Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1 : Begin

Viona tampak baru saja melangkah memasuki gerbang SMA Bhakti Negara. Hari ini adalah hari pertama menjadi siswa baru. Sekolah Bhakti Negara terlihat lebih mewah dari sekolah lamanya dan juga terkesan asri karena beberapa pohon terlihat tumbuh di sana.

Gadis ini tampak bingung sekarang. Dia berjalan mendekati koridor pertama, tetapi urung dilakukan karena takut salah arah. Apalagi siswa-siswi tidak banyak yang berlalu-lalang di sekitar sini.

"Di mana ya ruang Tata Usaha? Mau nanya ke siapa, nih?" batin Viona.

Dia melihat keadaan sekitar. Melirik beberapa orang yang berlalu lalang di depan sana. Sungguh, ia sangat gugup. Apalagi, di sini tak ada seorang pun yang dikenalnya. Dari pada nyasar, mau tak mau ia harus bertanya kepada orang lain.

Mata Viona menangkap seorang gadis yang berdiri di balik pohon yang tak jauh dari tempatnya. Di sana gadis itu sedang sendirian. Tampaknya dia tengah bersembunyi dari seseorang.

Viona berjalan menghampiri.

"Permisi," sapa Viona menyentuh bahu gadis yang tengah membelakanginya itu.

"Astaga.” Gadis tersebut terlonjak kaget. Dia menghela napas dan mengelus dadanya pelan.

Ia menatap Viona secara intens, mulai dari atas hingga bawah, dan ke atas lagi.

"Lo anak baru?" tanyanya setelah mengamati Viona agak lama.

"Iya," jawab Viona singkat. Tiba-tiba mata gadis di depannya berbinar senang. Viona tercengang seketika. Kenapa gadis ini terlihat senang sekali?.

"Wow! Lo cantik banget," pujinya serta decakan kagum membuat Viona semakin bingung.

"Kenalin, gue Zahira. Lo bisa panggil gue Rara," ujar gadis yang bernama Rara seraya mengulurkan tangan dengan raut wajah yang berbinar-binar.

Viona menerima uluran tangan tersebut dan mengenalkan diri.

"Gue Viona," balas Viona sedikit kikuk.

"Oh iya, kenapa lo ke sini dan bikin gue kaget?" tanya Rara seketika. Matanya menatap Viona dengan pandangan antusias.

"Gue mau nanya letak ruang Tata Usaha."

"Gue bisa antar, lo. Ikut gue!" Tanpa menunggu persetujuan Viona. Rara langsung menarik tangan Viona agar mengikutinya.

Viona pasrah saja mengikuti langkah teman barunya ini. Namun, Viona dapat menangkap gelagat was-was Rara. Ia selalu menatap waspada sekelilingnya.

"Ada apa? Kok lo kaya waspada gitu?" tanya Viona yang tak tahan untuk tidak bertanya.

"He-he-he." Bukan menjawab. Rara malah cengar-cengir bak iklan pasta gigi.

"Lagi ngehindar dari seseorang, ya?" Viona bertanya lagi.

"Iya, gue lagi kabur dari cowok gue. Lagi ngambek ceritanya," jawab Rara apa adanya bahkan sedikit curhat.

Viona hanya tertawa pelan menyikapi Rara. Viona merasa, jika Rara adalah teman yang menyenangkan. Terbukti dari pembawaannya yang ceria dan apa adanya.

"Btw, lo kelas berapa?" tanya Viona

"Gue kelas dua belas MIPA."

"Sama dong kita!" Viona menoleh ke samping untuk melihat ekspresi Rara.

"Wah-wah, semoga aja kita sekelas," sambung Rara penuh harap yang terlihat sangat antusias sekali.

Setelah melewati beberapa koridor sambil terus berbincang, tak terasa mereka sudah berada di depan ruang Tata Usaha.

Rara pamit setelahnya, ia buru-buru pergi menuju kelas dengan alasan ingin menghindar dari pacarnya. Apalagi sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.

Viona dipersilakan duduk oleh staff Tata Usaha, di sofa yang sudah disediakan. Staff di sana meminta Viona agar menunggu calon wali kelas yang sebentar lagi akan datang.

***

Bu Hana—guru yang sudah setengah baya itu sedang berbincang-bincang ringan dengan Viona sambil berjalan di koridor menuju kelas. Bu Hana merupakan wali kelas Viona. Guru yang berpostur tidak terlalu pendek dan gemuk ini sangat ramah serta begitu mudah mengakrabkan diri kepada Viona.

Viona menebak, Bu Hana salah satu guru favorit di sekolah Bhakti Negara. Sepanjang perjalanan ke kelas, Bu Hana sering disapa siswa-siswi yang berpapasan dengan mereka.

Suara ribut di ruang kelas terdengar ramai. Namun, ketika Bu Hana masuk, suasana langsung senyap. Beberapa siswa-siswi di sana mulai berbisik-bisik ketika melihat Viona yang berjalan di belakang Bu Hana.

"Anak-anak! Hari ini kita kedatangan siswi baru. Cantik, ya, orangnya?" tanya Bu Hana sambil menatap langsung anak-anak cowok yang tak henti-hentinya memandang kagum ke arah Viona.

Viona hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Bu Hana.

"Ayo, Viona! Perkenalkan dirimu."

Viona mengangguk. "Selamat pagi, semuanya."

"Pagi!" sahut anak-anak sekelas terdengar antusias. Apalagi anak-anak cowok.

"Nama saya Viona Gabriela Putri. Panggil aja Viona," ujar Viona sambil tersemyum, menunjukka lesung pipi. Sontak saja kelas mulai berbisik-bisik.

"Udah punya pacar belum?" celetuk seorang cowok yang duduk di bangku paling belakang, pojok kiri.

Viona hanya tersenyum. Sontak saja pertanyaannya membuat cowok itu mendapat sorakan teman sekelas.

"Tinggal di mana?" tambah dua orang cowok berbarengan. Sorakan demi sorakan tertuju pada mereka. Kentara sekali, mereka sudah pasti mau mendekati Viona.

Bu Hana langsung meredam suara ribut anak-anak muridnya. "Nah anak-anak, perkenalan dilanjut nanti aja. Oh ya, Viona kamu akan sebangku dengan Zahira Veronica. Yang bernama Zahira tolong angkat tangan," pinta Bu Hana.

Zahira yang tak lain adalah Rara mengangkat tangan kanan dengan semangat. "Saya, Bu!"

"Viona, silakan duduk!"

Viona mengangguk sopan, lalu beranjak menuju tempat duduk di barisan tengah tepat di samping Rara.

"Karena jam pertama sudah akan dimulai, Ibu permisi dulu," pamit Bu Hana.

Beliau lalu berjalan melewati pintu, setelah anak-anak menjawab, "Iya, Bu."

Sepeninggal Bu Hana, Rara berteriak kegirangan karena sekelas dengan Viona.

"Ya ampun, Viona. Gue senang banget kita sekelas. Selamat datang di kelas XII IPA 2," katanya sambil tersenyum sumringah.

"Makasih. Gue juga senang," balas Viona tersenyum.

***

Bel istirahat berbunyi nyaring melalui speaker yang terdapat di setiap kelas. Para siswa-siswi sibuk berberes alat tulis, ada juga yang langsung ngacir ke kantin dan tidak membereskan alat tulis terlebih dahulu. Tampaknya mereka tidak takut akan alat tulisnya yang bisa saja tiba-tiba hilang satu per satu.

"Viona, kantin yuk!" ajak Rara setelah merapikan alat tulis.

Viona mengangguk. Ia berjalan di samping Rara.

Viona dan Rara masih berjalan di koridor sambil sesekali tertawa. Rara menjelaskan tentang sekolah ini kepada Viona, tentang ekstrakurikuler apa saja yang bisa diikuti oleh siswa.

"Jadi, ekskul di sini tidak diwajibkan ikut?" tanya Viona heran.

Rara mengangguk. "Yup, betul. Karena di sekolah kita setiap hari Sabtu ada pengembangan diri dan itu wajib diikuti seluruh peserta didik. Makanya kegiatan ekskul diikuti bagi yang mau aja," jelas Rara.

Viona mengangguk pertanda paham. Rara juga memberitahu tentang sekolah yang memisahkan antara gedung jurusan IPA dan IPS. Gedung jurusan IPA terdiri dengan tiga tingkat. Tingkat pertama diisi oleh kelas XII, tingkat kedua diisi oleh kelas XI dan tingkat paling atas diisi oleh kelas X. Begitupun dengan jurusan IPS.

Tujuannya agar siswa-siswi tidak tercampur dan lebih mudah fokus serta meminta bantuan belajar kepada kakak kelas yang lebih tahu. Tidak ada perbedaan antar jurusan, di sini semuanya sama. Bahkan siswa-siswi berbeda jurusan pun berbaur dengan baik.

"Aduh, Vi. Gue kebelet pipis," ringis Rara yang tiba-tiba gelisah.

"Temenin gue ke toilet dulu, ya?" Tanpa menunggu lama lagi, Rara kembali menarik tangan Viona sebelum mendengar persetujuan dari dirinya.

"Jangan buru-buru juga dong, Ra," protes Viona mengingatkan. Pasalnya sudah ada beberapa siswa yang tak sengaja tertabrak mereka.

"Nggak bisa, Vi. Gue udah urgent banget nih," balas Rara yang sebentar-sebentar menengok ke belakang.

Bruk!

Mereka menabrak orang lagi. Kali ini lebih keras. Rara menabrak bahu sosok di depannya sehingga langkahnya terhenti, sontak saja Viona juga ikut menubruk tubuh orang lain. Lebih tepatnya di dada orang tersebut.

"Aduh!" Rara dan Viona meringis berbarengan.

Rara mengangkat wajah, dan—

"Kenzo? Mati gue," rutuknya dalam hati sambil memejamkan mata.

"Bisa jalan yang benar nggak sih?" geram Kenzo. Matanya menatap tajam ke arah dua cewek ini.

"Ma-maaf. Nggak sengaja," cicit Rara pelan.

Kini, pandangan Kenzo beralih ke samping Rara. Dia menatap tajam cewek yang juga tengah menatapnya.

"Rara!" seru suara yang berasal dari arah belakang.

Belum hilang rasa paniknya, tapi kini bertambah satu lagi kepanikan Rara. "Mampus aja gue sekalian." Rara kembali membatin. Dia hapal sekali suara ini.

"Ck! Urusan lo sama dia," tunjuk Kenzo ke arah belakang Rara. "Dan, teman lo, gue bawa," ujar Kenzo dengan nada datar dan dingin.

"Eh-eh.” Viona dan Rara serempak bersuara tatkala Kenzo menarik tangan Viona menjauh.

Rasa ingin buang air kecil yang sempat dirasakan tadi mendadak hilang. Di saat akan mengambil langkah menyusul Kenzo dan Viona. Sebuah suara kembali mengintrupsinya dari belakang.

"Rara! Berhenti di situ!" perintah tegas dari suara tersebut.

"Mati gue, ya Tuhan." Langkah Rara terhenti seketika. Tubuhnya mematung menyadari orang tersebut sudah berada di sampingnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel