Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Matanya melirik ke sana kemari, berpura-pura polos. "Aku hanya memakainya sebentar... Kupikir tidak masalah."

Saat itu juga, Damien masuk.

Dia melihat Daisy canggung menarik resleting jaket, dan wajahnya langsung menggelap.

"Amelia! Apa yang kamu lakukan? Dia hamil, tidak bisakah kamu melihatnya? Dia butuh kestabilan!"

Aku tertawa dingin. "Tentu aku melihatnya. Tapi yang kulihat lebih jelas adalah dia mengenakan jaket panggungmu—yang hanya milikmu—sambil menyeduh kopi di dapurku."

"Itu hanya jaket!"

Damien melangkah maju dan mencengkeram lenganku, berusaha menenangkanku. "Bisakah kamu bersikap rasional? Dia hamil, emosinya tidak stabil. Kamu seharusnya mengerti."

"Rasional?" Aku menepis tangannya, suaraku setajam bilah pisau. "Damien, tadi malam ketika kamu terjaga sampai fajar sambil bersenandung untuk menenangkannya, di mana rasionalitasmu? Kamu bukan suaminya!"

Udara membeku.

Daisy langsung menitikkan air mata, seolah-olah dialah korbannya.

"Semua ini salahku. Aku seharusnya tidak menempatkanmu dalam posisi seperti ini..."

Dia berbisik gemetar, meletakkan tangannya di lengan Damien dengan sikap memelas.

Damien refleks melindunginya, menatapku tajam dari balik bahunya. "Lihat apa yang sudah kamu perbuat padanya!"

Hatiku terasa seperti tercabik. Lima tahun menahan diri dan berkompromi runtuh seketika.

Suaraku dingin dan tegas. "Kalau begitu, penuhilah tanggung jawabmu. Kita akan bercerai."

Damien terdiam sesaat, lalu tertawa—suara konyol yang menusuk telinga. "Cerai? Berhentilah berlebihan. Apa maumu? Mobil baru? Perhiasan? Kontrak PR yang bahkan tidak bisa kamu tangani? Sebutkan, aku akan memberimu apa pun."

Daisy menarik napas tersengal, air mata mengalir di wajahnya. "Hentikan pertengkaran ini... Aku akan pergi. Semua ini salahku."

Dia melangkah mundur, seperti hewan yang terluka.

Tepat seperti yang dia perhitungkan, Damien segera meraih lengannya, suaranya mendesak. "Jangan bicara omong kosong. Kamu tidak ke mana-mana."

Aku sudah muak. Retakan di hatiku akhirnya hancur sepenuhnya.

"Jika dia tidak pergi, aku yang pergi."

Suaraku dingin dan tegas, seperti vonis. "Aku akan meminta pengacaraku menyiapkan berkasnya. Pembagian harta, rumah—" Aku berhenti sejenak, tatapanku setajam pisau. "Kamu harus tahu, pendanaan Franklin Band selama ini selalu dikendalikan oleh Keluarga Wallis. Aku tidak akan kalah darimu."

Wajah Damien berubah seketika, suaranya merendah menjadi geraman. "Amelia! Hentikan ini. Cerai? Tidak akan terjadi!"

Aku menatap matanya, nadaku sedingin es, seakan mengumumkan putusan yang tak dapat dibatalkan, "Ini adalah putusan, bukan negosiasi."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel