BAB 2 : Claimed by the Devil
Kenzo menarik tangan Viona dan berjalan dengan cepat. Sebagai perempuan tentunya Viona kesulitan saat mengikuti langkah Kenzo yang begitu cepat. Cengkeraman Kenzo di pergelangan tangan begitu kuat sehingga tangannya terasa sakit.
"Eh, lo apa-apaan sih? Lepasin gue!" protes Viona.
Tak ada respons.
Kenzo terus berjalan hingga tiba di dekat tangga dan menaiki anak tangga tersebut. Ya, Kenzo membawa Viona ke rooftoop, entah gedung apa, Viona tidak tahu. Dengan susah payah Viona menaiki anak tangga agar tidak tersungkur ketika mengikuti Kenzo.
"Aww!" Viona meringis ketika Kenzo melepaskan cengkeraman tangan dan mendorong tubuhnya ke dinding. Punggung Viona membentur dinding di belakangnya dengan cukup keras.
"Lo ngajak gue ke sini buat apaan, hah? Sakit nih punggung gue!" teriak Viona kepada cowok yang tak di kenalnya ini.
Kenzo menarik napas panjang dan menatap wajah Viona lekat-lekat.
"Kenapa lo ngeliat gue begitu? Mau ngapain? Lo itu siapa sih, main tarik anak orang sembarangan?" tanya Viona yang balas menatap Kenzo. Tak ada gentar di mata cewek itu. Tatapannya seakan menantang cowok di depannya.
Kenzo tersenyum miring memperlihatkan smirk-nya. "Lo nggak tau siapa gue?" tanyanya dengan suara datar serta pandangan tak lepas dari Viona.
Viona mendengus kesal. "Mana gue tau. Gue aja baru hari ini nginjakin kaki di sekolah."
Kenzo berjalan mendekati Viona dan mempersempit jarak di antara mereka. Bahkan deru napas dari keduanya sampai terdengar jelas.
"Allahuakbar! Napas gue sesak." Viona membatin. Sungguh, baru kali ini dia berdekatan dengan cowok selain kakak dan bokapnya. Aroma parfum cowok yang tengah memojokkannya ini sungguh menggugah iman.
"Dengar baik-baik! Nama gue Kenzo Stevano Andrew. Gue ini adalah anak pemilik yayasan. Gue minta sama lo untuk jaga sikap terhadap gue," tegas Kenzo dengan memanfaatkan kedudukan ayahnya untuk kekuasaan.
"Lalu apa urusannya sama gue, sehingga lo nyeret gue ke sini?"
"Gue udah bilang, jaga sikap lo terhadap gue," ucap Kenzo dengan penuh penekanan.
"Iya, terus kenapa gue ditarik-tarik begini?" Viona menahan emosi. Dia sangat geram terhadap cowok di depannya, ditanya apa! Dijawab apa!
"Lo harus minta maaf sama gue, karena lo udah nabrak gue."
"WHAT? DEMI APAA?" pekik Viona. Ckckck, sebegitu haus cowok ini dengan permintaan maaf dari dirinya.
"Berisik bego!" Kenzo mundur selangkah ketika pekikan Viona mengganggu telinganya.
"Cuma karena itu lo narik gue dengan kasar hingga berakhir di sini? Gila banget. Tadi kan teman gue udah minta maaf,'' ketus Viona.
"Gue mau kata itu keluar dari mulut lo sendiri!" ujar Kenzo
Viona memutar matanya malas. Ada ya cowok seperti ini yang membuat rumit hal sepele?
Tentu saja ada!
Dia adalah Kenzo Stevano Andrew. Cowok songong yang tengah berdiri di depannya.
"Oke! Gue turutin apa kata lo. Gue.minta.maaf," ucap Viona dengan menekankan kalimat terakhir. Dari pada tidak ada ujungnya, lebih baik dia minta maaf saja.
"Ck! Lo kira segampang itu? Telat," dengus Kenzo kasar. Kenzo kembali mendekat ke arah Viona. Kali ini bahkan lebih dekat. Kenzo memiringkan kepala mendekati telinga Viona dan membisikkan sesuatu.
***
Seperti biasanya, sekarang Rara kembali merasakan seperti di persidangan. Bagaimana tidak? Setiap dia bertengkar dengan pacarnya—Marcello Albert Pradipta atau yang biasa dipanggil Marcel—dirinya selalu menghindar. Rara memiliki ego yang tinggi, jadi tidak akan mungkin dia lebih dahulu menemui Marcel. Jadi Marcel mengambil tindakan seperti ini.
Marcel sendiri adalah sepupu dari Kenzo. Namun, sikap dan tingkah lakunya berbeda jauh dari yang Kenzo miliki. Jika Kenzo adalah seorang Bad Boy, maka Marcel lebih ke Good Boy, terlebih lagi dialah Ketua Osis SMA Bhakti Negara.
Sekarang ini mereka berdua sedang berada di tepi danau belakang sekolah.
"Jadi, masih suka main kabur-kaburan, hm?" tanya Marcel membuka percakapan di antara mereka. Sedari tadi Rara belum buka suara, bahkan ketika dia ditarik oleh Marcel. Dia diam tak bergeming.
Bukannya menjawab, Rara malah asyik meremas-remas jari tangan dengan kepala tertunduk.
"Okey! Aku minta maaf udah marahin kamu kemarin. Tapi aku bukan orang gila yang marahin kamu tanpa sebab. Kamu bolos, ya aku marah dong. Lagian kita udah kelas dua belas." Marcel memilih mengalah. Jika menunggu Rara, sampai besok pun akan terus kabur-kaburan.
Bukankah di dalam hubungan harus ada yang mengalah di saat salah satunya lebih mempertahankan egonya. Namun, tidak selamanya dia akan mengalah, ada saatnya juga ingin dimengerti.
Sampai kapankah Marcel akan selalu mengalah dan mengerti akan ego yang dimiliki Rara?
"Maaf, Aku tau kalau aku salah," ucap Rara dengan suara rendah yang nyaris tak terdengar.
"Aku kekanakan," sambungnya. Rara mengusap pipinya dengan punggung tangan, air mata jatuh begitu saja.
Selalu seperti ini. Di balik pembawaannya yang ceria, dia adalah gadis cengeng yang mudah sekali menitikkan air mata.
Marcel yang melihat pacarnya mulai sesenggukan meraihnya ke dalam pelukan hangat.
"Sstt! Aku udah maafin kamu." Marcel menenangkan Rara dengan mengusap pelan bahu dan punggung gadis itu.
***
Viona menuruni anak tangga dengan sumpah serapah di mulutnya. Dia terlihat marah.
"Cowok sialan! Gue emang anak baru di sini. Tapi gue nggak bisa diperlakukan seenaknya." Setelah menuruni anak tangga terakhir dia akan kembali ke kelas. Sudah tidak mood untuk ke kantin, lagi pula dia juga tidak tahu jalan ke arah kantin.
"Anak kepala yayasan dan pemilik sekolah katanya, heh?" Dumelan demi dumelan kembali keluar dari mulutnya.
"Songong banget jadi orang. Ketua Osis juga bukan, lagian yang punya jabatan kan bapaknya, yang songong malah anaknya."
Tiba di belokan sebuah koridor Viona menghentikan langkah. Dia merasa heran, sedari tadi dia berjalan kok belum sampai-sampai juga.
Mampus!
Viona menepuk jidat. "Wajar aja sih gue nyasar, orang jalan ke kelas aja nggak tau.” Dia lupa jika faktanya di sini adalah anak baru. Otomatis belum tahu seluk-beluk gedung sekolahan ini.
Setelah bertanya kepada siswa yang kebetulan lewat di sana, akhirnya dia tahu kalau jalan menuju kelas adalah jalan sebaliknya. Pantas saja dia nyasar ke sini, dia jalan berlawanan arah.
"Pantesan makin ditempuh makin sepi, ternyata di sana khusus gedung laboratorium," gumamnya pelan.
XII IPA 2.
Akhirnya dia menemukan papan yang menggantung di dinding atas pintu yang bertuliskan nama kelasnya.
Dengan muka yang ditekuk dia memasuki kelas dan menuju tempat duduk. Di sana sudah terlihat Rara yang sibuk mengeluarkan makanan dari kresek hitam di atas meja.
"Eh, Vi lo nggak apa-apa?" tanya Rara begitu menyadari Viona sudah duduk di sebelahnya.
"Gue nggak apa-apa. Kenapa lo cemas gitu sih?" tanya Viona heran.
"Lo nggak tau siapa sebenarnya Kenzo sih, Vi."
"Gue tau. Dia anak ketua yayasan, kan?" tanya Viona cepat memotong pembicaraan Rara.
"Bukan itu aja, Vi. Dia itu iblis sekolahan ini. Siapa pun yang berurusan sama dia. Bakal—" Rara tak melanjutkan kata-katanya. Dia mengarahkan tangan ke arah leher dan bergaya seakan menorehkan pisau di sana.
Viona nampak ngeri. Sebegitu menyeramkannya seorang Kenzo?
"Anak-anak di sekolah ini pada umumnya nggak ada yang berani sama dia," ucap Rara melanjutkan penjelasan.
Deg!
Dia teringat kejadian di rooftop tadi.
"Astaga! Padahal gue udah bentak dia, Ra," cicit Viona cemas. Dia sungguh tidak tahu kalau Kenzo selain songong juga semenyeramkan itu.
"Lo—mati lo, Vi," jerit Rara histeris.
"Ya, mana gue tau. Gue kira dia anaknya cuma songong dan membanggakan jabatan orang tuanya doang," ujar Viona yang sudah terlihat santai.
"Aduh, Vi. Lo mesti hati-hati mulai sekarang. Sebisa mungkin lo hindari si Kenzo. Lo tenang aja, gue bakal minta bantuan seseorang," ucap Rara menenangkan Viona. Padahal Viona sendiri tidak sepanik Rara.
"Udahlah, Ra. Nggak usah sepanik itu juga kali, dan nggak usah dipikirin," ucap Viona yang terlihat gemas dengan tingkah berlebihan Rara.
"Gue ini khawatir sama lo, Viona. Lo malah sok santai gini," ketus Rara melihat sikap Viona yang biasa saja.
"Iya, maaf deh."
Bukannya khawatir Rara akan marah, Viona malah terkekeh geli melihat raut wajah temannya ini. Gadis yang benar-benar membuatnya nyaman.
"Nih, gue tadi beli roti sama minuman buat lo. Belum makan kan lo?" Rara menyodorkan sebungkus roti berselai cokelat dan sebotol minuman kepada Viona.
"Thank's." Viona menerima pemberian Rara dengan senang hati. Senyum tulusnya merekah.
***
Viona membolak-balik buku Kimia yang dibacanya. Dia sedang mengerjakan soal latihan, tapi pikiran menerawang ke kejadian di rooftoop tadi. Semenakutkan itukah Kenzo? Apa mungkin cuma hoax saja?
Namun, jika mendengar cerita dan ekspresi cemas dari Rara, membuat Viona merasa takut juga. Apalagi dia baru sehari sekolah di sini, tapi malah membuat masalah dengan anak pemilik sekolah. Bagi Viona bukan dia yang mencari masalah, tapi anak laki-laki tengik itu yang mencari masalah dengan dirinya hanya karena hal sepele.
Viona berpikir untuk menghindar dari Kenzo adalah pilihan terbaik. Jangan sampai dia kembali ditarik-tarik oleh Kenzo.
Bel istirahat kedua telah berbunyi. Guru mata pelajaran kimia baru saja keluar dari kelas dua belas IPA dua. Sepertinya, harapan hanya tinggal harapan bagi Viona untuk menghindari Kenzo. Terbukti ketika anak-anak kelas menyebut nama Kenzo akan menuju ke kelasnya.
Seketika Viona mendadak cemas sekaligus takut. "Kenapa Kenzo mau ke sini? “Jangan-jangan dia mau bikin perhitungan sama lo?" cetus Rara.
Viona menatap Rara dengan cemas. "Aduh, gimana dong, Ra?" tanya Viona guna meminta pertolongan.
"Gini aja, Vi. Lo sembunyi di—"
Brak!
Belum sempat Rara menuntaskan kalimatnya, pintu kelas mereka tiba-tiba saja di dorong kuat oleh seseorang. Rara dan Viona sontak menutup mulut. Rasa panik semakin menyerang keduanya ketika tahu siapa yang mendorong pintu itu.
Kenzo! Pria itu menatap tajam ke arah dua orang gadis di sana atau lebih tepatnya ke arah Viona.
Viona mengalihkan tatapan ke penjuru kelas. Tapi tunggu! Keadaan kelas sudah menjadi sepi dan kini hanyalah dia, Rara dan Kenzo.
Apa teman-teman sekelasnya yang tadi berada di sini memilih kabur dari pada bertemu dengan Kenzo?
"Vi—Viona!" ujar Rara gugup sambil memegang lengan Viona.
Kenzo melangkah masuk dan berjalan mendekat ke arah bangku Viona. Sampai di sana dia langsung meraih pergelangan tangan kanan Viona.
"Ikut gue! Urusan kita belum selesai." Kenzo menarik Viona agar mengikutinya sehingga pegangan Rara pada lengan kiri Viona terlepas.
"Ra, tolongin gue!" teriak Viona ketika sudah berada di luar kelas.
Mendengar teriakan Viona, Kenzo menyentak kuat tangan Viona. Merasakan tangannya sakit, Viona memilih diam mengikuti langkah lebar Kenzo. Mereka melewati beberapa koridor sebelum mencapai taman belakang sekolah.
Tak tahan lagi akan rasa sakit di pergelangan tangannya, Viona memekik keras diiringi emosi yang melingkupinya. "SAKIT! Lepasin tang—"
Viona sontak menghentikan kalimat itu saat Kenzo tiba-tiba mendorongnya ke belakang. Punggungnya seketika merasa linu membentur pohon.
Hembusan napas Kenzo terdengar memburu, benar-benar seperti orang yang tengah kesetanan. Viona terdiam mengamati ekspresi marah Kenzo.
"Kenapa cowok ini jadi gila?" batin Viona.
Tatapan mereka bertemu dalam balutan tajam Kenzo. Viona tak berkedip, begitupun Kenzo.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Viona menundukkan kepala. Memilih menghindar dari tatapan tajam Kenzo.
"Lo pikir gue main-main, HAH? Gue nggak pernah main-main dengan perkataan gue!" bentak Kenzo.
Mau tak mau Viona kembali mendongak untuk menatap Kenzo. Dia tak terima dibentak seperti ini. Sudah cukup tangannya merasa sakit, jangan sampai telinganya ikut sakit.
"Dan lo nggak bisa seenaknya sama gue!" tantang Viona mencoba tidak terlihat takut.
"Gue bisa!"
"Dan gue nggak peduli."
"Gak peduli, heh? Oke! Gue bisa bikin lo keluar dari sekolah ini," cecar Kenzo mengancam. Dia merasa puas sekali melihat Viona yang tiba-tiba terdiam. Smirk di bibirnya makin tercetak jelas.
"Masih nggak mau nurutin gue?" tanya Kenzo seraya tangan kanannya naik menyentuh helaian rambut Viona. Terus naik dan menyusup ke kepala bagian bekakang.
"T—tapi—"
"Gak ada tapi-tapian. Seperti yang gue bilang di rooftoop tadi, lo sekarang jadi pacar gue! Milik gue!" potong Kenzo. Dia menekankan bahwa Viona adalah miliknya.
She's mine!
Viona benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Kenzo. Cowok ini sok berkuasa. Baru saja Viona akan membuka mulut untuk kembali protes kepada Kenzo. Namun, nyatanya Kenzo lebih sigap membungkam bibirnya dengan bibir milik cowok itu.
Kaget? Tentu saja.
Mata Viona membulat seketika saat ia merasakan bibir Kenzo bergerak di atas bibirnya. Menghisap dan sesekali menggigit bibir Viona. Lidah Kenzo berhasil masuk dan menjelajahi setiap rongga mulut Viona.
"Hmph—" Viona berusaha mengeluarkan suara. Ia tidak terima dengan pelecehan ini.
"Oh my god! First kiss gue." Viona hanya bisa mengerang dalam hati.
Kenzo yang merasakan Viona terus meronta membuat dirinya menahan tangan kanan Viona.
Merasa kunciannya belum kuat, Kenzo menekan kepala Viona ke arahnya sehingga mempermudah untuk mencium cewek yang berada dalam kungkungannya ini lebih dalam.
Pergerakan Viona melemah hingga tak ada perlawanan lagi, akhirnya Kenzo melepaskan tautan bibir mereka. Napas keduanya tak beraturan, tersengal-sengal seperti orang habis lari marathon.
Kenzo menghela napas dan menatap lekat wajah cewek di depannya.
''Biarpun lo cewek gue. Gue nggak bakal segan-segan berbuat kasar sama lo, kalau lo nggak nurutin apa kata gue. Karena, lo itu milik gue, paham!" tekan Kenzo setelah napasnya kembali normal.
Kemudian, dengan rasa tak bersalah Kenzo pergi dari sana meninggalkan Viona yang masih belum sadar dari keterpakuannya. Sedangkan Viona meluruh dan terduduk di tanah. Kedua kakinya sudah tak mampu menopang tubuh, lututnya benar-benar terasa lemas.
Matanya berkedip sesaat, ia memegang bibir dengan jari tangan yang bergetar. Bibir Kenzo masih terasa jelas di bibirnya. Bibir yang berhasil mengoyak pertahanan bibirnya.
"Dosa apa gue? Mesti berurusan sama iblis di sekolah ini. Gue bahkan seperti boneka aja yang kudu iya-iyain semua perkataannya. Dia pikir gue nggak punya keberanian buat berontak apa?" Viona berbicara dengan diri sendiri seraya mengacak rambutnya frustrasi.
Bagaimana tidak? Jujur saja ia merasa takut akan ancaman Kenzo yang bisa membuat dirinya keluar dari sekolah, mengingat sekolah ini milik ayah cowok tersebut.
Namun, Viona bertekad untuk tidak membiarkan dirinya terlalu tertindas oleh seorang Kenzo Stevano Andrew.
***
