1
Ibu kota Kekaisaran Da Qi berdiri megah dan luas, sebuah kota besar yang memadukan kemegahan dan ketenangan. Ini adalah tempat yang tidak akan dilupakan oleh sejarah.
Langit di bulan Juni hangat dan damai, membuat ibu kota semakin ramai dari biasanya. Namun, keramaian hari ini berbeda. Warga berbaris panjang, bergerak menuju gerbang barat kota seperti gelombang awan gelap yang ditiup angin.
Hari ini, semua orang datang untuk menyaksikan sebuah peristiwa—pernikahan seorang wanita yang namanya telah terkenal di seluruh ibu kota, seorang yang disebut sebagai "wanita hina." Ia adalah putri kedua dari Fu Yin* kediaman Da Ying yang kini akan menikah.
Perihal wanita ini, tidak ada seorang pun di ibu kota yang tidak mengenalnya. Jika wanita mendengar namanya, mereka pasti akan meludah sebagai tanda penghinaan. Sedangkan para pria, begitu mendengar namanya, akan membicarakan berbagai kisah asmara tentangnya—benar atau tidak, tidak ada yang tahu pasti. Namun, kebanyakan orang memilih untuk mempercayainya, karena namanya telah begitu terkenal.
Meskipun Fu Yin kediaman Da Ying bukanlah pejabat besar di ibu kota, namun tetap saja ia memiliki kedudukan dan reputasi. Lalu, bagaimana bisa ia memiliki seorang putri seperti ini? Kisahnya cukup panjang.
Ibunya pun bukan orang sembarangan. Dua puluh tahun yang lalu, ia adalah wanita tercantik di ibu kota, dengan banyak pelanggan kaya dan berpengaruh. Para cendekiawan serta sastrawan menjadikannya tamu kehormatan, sementara banyak pria lain rela menghamburkan perak demi menghabiskan satu malam bersamanya—harga yang sangat tinggi bagi orang biasa.
Kemudian, entah karena alasan apa, wanita itu menebus dirinya dan membeli sebuah rumah dan meneteap di ibu kota. Beberapa waktu kemudian, tanpa diketahui dari mana asalnya, ia muncul kembali dengan seorang anak perempuan kecil—itulah putrinya.
Awalnya, tidak ada yang tahu siapa ayah dari anak itu. Namun, ketika gadis itu mulai "terkenal" di ibu kota karena menggoda pria - pria, akhirnya sang ayah kandung tidak tahan lagi dan membawanya kembali ke rumah keluarga. Saat itulah orang - orang baru menyadari bahwa ia adalah darah daging Meng Bo, Fu Yin kediaman Da Ying.
Setelah kembali ke rumah ayahnya dan mengganti namanya, Meng Lanyue menjadi semakin terkenal. Tidak seperti gadis bangsawan lainnya yang hidup terkurung di dalam rumah, hanya dalam satu tahun ia telah membuat rumah keluarga Meng berantakan.
Saat putri sulung keluarga Meng menikah, suaminya malah tergila - gila pada Meng Lanyue hingga kehilangan akal sehatnya.
Akhirnya, sang kakak tidak tahan lagi. Setelah menangkap mereka berdua berselingkuh di atas ranjang, ia menghantam kepala Meng Lanyue dengan batu bata hingga terluka parah—konon wajahnya hancur akibat kejadian itu.
Namun, banyak orang berspekulasi bahwa meskipun wajahnya rusak, Meng Lanyue pasti tetap cantik. Siapa pun yang pernah melihatnya akan mengakui bahwa langit memang tidak adil dalam menciptakan manusia—bagaimana mungkin ada wanita dengan wajah dan tubuh yang begitu sempurna?
*Fu Yin (府尹): Jabatan setara dengan gubernur atau pejabat tinggi suatu daerah dalam sistem pemerintahan kuno.
Meng Lanyue akan menikah—ini adalah sesuatu yang tidak disangka oleh banyak orang. Bagaimanapun, semua orang tahu namanya. Jika ada pria di ibu kota yang bersedia menghabiskan satu malam dengannya, itu bukan hal yang aneh. Namun, menikahinya dan membawanya pulang? Itu benar - benar mustahil.
Siapa sangka, ketika titah kekaisaran turun, ia benar - benar akan menikah.
Saat mendengar kabar pernikahan Meng Lanyue, semua orang serempak merasa kasihan pada calon suaminya. Sebelum pengantin wanita resmi masuk rumah, "mahkota hijau"** sudah bertengger di kepalanya—dan bukan sembarang mahkota, tapi yang sangat besar.
Namun, setelah mengetahui siapa mempelai pria, semua orang malah tertawa.
Pangeran Kelima—dia berada di perbatasan barat di Xijiang dan tidak diizinkan kembali ke ibu kota tanpa titah kekaisaran.
Sebenarnya, Pangeran Kelima ini bisa dibilang sangat malang. Lima belas tahun lalu, saat dia masih anak - anak, Kaisar sebelumnya wafat, dan putra - putranya berebut takhta. Kakak kandungnya, Pangeran Ketiga, mengalami kekalahan telak di tangan Kaisar yang sekarang berkuasa. Pangeran Ketiga diusir ke Kota Caoliu, dan Pangeran Kelima ikut terseret dalam nasib buruknya—langsung diasingkan ke Xijiang. Ibu mereka, Selir Jing, meninggal enam bulan setelah peristiwa itu.
Kini, Pangeran Kelima masih di Xijiang dalam keadaan tidak berbeda dengan seorang buangan. Kaisar yang sekarang bahkan menikahkannya dengan seorang wanita yang memiliki reputasi buruk seperti Meng Lanyue. Semua orang yang bisa berpikir pasti mengerti bahwa ini adalah penghinaan secara terang - terangan.
Namun, sejujurnya, penghinaan mungkin tidak diperlukan. Karena Pangeran Kelima sendiri sudah cukup menjadi bahan tertawaan. Konon, sepuluh tahun lalu ia mengalami percobaan pembunuhan dan akibatnya, dia bukan lagi seorang pria sejati—seorang kasim.
Seorang pengantin pria yang bukan pria sejati, dipasangkan dengan pengantin wanita yang tak bisa hidup tanpa pria. Hanya membayangkan saja, pernikahan ini sudah tampak begitu menggelikan. Sayangnya, Xijiang terlalu jauh dari ibu kota, kalau tidak, maka pasti ada tontonan seru setiap hari.
Meskipun nama Meng Lanyue tidak baik, namun pernikahan hari ini tetap berlangsung dengan megah—setidaknya sebelum ia keluar dari gerbang kota.
Tabuhan genderang bergema, musik pernikahan dimainkan dengan meriah, dan tandu pengantin dihias dengan indah. Di sekelilingnya, banyak dayang dan ibu rumah tangga mengiringi, sementara di belakang ada beberapa kereta berisi barang - barang mas kawin, semuanya dihiasi kain merah, penuh dengan suasana perayaan.
Iring - iringan itu berjalan menuju gerbang barat, sementara kerumunan orang mengikuti dari belakang. Perbincangan tak henti - hentinya terdengar, membuat jalanan semakin riuh.
"Lihat mas kawinnya, pasti berisi barang - barang berharga," ujar salah satu penonton.
"Barang berharga apanya? Menurut adik iparku yang bekerja membuang kotoran di rumah Meng, semua mas kawin itu sudah diganti oleh Nona Besar keluarga Meng dengan sepatu rusak!" orang lain yang mengetahui rahasia itu menimpali.
"Ada hal semacam itu?"
"Seratus persen benar! Semua sepatu rusak itu dikumpulkan dari para pelayan dan pengemis di jalanan—bau busuknya luar biasa."
"Begitu sampai di Xijiang dan saat peti mas kawin dibuka, pasti akan ada tontonan seru!"
Orang - orang tertawa terbahak - bahak. Membayangkan kejadian itu saja sudah cukup untuk membuat perut mereka sakit karena tawa.
**Mahkota hijau (绿帽子): Istilah dalam budaya Tiongkok yang mengacu pada seorang pria yang dikhianati oleh istrinya (suami yang dicurangi).
Iring - iringan pengantar pengantin terus berjalan dengan meriah menuju Gerbang Barat. Gerbang kota terbuka lebar, dijaga ketat oleh para prajurit. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, para prajurit itu justru terlihat tertawa - tawa sambil menyaksikan rombongan yang semakin mendekat.
Semula, semua orang mengira bahwa iring - iringan besar ini akan mengantarkan pengantin wanita hingga ke Xijiang. Namun, di luar dugaan, rombongan musik tiba - tiba berhenti di dalam kota. Para momo dan pelayan perempuan pun ikut berhenti. Yang melanjutkan perjalanan keluar kota hanyalah beberapa pelayan lelaki serta para pengusung tandu—tentu saja, beserta beberapa kereta ‘mas kawin’ yang penuh dengan sepatu rusak.
Begitu keluar gerbang, suara genderang dan alat musik yang mengiringi perayaan mulai meredup, hingga akhirnya menghilang sepenuhnya. Kini yang terdengar hanyalah suara langkah kaki mereka yang melangkah di bawah terik matahari. Setelah melewati sungai yang mengelilingi kota, rombongan terus bergerak ke arah barat.
Di luar gerbang, masih banyak warga yang menonton. Mereka terkejut melihat bahwa iring - iringan pengantin hanya sampai di gerbang kota. Sia - sia saja kemeriahan yang mereka saksikan tadi. Melihat rombongan yang semakin menjauh, banyak orang yang berbisik - bisik, merasa bahwa pemandangan ini lebih mirip seorang selir yang dikirim ke rumah baru, bukannya seorang istri sah yang hendak menikah.
Tandu yang berguncang - guncang terus bergerak maju. Guncangan itu begitu hebat hingga Meng Lanyue merasa seolah - olah seluruh isi perutnya akan keluar dari mulutnya.
Tuhan tahu apa yang sedang terjadi! Jika saat tidur pun masih terasa berguncang, berarti… terjadi gempa bumi?
Gempa?!
Meng Lanyue langsung tersadar. Ia membuka matanya, namun yang pertama kali ia rasakan adalah rasa sakit.
Kepalanya sakit. Tubuhnya sakit. Lengannya sakit. Seluruh tubuhnya terasa nyeri.
Namun, semua rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan kepanikan yang melanda dirinya saat melihat pemandangan di sekelilingnya. Sungguh merah!
Semuanya berwarna merah. Ia masih merasakan guncangan, yang berarti benda yang ‘menampung’ dirinya juga sedang berguncang. Di sekelilingnya, warna merah begitu mencolok hingga membuat matanya sedikit kabur.
Meng Lanyue memejamkan mata dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Apa yang sedang terjadi? Apakah ada orang yang menculiknya saat ia sedang tidur?
Begitu pemikiran itu muncul di benaknya, ia langsung terkejut. Dengan panik, ia menundukkan kepala untuk melihat tubuhnya sendiri—dan matanya langsung terbelalak.
Ada sesuatu yang tidak beres!
Bukankah dadanya seharusnya rata? Sejak lahir, tubuhnya memang ramping tanpa lekukan. Seluruh wanita di keluarganya pun begitu. Tidak peduli berapa banyak obat pembesar payudara yang mereka minum, hasilnya tetap nihil—bahkan semakin cekung!
Namun sekarang…
Meng Lanyue terperangah. Ia menggerakkan lengannya, berniat menyentuh dadanya untuk memastikan apakah ada sesuatu yang diselipkan di sana. Tapi, saat mencoba bergerak, barulah ia sadar bahwa kedua tangannya terikat.
Tali melilit tubuhnya erat, membuat bagian dadanya semakin menonjol.
Tangannya diikat ke belakang, hingga terasa mati rasa.
Ia menarik napas dalam - dalam, mencoba menenangkan diri. Tenang! Tenang!
Dia adalah seorang dokter. Meski berasal dari keluarga tabib tradisional, namun dirinya lebih mendalami ilmu medis modern. Ia hanyalah dokter bedah biasa, bukan orang penting.
Lalu… siapa yang menculiknya?
Meng Lanyue mencoba mengingat, apakah ia pernah menyinggung seseorang di rumah sakit? Tapi tidak ada yang terpikirkan.
Mungkinkah keluarga pasien yang gila? Itu lebih masuk akal. Bagaimanapun, ia sudah menghadapi berbagai macam pasien selama bekerja sebagai dokter.
Setelah mempertimbangkan semua kemungkinan, ia memutuskan untuk mencari tahu siapa penculiknya. Seseorang yang tega memperlakukannya seperti ini pasti mengalami gangguan mental.
"Apakah ada orang di sana?"
Begitu suara itu terdengat, ia terkejut. Suaranya serak, bahkan tenggorokannya terasa sakit. Namun, yang lebih mengejutkan—itu bukan suaranya!
Sebelum ia sempat mencerna keterkejutannya, tirai di sampingnya tersingkap. Wajah seorang gadis muda muncul, ekspresinya datar tanpa emosi.
"Tuan Putri Ketiga, Anda sudah sadar. Jika ada yang Anda butuhkan, mohon bersabar. Saat ini kita sedang dalam perjalanan, semuanya harus disederhanakan. Jika ada keperluan, Anda bisa memberi tahu saya saat kita tiba di penginapan nanti," kata gadis itu dengan suara mekanis, seolah menghafal skrip.
Mendengar itu, Meng Lanyue terperangah.
Ia menatap wajah gadis itu yang masih muda, polos, dan tanpa ekspresi. Namun, yang paling aneh adalah rambutnya—disanggul seperti dalam drama kolosal!
Bahkan caranya berbicara terdengar aneh.
"Tuan Putri Ketiga?" Apakah itu sapaan untuknya?
"Siapa kamu? Aku merasa tidak enak badan. Bisa tolong lepaskan ikatanku?"
Meng Lanyue mencoba berkomunikasi dengan lembut. Ia tidak tahu ada berapa banyak orang gila di luar sana, tetapi yang terpenting sekarang adalah membuat dirinya lebih nyaman.
Namun, gadis itu hanya menatapnya tanpa ekspresi dan menjawab dengan suara datar, "Tuan Putri Ketiga, sebelum Anda pergi, Tuan Besar sudah berpesan bahwa Anda harus dikirim ke Xijiang dalam keadaan utuh tanpa kesalahan. Mohon maaf, tetapi ikatan ini tidak bisa dilepas. Saat kita tiba di penginapan nanti, saya akan membantu Anda."
Nada bicara gadis itu tidak berubah sedikit pun, seperti robot yang diprogram untuk mengatakan hal itu.
Kebingungan Meng Lanyue semakin menjadi. Tuan Besar? Xijiang? Apa maksudnya semua ini?
Gadis itu menurunkan kembali tirai, memutuskan pandangannya dari dunia luar.
Meng Lanyue mencoba menggeliat, tetapi rasa sakit semakin menusuk. Yang paling menyiksa adalah kepalanya, bukan hanya terasa sakit, tetapi juga berat.
Menatap sekeliling, ia mulai memperhatikan di mana dirinya berada.
Ini… ini seperti tandu dalam drama sejarah!
Kain merah di sekelilingnya, serta pakaian aneh yang ia kenakan—apakah ia sekarang sedang berada dalam sebuah tandu pernikahan?!
Sial!
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa ia bisa terjebak dalam situasi aneh ini?!
Tandu terus bergoyang, membuat kepalanya semakin pusing. Penglihatannya mulai berbayang, dan rasa sakit di kepalanya semakin menusuk. Sepertinya ia memang benar - benar terluka.
Mengambil napas dalam - dalam untuk menenangkan diri, ia berharap rasa pusing ini akan berkurang. Namun, yang terjadi justru sebaliknya—semakin ia mencoba fokus, kepalanya semakin terasa berat.
Tiba - tiba, suara dengungan mulai terdengar di telinganya, semakin lama semakin keras.
Dunia di hadapannya perlahan kehilangan warna. Semuanya memudar menjadi hitam dan putih…
Dan akhirnya, semuanya berubah gelap gulita.
