part 3
"Mam, Steve mau bawa bekal ya."
Vandra lantas menatap putra sulungnya yang kini tengah menyantap sarapannya dengan senyuman manis. Wanita cantik itu sangat tahu dan paham arti ucapan Steve. Pasalnya, ini bukan satu atau dua kali Steve meminta untuk dibawakan bekal. Lagipula, soal Steve yang menyukai adik kelasnya itu, Vandra dan Kevan sudah mengetahuinya. Steve sendiri yang cerita pada mereka berdua.
"Ck, kek anak kecil lo!"
Steve menoleh ke sampingnya, menatap sang-adik dengan bola mata yang ia putar malas. Ck, selalu saja mengurusi urusan orang!
"Ngomong sama siapa lo?"
"Penjual cireng!" Steven menjeda, ia menatap abangnya kesal. "Ya sama lo lah!"
"Ngapain ngurusin urusan gue?"
"Gue? Ngurusin urusan lo? ogah banget.”
"Udah sana berangkat! Pusing gue ada lo disini.”
"Dih ngusir, lo aja sana!"
"Lo lah!"
"Lo!"
"Situ kenal sama gue?" Steve menunjuk dirinya sendiri, dengan mata yang melirik sinis kearah Steven.
"bacot.”
Kevan yang sejak tadi memperhatikan kedua putranya beradu mulut hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Untung Vandra sedang berada di dapur menyiapkan bekal yang di minta oleh Steve. Bagaimana jika wanita itu ada disini? Bisa habis Steve dan Steven di omeli. Lagi dan lagi, Kevan mengulum senyumnya. Melihat ketidakakuran Steve dan Steven, membuat Kevan menjadi teringat akan Devan, sang-adik.
"Bang, kayaknya papi gila.” Bisik Steven membuat Steve mengikuti arah pandang sang-adik, yaitu menatap Kevan yang tengah tersenyum padanya dan juga Steven.
"Kayaknya sih iya. Duh, gimana dong? Bahaya nih kalo papi beneran gila. Kasian mami.”
"Ih bego. Ngapain sih ngomong yang gajelas tentang papi. Ucapan itu do'a tau!"
"Lo dulu yang bilang kek gitu nyet! Salah mulu gue mah, heran."
Vandra yang baru saja datang dari dapur dan langsung melihat kedua putranya tengah berbisik-bisik, tentu saja bingung. Hingga matanya menangkap Kevan sang-suami, yang tengah senyum-senyum tidak jelas. Vandra sekarang tahu, pasti Steve dan Steven tengah membicarakan yang tidak-tidak tentang Kevan. Huh, dasar anak-anak durhaka!
"Steve, Steven, ngapain?"
Steve dan Steven tersentak kaget. Mereka berdua refleks menoleh kearah Vandra.
"Oh, eng-engga mam. Oh iya, mana bekal Steve?"
"Ini." Vandra memberikan kotak bekal pada Steve, dan Steve segera menerimanya. "Udah buruan kalian berdua berangkat, nanti telat."
"Iya mam." Balas kedua nya bersamaan. Mereka berdua pun beranjak dengan ransel yang sudah menyampir dipunggung masing-masing kemudian berjalan kearah Kevan dan Vandra, mencium punggung tangan mereka bergantian.
"papi ga berangkat?" Tanya Steve.
"Duluan aja, papi masih ada urusan sama mami."
"Ur-"
"Anak kecil ga perlu tau, udah sana berangkat!"
Steven mencebikkan bibirnya kesal ketika ucapannya di sela oleh papi nya.
"Iya, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Steve dan Steven berjalan meninggalkan Kevan dan juga Vandra. Tiba-tiba, Steve tersenyum geli. Ia jadi penasaran dengan ucapan papi nya.
"Sini bentar."
"Ap-" Steve segera membekap mulut Steven, lalu membawa nya ke belakang sebuah lemari hias berukuran besar berlapiskan kaca yang jaraknya lumayan jauh dari meja makan.
Steven menatap abangnya bingung. "Ngapain sih?"
"Diem elah!"
Sedetik kemudian Steve membulatkan matanya, membuat Steven semakin di buat bingung. Lelaki berseragam biru putih itu mengikuti arah pandang abangnya.
"HA-"
Steve kembali membekap mulut Steven, serta menutup kedua matanya. Astaga, pemandangan di depannya ini sangat tidak pantas dilihat oleh Steven!
Gila nih mami sama papi. batin Steve.
"AWW, AWWW!!" Steve meringis memegangi tangannya yang berhasil di gigit oleh Steven.
"STEVE, STEVEN! NGAPAIN KALIAN?!!!"
Mampus! Itu suara papi nya. Ah, ini semua gara-gara Steven, jadi ketahuan kan!
•••
Bel tanda istirahat telah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Dan saat ini Steve tengah berjalan menyusuri koridor, dengan tangan kanan memegang kotak bekal untuk Sheenaz. Bibir lelaki itu terus menyunggingkan senyuman sejak keluar dari kelas tadi. Gara-gara tadi pagi Steve hampir telat, jadi ia tidak sempat memberikan bekal itu pada Sheenaz. Huh, Steve menjadi tidak sabar untuk bertemu dengan Sheenaz.
Kedua sudut bibir Steve seketika berubah datar. Bahkan, dari tatapan serta raut wajah nya pun berubah. Lelaki itu bersembunyi dibalik dinding pembatas dengan mata yang mengarah pada kedua remaja yang kini tengah berdiri di depan kelas. Mereka, Juan dan Sheenaz. Keduanya terlihat tampak sangat akrab. Bahkan, Juan pun tak segan-segan mengacak rambut Sheenaz karena gemas akan tingkah gadis cantik dihadapannya itu.
Kok sakit ya?
Steve tersenyum samar. Ia melirik dadanya sekilas, lalu menoleh kembali kearah kedua remaja yang kini masih asik berbincang. Steve bingung. Sewaktu Sheenaz bersama dirinya, justru gadis itu sangat jarang tersenyum. Tapi ini? Ketika dengan Juan, Sheenaz malah tidak ragu untuk memberikan senyumannya pada lelaki itu. Steve semakin dibuat penasaran serta curiga. Ia tidak rela melihat Sheenaz terlihat begitu dekat dengan Juan. Steve akui, jika memang dirinya tengah cemburu sekarang.
Steve mengatur nafasnya. Ia mulai keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghampiri dan memberikan bekal itu pada Sheenaz.
"Shee."
Sheenaz dan Juan sama-sama menoleh kesumber suara. Raut wajah Sheenaz tiba-tiba saja langsung berubah ketika ia mendapati Steve yang kini sudah berdiri dihadapannya.
Steve menatap Sheenaz dengan senyuman yang dipaksakan. Ia meraih tangan gadis itu, menempatkan kotak bekal tersebut ditangan Sheenaz.
"Di makan ya."
"Kek bocah ngasih-ngasih begituan.” Juan berdecih sinis menatap Steve.
"Lo ngomong sama gue?" Steve menunjuk dirinya sendiri, mencoba untuk menahan emosinya.
"Menurut lo?"
Steve tersenyum. Ia berjalan mendekati Juan, hingga kini tubuhnya dan tubuh Juan saling berhadapan. Kedua lelaki itu saling menatap satu sama lain.
"Gue gada masalah sama lo, jadi jangan sok sok'an buat cari masalah!" Steve menjeda, ia menepuk bahu Juan pelan. "Gue titip Sheenaz." Ujarnya lalu bergegas meninggalkan Juan dan Sheenaz yang kini tengah terdiam.
Jauh didalam lubuk hati Steve, sebenarnya ia sangat ingin bersama Sheenaz. Namun, harus bagaimana lagi? Mungkin untuk saat ini ia harus membiarkan Sheenaz bersama Juan dulu.
