sikapnya berbeda sekali dengan Sutiyoso. Sutiyoso itu laki-laki yang lupa umur. Sikap dan bicaranya kayak anak ABG, alay! Padahal aku tahu, anak-anaknya sudah dewasa bahkan sudah memiliki cucu. Dasar bandot tua!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel