Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2

Hujan deras telah berlangsung selama dua hari, membuat rombongan pengantin yang mengantarnya terjebak di penginapan bobrok ini selama waktu yang sama.

Air hujan menghantam tanah dengan suara berisik yang terus - menerus, cukup membuat siapa pun yang tidak sabar merasa gelisah dan marah.

Namun, saat ini, semua itu sudah tidak penting lagi.

Di dalam kamar yang remang - remang, meskipun berada di lantai dua dan dianggap sebagai kamar terbaik di penginapan ini, namun kondisinya tetap saja mengenaskan. Bau apek memenuhi udara, dan sesekali terdengar suara tikus menggerogoti sesuatu di sudut ruangan.

Selimut di tempat tidur terasa lembap, menyebarkan aroma aneh yang sulit dijelaskan.

Duduk di tepi ranjang dengan gaun pengantin merah menyala, Meng Lanyue menatap kosong ke arah jendela kayu yang kasar dan lapuk, tanpa sedikit pun gerakan.

Siapa yang tahu apa yang terjadi sebenarnya?!

Semalam, begitu tiba di penginapan ini, akhirnya dia dibebaskan dari ikatan. Karena semua orang di sekelilingnya terlihat asing dan aneh, maka ia masih berkeyakinan bahwa dirinya telah diculik.

Namun, begitu ia melihat pantulan dirinya di cermin, semuanya berubah.

Dan dalam sekejap, ia pingsan lagi.

Saat bangun, ia akhirnya mengerti bahwa ini bukan mimpi. Ini nyata.

Wajah ini bukan miliknya.

Tubuh ini juga bukan tubuhnya.

Ia berada di tempat yang benar - benar asing, dengan tubuh orang lain, dalam kehidupan yang bukan miliknya.

Ingatan masa lalunya terasa seperti ilusi—seperti mimpi samar yang kini perlahan - lahan menghilang. Begitu ia "terbangun" dari mimpi itu, dunia di sekitarnya sudah berubah.

Tiba - tiba, terdengar suara pintu berderit.

Seseorang masuk. Gadis muda bertubuh mungil itu lagi. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, tatapannya kosong.

Ia selalu menyebut dirinya "hamba," tetapi tidak ada sedikit pun rasa hormat dalam sikapnya.

"Nona, hamba datang untuk mengganti perban Anda."

Di tangannya ada sebuah baki yang berisi salep, kain perban, dan berbagai alat pengobatan lainnya. Anehnya, benda - benda itu terlihat cukup rapi dan bersih, tidak seburuk tempat ini.

Meng Lanyue menghela napas. Matanya tertuju pada baki di tangan gadis itu.

Tuhan tahu apa yang telah dialami tubuh ini sebelumnya.

Luka di kepalanya sangat dalam—membentang dari dalam rambutnya hingga ke alis. Ia bisa merasakan perban tebal yang membebani kepalanya, membuatnya selalu merasa berat dan pusing.

Melihatnya tidak menjawab, gadis itu menarik napas dalam - dalam dan mengulanginya, "Nona, hamba akan mengganti perban Anda."

"Letakkan saja di sana. Aku bisa melakukannya sendiri," akhirnya Meng Lanyue membuka mulut, suaranya tenang dan datar.

Segala sesuatu di sekelilingnya terasa misterius dan membingungkan.

Ia juga bisa merasakan sikap tidak bersahabat dari gadis muda itu.

Tapi satu hal yang jelas—ia bukanlah seorang "Nona" dalam arti yang sebenarnya.

Tanpa membantah, gadis itu segera meletakkan baki di atas meja rias. Hanya di sana ada cermin—dan cermin itu adalah benda yang membuatnya pingsan semalam.

Meng Lanyue berdiri. Seketika, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Siapapun bisa menebak bahwa tubuh ini baru saja dihajar habis - habisan. Ditambah dengan bekas ikatan yang ia alami sebelumnya, jika tubuh ini masih bisa merasa nyaman, itu justru akan menjadi keajaiban.

Dengan tubuh yang terasa kaku dan nyeri, ia melangkah menuju meja rias.

Di cermin tembaga yang masih cukup jelas, bayangan tubuhnya tercermin.

Sekali lagi, ia tertegun.

Tubuh ini… jelas bukan miliknya.

Tubuhnya yang sekarang tinggi semampai, lekuk tubuhnya sempurna—pinggang ramping, dada dan pinggul proporsional.

Sebagai dokter, ia telah melihat banyak tubuh manusia, namun jarang sekali menemukan tubuh yang seindah ini.

Meng Lanyue benar - benar ingin menuntut langit atas ketidakadilan ini!

Kalau ada keluarga yang mewarisi "kutukan tubuh papan cuci," mereka pasti akan sangat iri dan merasa dikhianati oleh dewa pencipta.

Ia duduk di depan cermin.

Hal pertama yang menarik perhatiannya adalah perban tebal di kepalanya—mirip seperti ketan dalam bungkus daun pisang.

Ia menutup mata sejenak, mencoba menenangkan diri, lalu kembali menatap bayangan dirinya di cermin.

Ini sungguh seperti melihat hantu.

Ia tidak bisa menyangkal—wajah ini luar biasa cantik.

Bukan sekadar cantik biasa, tapi jenis kecantikan yang jarang ditemukan di dunia ini.

