Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Keputusan yang Diambil

Detik berdetak begitu lambat bagi Kiara, namun waktu sebenarnya berlari tanpa belas kasihan.

Begitu Julian meninggalkan meja dan berdiri menghadap jendela lagi, ponsel Kiara yang tergeletak di pangkuannya bergetar keras.

Layar menyala dan menampilkan pesan dari dokter yang membuat seluruh darahnya seolah berhenti mengalir.

“Nona Kiara, mohon maaf, tapi kami harus mencabut alat bantu pernapasan ibu Anda malam ini jika pembayaran tidak segera dilakukan. Kami menunggu keputusan Anda.”

Tangannya gemetar hebat. Pandangannya kabur. Pesan itu seperti hukuman mati bagi ibunya—dan bagi dirinya.

Tubuhnya kehilangan tenaga, hingga ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya.

“Tidak, jangan sekarang,” bisiknya dengan suara serak.

Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya yang pucat. Ia mencoba mengetik balasan, tapi jari-jarinya gemetar hebat.

Julian yang berdiri tak jauh darinya akhirnya berbicara. “Sudah aku bilang, kau tidak punya banyak waktu, Kiara,” ucapnya dengan tenang tapi menyayat hati Kiara.

Kiara mengangkat wajahnya. Setelah menimbang-nimbang tawaran itu, yang awalnya ingin menolak, justru akhirnya dia menerimanya.

“Aku … aku menerima tawaran Anda, Tuan,” katanya akhirnya dengan suara bergetar.

“Tapi tolong, tidak malam ini. Aku harus ke rumah sakit dulu. Aku ingin memastikan ibuku aman, baru setelah itu ….”

Julian menatapnya datar. Tidak ada emosi dan tidak ada belas kasihan—hanya sorot tajam yang membuat dada Kiara semakin sesak.

“Tidak malam ini?” ulang Julian pelan. “Kau baru saja mengatakan ibumu hampir kehilangan nyawanya. Dan kau masih berani menawar waktu denganku?”

Kiara tercekat. “Bukan itu maksudku, Tuan … aku hanya—”

“Kau pikir aku punya waktu untuk menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu cara menghargai kesepakatan?” potong Julian dengan nada tenang namun tegas.

Kiara menggigit bibirnya sambil menahan isak. “Tolong, Tuan, hanya satu jam. Satu jam saja. Aku akan pergi ke rumah sakit, membayar semuanya, lalu aku akan datang. Aku janji akan datang!”

Suara Kiara pecah di akhir kalimat. Teleponnya kembali bergetar di meja. Kali ini bukan pesan, tapi panggilan masuk. Nama Hospital Heart terpampang di layar.

Suara bergetar dari speaker terdengar begitu panik ketika Kiara menjawab dengan tangan gemetar.

“Nona Kiara? Kami butuh keputusan sekarang. Ibu Anda makin melemah. Mohon segera selesaikan pembayaran malam ini.”

“Ya, ya … aku akan ke sana sekarang,” sahut Kiara terburu-buru dengan suara parau.

“Tolong jangan lakukan apa pun pada ibuku. Aku mohon, tunggu sedikit lagi!”

Begitu panggilan berakhir, Kiara menatap Julian dengan mata penuh kecemasan.

“Tuan, tolong izinkan aku pergi sekarang. Hanya satu jam. Setelah itu aku akan ke mana pun Anda minta.”

Sunyi.

Julian tidak menjawab. Ia berdiri di depan meja dengan tangan bersedekap di dada.

Tatapan matanya dingin, tajam, seolah tengah menilai setiap kata yang keluar dari bibir gadis itu.

Kiara merasa seolah sedang diadili.

Detik terasa panjang. Napas Kiara tersengal. Ia menatap kartu hitam yang masih tergeletak di atas meja, seolah itu adalah satu-satunya harapan yang tersisa untuk menyelamatkan hidup ibunya.

Akhirnya, Julian menarik napas panjang, menatapnya dengan sorot mata yang sulit dibaca.

“Satu jam,” katanya datar. “Jika telat satu menit saja, kau akan habis di tanganku, Kiara!”

Jantung Kiara hampir lepas usai mendengar kalimat terakhi tersebut. Namun, dia sudah tidak punya waktu untuk meratapi nasibnya.

Dia mengangguk dengan cepat. “Ya. Aku janji akan datang setelah semuanya selesai!”

Julian menatapnya sekali lagi sebelum menarik sesuatu dari laci meja—selembar kertas kecil yang berisi alamat.

Ia menuliskan beberapa baris cepat dengan pulpen, lalu menggeser kertas itu ke arah Kiara.

“Ke sini,” katanya singkat. “Penthouse-ku. Tingkat tertinggi di Romanov Tower. Pastikan kau datang sebelum jarum jam menyentuh angka sembilan lewat tiga puluh menit.”

Kiara menatap alamat itu dengan tangan bergetar.

Kata penthouse saja sudah cukup membuat dadanya bergetar hebat. Bukan karena tempat itu megah, tapi karena dia tahu arti sebenarnya dari kesepakatan yang baru sajad ia setujui.

Namun, waktu tidak memberinya kesempatan berpikir lebih jauh.

Ia mengangguk cepat dan mengambil kartu hitam yang masih tergeletak di meja, lalu berdiri.

Kiara langsung berlari keluar dari ruangan itu.

Langkah-langkahnya bergema di sepanjang lorong sepi. Air matanya masih mengalir, tapi dia tidak berhenti. Dia tidak punya waktu untuk menangis. Tidak malam ini.

Begitu lift tertutup, napasnya memburu dan tangannya memegangi dada yang terasa sesak.

Ia menatap kartu hitam di tangannya—kilau logamnya memantulkan wajahnya sendiri yang hancur.

Dalam hati, ia berdoa, ‘Tuhan, tolong jangan biarkan aku menyesal.’

Lift berhenti di lantai bawah. Kiara berlari menembus udara malam yang dingin, memanggil taksi, dan mengucap alamat rumah sakit dengan suara terburu-buru.

Sementara itu, di lantai 45, Julian masih duduk di kursinya.

Jari-jarinya mengetuk meja perlahan dan tatapannya mengarah ke jendela.

Dia masih tampak tenang. Namun, matanya tak lepas dari langkah Kiara yang begitu tergesa sebelum akhirnya masuk ke dalam taksi.

Tak lama kemudian, dia menekan tombol di interkom. “Max,” panggilnya dengan suara datar.

Suara asisten pribadinya terdengar di ujung sana. “Ya, Tuan?”

“Dia baru saja pergi,” ujar Julian tanpa ekspresi. “Ikuti dia.”

“Maaf, Tuan? Maksud Anda—”

“Ke rumah sakit tempat ibunya dirawat,” potong Julian. “Pastikan dia benar-benar membayar tagihan itu. Setelah selesai, bawa dia langsung ke rumahku.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel