Pustaka
Bahasa Indonesia

Simfoni Takdir

46.0K · Tamat
Ilhidayatul Husna
33
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Rama, laki-laki yang sejak dulu Azia kagumi nyaris menjadi suaminya. Setelah Azia pulang dari Mesir, kedua orang tua mereka sepakat untuk menjodohkan anak-anaknya.Tapi Azia tidak bisa menerima perjodohan itu. Diam-diam ternyata Haura, adiknya mencintai Rama.Sebagai seorang kakak, Azia sangat ingin memberikan kebahagiaan untuk adik satu-satunya. Hingga pada akhirnya, Azia meminta Rama untuk menikahi adiknya. Lantas, apakah Azia benar-benar mampu untuk melepaskan kekasih hatinya? Lelaki yang selama ini ia sebut di dalam doa agar berjodoh dengannya. Azia sadar, menyebut nama seseorang di dalam doa adalah cara mencintai yang paling rahasia. Azia harap ia melakukan ini memang atas dasar keikhlasan. Bukan karena ingin mengharapkan agar digantikan dengan yang lebih baik."In syaa Allah saya ikhlas kamu menikah dengan, Haura.""Tapi saya hanya ingin menjadikan kamu istri saya, Azia. Apa ini artinya kamu menolak saya secara halus?"Azia menitikkan air mata. Sungguh ini bukanlah sebuah keputusan yang mudah.???Ramadhan Shidiq ArsyahlanHaura Mariam Az-zahraRaihana Azia QulaibahMarvin Immanuel PratamaAriel MuhammadArga Nugraha PradipnaLili Michaela Pradipna

RomansaDokterIstriMenantuAnak KecilPerceraianCinta Pada Pandangan PertamaPengkhianatanKeluargaSalah Paham

Prolog

"Ayah ..., kenapa ibu nggak bangun-bangun, Ala mau sama ibu,"

Haura menangis saat melihat jasad ibunya yang terbujur kaku dengan wajah yang tertutup. Haura tidak suka permainan ini, ia sudah tidak mau bermain lagi.

Fatih hanya bisa menahan sesak yang tak terkira, ia tidak menyangka bahwa pertengkarannya dengan Lina akan membuat istrinya itu pergi untuk selama-lamanya.

Haura masih terlalu kecil untuk mengerti kepergian ibunya. Terlebih anaknya itu masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

"Maafkan Ayah, Haura, maaf. Ini semua salah Ayah." kata Fatih dengan penuh rasa sesal.

Fatih menggendong putrinya, memeluk Haura agar bisa lebih tenang. Fatih tidak tahu bagaimana jika nanti jasad Lina sudah dikuburkan, ia tidak siap mendengar pertanyaan yang akan muncul dari mulut Haura.

"Aku akan menjaganya, Lina." lirih Fatih pelan. Sangat pelan, hingga nyaris tak terdengar telinga.