Jika ini wajah alami, maka kemungkinan seseorang bisa lahir dengan tampang seperti ini hanya satu dari sejuta.

Meski kini wajah itu sedikit pucat dan kepala masih terbungkus perban seperti kepompong, kecantikannya tetap tidak bisa disembunyikan.

Dalam dunia yang sangat memperhatikan penampilan, wajah ini pasti bisa membuka banyak pintu.

Tapi tetap saja, ini bukan wajahnya!

Ia mengangkat tangannya.

Jari - jari panjang dan ramping, kulit putih bersih tanpa noda, tanpa kapalan atau bekas luka sedikit pun—tangan yang terawat dengan baik.

Jelas tubuh ini berasal dari kehidupan yang mewah dan penuh kenyamanan.

Lalu, mengapa orang - orang di sekelilingnya memperlakukannya dengan sikap yang begitu dingin?

Ini masih menjadi misteri.

Dengan hati - hati, ia mulai membuka perban di kepalanya.

Saat ujung jarinya menyentuh luka, rasa sakit langsung menusuk.

Ia mengernyit.

Namun, ia bisa menahannya.

Malah, rasa sakit ini semakin menegaskan bahwa semua ini bukan mimpi.

Gadis di dalam cermin ini… benar - benar dirinya sekarang.

Ia terus melepas perban. Lapisan demi lapisan.

Perban ini seperti kain pembebat kaki zaman dulu—terlalu panjang dan membebani kepala.

Saat akhirnya perban terlepas semua, kepalanya terasa jauh lebih ringan.

Kemarin, karena kesadarannya masih kabur, ia tidak begitu merasakan saat gadis pelayan itu membalut lukanya. Baru sekarang ia sadar betapa beratnya perban itu.

Akhirnya, luka di kepalanya terlihat.

Luka yang tersembunyi di balik rambutnya tidak terlalu kentara, tetapi luka di dahinya cukup mengerikan.

Dalam dan lebar.

Dan yang lebih buruk lagi—tidak ada jahitan sama sekali.

Meng Lanyue menutup matanya sejenak, menarik napas dalam - dalam, lalu berkata, "Tolong carikan aku jarum dan benang, juga arak."

Gadis pelayan itu menatapnya dengan tatapan kosong selama hampir satu menit sebelum akhirnya berbalik dan pergi.

Meng Lanyue melihat bayangannya di cermin, lalu menghela napas. Ia memang belum memahami situasinya, tetapi melihat luka yang menganga di dahinya benar - benar membuatnya tidak nyaman.

Sebagai dokter, ia tidak tahan melihat luka terbuka dibiarkan begitu saja tanpa dijahit dengan benar.

Selain itu, wajah seindah ini benar - benar sayang jika harus ternoda oleh bekas luka besar seperti ini.

Tak lama kemuidan, gadis itu kembali dan meletakkan barang - barang yang diminta di atas meja: jarum, benang, arak, obat salep, dan perban.

Meng Lanyue memperhatikan semuanya dengan saksama. Meskipun alat - alat ini tidak sepenuhnya profesional, namun ia tetap bisa menggunakannya.

Pertama, sterilisasi.

Ia menuangkan arak ke atas jarum dan benang, lalu sedikit membasuh lukanya dengan cairan itu.

Sakit.

Meng Lanyue mengerutkan kening, tetapi tangannya tetap bergerak tanpa ragu.

Gadis pelayan yang berdiri di sampingnya tampak semakin terkejut. Seolah - olah apa yang dilakukan Meng Lanyue adalah sesuatu yang di luar nalar.

Setelah selesai mendisinfeksi, ia mulai menjahit luka itu dengan tenang dan terampil.

Ia sangat percaya diri dalam keterampilan menjahit lukanya sendiri. Bahkan jika ia harus bekerja di tubuhnya sendiri, ia tidak akan berkedip sedikit pun.

Rasa sakit?

Tentu saja ada.

Di tengah - tengah proses, ia mengambil beberapa teguk arak, lalu melanjutkan kembali.

Kini pelayan muda itu benar - benar terpana.

Beberapa kali gadis itu tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi tampaknya takut akan mengganggu Meng Lanyue. Akhirnya, ia hanya bisa menyaksikan tanpa berkata apa - apa, sampai seluruh proses jahitan selesai.

Setelah mengamati hasilnya di cermin, Meng Lanyue cukup puas.

Kemudian, ia mengambil obat salep, membuka tutupnya, dan mengendusnya. Dari aroma yang tercium, ia bisa memastikan bahwa ini adalah obat untuk mengurangi pembengkakan dan mencegah infeksi.

Ia mengoleskan salep itu dengan hati - hati, lalu memotong selembar kain perban tipis untuk menutup luka—hanya sekadar untuk menghindari debu, tanpa menutupi seluruh kepalanya.

Terakhir, ia mengambil kendi arak dan meneguknya sekali lagi.

Rasa sakitnya berkurang.

Arak memang berguna.

Sementara itu, gadis pelayan masih berdiri di sampingnya, menatapnya tanpa berkedip, wajahnya sangat kebingungan dan sangat terkejut.

Setelah beberapa saat, akhirnya bibir gadis itu bergerak.

"Tuan Putri Ketiga... Anda tidak pernah minum arak sebelumnya. Sebenarnya, ada apa dengan Anda?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel