Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kuasa Tuhan

Kepala Sintia ditutup kain hitam, mulut pun demikian, serta tangan diikat di lengan kursi, apalagi kedua kakinya. Jika tak ingin tersungkur dari kursi itu, dia harus diam tanpa gerak sedikit pun. Namun, Sintia sudah lelah, perut keroncongan pun tak dapat ditahan. Kewarasannya kembali lenyap, dia tidak peduli jika harus tersungkur karena berusaha memberontak dari perlakuan orang misterius.

Wanita dengan rambut sepunggung itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan menggoyang-goyangkan tubuh; itu seperti bagaimana dia melenggak-lenggokkan tubuhnya saat bersenang-senang di kelab malam. Ternyata kelenturan itu juga berguna sehingga yang terjadi, kursi menggelepar ke sebelah kanan, begitu pun tubuhnya; ikut roboh.

"Hmm! Hmm!"

Mungkin sebaiknya suara yang keluar dari mulut Sintia diartikan sebagai ungkapan atau permintaan tegas atas keinginan dibebaskan dari segala belenggu dan siksa yang telah sekian jam dia alami. Ruangan sempit tempatnya disekap hanya diterangi cahaya lampu minyak; remang-remang. Namun, dari celah-celah kecil kain yang menutupi kepalanya, dia melihat cahaya terang dari ruangan di depan. Derap sepatu pantofel yang telah beberapa hari ini selalu menghiasi telinganya kembali terdengar.

Tidak salah lagi. Suara langkah itu menandakan kedatangan lelaki misterius yang telah merusak segel kesuciannya, membobol seolah permainan sepak bola yang bisa terus dimasuki berkali-kali. Meski melakukan pelanggaran, dia tak peduli dan tetap maju sebagaimana hasrat telah memenuhi akalnya.

"Hmm! Hmm!"

Suara Sintia semakin lantang meski tak dapat menyuarakan huruf-huruf lain. Kembali dia menggerakkan tubuh lebih kuat, kursi yang bergerak menghasilkan suara karena beradu dengan lantai kumuh yang di setiap sudut dipenuhi kotoran tikus dan semacamnya.

Derap sepatu tak lagi terdengar, tetapi Sintia mengetahui lelaki tersebut telah berdiri di hadapannya. Sangat jelas terlihat karena cahaya yang dia saksikan dari celah kain tiba-tiba menggelap, yang artinya tertutupi tubuh lelaki itu.

Sintia mendongak, tetapi belum jelas wajah lelaki itu karena ruangan tempatnya berada kekurangan cahaya. Sialnya, dia merasakan sepatu menginjak lehernya. Hal itu justru membuatnya semakin berontak dan berteriak.

"He, diam!" bentak lelaki itu.

Terkesiap. Air mata kembali menetes. Sintia heran; sebetulnya dia tidak pernah takut dengan hal apa pun. Namun, sepertinya Tuhan telah menghukumnya atas semua yang dia perbuat selama ini. Justru Tuhan tidak terpikir sebagai Dzat Maha Baik baginya, sebaliknya bahwa Tuhan di pandangannya semakin terbayang menyeramkan, seolah penjahat yang selalu membalas semua kelakuannya dengan kejahatan pula.

Lelaki misterius meletakkan nampan. Dia sangat mengerti dengan kelaparan yang diderita wanita tersebut. Aroma nasi goreng yang masih hangat bercampur udang goreng itu menggelitik pernapasan Sintia. Ditambah aroma jus jeruk yang sangat kental; perutnya merespons secara terus-menerus.

Si lelaki membuka kain yang menutupi kepala Sintia. Akan tetapi, dia tidak dapat melihat wajah lelaki itu karena menggunakan topeng seperti biasa. Kali ini tidak mengenakan jubah hitam, melainkan setelan hitam dengan dalaman berwarna putih. Dada Sintia kembang-kempis. Dia sadar harus mengalihkan perhatian sementara waktu demi bisa menyantap makanan yang tersedia di depannya.

Sang lelaki perlahan membuka kain yang membekap mulut Sintia, tetapi jerat di kaki dan tangan justru tetap dibiarkan. Bahkan posisi kursi masih sama; tergeletak ke sebelah kiri. Dia tidak berniat mengembalikan posisi kursi dan tubuh Sintia seperti semula.

"Makan pakai mulut. Tidak perlu pakai tangan. Makan selayaknya anjing makan."

Ucapan lelaki itu kembali menyentuh sensor amarah di dalam diri Sintia. Tidak salah lagi: hanya lelaki biadab yang berlaku kasar dan kurang ajar. Setidaknya seperti itulah bagi Sintia. Dia semakin yakin dirinya sedang berusaha disiksa orang gila yang kehilangan kepercayaan dan rasa kemanusiaan.

Walau demikian, tak ada cara lain dan dia hanya bisa pasrah, lalu melahap nasi goreng tanpa menggunakan tangan untuk pertama kalinya. Sintia menjadi anjing yang terkurung di sangkar besi, tinggal bersama pemilik tak berhati, tak berprikemanusiaan. Mungkin Sintia sudah dianggap anjing oleh lelaki itu, bukan manusia.

Tak lama kemudian, Sintia merasa kenyang. Nasi goreng itu tersisa cukup banyak. Namun Sintia tak bisa menghabiskannya karena dia tak biasa menjadi anjing. Lagi pula, mungkin lebih banyak nasi yang berserakan daripada yang masuk ke dalam perut. Dia gagal menjadi anjing karena makan pun tak sebersih yang dilakukan hewan berkaki empat itu.

"Minum," lirih Sintia dengan napas yang masih tak beraturan.

Lelaki bertopeng yang duduk di ranjang itu pun menghampirinya, lalu memberikan gelas yang di dalamnya telah tersedia sedotan untuk membantu Sintia mengisap jus. Tampaknya Sintia sangat haus, jus habis dalam hitungan detik.

Sintia memutar bola mata ke sudut pelupuk. Merasa punya kesempatan, dia menggigit tangan lelaki itu hingga pekikan menggema di ruangan. "Wanita goblok!" jerit lelaki itu dengan nada amarah.

Sintia cukup terpuaskan dengan sikapnya itu, tentu dia tahu risikonya karena telah berani melakukan hal yang membuat lelaki itu marah. Rambut Sintia dijambak, lalu kepalanya dibenturkan di lantai.

"Berani-beraninya kamu—"

"Siapa kamu?!" Sintia tak gentar. Sambil menahan rasa takut dan kegelisahan jikalau tiba-tiba lelaki itu berniat membunuhnya di tempat. Dia harus mengetahui siapa lelaki itu dan apa motifnya memperkosa bahkan menyiksanya.

Si lelaki menjauhi Sintia, lalu berhenti di mulut pintu. "Selamanya kamu tidak akan tahu siapa saya. Dan selamanya kamu akan berada di neraka ini. Tenang saja, saya tidak akan membiarkanmu membusuk kelaparan. Saya akan selalu memberimu makan yang cukup, tapi perlahan kewarasanmu akan lenyap hingga menjadi gila. Itu lebih baik."

"He! Siapa kamu?! Anjing!"

Sang lelaki lenyap di ruangan berikutnya, lampu tiba-tiba padam. Sintia terus berteriak, tetapi tak satu pun yang bisa mendengarnya di tengah hutan yang tiada satu manusia pun kecuali dia dan lelaki itu. Sintia harus pasrah.

-II-

Jika ada kekuatan luar biasa yang dapat membebaskannya dari tempat kumuh nan gelap itu, Sintia akan memohon dengan sangat pada sang pemilik kekuatan. Hati kecilnya menyerukan nama Tuhan yang Maha Suci lagi Maha Kuasa. Tidak dimungkiri, meski hatinya kadang menolak percaya pada kuasa Tuhan, Sintia akhirnya sadar bahwa tiada kekuatan lain yang lebih besar karena bisa membawanya menuju tempat menyeramkan dengan segala penyiksaan yang menyakitkan.

Tubuhnya merasa pegal karena cukup lama berbaring dengan tangan dan kaki yang diikat pada kursi. Masalah lain datang menghampiri: dia merasa gatal di bagian leher. Bagaimana caranya dia bisa menggaruk bagian yang sulit dijangkau? Mustahil itu bisa dilakukan sebelum tangannya benar-benar terlepas dari jerat. Tidak hanya itu masalahnya; laba-laba merayapi lengannya, kecoak berjalan ke sana kemari di permukaan kulit, mondar-mandir melalui bahu ke kepala.

"Pergi! Pergi! Pergi!"

Untung saja mulutnya tidak kembali dibekap lelaki itu, dia jadi bisa menyuarakan rasa takut dan jijik karena dua serangga yang sama-sama tak dia sukai mulai berkumpul menggerogoti dirinya.

Sintia menggerak-gerakkan tubuhnya agar dua serangga menjijikkan itu segera pergi, tetapi tak berefek apa pun. Tikus pun hadir di depan wajah hingga membuatnya memekik lagi pekak.

"Tolong! Siapa aja! Tolong saya!"

Memikirkan dirinya sebatang kara berada di gubuk tengah hutan, Sintia teringat kehidupannya yang telah lama hancur. Ibunya meninggal dunia saat dia duduk di bangku SMA. Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang sama sekali tak peduli padanya. Dia frustrasi, lalu meninggalkan bangku sekolah hingga tersesat di dunia hitam hingga sekarang. Dia mulai berusaha seorang diri memenuhi kebutuhan hidup. Awalnya bekerja sebagai bartender di sebuah bar demi bisa membiayai sekolah adiknya.

Sungguh malang, tetapi perjuangannya patut diacungi jempol. Dia tak menyerah pada takdir yang senantiasa tertawa di atas penderitaannya. Hingga itulah, dia jadi lebih suka dunia malam yang kelam; sendiri dalam kegelapan dan hanyut dalam buaian riuhnya musik pemuas ego.

Malam semakin dingin, pohon mengibas, lalu angin bertiup, masuk dari ventilasi yang cukup lebar. Sintia menggigil; tubuhnya bergetar. Tiada kuasa lagi, tiada daya lagi. Matanya terkantuk-kantuk, tetapi dia menahan diri untuk tidak memejam.

"Tuhan. Apa masih ada ampunan untukku yang berdosa dan hina ini?" katanya dengan suara parau lagi lirih seiring air mata mengalir di sudut netra.

"Apa masih bisa aku diampuni? Apa masih bisa aku dekat dengan-Mu? Aku sadar, kok. Aku sudah meninggalkan-Mu dalam waktu yang sangat lama. Aku terbuai dengan dunia yang Kau ciptakan. Aku sadar."

Wajah itu tampak lelah. Garis bibirnya melengkung naik.

"Tuhan. Mohon maaf, ya. Ampuni aku. Setelah bebas dari sini, aku berjanji akan menemui-Mu. Berjanji akan beribadah pada-Mu. Berjanji akan melakukan kewajibanku."

Tangis di ruangan gelap gulita itu semakin pecah. Sunyi yang teramat, sirna seketika, dan tangis Sintia sesekali tertahan. Kain yang mengikat tangannya, terlepas dengan sendiri. Itu terjadi bukan tanpa penjelasan, tetapi sedari beberapa saat yang lalu, kain itu perlahan-lahan melonggar akibat pemberontakan yang Sintia lakukan. Sintia terbebas, tetapi dia tidur amat pulas karena kantuk dan lelah tak dapat ditoleransi.

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel