Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Isi surat kesepakatan

Alena di usir keluar dari hotel Lucas. Setelah ia membuat keributan besar disana dan mengganggu para tamu yang menginap di hotel Franklyn.

Dengan terpaksa petugas keamanan yang berjaga. Menyeret Alena, memaksanya keluar dan meninggalkan lobby hotel. Untuk kenyamanan para tamu dan pengunjung hotel.

"Lepas.. Lepaskan aku.." teriak Alena pada petugas keamanan. Alena meronta-ronta minta di lepaskan.

Putugas keamanan itu. Tak menyahuti Alena. Seakan tuli. Berpura-pura tidak mendengar teriakannya

"Brengsek... Sialan.. Kau tidak tahu siapa aku. Lepaskan.. Lepaskan aku.. Brengsek " lanjut Alena lagi. Memaki petugas keamanan itu dengan sumpah serapahnya.

Petugas keamanan itu mendorong Alena. Setelah sampai di luar lobby hotel. Tidak peduli ocehan Nya

"Maaf nona.. Kami tidak bermaksud untuk menyakiti anda. Tapi karena anda membuat keributan di dalam hotel ini. Dengan terpaksa. Saya harus menyeret anda keluar demi kenyamanan para tamu dan pengunjung hotel ini" kata petugas keamanan itu. Sesudah tiba di luar hotel.

Alena berdengus sebal. Mendengar ucapan petugas keamanan itu.- "akan ku laporkan kejadian ini pada kekasih ku. Dan kau" tunjuk Alena ke petugas keamanan itu. "bersiaplah, untuk angkat kaki di hotel ini"- teriak Alena lantang tak tahu malu. Sampai para pengunjung dan tamu mengarah padanya.

•••••••••

Penthouse Lucas. 1.00 pm

Frans sudah berada di ruang kerja Lucas. Menduduki singgah sana Lucas dan membuka macbook Lucas.

Jari jemarinya dengan lihai mengetik deretan huruf dan angka dengan cepat. Mengetik kalimat demi kalimat. Yang tertanam di pikirannya. Frans tuahkan di dalam kotak persegi canggih itu.

Hingga tak membutuhkan waktu lama. Frans tersenyum. Membaca setiap kalimat-kalimat yang ia tulis.

"Sudah selesai" kata Lucas. Menatap Frans dengan heran

"Hmm" hanya suara deheman yang Frans lontarkan.

Frans membalikan kotak persegi itu ke hadapan Lucas. Untuk Lucas baca.

"Bacalah. Ku harap kau menyukainya" kata Frans menyerah macbook dan menyuruh Lucas membacanya.

Tanpa di suruh Frans pun. Lucas membaca setiap kalimat-kalimat di dalam macbook itu.

Seulas senyum tersirat di wajahnya. Puas dengan ketikan yang Frans buat. Dengan begini. Lucas bisa membentengi dirinya dari Ashley.

"Aku tidak menyangka. Pria dingin seperti mu pandai membuat deretan kalimat yang memuaskan untuk ku" puji Lucas. Tersenyum penuh arti.

"Jangan tersenyum seperti itu. Kau seperti psychopat yang menunggu mangsa mu datang" kata Frans bergedik ngeri melihat Lucas tersenyum.

Lucas mengangkat bahunya. Acuh, Tak peduli dengan ucapan Frans.   Yang ada dalam pikirannya. Hanya membayangkan reaksi Ashley. Membaca isi surat kesepakatan yang ia buat.

••••••••••••

Sinar matahari masuk kedalam celah jendela ruang kamar Lucas. Terdapat seorang gadis yang masih tertidur lelap. Tanda ia tak ingin bangun dari bawah alam sadarnya.

Sampai ia pun mendengar alarm yang berada di atas nakas. Di samping ranjang king size Lucas.

"Alarm sialan. Selalu saja mengganggu mimpi ku" Ashley mencari-cari alarm yang berbunyi keras menggunakan tangannya. Dan menggapai alarm itu untuk Ashley matikan

Perlahan-lahan matanya terbuka. Melihat alarm jam yang berbeda dari kamarnya.

Sekelebat ingatan. Membawa Ashley tersadar. Ia melihat sekeliling ruangan. Bukan kamar pribadinya. Di mansion.

"Tunggu. Tunggu.. " Ashley mengingat-ingat kejadian semalam. Ia mengumpat. Setelah mengingat semuanya dengan jelas.

Ashley berpikir ini hanyalah mimpi. Tapi apa yang ia dapatkan dan Ashley lihat. Membuatnya kembali ke alam sadarnya.

"Sialan.. Argggghhhhh..." teriak Ashley frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya.

Kenyataan yang ia dapatkan memang bukan sebuah mimpi. Ashley menyibak selimut. Bangun dari ranjang Lucas. Dan berjalan menuju kamar mandi.

Ashley menatap dirinya. Bingung dengan baju yang ia pakai. Seingatnya. Ashley tidak pernah memakai kemeja ini. Terbesit sebuah nama yang ada di pikirannya.

Lucas. Ya hanya Lucas yang berada satu atap dengannya. Pria sialan  yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak normal.

Ingatkan Ashley untuk memberi pelajaran untuk Lucas kali ini

••••••••••

Tak lama Ashley keluar dari kamar Lucas. Mencari keberadaan pria sialan itu. Dengan lantangnya Ashley berteriak menyebut nama Lucas. Samapi seisi ruangan menggema.

Lucas yang baru tertidur pukul 5 pagi. Terbangun, mendengar namanya di panggil oleh Ashley.

"Lucass... "

"Lucas...."

"Lucass sialan dimana kauu.. "

"Lucas..." Tak ada henti-hentinya Ashley berteriak memanggil Lucas. Seperti seseorang meneriaki maling.

Lucas yang mendengarnya pun merasa terganggu. "Aitsss... Kenapa gadis itu suka sekali berteriakk" gumam Lucas menutup telinganya yang pengang akan teriakan Ashley.

Begitupun dengan Frans yang tertidur di sofa ruang tengah Lucas. Frans terbangun. Dikala ia mendengar seorang wanita berteriak memanggil Lucas.

Lucas keluar dari dalam ruang kerjanya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul penuh.

Sedangkan Frans terbangun dan duduk di sofa tempat ia merbahkan tubuhnya semalam.  

"Hentikan teriakan mu. Kau membuat kupingku berdengung kencang"- kata Lucas. Tepat di saat Ashley akan teriak memanggil namanya.

"Wahh.. Tuan Franklyn yang terhormat sudah bangun rupanya"- ejek Ashley. Menatap sinis pada Lucas.

Lucas memutar bola matanya malas. Enggan menanggapi ucapan Ashley. Yang selalu mengajaknya perang.

"Bagaimana tidur mu semalam. Nyenyak huh"- lanjut Ashley masih dengan wajah sinisnya.

"Apa kau bilang, tertidur nyenyak, setelah apa yang kau perbuat pada ku semalam. Meninggalkan ku begitu saja tanpa mau bertanggung jawab. Cihh.. Seharusnya aku yang bertanya pada mu"- ucap Lucas yang tidak mau kalah dari Ashley. Sambil bertolak pinggang.

Keributan itu pun terjadi. Antara Lucas dan Ashley yang tidak mau mengalah. Beradu argument dan saling mengejek. Satu sama lain

Sedangka Frans hanya bisa terkekeh mendengar Ashley mengejek Lucas dengan ucapan konyolnya.

Frans tak menyangka Lucas yang di kenalnya sebagai seorang playboy kelas atas dan selalu bisa menghadapi wanita-wanita yang selalu mengejarnya. Kini ia kalah telak menghadapi tingkah Ashley yang konyol. Dan membuat Lucas tak berkutik.

Akhirnya Frans pun menengahi keributan antara mereka. Dengan berdiri di tengah-tengah mereka berdua.

"Cukup-cukup. Kalian berdua membuat kuping ku pengang"- kata Frans. Sedikit berteriak di antara mereka berdua.

Lucas dan Ashley sama-sama terdiam. Setelah mendengar Frans berteriak pada mereka.

Tatapan mereka masih mengisyaratkan pertempuran. Baik Ashley atau pun Lucas. Di tambah Frans yang berada di tengah mereka. Membuat Ashley semakin geram

"Kalian berdua seperti anak kecil. Yang sedang memperebutkan mainan. Apa kalian tidak sadar, usia kalian sudah sangat dewasa. Tapi kenapa tingkah kalian tidak mencerminkan usia kalian, Dan kau luke"- tunjuk Frans pada Lucas.- "Aku heran pada mu. Menghadapi wanita seperti ini saja kau tidak bisa. Mana Luke yang aku kenal. Yang selalu bisa menghadapi wanita dengan mulut pedas mu. Tapi apa yang aku lihat. Menghadapi gadis kecil dan bodoh seperti ini saja kau tidak mampu"- tambahnya lagi . Mengejek Lucas.

