Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

Begitu pemakaman kakak iparku berakhir, Damien langsung dikerumuni para wartawan.

Dia melepas kacamata hitamnya, suaranya rendah dan terkendali, "Saudaraku telah pergi. Jandanya sedang hamil dan membutuhkan perawatan. Sebagai keluarga, aku harus melangkah maju."

Kilat kamera meledak di sekelilingnya. Aku bahkan sudah bisa menuliskan judul-judulnya sendiri:

[Sisi Lembut Si Bad Boy Rock?]

[Tanggung Jawab Keluarga, atau Cinta Terlarang?]

Namaku Amelia Wallis. Aku bukan hanya istrinya—selama bertahun-tahun aku juga menjadi humasnya.

Setiap skandal—perkelahian di belakang panggung, rumor DUI, foto-foto kompromi dengan para supermodel—semuanya kubereskan satu per satu.

Namun kali ini, dia menyalakan api yang tak bisa kupadamkan.

Sehari setelah pemakaman, Daisy pindah masuk.

Minggu pertama, dia diam saja. Minggu kedua, dia mulai muncul di setiap celah dan sudut.

—Dia membawakan minuman vitamin untuknya, sambil berkata, "Tur ini melelahkan. Kamu perlu menjaga stamina."

—Saat makan malam, dia akan batuk pelan dan memintanya menceritakan kisah-kisah panggung.

—Larut malam, dia mengaku jantungnya berdebar dan memaksa Damien datang ke kamarnya, katanya dia hanya bisa tertidur jika dia bersenandung untuknya.

Aku bukan orang luar dalam permainan ini.

Aku adalah humas papan atas. Aku tahu persis seperti apa "branding" dan "penempatan strategis".

Kerapuhan, ketergantungannya—semuanya diperhitungkan dengan cermat.

Dan Damien—

Dia benar-benar mempercayainya.

Dia menasihatinya dengan lembut, "Coba berbaring menyamping. Itu akan lebih nyaman."

Bahkan dia mengulurkan tangan untuk menyibakkan rambut dari wajahnya.

Pada saat itu, dadaku menegang seperti dijepit ragum.

Lima tahun lalu, aku melepaskan kursiku di dewan keluarga, memilih menikahi "bad boy" dunia rock, dan menjadi humas pribadinya.

Kupikir aku akan menjadi pengecualian.

Kini aku mengerti—di matanya, seorang ipar yang hamil layak mendapat perlindungan lebih besar daripada diriku.

Larut malam itu, aku menelepon ayahku dari ruang kerja.

"Ayah. Aku ingin bercerai."

...

"Amelia, apa yang terjadi?" tanya ayahku, seorang pebisnis bernilai ratusan juta, dengan penuh kekhawatiran.

Aku menceritakan semuanya yang terjadi.

Dari dipaksa keluar dari kamar utama, sesi studio larut malam, hingga ucapan lembut Damien, "akan lebih nyaman"...

Potongan-potongan itu mengiris hatiku seperti pisau, satu demi satu.

Selama lima tahun pernikahan, aku berusaha sekuat tenaga menjadi istri yang sempurna.

Aku menemaninya dari panggung bar kecil hingga tur dunia.

Aku meredam tak terhitung kabar buruk, memoles citra "libertin sembrono" menjadi "keaslian bintang rock".

Aku belajar diam, belajar menunduk, menyembunyikan semua sudut tajamku di balik panggung.

Namun apa yang kudapat sebagai balasan? Pengabaian dan penyingkiran.

Dia memberikan seluruh kesabaran dan kelembutan terbaiknya kepada wanita lain.

Saat aku selesai, suara ayahku berubah sedingin es. "Amelia, aku mendukungmu. Pendanaan tur Franklin Band? Itu semua uang Keluarga Wallis. Aku bisa menariknya kapan saja. Ambil keputusan apa pun yang kamu inginkan."

Aku menutup telepon, merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan.

Mungkin karena aku telah terlalu lama kecewa, aku sudah siap menghadapi akhir ini.

Aku menatap bayanganku yang tampak letih di cermin.

Selama bertahun-tahun, aku memberikan segalanya pada pernikahan ini dan hampir melupakan siapa diriku dahulu.

Namun mulai sekarang, semuanya akan berubah.

Malam itu, aku tidur di ruang kerja.

Keesokan paginya, aku masuk ke dapur.

Daisy sudah ada di sana.

Dia mengenakan jaket panggung milik Damien.

Jaket kulit merah dengan bordir tur—aku sendiri yang merancangnya dan memberikannya sebagai hadiah.

Setiap encore, dia mengenakannya di panggung di tengah gemuruh tepuk tangan.

Kini jaket itu menggantung longgar di tubuh Daisy, tak mampu menyembunyikan perutnya yang membuncit.

Dia bersenandung lagu khas Damien sambil santai menyeduh kopi.

Saat melihatku, dia tersenyum tipis, seolah tak terjadi apa-apa.

"Selamat pagi, Amelia. Tidak tidur nyenyak? Kudengar kamu menghabiskan malam di ruang kerja."

Aku menatap jaket itu, rasa nyeri tumpul berdenyut di dadaku.

Suaraku dingin dan datar. "Lepaskan."

Senyumnya membeku, matanya berkilat ragu.

"Apa... apa?"

"Aku bilang, lepaskan jaket itu."

Nada suaraku sama seperti yang kugunakan dalam rapat PR untuk mengakhiri kontrak—dingin dan tak bisa ditawar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel