Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

Pukul sepuluh malam, kota Yogyakarta.

Seorang wanita paruh baya berjalan di trotoar jalanan sendirian. Dia baru saja pulang bekerja, lelahnya pekerjaan membuatnya sedikit mengantuk.

BRAK!

Tiba-tiba dari arah belakangnya terdengar suara keras, sebuah mobil melaju dengan kencang menabrak tempat sampah. Kecepatannya yang tinggi membuat mobil itu tidak terkendali dan akhirnya menabrak wanita paruh baya itu, dan membuatnya meninggal ditempat.

Wanita itu adalah Ibu kandung dari Sean. Hasil investigasi menyatakan bahwa sopir itu menyetir mobil dalam keadaan mabuk, tapi Sean tidak percaya akan semua ini. Dia sangat yakin bahwa kecelakaan ini ada hubungannya dengan wanita simpanan sang ayah.

Kediaman Keluarga Diningrat.

"Ayah! Aku ingin mendengar penjelasan darimu!" Sean bertanya kepada Ayahnya.

"Apa yang ingin kamu ketahui?" tanya sang ayah.

"Apa yang kamu rencanakan? Apa kamu sengaja membunuh ibuku?" tanya Sean dengan penuh amarah dalam hatinya.

PLAK!

Bukan sebuah jawaban yang dia dapatkan, sebuah tamparan melayang dari Ayahnya.

"Brengsek! Anak durhaka! Apa yang kamu pikirkan? Untuk apa aku membunuh Ibumu?" teriak sang Ayah.

"Aku sudah mengetahui semuanya! Demi wanita jalang itu, kamu rela membunuh istrimu sendiri, kan? Mulai hari ini, aku tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga Diningrat!"

Sean sangat kecewa, setelah acara pemakaman Ibunya, dia pergi meninggalkan Kota Yogyakarta dan pergi ke Kota Bandung. Kehidupannya sama persis dengan kehidupan orang biasa, dia menikah dengan seorang wanita cantik asli Bandung. Meskipun dia tidak pernah mendapat sambutan yang bahagia dari Keluarga mertuanya setelah menikah.

Hingga dia dengan Istrinya, Mega Litari, diusir dari keluarganya dan menjalani hidup dengan gaji yang berkecukupan. Tapi dia sama sekali tidak mengeluh, karena dia memiliki istri yang pengertian dan anak perempuan yang sangat cantik. Kehidupannya sudah sangat lebih dari cukup.

Jl. Soekarno Hatta, tangan Sean membawa sekotak kue yang dia beli untuk anak perempuannya, Andini. Ketika dia sedang berjalan menuju ke rumahnya.

Ding!

Sebuah pesan masuk ke ponsel milik Sean, kemudian dia melihat isi pesan itu dan membacanya.

'Tuan Muda, tujuh tahun telah berlalu, sebesar itukah dendam Anda terhadap Tuan Besar?'

Ding!

Sebuah pesan kembali masuk.

'Seminggu lagi ulang tahun Tuan Besar, Anda dan Tuan Besar sudah tujuh tahun lebih tidak bertemu. Tuan Besar ingin sekali bertemu denganmu. Selain itu, Tuan Besar juga mengumumkan berita bahwa Anda adalah pewarisnya.'

"Hehe… pulang?" Sean tertawa pelan dengan tatapan mata yang cuek. Kemudian dia membalas pesan teks itu.

'Sejak dia membiarkan Natasha, wanita jalang itu mencelakai Ibuku hingga meninggal, Keluarga Diningrat tidak ada hubungan apapun lagi denganku.'

'Tapi, boleh juga kalau dia ingin aku pulang. Aku memiliki satu syarat, suruh dia penggal kepala Natasha untukku!'

Sean kemudian melangkah besar maju ke depan, dengan postur tubuhnya yang tegak. Sean merasa sangat marah, dia sangat membenci ayahnya.

"Aku? Kembali ke Kediaman Diningrat? Haha, itu hanyalah sebuah mimpi buruk!"

Kring~

Tiba-tiba telepon Sean berdering.

Baru saja tersambung, suara Mega yang kesal terdengar dari seberang sana, "Sean, kemana saja kamu? Penyakit Andini tiba-tiba kambuh. Apakah kamu mengetahuinya? Bukankah aku menyuruhmu untuk merawat Andini di rumah sakit? Mengapa kamu malah keluar di saat seperti ini?" Bagai petir di hari yang cerah.

Sean tersadar kembali dan memegang teleponnya berbicara, "Aku akan segera pergi kesana."

Sean juga sangat panik, tidak banyak menjelaskan dan segera memanggil taksi di tepi jalan. Perasaannya sangat kacau, tapi tangannya masih memegang erat kotak kue yang terlihat mewah. Itu adalah makanan kesukaan Andini, Andini sudah memintanya sejak lama, dia tidak boleh membuat Andini merasa kecewa!

---

PLAK!

Di depan pintu ruang pasien, sebelum Sean bisa bernafas dengan baik karena kepanikannya, dia mendapatkan tamparan yang keras dari seorang wanita yang cantik. Mega Litari, istri Sean, dia memiliki wajah yang cantik, badan yang sekal tinggi putih dan mulus, rambut terurai panjang.

Meskipun anak perempuan mereka telah berusia enam tahun, tapi dia masih terlihat cantik seperti gadis usia dua puluh tahun. Tubuhnya terlihat sempurna dan semakin dewasa. Hanya saja, wajah Mega sekarang penuh dengan kemarahan.

"Sean, sungguh! Kamu membuatku sangat kecewa!"

Sean tidak dapat berkata-kata, dia hanya menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah, "Dimana Andini? Bagaimana dengan keadaannya?"

"Kamu, masih memiliki hati untuk menanyakan kondisi Andini? Penyakit Andini kambuh selama beberapa menit, kemudian baru ditolong dokter. Kalau telat semenit lagi, nyawa Andini akan melayang!" Mega menunjuk hidung Sean dan dengan kesal berkata, "Untung saja penyakit Andini terkontrol. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu selamanya!"

Mengetahui kondisi anaknya stabil, hati Sean membaik. Andini adalah anak perempuan kesayangannya, dia menginginkan Andini hidup sehat dibanding dengan apapun. Kalau bisa, dia rela menggunakan nyawanya untuk menukar kesehatan Andini.

Di saat ini, dua orang wanita muncul dari belakang Mega. Sean tentu saja mengenal mereka berdua. Mereka adalah Ibu Mertuanya dan adik iparnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel