Bab 7 Rasa
Dia berdiri memperhatikan bunga yang begitu indah dan banyak macam jenisnya ditanam begitu rapi yang terletak di taman halaman depan mansion Aubrey. Sesekali terlihat dia menarik sudut bibirnya dan matahari sore itu juga mampu membuat pipinya yang putih terlihat merona.
"Permisi, anda siapa, ya?" Aubrey melangkah dan mendekat ke arah pria itu.
Seketika pria itu menoleh dengan senyum cerianya. Sontak Aubrey hendak ingin pergi, tetapi tangan sang pria menahan lengannya.
"Jangan pergi, please. I just want to say sorry."
"Lepaskan terlebih dahulu tanganmu."
Aubrey pun mengajak pria itu duduk di sisi taman mansion dan berbincang di sana. Sesaat mereka tampak terdiam dan enggan memulai.
"Cepatlah, kau ingin berbicara apa? Aku masih banyak yang harus kukerjakan. Selain itu bagaimana kau mengetahui tempat tinggalku?" tanya Aubrey menyelidik.
"Seorang Calandre, tidak sulit bukan mencari tempat tinggalmu." Pria itu sambil tertawa.
Aubrey pun terperangah mendengar ucapan pria tersebut. Dia bermonolog 'ternyata dia sudah mengetahui siapa aku, tapi dari mana?'
"Perkenalkan, namaku Dominique Hameed. Aku ingin meminta maaf untuk kejadian beberapa saat lalu ketika di acara Mardi Gras dan di Bourbon Orleans."
"Sudahlah, aku sudah melupakan kejadian itu," ucap Aubrey berbohong.
"Lalu, kau mau memberitahukan namamu?"
"Bukankah kau sudah tahu."
"Aku ingin kau yang memberitahu."
Aubrey menghela napas. Dia tampak sedikit kesal, tidak pernah dia berbicara sebanyak ini kepada orang yang baru dia kenal.
"Baiklah, namaku Aubrey Calandre. Puas."
"Belum."
Aubrey melotot ke arah Dominique dan tawa Dominique terlepas begitu saja dari mulutnya. Aubrey tampak kesal dan ingin beranjak pergi.
"Tunggu. Oke, oke, aku tidak akan bercanda lagi. Kita belum berjabat tangan, hmmm." Dominique berbicara sambil mengulurkan tangannya.
Dengan terpaksa akhirnya Aubrey menerima uluran tangan Dominique.
"Baiklah, sekarang kita berteman 'kan? Langkah selanjutnya berikan nomor telepon genggammu."
Akhirnya, mereka saling bertukar nomor. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Dominique pun pamit dan pergi dari Mansion Aubrey.
***
Tony tampak kesal karena pesannya tidak dibalas oleh Aubrey.
"Ah, mengapa dia tidak membalas pesanku. Aku harus mencari cara lainnya, bisa-bisa nanti aku keduluan Dominique lagi."
'Halo, Antony cepat cari alamat mansion keluarga Calandre, kemudian beli buket bunga mawar dan kirimkan untuk nona muda pemilik kediaman tersebut!' perintah Tony menghubungi asistennya melalui telepon genggamnya.
"Wait and see. Aubrey Calandre, suatu saat nanti pasti engkau akan jatuh cinta denganku."
***
Mentari sore kian terbenam. Aubrey dengan segala gundahnya memikirkan pertemuan dan perbincangannya dengan Dominique.
Aubrey bergumam sambil menatap langit sore, "ah, pria itu sepertinya baik. Perasaan apa ini, mengapa selalu bergetar tatkala aku mengingatnya."
Range Rover Black memecah jalanan kota New Orleans. Dominique mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh hampir tiga puluh menit, dia pun sampai di mansion Tony Blair. Dengan gagahnya Dominique memasuki mansion milik Tony. Setelah melewati beberapa ruangan dan menyapa semua penghuni rumah, dia pun sampai di ruang kerja Tony.
"Hai, Dom! Kau ke mana saja? Kemarin aku mencarimu, tetapi tidak ada yang tahu kau ke mana. Telepon genggammu juga tidak aktif. Jangan-jangan kau menyembunyikan sesuatu, ya, dariku," ucap Tony Menyelidik.
Dominique hanya memutar bola mata malas dan menampilkan seringainya, kemudian terdengar helaan napas. Setelah dia mendudukan bokongnya dia atas sofa, Dominique merogoh kantong celana dan mengeluarkan telepon genggamnya.
"Nih." Tony memberikan teleponnya kepada Tony.
"What is this?" tanya Tony.
"Telepon genggam," jawab Dominique dengan tingkah konyolnya.
"Iya, aku tahu itu telepon genggam tapi buat apa?" Tony menanggapi kekonyolan sahabatnya itu dengan kesal.
"Ambil dan lihatlah," ucap Dominique sambil tertawa kecil melihat Tony yang kesal.
Pada akhirnya, Tony mengambil telepon genggam milik Dominique, kemudian memeriksa layarnya. Dia terkejut ketika melihat apa yang tertera di atasnya.
"Aubrey Calandre."
"Yups."
"Kau dapat nomor ini dari mana?"
"Tentu saja dari yang punya."
"But how?"
"It's easy, Man. You just need to use your brain." Dominique berkata sambil menunjuk ke kepalanya sambil tersenyum.
"Sudah, tidak usah bingung. Kau mau tidak nomornya?" tanya Dominique.
"Tentu saja, aku akan lebih mudah mendekatinya nanti," jawab Tony sambil tersenyum.
"Tapi, kau tidak keberatan jika aku mendekatinya? Sepertinya kau juga tertarik padanya," lanjut Tony.
Dominique hanya tertawa kecil menyambut pertanyaan Tony. Sikapnya itu mampu membuat Tony memiliki pertanyaan besar. Dominique mengalihkan pembicaraan mereka, kemudian membahas perihal lain. Namun, dalam hati Tony penuh rasa tanda tanya sekaligus bahagia.
Setelah selesai dengan urusan mereka, akhirnya Dominique meninggalkan mansion Tony dan kembali ke kediamannya.
***
Dentuman musik keras memenuhi ruang lantai dansa, terlihat Cassandra tampak hanyut oleh lantunan lagu tersebut. Tubuhnya meliuk-liuk sambil sesekali mencecap minuman yang berada di tangan kanannya. Setelah cukup puas berada di lantai dansa, dia pun duduk di sudut meja bar yang telah dipesan.
"Hei, Cass! Sendirian saja, biasanya kau selalu mengekor dua orang tampan yang biasa ke sini, siapa namanya, aku lupa?" tanya teman wanita Cassandra yang baru datang.
"Oh, itu sepupuku Tony dan sahabatnya Dominique. Ya, I just want to be alone right now." Cassandra menjawab sambil mengangkat bahunya.
"Bukan karena mereka tidak mengijinkan kau mengekor mereka terus?" tanya teman Cassandra lagi.
"Oh, No. Siapa yang mampu menolak karisma seorang Cassandra. Aku hanya ingin bersenang-senang sendiri saja," jawab Cassandra.
"Baiklah, aku akan menemanimu malam ini, bagaimana? Mari kita bersulang!"
"Oke, bersulang. Untuk malam para gadis!"
Dengan diiringi gelak tawa dan obrolan kecil, mereka pun menghabiskan malam itu di Baton Rouge Gay Bars dengan bahagia. Meskipun, banyak pria-pria yang mendekati, tetapi mereka menolak dan tidak menghiraukannya. Musik pun semakin keras dan lantai dansa di Rouge Gay makin memanas.
***
Tony yang sangat gembira mendapatkan nomor telepon Aubrey tampak gelisah. Dia mengetik sejumlah kata, kemudian menghapusnya lagi, begitu seterusnya. Tony sangat berhati-hati menyusun kata-kata untuk menaklukkan pujaan hatinya itu.
"Ah, aku harus menulis apa, ya? Akankah dia membalas pesanku kali ini? Banyak asa dan sejuta rasa yang ingin kusampaikan, jika saja dia memberi sebuah kesempatan."
Begitu banyak pertanyaan di dalam hati Tony. Sekilas dia ragu akan tindakannya, tetapi dia juga ingin mendapatkan balasan perhatian Aubrey. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk mengirim pesan.
'Seperti laiknya sang mentari, kau hadir ketika malam gelap yang panjang menemani. Pesona yang kau berikan mampu meluluhlantakkan duniaku. Berikan aku kesempatan, maka akan kubuktikan tiada penyesalan saat kau kelak bersamaku.' Tony.
Aubrey menatap telepon genggamnya yang berbunyi. Dalam hatinya berpikir, siapa yang mengirimkan pesan selarut ini? Namun, rasa penasarannya akhirnya membuat dia memeriksa teleponnya.
