Pustaka
Bahasa Indonesia

Teror Di Balik Manuskrip

62.0K · Baru update
Secret Vee
52
Bab
31
View
9.0
Rating

Ringkasan

Cindy pikir ia hanya diteror oleh seorang penguntit gila yang meniru manuskripnya. Pihak penerbitan panik dan menyewa perusahaan pengawalan elit untuk melindunginya. Mereka mengirimkan yang terbaik. Owen. Laki-laki yang sama yang lima tahun lalu Cindy tinggalkan di altar. Kini ia telah menjadi CEO Aegis, dingin, kejam, dan masih terluka. Owen tidak datang untuk memaafkan Cindy. Ia datang untuk mengurungnya. "Selama kamu dalam pengawasanku, kamu tidak boleh menemui siapa pun tanpa izinku," bisiknya di telinga Cindy, tepat setelah sebuah pesan teror baru muncul di cermin. Di luar, penguntit itu ingin membunuh Cindy. Di dalam, Owen ingin memilikinya seutuhnya. Dan Cindy harus memilih, mati di tangan penguntit, atau gila di dalam kurungan mantan yang sangat ia cintai.

RomansaBillionaireRevengeDewasa

Bab 1. SILUET DI BALIK JENDELA

"Jika ada senjata yang lebih mematikan daripada sebutir peluru, itu adalah ujung pena seorang wanita. Dan malam ini, penulis kebanggaan Vangard Publishing, Cindy, kembali membuktikan bahwa ia adalah penembak jitu terbaik di dunia literatur kita. Mari bersulang untuk cetak ulang ketiga dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam!"

Suara denting puluhan gelas kristal yang saling bersentuhan mengudara, memecah alunan musik jaz yang sejak tadi mengalun lembut di ballroom hotel bintang lima tersebut. Kilatan lampu kamera dari para jurnalis menyambar secara bergantian, mengabadikan momen puncak peluncuran novel thriller psikologis terbaru yang kini resmi menjadi buku terlaris nasional.

Di tengah lautan manusia bergaun malam dan berjas rapi itu, Cindy berdiri dengan senyum simpul yang nyaris tanpa cela. Gaun sutra merah maroon yang membalut tubuh rampingnya membuatnya tampak anggun dan memegang kendali. Namun, hanya dia yang tahu betapa kedua kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi setinggi sepuluh sentimeter itu sudah mati rasa sejak dua jam yang lalu.

"Kamu terlihat lelah, Cin," sebuah suara bariton yang hangat dan familier berbisik di telinga kanannya.

Cindy menoleh, mendapati Josh berdiri tepat di sebelahnya. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang rapi, rambutnya tersisir ke belakang dengan sempurna, dan senyumnya ... senyum itu selalu berhasil menjadi oase di tengah padatnya jadwal Cindy.

Sebagai editor utama sekaligus orang yang menemukan bakat menulis Cindy sepuluh tahun lalu, Josh adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak memandangnya sekadar sebagai mesin pencetak uang.

"Apakah senyum palsuku mulai terlihat memudar, Pak Editor?" balas Cindy setengah bercanda, menyembunyikan nada lelah di balik suaranya.

Josh tertawa pelan. Ia mengambil gelas sampanye dari tangan Cindy dan menggantinya dengan segelas air putih hangat yang entah sejak kapan sudah ia siapkan.

"Bagi para wartawan dan Pak Johan, kamu terlihat seperti dewi kesuksesan. Tapi bagiku, kamu terlihat seperti wanita yang butuh tidur dua belas jam. Pulanglah. Biar aku yang menghadapi sisa tamu undangan dan wawancara tambahan ini."

Cindy menatap Josh dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih, Josh. Tanpa omelanmu soal tenggat waktu dan bantuanmu malam ini, naskah itu mungkin hanya akan menjadi tumpukan kertas berdebu di laci mejaku."

"Itu sudah menjadi tugasku untuk menjaga aset paling berharga penerbitan ini. Dan juga ... teman baikku," ucap Josh lembut, lalu ia menoleh ke arah seorang gadis muda berkacamata yang sedang sibuk merapikan buket bunga di sudut ruangan. "Myla! Tolong antar Cindy pulang sekarang. Pastikan dia tidak menyentuh laptopnya sampai besok pagi."

Myla, asisten pribadi Cindy yang selalu penuh energi, langsung mengangguk hormat. "Siap! Taksi online premiumnya sudah menunggu di lobi."

Setengah jam kemudian, Cindy akhirnya bisa menyandarkan kepalanya di jok kulit taksi yang membawanya membelah jalanan ibu kota. Hujan mulai turun rintik-rintik, membasahi kaca jendela dan membiaskan cahaya lampu jalanan menjadi pendaran warna-warni yang buram.

"Cindy, Pak Johan tadi menitipkan pesan, besok siang ada jadwal makan siang dengan produser film yang tertarik mengadaptasi novel kamu," celoteh Myla dari kursi depan, memecah keheningan sambil mengecek jadwal di ipad-nya.

Cindy memijat pangkal hidungnya pelan. "Tolong geser ke lusa, Myla. Josh benar, kepalaku rasanya mau pecah. Besok aku hanya ingin mendekam di apartemen dan tidak melihat manusia sama sekali."

"Baik. Besok saya kosongkan jadwalnya," Myla tersenyum maklum.

Mobil berhenti di lobi sebuah apartemen mewah di kawasan pusat bisnis. Gedung tinggi dengan sistem keamanan berlapis ini telah menjadi tempat perlindungan Cindy selama tiga tahun terakhir. Tidak sembarang orang bisa masuk tanpa kartu akses khusus dan verifikasi dari petugas keamanan di meja depan. Itulah alasan Cindy memilih tempat ini. Ia membeli privasi dan ketenangan dengan harga yang sangat mahal.

Myla membantu membawakan beberapa buket bunga dan hadiah dari penggemar hingga ke depan pintu unit Cindy di lantai dua puluh.

"Taruh saja di atas meja depan, Myla. Kamu langsung pulang saja, ini sudah lewat tengah malam. Hati-hati di jalan," ucap Cindy setelah memasukkan kode passcode dan sidik jarinya untuk membuka pintu kayu jati yang kokoh tersebut.

"Terima kasih, Cin. Selamat istirahat dan sekali lagi, congratulation atas peluncuran bukunya!" Myla melambaikan tangan sebelum bergegas menuju lift.

Pintu tertutup rapat, diiringi bunyi klik mekanis dari sistem pengunci otomatis.

Keheningan seketika menyergap. Kontras antara riuhnya ballroom hotel dan sepinya apartemen raksasa ini selalu membuat telinga Cindy berdenging sejenak. Ia menyalakan lampu ruang tengah, melepaskan sepatu hak tingginya dengan helaan napas panjang dan membiarkan kakinya tenggelam di atas karpet bulu yang tebal.

Setelah meletakkan tas kecilnya di sofa, Cindy berjalan menuju dinding kaca raksasa yang menyajikan pemandangan kota dari ketinggian. Hujan di luar semakin deras. Ia menarik ritsleting di punggung gaun sutra merahnya, membiarkan kain mahal itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan dirinya dalam balutan pakaian dalam. Ia segera meraih jubah mandi berbahan handuk putih yang tergantung di dekat kamar mandi dan merapatkan talinya.

Namun, saat ia kembali berdiri menghadap jendela kaca untuk menutup tirai, sebuah perasaan ganjil merayap di tengkuknya.

Bulu kuduk Cindy meremang. Perutnya mendadak terasa mual. Ia menatap ke luar jendela, menembus derasnya hujan dan gelapnya malam. Tidak ada apa-apa di sana selain gedung-gedung pencakar langit lain yang berjarak ratusan meter darinya.

'Hanya perasaanku saja,' batin Cindy, mencoba mengusir kecemasan yang tidak berdasar. 'Kamu hanya terlalu lelah karena kurang tidur selama dua bulan terakhir demi mengejar tenggat waktu.'

Cindy menarik kedua sisi tirai beludru tebal itu hingga tertutup rapat, mengisolasi dirinya sepenuhnya dari dunia luar. Ia melangkah menuju dapur bersih, menuangkan segelas air putih hangat, dan meneguknya perlahan. Ia butuh istirahat. Ia butuh melupakan tentang naskah, pembaca dan terutama ... masa lalu yang entah mengapa kembali menghantui pikirannya di tengah kesendirian ini. Sepuluh tahun. Mengapa malam ini ia kembali mengingat kejadian di hari pernikahan itu?

Di tengah lamunannya, layar ponselnya yang tergeletak di atas meja pantry tiba-tiba menyala. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Cindy mengerutkan kening. Myla pasti lupa menanyakan sesuatu atau Josh kembali memastikan apakah ia sudah tiba dengan selamat.

Dengan malas, Cindy meraih ponsel tersebut. Layar menunjukkan sebuah pesan teks dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada foto profil, tidak ada nama. Hanya sederet angka acak.

Kening Cindy semakin berkerut saat ia membuka pesan tersebut. Jantungnya, yang sedetik lalu berdetak normal, kini seolah berhenti memompa darah.

Pesan itu bukan berupa teks, melainkan sebuah lampiran foto.

Dengan jari yang mulai bergetar dingin, Cindy mengunduh gambar tersebut. Napasnya tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak lebar, menatap layar ponsel dengan kengerian yang murni dan melumpuhkan.

Itu adalah foto dirinya.

Di dalam foto itu, Cindy terlihat sedang berdiri menghadap jendela kaca raksasa di apartemennya, menatap ke arah luar. Ia mengenakan jubah mandi putihnya dan tirai beludrunya belum tertutup.

Sudut pengambilan gambar itu sedikit dari atas, sangat jernih dan tidak mungkin diambil dari gedung seberang. Mengingat apartemennya berada di lantai dua puluhan, satu-satunya cara foto itu bisa diambil dengan sudut dan kejernihan seperti itu adalah jika kamera tersebut berada di dalam ruangannya sendiri.

Atau ... menempel di langit-langit balkonnya.

Foto itu baru saja diambil kurang dari lima menit yang lalu.

Belum sempat Cindy mencerna kengerian yang menyergap kewarasannya, ponsel di genggamannya tiba-tiba bergetar hebat. Nomor tak dikenal yang sama kini memanggilnya.

Tubuh Cindy mematung. Ruangan apartemennya yang luas mendadak terasa sesak dan mengancam. Matanya menyapu liar ke setiap sudut ruangan, ke arah sofa, lorong gelap menuju kamar dan celah di bawah pintu utama. Apakah ada orang di dalam sini bersamanya?

Ponsel itu terus berdering, seolah menuntut untuk dijawab.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Cindy menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Ia menahan napas, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.

Hening. Hanya terdengar suara embusan napas yang lambat dan berat dari seberang sana.

"Ha ... halo?" bisik Cindy dengan suara bergetar, nyaris seperti isakan tertahan.

Dari pengeras suara, terdengar kekehan pelan yang disamarkan menggunakan alat pengubah suara—terdengar serak, mendistorsi dan tidak manusiawi. Kekehan itu mengalir lambat, mengirimkan rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang Cindy.

"Gaun sutra merah tadi memang membalut tubuhmu dengan sangat indah saat di pesta, Cindy. Sangat menggoda." Suara mengerikan itu berbisik pelan, seolah bibir si pembicara berada tepat di daun telinga Cindy. "Tapi jubah mandi putih yang kamu kenakan saat ini ... jauh lebih cantik. Kenapa kamu buru-buru menutup tirainya, Sayang? Padahal aku baru saja mulai menikmati pertunjukan malam kita."