Pustaka
Bahasa Indonesia

The Strongest Magician

64.0K · Tamat
Tirika
50
Bab
236
View
9.0
Rating

Ringkasan

jsjsj

RomansaFantasiDewasaSupernaturalpetarungSupranaturalPetualanganDewaRasionalCerita

Awal mula kekacauan

"Apakah ini terakhir kalinya aku berguna untuk seseorang?"

Pernyataan itu bukanlah sebuah jeritan putus asa, melainkan sebuah bisikan lirih dari dalam hatinya, ketika ia perlahan melangkah menuju kematian. Sesuatu yang Ren rasakan setelah berhasil menyelamatkan seseorang, meski dirinya sendiri tidak terselamatkan.

Kesadarannya perlahan memudar. Tubuhnya ditelan arus dan ia tenggelam semakin dalam ke kedalaman gelap yang seakan tidak berujung. Rasa sakit tajam menjalar dari luka di punggung dan bahu, membuat gerakannya kian melemah. Darah segar merembes keluar dan bercampur dengan air asin yang menekan seluruh tubuhnya.

Setiap kali ia berusaha menarik napas, yang masuk hanyalah air yang dingin, dan paru-parunya terasa diperas habis seakan tidak diberi ruang sedikit pun untuk bertahan.

Air itu dingin, dingin yang menusuk hingga ke tulang dan perlahan merampas setiap jejak kehangatan dari tubuhnya. Dunia di sekelilingnya lenyap ditelan keheningan. Tidak ada lagi auman badai, tidak ada lagi jeritan panik para penumpang, bahkan tidak ada lagi deru mesin kapal. Semua suara yang tadinya terdengar oleh telinga kini menghilang perlahan. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang perlahan menelan dirinya.

Matanya sempat menangkap bias cahaya bulan yang menembus permukaan laut di atasnya, berkilau sebentar lalu pudar seiring tubuhnya jatuh semakin dalam. Di tengah kegelapan itu, bayangan-bayangan samar berkelebat. Entah hanya halusinasi akibat pikirannya yang goyah, atau memang hal lain yang secara kebetulan yang terlintas dihadapannya. Tekanan air kian menekan dadanya dan membuat waktu seolah berhenti.

Bahkan di ambang kematian tersebut, Ren menunjukan senyum pasrah samar merekah di bibirnya. Seolah olah memberitahu bahwa ia hanya bisa menerima akan apa yang dialaminya. Menerima semua apa yang terjadi.

Bagi seseorang sepertinya, tidak ada keputusan yang lebih baik daripada menyelamatkan nyawa dua anak kecil yang malang dalam kondisi itu, meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Kepuasan itu muncul dari kepasrahan dan kerendahan diri yang ia lakukan hingga akhir, dan hal itu sudah lebih dari cukup.

"Sial sekali... Aku harap aku bisa menemukan kehidupan baru yang tenang dan tidak membosankan" ucapnya, berharap dengan nada pasrah.

Ren menutup matanya di kedalaman laut, membiarkan tubuhnya terbawa arus dan kesunyian yang mencekam. Dalam benaknya, peristiwa beberapa saat terakhir berputar— suasana tenang dalam kapal, tragedi rusaknya kapal, bocah yang ia selamatkan dari reruntuhan, dan tubuhnya sendiri yang kini tak berdaya. Segalanya tampak begitu jelas, dan terlihat begitu nyata.

Dan sebelum semuanya menghilang, pikirannya tertuju pada beberapa saat yang lalu. Sebuah malam yang menakutkan, malam sebelum dirinya tenggelam tidak berdaya.

Itu adalah awal dari segala kekacauan…

Beberapa saat sebelumnya…

---

Langit malam membentang tenang di atas samudra luas. Cahaya bulan memantulkan kilau tipis di permukaan air, sementara hujan gerimis jatuh seperti tirai halus yang menyelimuti dek kapal. Ombak bergulung perlahan, seakan mengiringi perjalanan panjang menuju benua seberang.

Di tengah lautan itu, sebuah kapal besar yang berisi banyak penumpang melaju perlahan. Di dalam, penumpang-penumpangnya sibuk dengan dunia masing-masing, ada yang bercakap-cakap, ada pula yang makan dengan lahap. Dan di salah satu sudut ruang makan, seorang pemuda duduk sendirian.

Namanya adalah Shiumi Ren. Seorang pria berusia 20 tahun, yang hendak pergi menuju Eropa untuk bekerja di sana. Ia menempuh perjalanan itu dengan menggunakan kapal ini, menyeberangi lautan luas menuju tempat pekerjaan yang menantinya.

Di dalam kapal, Ren sedang duduk makan seorang diri sambil melamun tentang pekerjaan yang kelak akan ia jalani. Sendok di tangannya bergerak lambat, lalu berhenti.

Pandangannya kosong menembus kaca jendela yang basah oleh gerimis. Suara denting sendok dan gelas beradu di sekitar, bercampur dengan aroma sup panas dan roti panggang. Namun bagi Ren, semua hiruk pikuk itu hanya terdengar sayup, seakan ia terpisah oleh dinding kaca tak terlihat.

Sebuah gumaman akhirnya terucap dari bibirnya, “Huh… bekerja di Eropa, ya?” ucapnya lirih, sebelum menghela napas pasrah. Wajahnya jelas memancarkan kelelahan yang sulit ia sembunyikan, garis lelah itu bahkan lebih kentara daripada semangat yang seharusnya menyertai perjalanan menuju masa depan.

"Aku harap, pekerjaan disana tidak terlalu berat, dan karyawan disana ramah terhadap orang asia sepertiku" pikir Ren sembari menyantap makanannya. Sendok itu kembali bergerak, namun perlahan, seolah hanya demi mengisi perut, bukan karena ia benar-benar ingin.

Saat makan, pandangan Ren yang kosong akhirnya terhenti pada sesuatu. Tak jauh dari mejanya, dua anak kecil terlihat bermain sambil tertawa riang. Mereka saling bercakap dengan nada ringan. Tawa mereka begitu jernih, bergema di antara suara sendok dan gelas, membuat Ren merasa seakan kebahagiaan adalah sesuatu yang jauh dari dirinya.

Ia menunduk, menatap sendok di tangannya yang berkilau samar tertimpa cahaya lampu. Rasa iri tipis menyelinap dalam hatinya, bukan hanya pada keceriaan anak-anak itu, melainkan juga pada kebebasan yang mereka miliki.

Sebuah kenangan pun muncul, merayap pelan dari sudut pikirannya.

Ren teringat masa kecilnya sendiri. Masa di mana ia pernah berlari di lapangan dengan teman-temannya, tertawa hingga kehabisan napas, atau pulang ke rumah dengan tangan kotor penuh tanah sambil disambut suara hangat keluarganya. Itu adalah masa paling bahagia, masa di mana ia bisa tertawa lepas tanpa memikirkan beban hidup.

“Andai waktu bisa diulang kembali…” gumamnya dalam hati. Bibirnya membentuk senyum getir, namun cepat memudar, digantikan tatapan kosong yang menembus piring di hadapannya. Harapan itu terasa seperti mimpi yang mustahil, sebab ia tahu yang menunggu di depannya hanyalah tanggung jawab di negeri lain.

Suapan demi suapan kemudian masuk ke mulutnya. Rasa makanan itu terasa hambar. Namun, ia tetap melanjutkannya.

Di sekelilingnya, suara tawa anak-anak dan percakapan para penumpang bercampur menjadi satu, menciptakan dunia kecil yang hangat, tetapi Ren tetap merasa seperti orang asing yang terkurung dalam kesepiannya sendiri.