Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Bertemu Kakek Darma

Kenzi menatap nyalang Max sepertinya seseorang yang ditelepon Max tidak mengangkat teleponnya.

“Maaf, tuan. Ibu Anna tidak menjawab teleponnya” sesal Max sambil menunduk takut.

Kenzi menarik nafas frustasi, “kamu cari tahu tentang wanita itu secara detail dan aku mau nanti malam kamu sudah membawa wanita itu kemari? Oh…tidak jangan ke hotel ini tapi ke apartemenku” Kenzi bangkit dari sofa setelah memberi perintah ke Max.

“Baik, tuan” Max pun mengangguk pasrah, walau ia tidak yakin bisa menemukan wanita tersebut malam ini karena nomor ponsel wanita tersebut sudah tidak aktif sepertinya Max telah ditipu oleh ibu dan wanita tersebut.

Malam pun tiba, Max tampak gusar menunggu kabar dari anak buahnya yang ia suruh untuk mencari tahu keberadaan Anna, tak lama muncul seorang laki-laki dengan wajah sangar menghadap ke Max dengan menunduk hormat.

“Maaf, tuan. Kami kehilangan jejak wanita tersebut. Menurut info yang kami dapat, wanita tersebut sudah meninggalkan rumahnya sejak tadi pagi saat ia mengantar putrinya ke tuan. Dan di rumahnya pun tidak ada siapa siapa lagi” ucap pria tersebut.

“Sial!” Ucap Max kesal.

Pria tersebut pun langsung undur diri setelah memberikan laporannya. Max langsung memberi tahu ke tuannya bahwa mereka kehilangan jejak Ibu wanita tersebut dan Max mendapat amukan dari Kenzi, Max hanya bisa menunduk pasrah.

*****

Di Suatu tempat dimana banyaknya orang lalu lalang keluar masuk di sebuah gedung untuk melakukan transaksi. Anna dan Dewi sedang berada di sebuah Bank, mereka duduk di kursi menunggu antrian. Dewi yang tidak tahu menahu apa yang telah Ibunya lakukan hanya diam mengikuti kemana tujuan Ibunya termasuk berada di bank ini.

“Buk, kita mau ngapain kemari. Emangnya Ibu punya tabungan berapa sampai harus kesini. Bukankah kita bisa mengambilnya melalui kartu kredit?” Tanya Dewi.

“Ribet pake kartu kredit kalau ambil duit banyak” kata ibu sambil melihat nomor antriannya yang bertuliskan 075 sedangkan yang dipanggil baru sekitar 070, berarti Anna harus bersabar 5 orang lagi baru dirinya.

“Emang berapa duit yang mau Ibu ambil?” Tanya Dewi kembali.

Anna tidak menjawab pertanyaan Dewi karena nomor antrian dirinya telah dipanggil lantas Anna segera beranjak menuju meja kasir dan meninggalkan Dewi duduk sendirian. Dewi hendak menemani Ibunya namun tangan Anna melambai menyuruh Dewi untuk duduk kembali.

Setengah jam berlalu kini Anna sudah duduk di samping Dewi dengan membawa amplop coklat. Anna memeluk erat amplop tersebut, setelah menarik nafas pelan pelan dan menenangkan jantungnya yang berdetak dengan cepat Anna memasuki amplop tersebut di tasnya.

Dewi yang melihat gelagat Ibunya yang berbeda merasa aneh dan waktu Dewi hendak bertanya Ibunya sudah berdiri dari duduknya.

“Ayo, wi. Kita harus berangkat sekarang, untung saat ini kita kembali ke jogja saja” ucap Anna sambil berlalu.

Dewi juga segera bangkit dan menyusul ibunya yang sudah berjalan duluan.

“Bu, apa kita tidak mengajak atau menghubungi Dini?” Dewi sengaja mengungkit nama Dini biar Ibunya berbesar hati mengajak Dini pergi juga.

“Tidak!! Hati Ibu lagi senang jangan kamu sebut nama dia karena membuat hati Ibu jadi tidak senang.” Kata Anna dan menyetop taksi yang lewat di depannya.

Taksi tersebut berhenti tepat di depan Anna, Anna pun segera masuk dan mau tak mau Dewi ikutan masuk ke dalam taksi.

“Stasiun Melati ya, Pak!” Kata Anna dengan wajah kesal.

Dewi yang tahu Ibunya kesal hanya bisa diam. Saat ini ia harus mengikuti kemana tujuan Ibunya walau di hati kecil Dewi masih memikirkan Dini.

“Bu, ponsel Dewi mana? Dewi mau hubungi teman kerja.” Ucap Dewi memecah keheningan. Dewi meminta kembali ponsel yang dipinjam Ibunya tanpa Dewi tahu ponsel tersebut sudah dibuang Ibunya.

“Ponselnya sudah hilang,” ucap Anna dengan ketus.

“Apa? Hilang!” teriak Dewi tidak percaya.

“Gak usa ngegas begitu ngomongnya, nanti Ibu belikan ponsel baru kamu tenang saja” jawab Anna dengan entengnya.

“Dewi gak butuh ponsel baru, Bu. Dewi butuh ponsel Dewi yang sekarang karena banyak nomor teman-teman Dewi,” Dewi kesal melihat sikap Ibunya yang mulai berubah.

Anna tidak menggubris ucapan Dewi, ia menatap keluar jendela dan mulai berpikir kemana mereka akan pergi, tempat satu-satunya yang bisa Anna datangi adalah ke Jogja dimana tempat kota kelahiran Anna.

Taksi tersebut sampai di stasiun dengan wajah cemberut Dewi turun dari taksi. Anna yang melihat wajah anaknya yang cemberut pun menarik nafasnya. Memang ia salah telah membuang ponsel anaknya tapi itu salah satu cara agar Dewi tidak menghubungi Dini, karena Anna tau Dewi sangat dekat sama Dini pasti Dewi akan menghubungi Dini.

“Ibu janji sampai di Jogja Ibu akan belikan kamu ponsel baru, ponsel yang jauh lebih mahal dari ponsel kamu itu. Ibu ingin kita memulai hidup baru jadi Ibu tidak mau ada orang yang mengganggu ketenangan kita lagi”

“Terserah Ibu saja,” ucap Dewi kesal sambil menenteng koper nya masuk ke dalam kereta api da tak lama kereta api tersebut melaju meninggalkan kota Jakarta tempat dimana kenangan baik dan buruk yang Anna alami.

***

Dini yang sedang tertidur di dalam kamarnya tersentak bangun saat terdengar pintu rumahnya digedor orang dengan keras. Dini yang ketakutan tidak berani membuka pintu dan ia segera mengambil tas selempangnya lantas keluar dari pintu belakang, ia takut orang orang tersebut adalah rentenir yang datang untuk meminta uang karena Dini pernah melihat orang itu datang dan memarahi Ibunya yang tidak bisa membayar.

Dini tidak tahu bahwa orang orang tersebut adalah suruhan Max, Dini pun berjalan mengendap-ngendap agar mereka tidak mengetahui keberadaan Dini. Karena saat ini Dini tidak memiliki uang dan Dini tidak mau nanti jadi bahan jaminan lagi seperti yang dilakukan Ibunya.

Akhirnya Dini berjalan jauh dari rumahnya, dan ia pun duduk di sebuah warung kecil. Rasa haus dan lapar pun Dini rasakan, ia pun membuka tas nya dan melihat ada beberapa lembar uang lima ribuan. Dini pun membeli minuman dan roti untuk mengganjal perutnya di warung tersebut.

Pandangan Dini tertuju di jalanan tampak ada sebuah mobil yang berhenti sepertinya mobil tersebut mogok dan terlihat seorang kakek keluar dari mobil dan berjalan menuju warung tempat Dini duduk.

“Permisi, neng. Boleh kakek duduk di sini?” ucap Kakek tersebut.

“Eh…Boleh kek” kata Dini sambil menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi tempat kakek tersebut duduk.

Dini kembali memakan roti yang ia beli dan sambil minum agar roti tersebut tertelan. Saat Dini ingin memasuki roti tersebut ke mulutnya lagi ia melihat kalau Kakek tersebut sedang memandangnya.

“Kakek, mau” tawar Dini, ia pun mengambil Roti yang masih utuh karena tadi ia membeli dua biar kenyang dan memberikan ke kakek tersebut.

Kakek itu pun tersenyum dan mengambil roti pemberian Dini, “terima kasih.” Kakek tersebut memakan roti dengan lahap padahal melihat penampilan kakek itu sepertinya ia orang berada tapi Dini tidak peduli niat dia hanya memberi.

“Roti ini enak,” ucap Kakek sambil mengunyah.

“Lebih enak lagi kalau di makan sambil minum kopi kek. Duh nikmat banget” kata Dini dengan ekspresi wajah sambil membayangkan makan roti pakai kopi.

“Ha..ha..ha..” kakek tersebut tertawa melihat sikap Dini yang lucu.

Dini dan kakek tersebut pun semakin nyaman bercerita, Dini yang ceria membuat si kakek selalu tertawa. Begitu juga dengan Dini, ia menjadi betah duduk di warung menemani si kakek yang mobilnya sedang diperbaiki.

Sepertinya mobil kakek sudah selesai diperbaiki karena tampak sang sopir berjalan menghampiri mereka.

“Permisi, tuan. Mobilnya sudah selesai diperbaiki, ayo kita melanjutkan perjalanan.” Kata sang sopir dengan hormat.

Si kakek pun mengangguk dan meneguk habis air mineral yang diberi Dini, Kakek melirik penampilan Dini yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.

“Kamu mau disini saja? Kalau kamu mau pergi kesuatu tempat ayo sekalian biar kakek antar,” tawar Kakek.

“Tidak…usah Kek. Dini masih mau duduk disini” kata Dini sambil melirik ke belakang warung untuk melihat para kolektor tersebut yang sepertinya tidak mengikutinya lagi.

“Dini…jadi nama kamu Dini ya” ucap kakek tersenyum, “kalau begitu terima kasih sudah memberi kakek roti dan menemani kakek disini. Ini kartu nama kakek, kalau kamu butuh apa-apa kamu bisa kerumah kakek atau hubungi nomor ponsel kakek” kata Kakek sambil menyodorkan kartu namanya ke Dini.

Dini pun menerima kartu nama tersebut, “sama sama Kakek. Senang bisa menemani kakek disini.”

Kakek pun berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam mobil yang sudah berhenti tempat di depan warung. Kakek membuka kaca mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Dini.

Dini ikut melambai dengan tersenyum manis. Mobil melaju meninggalkan warung tempat Dini berada, Dini membaca kartu nama yang diberikan oleh sang Kakek, “Darmantara, jln Komplek Permata Indah. Wah si Kakek ternyata orang kaya, panteslah penampilannya saja sudah wow.” Lantas Dini menaruh kartu nama tersebut di dalam tas selempangnya dan ia pun beranjak meninggalkan warung menuju ke rumahnya kembali untuk mengambil bajunya karena untuk saat ini ia tidak mungkin menginap dirumah ia takut orang orang tersebut kembali datang kerumah. Ia akan meminta tolong kepada seseorang yang selama ini baik sama Dini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel