Bab 4 Dipecat Sebelum Bekerja
Aku menarik diri. Terhenyak mendengar bisikan Pak Sutiyoso. Apa laki-laki tua bangka ini lupa ada persyaratan kalau aku gak boleh dibooking?!
Berusaha aku menguasai diri. Laki-laki yang rambutnya sudah memutih itu tersenyum mesum. Menjijikan!
“Aku maklum kalau Om lupa dengan syarat yang aku ajukan sebelumnya.” Kataku datar. Pak Sutiyoso menautkan kedua alisnya.
Laki-laki tua bangka ini memang sudah sangat baik padaku. Dia selalu memberi tips lebih dari pelanggan yang lain.
“Ooh ... Om ingat. Maksud Om itu bukan ke hotel, Lan.” Pak Sutiyoso lantas menyeruput minumaan beralkohol dihadapannya. Bibir hitamnya mengerenyit. Mungkin merasakan asam atau entahlah. Aku belum pernah mencicipi minuman beralkohol selama di sini.
Ambu berpesan, aku tidak boleh lengah jika ingin menjaga keperawanan. Takutnya kalau aku lengah, minuman itu dimanfaatkan oleh laki-laki hidung belang, dicampur adukkan dengan pil yang tidak aku mengerti. Membayangkannya saja aku sudah bergidik ngeri
“Terus maksud Om booking itu apa?”
Hebat sekali orang tua ini, walaupun sudah lansia tapi masih tetap kuat meminum minuman yang mengandung alkohol. Dia masih waras, belum mabuk berat.
“Kita jalan-jalan aja. Misalnya temenin Om makan siang, nonton, shopping. Selama di sini Wulan belum pernah shopping kan?” Aku berpikir sejenak. Menimang-nimang ajakan laki-laki beristrikan Ratna Ayu.
“Om gak bohong kan gak pake ke hotel-hotel?” Aku memastikan kalau ucapan Om Sutiyoso tidaklah bohong.
“Enggak, Lan. Lagian Om Cuma minta ditemani dari pukul delapan pagi sampai jam lima sore. Setelah itu Om antar kamu ke sini lagi.”
Aku bersandar di sofa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
“Bayarannya berapa?”
“Ini cek kosong. Wulan tinggal isi. Tapi satu lagi, di luar sana Wulan harus bersikap manja dan centil kayak biasanya. Oke?” Om Sutiyoso menjawil dagu lancipku. Aku mengambil secarik kertas persegi panjang itu. Mengibas-ibaskannya lalu terbersit ide. Mungkin ide ini awal dari kesuksesanku yang sesungguhnya.
Aku memberikan kembali cek ke telapak tangan Pak Sutiyoso.
“Kali ini Wulan gak mau uang. Tapi Wulan mau kerjaan.” Pintaku penuh keyakinan.
“Kerjaan? Kerjaan apa?” Pak Sutiyoso menatapku lekat. Aroma alkohol dari mulutnya tercium jelas.
“Aku pengen kerja di kantor, Om. Minimal jadi sekretaris.” Kelopak mata Pak Sutiyoso membulat. Mungkin dia terkejut dengan permintaanku.
“Wulan pernah kuliah?”
“Enggak. Tapi waktu SMK Wulan siswa berprestasi. Om bisa tes Wulan dulu sebelum kerja. Asalkan kasih Wulan materinya. Apa saja yang harus Wulan kerjain. Apa Om ragu dengan kemampuan Wulan?” Aku menatap laki-laki yang seumuran dengan Abah dengan lekat.
Pak Sutiyoso menggeleng cepat, “Bukan, bukan gitu, Lan. Om semakin kagum sama kamu. Ternyata Wulan wanita yang ambisius. Bagus itu. Calon wanita yang sukses.” Mendapat pujian, aku tersenyum bangga. Ya, aku memang harus sukses. Harus banyak uang. Harus!
Tiba-tiba aku membayangkan berpakaian wanita kantoran yang sering kutonton di televisi. Kayaknya aku bakal tambah cantik kalau mengenakan busana seperti itu. Bibirku menyunggingkan senyum percaya diri.
Aku menoleh ke arah Pak Sutiyoso yang sedang meneguk minumannya kembali.
“Kalau Om keberatan, gak masalah. Berarti besok Wulan gak bisa temenin, Om!” Ancamku dengan wajah ditekuk.
Apa mungkin tua bangka ini meragukan kecerdasanku?
“Enggak, Om gak keberatan. Justru Om sangat senang. Seenggaknya kita semakin dekat. Hahaha ....” Gelak tawa menjijikan!
Aku bukan anak kecil yang tak tahu laki-laki yang pikirannya Cuma nafsu dan nafsu saja.
Pak Sutiyoso tipikal laki-laki yang haus kasih sayang. Okelah aku memakluminya, secara istrinya itu seperti harimau betina. Begitu kesimpulanku menangkap cerita dari mulut Pak Sutiyoso.
***
Jarum jam belum menunjukkan angka delapan dengan tepat. Namun Pak Sutiyoso sudah menampakkan batang hidung.
Penghuni rumah petak di sebelah kanan kiriku mulai berkasak-kusuk. Samar kudengar.
“Si Wulan ternyata sekarang simpanan Om-om.” Mpok Tarmi mulai menyebar gosip murahan.
“Sayang banget, punya wajah cantik bukannya cari laki yang single dan muda malah pilih bandot tua.” Si Yeni yang usianya lebih muda setahun dariku menimpali.
“Jangan salah, bandot tua juga banyak duit. Lah itu mobilnya juga merci.”
Kupingku mulai terasa panas, tapi biarlah. Gak ada guna meladeni omongan mereka. Toh Mpok Tarmi dan si Yeni gak pernah ngasih aku duit.
Pak Sutiyoso membukakan pintu mobil mewahnya. Setelah aku duduk dengan nyaman, tua bangka itu masuk ke jok pengemudi.
***
Sesuai kesepakatan, sepanjang jalan aku bermanja-manja dengannya. Tak peduli dengan tatapan sinis atau heran orang lain. Bagiku sekali lagi, yang penting duit!
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah bioskop yang terletak di pusat perbelanjaan.
Jujur saja baru kali ini kakiku menginjakkan Mall. Waktu di Desa, jangankan ke Mall, ke pasar pun jarang sekali. Mungkin hanya menjelang idul fitri.
“Sayang, sambil nunggu filmnya mulai. Kita belanja dulu ya?”
Hah? Sayang?
“Oke, Sayang!” sahutku menggamit lengannya manja.
Alamaaakk ... tua bangka ini wajahnya langsung sumringah. Dasar laki-laki kurang kasih sayang.
Aku berjalan sambil menahan tawa.
Di depan toko sepatu, aku dilayani bak seorang Ratu. Duduk di sofa empuk, seorang karyawan wanita berambut sebahu begitu telaten memasangkan sepatu pada kaki jenjangku.
Beberapa kali kutolak sepatu yang karyawan itu pasangkan. Sebenarnya bukan aku tak suka, tapi bingung harus pilih yang mana.
Aku melirik Pak Sutiyoso. Dia berdiri tak jauh dariku. Aku melempar senyum genit saat kami beradu pandang.
Pemilik toko menghampiri tua bangka itu, oh rupanya Pemilik toko ini teman Pak Sutiyoso.
“Yos, itu pacar kau?” tanya si pemilik toko. Aku pura-pura acuh.
Si tua bangka hanya tersenyum. Melipat kedua tangan ke depan dada. Perut buncitnya maju beberapa senti.
Sekitar setengah jam kami berada di toko ini. Pak Sutiyoso menghampiri.
“Sayang, sepuluh menit lagi filmya dimulai. Ayo cepat pilih sepatunya.”
“Aku suka sepatu yang ini, itu, sama yang dipegang si Mbak.”
“Ya udah ambil semua. Mbak tolong diberesin. Hei, Jok! Uangnya nanti aku transfer sajalah. Rekening kau masih sama kan?”
“Sip!” sahut Pak Joko mengacungkan ibu jari.
Kami berjalan setengah berlari. Namun tiba-tiba Pak Sutiyoso menghentikkan langkah saat seorang wanita berpakaian glamour mendekati kami. Tua bangka juga menepis tanganku dari lengannya.
“Siapa dia, Pak?” Wanita yang kutaksir seumuran dengan Pak Sutiyoso bertanya. Matanya menelisikku dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Di-dia, sekretaris Bapak, Bu.”
Bu? Jangan-jangan wanita yang berdiri angkuh di hadapanku adalah istri si tua bangka.
“Benar kamu sekretarisnya?”
“Iya, Bu.” Ucapku setenang mungkin.
Wanita yang bernama Ratna Ayu mendekatiku hingga jarak kami hanya beberapa senti.
“Mulai hari ini, kamu dipecat!!!”