"Cetakkkk"- Lucas memukul kepala Frans, sekilas.-

"Awww.. Luke, sialan. Kenapa kau memukul kepalaku"- kata Frans tak terima Lucas memukul kepalanya.

"Kau masih bertanya padaku, huh. Setelah apa yang kau ucapkan barusan padaku. Di depanku. Kau tidak tahu, seperti apa gadis yang berada di belakang mu itu"-

Frans memutar badannya. Menghadap Ashley. Frans terkekeh melihat tampilan Ashley dari atas sampai bawah. Menilai Ashley dengan pandangan matanya

"Sudah puas mengejekku dan menilaiku tuan.."- kata Ashley. Menatap Frans dengan dingin sambil melipat tangannya di dada.

Sementara Lucas menatap horor pada Frans. Takut, kalau Ashley mengamuk pada sahabatnya.

"Kau sebut diriku apa, gadis bodoh. Apa kau tidak tahu, kau berurusan dengan siapa? "-tanya Ashley masih dengan nada dingin dan datarnya.

"Kau memang gadis bodoh, aku tidak peduli. Siapa kau sebenarnya"- jawab Frans. Menantang Ashley.

"Woww.. Jawabanmu sungguh di luar dugaan ku. Baiklh, akab ku beri tahu siapa diriku sebenarnya"- timpal Ashley. Menatap nyalang pada Frans.

Tak di sangka oleh Frans, Ashley menendang tulang kering kaki kirinya. Dan membuat Frans terkikik ke sakitan. Tak sampai di situ. ashley menjambak rambut Frans dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya memukul punggung Frans.

Lucas yang menyaksikan sahabatnya di siksa Ashley, berdecik ngeri.  Ia tidak menyangka Ashley melakukan hal seperti itu pada Frans.

"Auu.. Auu... Auu.. Heii.. Hentikan nona.. Hentikann.."- kata Frans. Menahan rasa sakit pada tubuhnya. Akibat ulah Ashley yang memukul punggungnya dan menjambak rambutnya.

"Hentikan kau bilang huh.. Bukannya, kau tidak peduli, siapa diriku. Jadi nikmatilah. Siksaan ku"- sambung Ashley. Masih tetap memukul Frans.

"Luke.. Tolong.. Bantu aku menghentikan pukulan gadis ini.. Sialan, kenapa kau diam. Apa kau rela aku mati di tangan gadis bar-bar seperti dia"- pinta Frans, tak sanggup menghadapi pukulan Ashley.

Luku tak bisa menahan tawanya. Melihat Frans di siksa oleh Ashley.- "hahahaha.. Jangankan membantu mu. Menghadapi Ashley saja. Membuat.. "- Lucas menggantungkan ucapannya. Mengingat kejadian semalam antara dirinya dan Ashley. Lucas pun mengumpat kesal, mengingat juniornya yang harus ia tenangkan dengan kedua tangannya di bawah guyuran shower. Sampai 3 kali- "Siall.. Argghhh.."- teriak Lucas Frustasi. Lalu Lucas pergi meninggalkan Frans dan Ashley yang masih menyiksa Frans.

•••••••••••

Sudah cukup puas, Ashley menyiksa Frans. kini, Ashley duduk di sofa ruang tengah penthouse Lucas. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Menatap Frans dengan pandangan sengit.

"Kau ini gadis atau lelaki, pukulan mu membuat badanku remuk semua"- tanya Frans. Mengatur nafas yang terputus-putus. Dan Duduk tidak jauh dari Ashley.

"Apa aku harus membuka bajuku"- timpal Ashley. Membuat Frans menatap dua gundukan besar di tubuh Ashley. Dan meneguk saliva dengan kasar. "Siall.. Di saat seperti ini. Gadis itu menantangku, argghhh"- umpat Frans dalam hatinya. Tak menyangka. Ashley bisa berucap seperti itu.

"Bu.. Bu.. Bu.. Bukan.. Itu maksudku"- kata Frans gugup. Mengalihkan matanya ketempat lain. Tak ingin melihat ke arah Ashley yang membuat akal pikirannya kacau

"Lalu"-

"A.. A.. A.. A.. Sudahlah.."- ucap Frans tak mau melanjuti perkataannya.

Frans dan Ashley pun terdiam. Tidak ada satu orang yang membuka suara. Hingga Lucas datang membawa sebuah map berisi surat kesepakatan.

"Ckk.. Apa kalian sudah selsai bertempur"- kata Lucas. Di iringi kekehannya sambil tersenyum mengejek Frans.

"Sialan, kemana saja kau. Kau pergi tanpa membantu ku. Sama sekali. Dasar sahabat brengsek. Lihatlah ini"- tunjuk Frans. Menunjuk rambutnya yang berantakan dan wajahnya yang terkena cakaran Ashley.- "Wajah tampanku, terkena cakaran dari gadis bar-bar seperti dia, cihh.. Kalau aku tau, gadis yang kau hadapi seperti ini. Aku tidak mau membantu mu. "- kesal Frans yang langsung di hadiahi  Ashley lemparan bantal sofa.

"Ckkkkkk.. Beruntunglah hanya wajahmu yang terkena amukan olehnya, kalau sampai juniormu terkena tendangan, atau pelintiran tangannya. Bagaimana?"- tanya Lucas. Duduk bersebelahan di samping Ashley.

"Ya.. Seperti junior mu yang pernah aku pelintir dan ku siksa"- sahut Ashley. Yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Lucas.

Ashley benar-benar membuat Lucas tak memiliki muka di depan sahabatnya. Lucas pun mengumpat dalam hatinya. "Sialann.. Brengsekk. Bedebah... Arrggggghhh.. Gadis ini benar-benar membuat harga diriku jatuh"-

"Ckkkkkkkkkkkkkkkk... Jadi, kau pernah di siksa oleh gadis bar-bar ini.. Hahhahahhaha.. Lalu bagaimana dengan junior mu, apa masih berdiri dengan tegak, keras dan kokoh"- Tawa Frans pun pecah.. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.

Tak dapat Frans sangka. Lucas yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya dengan ego setinggi langit. Bisa di patahkan oleh Ashley. Gadis pertama yang menghancurkan harga diri Lucas.

Wajah Lucas memerah. Menahan malunya. Ia tak dapat berkata apa pun, setelah Ashley. Mampu membuat harga dirinya terjun bebas. Tanpa pelindung.

"Plakkk..."- kali ini Lucas yang menghadiahi Frans dengan bantal sofa. Tepat ke arah wajah Frans.

"Sudah puas menertawakanku hah.."- tanya Lucas kesal.

"Ckkkkkk... Sungguhhhh.. Aku tidak menyangka. Seorang Lucas Samuel Franklyn. Bisa di jatuhkan harga dirinya.. Ckkkkkkk.... "-

"Brengsekkkkkk.... Sialan.. Awas kau..."- kemudian Lucas, segera menghampiri Frans. Untuk memberi pelajaran pada sahabatnya.

Sementara Ashley sendiri tidak mempedulikan kedua pria tersebut. Pandangannya teralihkan ke sebuah map di atas meja. Yang lucas bawa.

Ashley pun menimbang-nimbang untuk melihat isi dalam map itu.- "tidak ada salahnya untuk melihatkan"- kata Ashley bermpnolg pada dirinya sendiri. Ia pun lekas mengambil map tersebut dan membacanya. Sontak, Ashley terkejut. Membulatkan matanya. Tampak tidak percaya.

Ashley mengulanginya. Membaca isi di dalam map itu dengan berhati-hati tanpa ada satu pun kalimat yang tertinggal.

Surat Kesepakatan

Antara pihak pertama : Lucas Samuel Franklyn

Dan pihak kedua :  Ashley Gabriella Collins.

1. Pihak pertama, memberikan kebebasan pihak kedua untuk melakukan apa saja di penthouse ini, terkecuali di dalam ruang kerja pihak pertama.

2. Pihak kedua harus, membersihkan penthouse ini sendiri. Sepertu memasak. Mencuci piring. Memcuci baju atau sebagaimana yang di kerjakan seorang maid. Di karenakan, penthouse ini tidak ada maid yang bertugas.

3. Pihak kedua harus meminta ijin terlebih dahulu. Jika ingin keluar penthouse.

4. Tepat pukul 10 malam. Pihak kedua harus segera pulang ke penthouse, atau pihak kedua tidak di izinkan masuk kedalam penthouse.

Surat kesepakatan ini, di buat atas dasar. Kesepakatan bersama. Dengan poin-poin yang sudah di sepekati sebelumnya.

Jika pihak kedua melanggar point 3 dan 4, pihak pertama akan memberikan hukuman untuk pihak kedua.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel