Bab 7. Ruangan 18
Di sebuah bangunan terdengar suara musik yang keras dan kelap kelip lampu membuat suasana menjadi remang remang sehingga banyak pengunjung yang seakan betah dengan suasana yang riuh dan memekakan telinga, terlihat dari orang-orang yang duduk hanya sekedar minum-minuman dan apalagi kalau bukan untuk memuaskan hasratnya. Karena banyak wanita sexy yang seakan memamerkan tubuhnya untuk dinikmatinya.
Namun tidak untuk seorang gadis cantik dan mungil yang sekarang berada di ruang ganti, ia segera memakai seragam pelayannya dengan cepat dan memoles wajahnya sedikit terlihat dewasa agar orang tidak mengenalnya bahwa ia seorang mahasiswa. Dia adalah Dini yang bekerja sebagai pelayan untuk mengantar minuman ke pelanggan, ia harus menerima pekerjaan ini karena gaji yang diberikan sangat cukup untuk membiayai kuliahnya. Namun ia harus pandai merahasiakan dirinya yang bekerja di Club ini bahkan Ibu dan kakaknya pun tidak mengetahuinya.
Setelah penampilannya sudah terlihat baik, Dini segera meninggalkan ruang ganti menuju ke bartender namun di perjalanan ia bertemu dengan Moly. Moly menatap sinis dirinya, “bagus ya. Jam segini kamu baru sampai?”
“Maaf, kak. Saya sedikit terlambat” kata Dini sambil menunduk hormat.
“Apa? Sedikit terlambat kamu bilang, kamu itu sudah telat 1 jam bukan 1 menit kamu bilang itu sedikit!” Hardik Moly sambil menatap tajam Dini.
Dini terperanjat saat Moly mengatakan ia sudah datang telat, ia pun menoleh jam yang berada di pergelangan tangannya.
“Sial! Jam tanganku mati pantas dari tadi masih pukul 7 saja padahal ini sudah pukul 8 lewat dan benar aku sudah telat banyak” gerutu Dini dalam hati, ia pun hanya tersenyum kecut ke arah Moly.
“Maaf, kak. Ternyata jam tangan saya mati mungkin habis batre atau rusak” Dini mencoba menjelaskan biar Moly tidak semakin marah.
“Alah…alasan kamu aja. Mentang mentang disini ada seseorang yang kamu andalkan jadi kamu seenaknya bekerja. Ingat kamu itu anak baru di sini, kalau kamu terlambat lagi saya akan laporkan ke Mami biar kamu dapat hukumannya,” ancam Moly dengan tersenyum miring memikirkan cara untuk menyingkirkan Dini. Karena Moly menganggap Dini telah merebut perhatian dari Pram manajer Klub.
“Maaf…kak. Saya tidak akan melakukannya lagi. Sekali lagi saya minta maaf.” Ucap Dini sambil membungkuk, ia tidak mau mendapat hukuman dari Mami karena yang ia tahu kalau sudah berhadapan dengan Mami bisa bahaya.
Melihat Dini memohon padanya membuat Moly tersenyum puas, “awas aja kalau kamu terlambat dan satu lagi jangan pernah tebar pesona sama Kak Pram karena Kak Pram adalah incaranku” ucap Moly sambil berjalan dan menyenggol pundak Dini sehingga membuat Dini terhuyung ke belakang.
Untung Dini dapat mengimbangi badannya sehingga ia tidak terjatuh saat di senggol sama Moly. Dini hanya menggelengkan kepala melihat sikap Moly yang dari awal ia bekerja selalu mencari masalah dengannya dan selalu bersikap tidak baik ternyata karena Kak Pram.
“Ah..bodo amat dengan si Moly aku disini kerja bukan tebar pesona dengan Kak Pram. Emang aku akui Kak Pram tampan dan baik tapi…ya sudahlah” batin Dini lantas berjalan menuju meja bartender.
Di meja bartender Dini bisa melihat ada Kak Pram yang sedang membuat minuman pesanan orang, walaupun Kak Pram manajer di klub ini tapi Kak Pram juga yang membuat minuman tapi khusus untuk tamu-tamu yang Kak Pram kenal. Seperti saat ini Kak Pram lagi membuat minuman untuk teman temannya yang katanya akan hadir.
“Selamat malam kak, maaf saya terlambat” ujar Dini dengan menunduk takut.
Kak Pram tersenyum manis melihat kehadiran Dini, karena dari tadi Kak Pram sedang menunggu kedatangan Dini dan sedikit khawatir karena Dini tidak datang datang sedangkan waktu jam kerja sudah lewat.
“Malam juga, apa ada masalah sehingga kamu datang terlambat?” Pram menghentikan aktivitasnya dan menatap Dini dengan lekat yang membuat jantungnya ikut berdebar.
“Ah…tidak ada masalah apa-apa kak. Aku tadi bangun kesorean mungkin karena kelelahan abis menemani Ibu” Dini terbengong saat mengucapkan kata Ibu, dia menemani Ibunya ke hotel dan berakhir mengenaskan di kamar hotel beruntung ia bisa bebas.
“Hei….ngapain jadi bengong?” Pram mengibaskan tangannya ke arah wajah Dini yang terlihat melamun.
Dini tersentak dari lamunannya dan tersenyum kikuk.
“Ya sudah. Ini kamu antar pesanan di meja nomor 8 ya, ingat nomor 8.” Pram mempertegas ucapannya biar Dini tidak salah meja.
“Baik kak” Dini mengambil nampan yang berisi botol minuman beralkohol dan berjalan menuju meja nomor 8. Dini pun membawa nampan tersebut dengan hati-hati ia tidak mau melakukan kesalahan.
Dini harus bisa menahan rasa mualnya bila sedang bekerja, bau alkohol dan asap rokok kadang membuat perutnya bergejolak apalagi saat melihat adegan-adegan yang membuat jantungnya mau copot yang biasanya ia lihat di film tapi sekarang ia harus melihat secara langsung.
Langkah Dini hampir mendekati meja nomor 8 tapi tiba-tiba Moly menghadang Dini untung Dini memegang erat nampannya kalau tidak bisa jatuh minuman tersebut.
“Ada apa kak?” tanya Dini.
“Sini pesanan kamu, dan kamu antar pesanan ini ke kamar 18” moly segera menukar nampan yang ada ditangan Dini dengan nampan yang ada di tangan pelayan yang berdiri disamping Moly.
“Tapi kak. Aku di suruh Kak Pram membawa ini ke nomor 8”
“Oh…melawan kamu ya. Kamu mau aku laporkan ke Mami, ini suruhan mami biar kamu tahu” Moly pun menyuruh pelayan yang membawa nampan Dini untuk segera pergi mengantar pesanan ke meja 8.
“Awas kalau kamu tidak mengantarnya” ancam Moly sambil berlalu pergi.
Dini hanya bisa pasrah menatap nampan minuman yang dipegangnya, ia pun melangkah menuju kamar 18 yang ia tahu tempat tamu penting berada.
Sebelum membuka pintu ruangan 18, Dini mengatur nafasnya dahulu karena ia tidak pernah disuruh antar minuman ke ruangan tersebut jadi ada perasaan takut menguasai diri Dini. Karena ia adalah pekerja lepas dan kerjanya hanya di lantai satu tapi tidak saat ini, ia sudah berdiri di lantai dua tepatnya di ruangan yang tertera angka 18.
“Permisi” Dini mengetuk pintu sejenak kemudian melangkah masuk kedalam ruangan dengan pemandangan yang membuat Dini mual. Bagaimana ia tidak mual begitu pintu terbuka ia sudah disuguhi pemandangan yang tidak layak dilihat dengan mudahnya sepasang pria wanita bercumbu di sudut sofa dengan si pria seperti bayi yang sedang menyusui.
Dini pun berjalan sambil menunduk dan segera meletakkan minuman tersebut di meja namun karena terburu buru Dini malah menyenggol gelas dan membuat air di dalam gelas tersebut jatuh mengenai kaki seseorang yang sedang duduk sambil memperhatikan Dini sejak masuk.
Jantung Dini berdetak cepat saat melihat sepatu pria tersebut basah, Dini langsung berjongkong dan membersihkan sepatu pria tersebut dengan tangannya.
“Maaf, tuan. Maaf…saya tidak sengaja” Dini berucap dengan tangan mengelap sepatu tersebut.
Pria tersebut menarik kakinya menjauh dari tangan Dini, mata pria tersebut menatap tajam kearah Dini yang masih saja menunduk. Desiran aneh dirasakan pria tersebut saat Dini menyentuh sepatunya.
“Apa-apaan ini, cuma dipegang sepatuku saja tubuh ini seperti terkena aliran listrik. Apakah wanita ini si anak paud?” Gumam pria tersebut sambil mempertahankan kakinya yang hendak di sentuh wanita itu
