part 1
Tin! Tin! Tin!
"PAK! JANGAN DITUTUP!!"
Seorang satpam yang baru saja hendak menutup gerbang spontan mengurungkan niatnya setelah mendengar teriakan seseorang dari sebuah mobil sport putih yang berada di luar gerbang. Walaupun satpam itu belum melihat seseorang yang berada di mobil itu, namun, ia sudah hafal dengan suara serta tau siapa pemiliknya.
CEDRIC STEVE SEBASTIAN, putra pertama dari pasangan Kevan dan Vandra. Semua penghuni sekolah tau, bahkan mengenal sang ketua basket ini. Bahkan, saking hobi nya Steve pada permainan bola basket, sampai-sampai ia dibuatkan lapangan basket indoor dirumahnya oleh sang ayah.
Ketampanan, kecerdasan, serta keramahan yang Steve miliki mampu membuat semua orang menyukainya. Tak jarang dari beberapa siswi disekolahnya, mencari muka pada Steve. Namun tetap saja, tidak ada yang dapat menggantikan nama seorang SHEENAZ dihatinya. Sheenaz tidak kaya, namun kemandirian, kesederhanaan serta kecerdasan nya lah yang membuat Steve merasa kagum akan sosok Sheenaz. Karena menurut nya, Sheenaz berbeda dari gadis-gadis lain.
"Den Steve? Kenapa telat den?"
"Steve bangun kesiangan pak. Bolehin Steve masuk ya pak? Please.."
"Tapi den-"
"Yaelah pak, baru juga Steve telat dua menit. Bolehin Steve masuk ya? Ya, ya, ya?" Steve memasang wajah sok melas nya pada satpam bername-tag Irwan itu.
"Yasudah, jangan diulangi lagi ya den."
"Siap pak!" Steve menaikkan kembali kaca mobil nya, sedangkan pak Irwan berjalan menuju gerbang untuk membukakan pintu gerbang lebih lebar.
Tin!
Pak Irwan mengangguk dan mempersilahkan mobil tersebut masuk kedalam sekolah.
Di lain tempat atau lebih tepatnya di parkiran, Steve keluar dari mobilnya. lelaki itu berjalan terburu-buru menuju koridor, takut-takut jika ia akan bertemu dengan guru BP yang seram nya astagfirullah itu.
Helaan nafas terhembus dari hidung mancung milik Steve saat matanya menangkap tepi-tepi koridor yang ternyata masih ramai di penuhi oleh siswa-siswi lain yang masih asik mengobrol serta bercanda. Mungkin semua guru agak telat masuk kelas-pikirnya.
"Eh, Steve tuh!"
"Demi apa pun, itu rambut keren banget!"
"Kok Steve telat ya?"
Steve mengedarkan pandangannya menatap sekumpulan siswi yang tengah membicarakan nya. Tidak ingin membuang-buang waktu, ia pun mempercepat langkahnya untuk menuju ke kelas.
Saat langkah Steve melewati sebuah koperasi sekolah, tanpa sengaja ia berpapasan dengan seorang siswi yang baru saja keluar dari sana. Steve tersenyum lebar menatap gadis yang tingginya hanya se-dada bidangnya itu.
"Hai, abis ngapain?"
"It--itu kak, aku abis beli gel pen." Sheenaz tampak gugup menjawab pertanyaan kakak kelasnya itu. Ia menunduk, tidak berani menatap Steve karena malu.
Steve beroh-ria. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, lalu meraih tangan kanan Sheenaz yang terbebas dari gel pen, menyimpan benda pipih dengan bungkus berwarna gold itu ditangan Sheenaz.
Sheenaz terkejut? Tentu saja tidak. Sudah hampir sejak dirinya masuk ke sekolah ini, Steve selalu memberinya coklat, bunga, bahkan bekal.
"Buat lo." Steve tersenyum menatap wajah Sheenaz yang kini tengah menatapnya juga.
"Makasih kak. Tapi, sebaiknya kakak ga perlu kasih-kasih aku kayak gini lagi deh. Aku-"
"Gue yang mau." Steve mengangkat tangannya, mengacak rambut Sheenaz gemas.
"Gih ke kelas, nanti gue samperin ke kelas lo ya istirahat. Bye!"
Steve melenggang pergi meninggalkan Sheenaz, yang masih terdiam menatap punggungnya yang perlahan menjauh.
•••
"Kalian duluan aja ya ke kantin." Ujar Steve, menatap satu persatu sahabatnya yang masih sibuk memasukkan buku tulis kedalam ranselnya masing-masing.
"Lah, mau kemana lo?" Arian, menatap sahabatnya itu dengan satu alis yang terangkat.
"Ya mau jemput princess nya dia lah!" Luis menyahut, dengan nada yang sedikit menyindir.
"Nah, pinter!" Steve tersenyum menanggapi ucapan Luis, lalu menepuk bahunya pelan.
"Gue duluan, bye!" Lanjutnya, lalu bergegas meninggalkan tiga sahabatnya.
"Ck, gila tuh anak! Di kasih pelet apa dia sama si Sheenaz." Karel menggelengkan kepalanya sambil menatap punggung sahabatnya yang sudah menghilang dari pintu kelas.
Di koridor, Steve berjalan dengan santainya dengan kedua tangan yang ia masukkan kedalam saku celana. Sesekali ia tersenyum menanggapi sapaan yang diberikan oleh siswi-siswi yang ditemui nya.
Kedua sudut bibir Steve membentuk senyuman saat matanya menangkap tiga orang gadis tengah berjalan berjalan kearahnya, sambil berbincang-bincang ringan. Mereka, Sheenaz serta kedua sahabatnya, Zetta dan Venta.
"Kok ga nungguin gue?"
Sheenaz yang awalnya menunduk sontak mendongak ketika ia mendengar suara bass milik seseorang yang sangat ia kenali. siapa lagi jika bukan Steve?
Tatapan mata Steve beralih pada kedua gadis yang berdiri di sisi Sheenaz. Ia tersenyum tipis.
"Kalian duluan aja ke kantin nya, Sheenaz bareng gue."
"Iya kak." Kedua gadis itu melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan Sheenaz dan juga Steve.
"Yuk ke kantin." Steve hendak meraih tangan Sheenaz, namun Sheenaz lebih dulu menghindar.
"Kenapa?"
"Eng--engga kak, gapapa."
"Yaudah yuk."
Sheenaz mengangguk. Ia mulai melangkahkan kakinya, mengikuti langkah lebar Steve.
•••
Sheenaz hanya menatap makanan dihadapannya tanpa berniat memakannya. Gadis itu merasa canggung sekaligus risih, akan tatapan yang diberikan oleh semua penghuni yang berada dikantin, tertuju pada meja yang ditempati olehnya dan juga Steve.
"Shee? Are you okay?"
Sheenaz tersentak kaget. Ia mendongak, menatap Steve yang saat ini tengah menatapnya.
"Oh, aku, aku gapapa kok kak."
"Kenapa ga dimakan? Lo ga suka? Atau mau gue pesen-"
"Ga kak, ga usah." Sheenaz menjeda. Ia menatap Steve, dengan bibir bawah yang ia gigit karena ragu. "Emm--kak? Aku boleh gabung sama temen-temen aku? Aku ga nyaman di liatin sama yang lain. Aku ga en-"
"Yang jalanin kan lo sama gue, kenapa harus ga enak?" potong Steve tanpa melirik kearah Sheenaz. Lelaki itu sibuk menyendokkan nasi goreng kedalam sendok yang tengah ia pegang.
"Ya tapi kan-"
"Buka mulut lo."
"Eh? kak-"
"Buka mulut lo."
Seakan terhipnotis oleh tatapan Steve, tanpa sadar Sheenaz membuka mulutnya. Jantung gadis itu berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Steve? Lelaki itu hanya mampu tersenyum lebar menatap Sheenaz yang tampak sedang mengunyah makanan yang baru saja ia suapi.
