Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Tidak ada Toleransi Sedikit pun

Beberapa menit kemudian, Kiara tiba di halaman rumah sakit.

Ia berlari kecil menuju bagian administrasi sambil memeluk tasnya erat-erat agar tidak basah.

Napasnya terengah-engah, rambutnya berantakan, tapi dia tidak peduli dengan penampilannya. Yang penting, ibunya harus tetap hidup.

Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika seseorang memanggil dari belakang.

“Kiara.”

Kiara menoleh dengan cepat. Napasnya tercekat ketika melihat sosok pria jangkung dengan jas hitam berdiri di bawah naungan payung besar.

Wajahnya familier — rapi, tenang, dan terlalu profesional.

“Tuan Max?” Kiara bergumam dan sedikit terkejut. “Kenapa Anda ada di sini?”

Max menatapnya dengan ekspresi datar tapi sopan. “Tuan Julian memintaku untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar.”

Kiara membeku. Seketika hatinya mencelos. “Maksud Anda … Anda mengikutiku?”

“Perintah langsung dari Tuan Julian,” jawab Max dengan tenang.

Kiara langsung menghela napasnya mendengar ucapan Max tadi.

Dalam hati, Kiara menggerutu. ‘Jadi dia benar-benar tidak percaya padaku?’

Matanya panas menahan emosi. Di antara rasa malu dan kecewa, ada juga rasa sakit — karena pria itu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menunjukkan bahwa dia bukan pembohong.

“Baiklah,” katanya singkat dan berusaha terdengar tenang meski suaranya serak.

“Kalau begitu, tolong jangan menghalangiku. Aku harus membayar tagihan sekarang.”

Max mengangguk dan berjalan di belakangnya tanpa banyak bicara.

Mereka menuju meja administrasi. Petugas rumah sakit yang mengenali Kiara langsung berdiri.

“Ah, Nona Kiara, kami baru saja hendak menghubungi Anda lagi. Apakah pembayaran sudah—”

Kiara menaruh kartu hitam itu di atas meja sebelum kalimat itu selesai. Tangannya gemetar saat menyerahkannya.

“Gunakan ini. Tolong lunasi semua tagihan atas nama pasien Melisha Louis. Semuanya,” ucapnya cepat.

Petugas menatap kartu itu dengan mata membesar. “I-ini black card unlimited?”

“Ya,” jawab Kiara singkat. “Tolong cepat, aku mohon.”

Petugas itu segera memproses transaksi dengan hati-hati. Sementara itu, Max berdiri di belakang dengan diam seperti bayangan gelap yang mengikuti setiap langkahnya.

Beberapa menit kemudian, petugas mengembalikan kartu itu sambil menunduk hormat.

“Semua sudah beres, Nona. Tagihan sudah lunas. Termasuk biaya obat, perawatan, dan ruang ICU selama tiga hari ke depan.”

Kiara menunduk dengan lega. Bahunya bergetar dan napasnya keluar berat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, beban besar di dadanya terasa sedikit berkurang.

“Terima kasih,” bisiknya dengan pelan.

Namun, rasa lega itu tak bertahan lama. Begitu dia hendak berbalik menuju ruang rawat ibunya, tangan seseorang menahan pergelangan tangannya.

“Maaf, Kiara,” kata Max pelan tapi tegas. “Kita harus pergi sekarang.”

Kiara menatap tangannya yang digenggam. “Apa maksud Anda? Aku ingin melihat ibuku dulu. Hanya sebentar. Lima menit saja.”

Max menggeleng. “Tuan Julian meminta saya membawa Anda segera setelah pembayaran selesai.”

Kiara menatapnya tidak percaya. “Apa? Sekarang? Tapi aku baru saja—”

“Perintahnya sudah jelas, Kiara,” potong Max lembut tapi tak memberi ruang untuk negosiasi.

Rasa marah dan sedih bercampur jadi satu di dada Kiara. “Dia bahkan tidak memberiku waktu untuk memeluk ibuku?” suaranya meninggi dan bergetar.

“Dia pikir aku ini apa? Barang kiriman yang bisa dibawa semaunya?”

Max menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Ada sedikit rasa iba di sana, tapi wajahnya tetap profesional.

“Saya mengerti perasaan Anda, tapi saya tidak bisa melanggar perintah. Tuan Julian tidak suka menunggu. Ayo.”

Kiara hanya bisa terdiam. Rasa lelah dan putus asa membuatnya tak mampu melawan. Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Max, tapi tidak berkata apa-apa lagi.

Tanpa banyak pilihan, dia mengikuti langkah pria itu menuju pintu keluar.

Di luar, sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu di bawah hujan tipis.

Lampunya menyala lembut, dan interiornya terlihat hangat dari balik kaca.

Pintu belakang dibukakan untuknya.

Kiara melangkah masuk tanpa sepatah kata pun, duduk di kursi kulit yang empuk tapi terasa seperti penjara.

Mobil mulai melaju menembus malam kota. Suasana di dalam mobil sunyi. Hanya suara mesin dan rintik hujan di jendela yang menemani.

Kiara menunduk, memandangi kartu hitam di tangannya yang kini terasa berat seperti dosa.

Ia meneguk ludahnya lalu berdehem pelan. “Tuan Max?”

“Ya?” suara Max terdengar lembut dari kursi depan.

“Aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tentu.”

Kiara menarik napasnya sebelum bicara. “Apakah aku … wanita kesekian yang dijadikan teman tidur oleh Tuan Julian?”

Pertanyaannya meluncur begitu saja diiringi rasa ingin tahu yang sedari tadi menekan dadanya.

Max menoleh sedikit melalui kaca spion, lalu menggeleng pelan. “Tidak. Bahkan Tuan Julian belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya.”

Kiara mengernyit. “Maksud Anda … belum pernah?”

“Ya.” Max menatap lurus ke depan.

“Selama bekerja bersamanya, saya tahu beliau bukan pria yang tertarik menjadikan siapa pun seperti itu. Banyak wanita mencoba mendekat, tapi dia selalu menolak.”

Kiara terdiam, bingung. “Kalau begitu, kenapa dia melakukan ini padaku?” tanyanya lirih. “Apa yang membuatku berbeda?”

Max mengangkat bahu ringan. “Sepertinya hanya satu alasan yang bisa menjelaskan alasan dia mau membantumu, Kiara.”

“Apa itu?” tanya Kiara ingin tahu.

Max menatapnya dari spion, lalu menjawab datar, “Dia sedang berusaha lari dari pertunangan yang diatur oleh ayah dan ibunya.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel