Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 Tony Blair Pendekatan

Setelah berpisah dengan Dominique di depan lobi Hotel Bourbon Orleans. Tony menghampiri Cassandra dan menasihatinya. Cassandra tampak marah saat itu dan pergi meninggalkan Tony. Tony tampak pusing dengan sepupunya satu itu, keras kepala dan sulit untuk dinasihati. Dia menjadi tidak enak hati dengan Dominique, di satu sisi ada sepupunya dan di sisi lain sahabat dekatnya. 

Pada akhirnya, Tony memutuskan untuk kembali ke kamar. Dia terlihat menggerutu sepanjang jalan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pada saat akan menaiki lift, dia melihat Aubrey yang sedang berbincang dengan salah satu karyawan hotel -- karena terlihat dari seragam yang dipakai. Tony urung menaiki lift, setelah menunggu beberapa saat, dia pun menghampiri dan bertanya kepada karyawan tadi perihal siapakah gadis yang berbicara dengannya tadi. 

"Mmm. Rupanya wanita itu cucu pemilik hotel ini. Rasanya aku pernah melihat dia, sebelum tadi kejadian di depan toilet. Tapi di mana yah?" Tony bergumam sendiri sambil mengingat-ingat di mana dia pernah melihat Aubrey. 

Ketika sedang berpikir keras, telepon genggamnya berbunyi. Teman Tony menelepon dan mengajaknya untuk bertemu. Akhirnya, dia membatalkan niatnya untuk kembali ke kamar dan lebih memilih menemui temannya tersebut. 

Tony gegas menuju restoran yang diberitahukan kepadanya melalui pesan singkat. Dia pergi dengan menggunakan taksi dan menghabiskan siang itu bersama teman-temannya. 

Petang pun menjelang, Dominique mengirimkan pesan pada Tony bahwa akan keluar dan meninggalkan hotel sore itu dan kembali ke mansion. Karena Tony masih ingin bersenang-senang, dia pun memutuskan untuk menginap dua hari lagi di Bourbon Orleans. 

Saat sedang asyik berbincang, Tony mengingat sesuatu. Ya, dia ingat wanita yang dia goda sampai kesal saat dia mabuk di acara Mardi Gras adalah Aubrey. Pantas saja wajahnya tidak asing, tetapi apa hubungannya wanita itu dengan Dominique. Tampaknya Dominique sangat tertarik, karena terlihat dari kilatan matanya yang tak pernah memandang wanita mana pun seperti saat dia memandang Aubrey. 

'Aku harus mencari tahu, apa sebenarnya hubungan mereka. Meskipun wanita itu terlihat sangat tomboy, tetapi sangat cantik. Ah, rasanya aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama,' gumam Tony di dalam hati. 

"Hei, Crazy boy. Kenapa kau senyum-senyum sendiri. Pasti kau sedang berpikiran mesum, ya?" tanya teman Tony sambil tertawa. 

"Tidak, bukan itu. Sepertinya seorang Tony Blair akan berhenti menjadi seorang casanova dan menjatuhkan pilihan hatinya," ucap Tony sambil mengusap dagunya. 

Teman-temannya yang sedang memperhatikan tingkahnya hanya dapat menggeleng dan tertawa. Mereka tidak percaya bahwa seorang Tony yang tidak pernah puas hanya dengan satu wanita sedang jatuh cinta. Terdengar sangat lucu dan konyol. 

Sore beranjak menjadi malam. Tony pun melanjutkan pesta bersama teman-temannya di bar terdekat. Pikirannya melayang jauh, sambil meminum segelas sazerac dan mengingat senyum manis milik Aubrey. 

"Seandainya takdir mempertemukan kita kembali. Pasti aku akan menjadi pria terbaik agar pantas bersanding denganmu." Tony bergumam dengan percaya diri. 

***

Dominique terus mengikuti motor Aubrey pada sore itu. Entah mengapa terasa ada medan magnet kuat di diri Aubrey yang membuat dirinya merasa penasaran. Setelah beberapa saat mengikuti, motor tersebut berhenti di sebuah panti. Ternyata Aubrey pergi mengunjungi panti asuhan Calandre Foundation -- milik keluarganya. Dari kejauhan Dominique memperhatikan kegiatan yang dilakukan Aubrey di panti tersebut. Setelah cukup puas memperhatikan, dia pun pergi meninggalkan panti. 

Aubrey menoleh, kemudian menyeringai. Tampaknya dia mengetahui bahwa ada yang mengikuti dia sedari tadi. Maka, dirinya sengaja membelokkan motornya ke arah panti. Setelah dirasa aman, dia pun memutuskan kembali ke mansion. 

'Halo, Reno. Aku tidak jadi kembali ke hotel malam ini. Rasanya aku akan pulang saja ke mansion. Rapikan saja kamarku, mungkin esok hari, aku akan kembali ke sana.' Aubrey berbicara dengan asisten Abraham melalui telepon genggamnya. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 dan langit di New Orleans mulai terlihat gelap. Matahari baru saja terbenam sekitar pukul 19.20. Setelah memandang langit sejenak, Aubrey, Dominique, dan Tony di tempat yang berbeda menerawang jauh dengan pikiran mereka masing-masing. 

***

"Selamat pagi Nona Aubrey, sarapan telah tersedia di meja makan, dan Tuan Abraham sudah menunggu anda di sana, silakan," ucap Eugene -- Butler di kediaman Aubrey sambil membungkukkan sedikit tubuhnya ke depan. 

Dengan berlari kecil Aubrey menuruni tangga sambil berbincang dengan Eugene. 

"Terima kasih, Eugene," balas Aubrey

"Oh Kakek sudah pulang dari Shreveport?" tanya Aubrey, melanjutkan percakapannya.

"Sudah Nona, tadi malam, sekitar pukul 24.00," jawab Eugene. 

Aubrey pun segera melangkah ke ruang makan. Di sana terlihat Abraham sedang menikmati sarapan paginya, kemudian Aubrey pun ikut bergabung. Mereka tampak berbincang-bincang dan tertawa kecil membahas tentang hotel dan hal lainnya. 

Setelah selesai sarapan, Aubrey memutuskan untuk tetap di Mansion. Sedangkan Abraham pergi ke Bourbon Orleans untuk memeriksa keadaan hotel dan bertemu dengan Aaron karena hendak membahas sesuatu hal. 

Aubrey merebahkan tubuhnya di kasur. Sesekali dia bergerak ke kanan dan ke kiri. Kemudian memeriksa telepon genggamnya. Aubrey memicingkan mata, ketika dia melihat pesan pribadi dari aplikasi sosial medianya. 

'Hai cantik, perkenalkan aku Tony. Kita pernah bertemu di festival Mardi Gras. Ya, meskipun pertemuan pertama kita tidak menyenangkan, tetapi aku akan memperbaikinya. Beri aku kesempatan, ya. Kita mulai dari awal,' pesan Tony.

Aubrey tampak menimbang-nimbang pesan itu, kemudian mengingat-ingat kejadian di festival Mardi Gras. Setelah mengingatnya, dia tampak malas dan melempar telepon genggamnya ke sembarang kasur.

'Please, jawab ya pesanku ini. Give me a chance, okay.'

'Aku boleh menelponmu.'

Rentetan pesan terus masuk di telepon genggam Aubrey. Dia hanya meliriknya dan enggan untuk memeriksa bahkan membacanya. Aubrey tampak mengumpat kesal karena telepon genggamnya terus berbunyi.

Pada akhirnya, dia memutuskan untuk menonton acara televisi dan menghabiskan hari dengan menonton beberapa film favoritnya. Tak terasa, dia sudah menonton selama berjam-jam dan sore sudah menjelang.

"Ah, akhirnya telpon itu tidak berbunyi lagi. Dari mana orang gila itu tahu sosial mediaku, sedangkan aku saja tidak pernah menyebutkan namaku padanya," ucap Aubrey bermonolog.

Saat Aubrey sedang berpikir bagaimana Tony bisa mengetahui akun sosial medianya, terdengar suara pintu kamar Aubrey diketuk.

"Permisi, Nona. Ada seseorang yang mencari anda di bawah."

Aubrey pun membukakan pintu dan bertanya kepada pelayannya siapa yang tengah mencarinya. Sedangkan selama hidup, dia tidak pernah bergaul pada siapa pun. Setelah mendengar jawaban dari pelayannya, Aubrey pun turun untuk melihat siapa tamu tersebut.

Terlihat seorang pria gagah, tampak dengan tinggi dan berat badan yang ideal. Rambutnya disisir rapi dan menggunakan pakaian kasual menambah aura ketampanannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel