Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. MASA LALU YANG KEMBALI BERNAPAS

"Saya lebih suka menyebutnya sebagai subjek pengamanan, Pak Johan. Kata 'klien' terdengar terlalu manis dan personal untuk sebuah pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa."

Suara bariton yang berat dan dingin itu meluncur dari ambang pintu kayu mahoni yang kini terbuka lebar. Suara yang sangat familier. Suara yang sudah terkubur dalam-dalam di dasar ingatan Cindy selama sepuluh tahun terakhir. Suara yang dahulu selalu membisikkan kata cinta di telinganya di bawah gemerlap bintang, namun kini terdengar setajam pedang yang baru saja diasah untuk membunuh.

Udara di dalam ruang rapat VIP itu seolah tersedot habis ke luar angkasa. Cindy mematung di kursinya. Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik yang terasa seperti keabadian, sebelum akhirnya berpacu liar menghantam tulang rusuknya.

Dari balik bayangan pintu, melangkah masuk sesosok pria berpostur tinggi tegap. Ia mengenakan seragam taktis serba hitam, kemeja berlengan panjang yang digulung hingga siku—mencetak jelas otot-otot lengannya yang padat—serta celana kargo gelap dan sepatu bot militer yang berderap mantap di atas lantai pualam.

Wajahnya bersudut tegas, rahangnya mengeras sempurna dengan bayangan rahang yang membingkai ketampanan maskulinnya. Dan sepasang mata elang yang segelap malam itu ... menatap lurus ke depan, seolah menguliti siapa pun yang berani menghalanginya.

Itu adalah Owen.

'Tidak mungkin,' batin Cindy menjerit histeris. Bumi seakan berhenti berputar. Tangan Cindy yang bertumpu di tepi meja bergetar hebat hingga buku-buku jarinya memutih. Kenangan dari satu dekade silam meledak tanpa ampun di dalam kepalanya bak proyektor rusak—hujan badai yang turun menderas, gaun pengantin putih yang ternoda genangan lumpur, dan punggung tegap pria ini yang bergetar saat Cindy membalikkan badan dan berlari meninggalkannya menangis sendirian di depan altar pernikahan.

"Ah, tepat waktu seperti biasa, Komandan Owen!" Johan tersenyum lebar, menyambut kedatangan pria itu dengan antusias yang berlebihan. Bos penerbitan itu sama sekali tidak menyadari badai emosi yang tengah meluluhlantakkan penulis andalannya.

"Cindy, perkenalkan, ini adalah Komandan Owen Mitchell dari Aegis Protection. Dia dan tim elitnya yang akan bertanggung jawab penuh atas keamananmu mulai detik ini."

Owen melangkah mendekat ke meja rapat. Tatapannya akhirnya jatuh pada wajah Cindy yang sudah pucat pasi. Tidak ada kilat keterkejutan di mata pria itu. Tidak ada kerinduan, tidak ada sisa-sisa cinta, bahkan tidak ada amarah yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah ruang hampa yang membekukan. Ia menatap Cindy seolah wanita itu hanyalah benda mati, sebuah manekin etalase yang tidak memiliki arti apa-apa.

Tatapan kosong itu justru lebih menyakiti Cindy daripada sebuah tamparan fisik di wajah.

"Selamat pagi, Nona Cindy," sapa Owen formal. Suaranya datar, tanpa intonasi sedikit pun. Ia bahkan tidak repot-repot mengulurkan tangan untuk berjabat. "Saya telah membaca berkas ancaman yang Anda terima pagi ini. Mulai hari ini, keselamatan Anda adalah prioritas utama agensi kami. Kami tidak akan membiarkan siapa pun, atau apa pun, menyentuh Anda tanpa seizin saya."

"Owen ...," bisik Cindy parau, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah deru napasnya sendiri. Tenggorokannya terasa seolah disumbat pecahan kaca. "Apa yang ... apa yang kamu lakukan di sini?"

"Melakukan pekerjaan saya, Nona," potong Owen cepat dan presisi. Ia sengaja menekan kata 'Nona' untuk membangun tembok beton kasat mata di antara mereka.

Josh, yang sejak tadi duduk di sebelah Cindy, menyipitkan matanya. Editor cerdas itu memiliki kepekaan insting yang tajam. Ia dengan cepat menangkap ketegangan yang sama sekali tidak wajar di antara penulis kesayangannya dan sang kepala pengawal.

"Maaf, Komandan Owen," sela Josh dengan nada sopan namun mengandung selidik, berdiri sedikit menyamping seolah ingin menutupi tubuh Cindy dari pandangan intimidatif Owen. "Apakah sebelumnya kalian berdua sudah pernah saling mengenal?"

Sebelum Cindy sempat mencari kebohongan untuk menjawab, Owen sudah lebih dulu merespons dengan wajah tanpa ekspresi. "Dunia ini sempit, Pak Josh. Saya pernah bertemu dengan Nona Cindy di masa lalu. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Itu tidak ada hubungannya dengan tingkat profesionalitas saya. Bagi saya, beliau saat ini tidak lebih dari sekadar target operasi bernilai tinggi yang harus saya jaga agar tetap bernapas. Tidak kurang, tidak lebih."

Mendengar kata-kata yang diucapkan dengan sangat mudah itu, sesuatu di dalam pertahanan diri Cindy patah. Rasa bersalah yang selama ini ia pikul seperti batu raksasa di pundaknya, kini bercampur dengan rasa gengsi dan amarah yang mendidih.

Jika Cindy bisa bertindak seolah sepuluh tahun kebersamaan mereka di masa lalu hanyalah debu yang tidak berharga, maka Cindy juga bisa bermain di permainan yang sama.

"Saya tidak butuh pengawalan Anda," desis Cindy. Ia memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri, menengadahkan dagu, dan menatap langsung ke dalam manik mata segelap malam milik pria itu. "Pak Johan, saya menolak rencana gila ini. Jika Bapak bersikeras menyewa pengawal, cari orang lain. Cari agensi lain dari luar kota! Saya menolak keras dijaga oleh pria ini!"

Johan mengerutkan kening dalam-dalam, sisa kesabarannya menguap ke udara. "Cindy, hentikan sikap kekanak-kanakanmu! Aegis Protection adalah agensi keamanan swasta terbaik di negara ini. Mereka disewa oleh para menteri dan konglomerat! Kontrak sudah ditandatangani, uang muka miliaran rupiah sudah ditransfer pagi ini dan aku tidak akan membatalkannya hanya karena kau merasa 'tidak nyaman' dengan masa lalumu!"

"Bapak tidak mengerti situasinya—"

"Tidak, Nona Cindy yang tidak mengerti!" potong Owen. Kali ini suaranya sedikit dinaikkan, menggema memantul di dinding kaca ruangan, membungkam bantahan Cindy seketika.

Pria itu melangkah maju memangkas jarak. Ia mencondongkan tubuh tegapnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di atas meja mahoni, mengunci pandangan Cindy dari jarak yang sangat dekat.

"Anda pikir ini adalah forum negosiasi?" desis Owen dingin. "Anda pikir pria sinting yang mengirimkan mawar busuk bersimbah darah dan memotret Anda dari dalam apartemen Anda sendiri peduli apakah Anda merasa 'nyaman' atau tidak?"

Cindy terkesiap, mundur selangkah hingga punggungnya menabrak sandaran kursi. Fakta bahwa Owen mengetahui detail teror semalam membuktikan bahwa pria ini sudah mempelajari seluruh jejak hidupnya dengan sangat teliti sebelum melangkah masuk ke ruangan ini.

"Penguntit itu tidak sedang bermain petak umpet, Nona," lanjut Owen dengan nada ancaman yang menakutkan. "Dia memiliki akses masuk ke area privat Anda. Dia memiliki obsesi mematikan. Dan saat ini, dia sedang mengintai setiap celah kelemahan Anda. Jika Anda ingin memecat saya, silakan bayar penalti pembatalan kontrak sepuluh kali lipat kepada agensi saya sekarang juga, dan bersiaplah menyambut tamu tak diundang Anda malam ini sendirian tanpa ada yang mendengar teriakan Anda."

Keheningan yang mencekik kembali menguasai ruangan. Josh menghela napas panjang, menatap Cindy dengan pandangan memohon yang sulit ditolak. "Cindy, kurasa ... Komandan Owen benar. Kita tidak bisa mengambil risiko nyawa di sini. Biarkan dia melakukan pekerjaannya. Setidaknya sampai kita tahu siapa bajingan di balik semua teror ini."

Cindy menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga mengecap rasa amis darah. Ia terjebak. Terkurung.

Ia terjebak di antara ancaman seorang psikopat gila tanpa wajah yang mengincar nyawanya, dan kehadiran pria dari masa lalunya yang jelas-jelas berniat menyiksa kewarasannya. Di sudut ruangan, ia bisa melihat Johan yang sudah mengangguk puas.

"Bagus. Kalau begitu sudah diputuskan secara sepihak," Johan menepuk tangannya sekali, mengakhiri perdebatan. "Komandan Owen, Anda memiliki otoritas mutlak atas keamanan operasional Cindy. Josh, mari kita kembali ke ruanganku untuk merumuskan siaran pers tentang penundaan peluncuran buku minggu depan tanpa menyinggung masalah ini. Cindy, kamu tetap di sini. Selesaikan protokol keamananmu dengan Komandan."

Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Johan dan Josh melangkah keluar dari ruang rapat. Josh sempat menepuk bahu Cindy sekilas, memberinya senyum penguatan sebelum menghilang di balik pintu kayu yang kini tertutup rapat dengan bunyi "klik" yang mengisolasi.

Tinggallah mereka berdua.

Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa sepuluh kali lebih berat dan panas. Cindy masih memeluk tubuhnya sendiri, menolak menatap Owen yang kini berdiri menjulang hanya satu meter darinya.

"Kamu nggak bisa ngelakuin ini ke aku, Owen," bisik Cindy akhirnya. Ia menanggalkan bahasa formalnya, membiarkan pertahanannya runtuh dan membiarkan suaranya bergetar hebat menahan tangis. "Kamu tahu persis gimana hancurnya hidup kita sepuluh tahun lalu akibat keegoisanku. Kenapa kamu ambil pekerjaan ini? Kenapa kamu harus kembali ke hidupku saat aku udah berusaha mengubur semuanya?"

Owen berjalan mendekat, perlahan namun pasti. Sepatu botnya bergerak tanpa suara, layaknya predator puncak yang menyudutkan mangsanya di ujung tebing. Ia berhenti tepat di hadapan Cindy. Aroma pinus segar, asap tembakau tipis dan bau logam dari tubuh pria itu merasuki indra penciuman Cindy, memutar memori masa lalu hingga membuat kepalanya pusing.

"Kamu pikir aku dengan senang hati mau ada di sini?" Owen menunduk, berbisik tepat di depan wajah Cindy. Sorot matanya kini menajam, memancarkan amarah hitam yang sejak tadi ia bendung rapat-rapat. "Aku ada di sini karena bosmu yang gila harta itu memohon sambil menjilat di agensiku dan aku terima tawaran ini karena aku dibayar sangat mahal untuk memastikan kamu tidak mati konyol ... sebelum kamu sempat melunasi rasa sakit hatiku, Cindy."

Mata Cindy memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja membasahi pipinya yang mulus.

Namun, Owen menatap air mata itu tanpa belas kasihan sedikit pun. Ia menegakkan tubuhnya kembali, kembali mengenakan topeng profesionalnya yang terbuat dari baja es.

"Hapus air mata buaya Anda, Nona. Karena mulai detik ini, ritme napas Anda dan kebebasan Anda ada di bawah kendali saya sepenuhnya," ucap Owen mutlak. Pria itu menyeringai tipis, sebuah senyuman miring yang sama sekali tidak memiliki kehangatan. "Dan protokol pengamanan pertama saya: tidak ada lagi kata privasi, tidak ada lagi pintu yang terkunci di antara kita. Mulai malam ini, saya akan tidur di kamar Anda."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel