Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Rumah duka itu berbau mawar murahan dan penyesalan. Hanya tujuh orang yang datang. Nyonya Turner dari rumah sebelah. Tiga teman gereja ibuku. Dua perawat dari rumah sakit. Dan aku.

Gabriel tidak datang.

Aku berdiri di samping peti jenazah sederhana—satu-satunya yang mampu kubayar setelah Gabriel meyakinkanku untuk memasukkan tabunganku ke dalam dana pernikahan "kami".

"Dia terlihat damai," bisik Nyonya Turner, meremas tanganku.

Damai. Ibuku meninggal sambil menjerit kesakitan, sementara calon menantunya mencium wanita lain di puncak gunung. Namun baiklah. Damai.

Ponselku bergetar di saku. Gabriel. Aku menerimanya pagi itu, sekadar ingin melihat. Sekadar memastikan apa yang sudah kuketahui.

Aku melangkah keluar dan mengangkatnya.

"Lena! Syukurlah. Kamu di mana?"

"Pemakaman ibuku."

"Apa? Kapan? Kenapa kamu tidak memberi tahuku?"

"Aku sudah memberi tahu. Dua hari lalu."

"Kamu menutup teleponku! Kukira kamu butuh ruang—"

"Kamu di Montana, Gabriel?"

Hening.

"Jawab aku."

"Kami... Bella dan aku memutuskan memperpanjang perjalanan. Hanya dua hari lagi. Lerengnya sedang sempurna—"

Tawa Bella menggema di telepon. Jernih sekali. Seolah dia tepat di sampingnya.

"Itu dia?"

"Lena, kamu tidak masuk akal. Bella sedang melalui banyak hal sekarang—"

"Rasa bersalah?" Suaraku sedingin es. "Katakan padaku, dia merasa bersalah di bak air panas atau di lift ski?"

"Kamu sedang marah. Aku mengerti. Tapi melampiaskannya pada Bella—"

"Pernahkah kamu mencintaiku?"

Pertanyaan itu meluncur sebelum sempat kutahan. Aku membenci diriku karena menanyakannya.

"Tentu aku mencintaimu. Kamu tunanganku."

"Benarkah? Karena tunanganmu sedang mengubur ibunya sendirian, sementara kamu berlibur dengan wanita lain."

"Ini bukan liburan. Ini rumit—"

"Kamu benar," kataku pelan. "Aku memang menjaga jarak. Betapa egoisnya aku."

"Lena—"

"Jangan pernah meneleponku lagi."

Aku menutup telepon. Lalu memblokirnya. Lagi. Kali ini terasa final.

Setelah upacara, Nyonya Turner menarikku ke samping. "Ibumu sering sekali membicarakanmu. Dia sangat bangga. Tapi dia juga khawatir."

"Khawatir tentang apa?"

"Anak lelaki itu. Katanya, dia memandangmu seperti piala, bukan harta." Mata Nyonya Turner menajam. "Dia pernah berkata padaku, 'Elena itu bintang. Tapi dia sedang mengorbit matahari yang salah.'"

Elena. Nama asliku. Nama yang tidak pernah dipakai Gabriel karena, katanya, "Lena terdengar lebih lembut, lebih mudah didekati."

"Dia benar," bisikku.

Nyonya Turner mencengkeram lenganku. "Bintang tidak mengorbit. Mereka menyala. Ingat itu."

Malam itu, aku menemukan jurnal ibuku. Entri terakhir bertanggal tiga hari sebelum serangan:

"Elena menelepon hari ini. Suaranya terdengar lelah. Anak Moreau itu menguras cahayanya. Aku melihatnya setiap kali dia berkunjung—sedikit lebih redup, sedikit lebih kecil. Aku mencoba memberitahunya, tapi dia bilang aku tidak memahami 'dunia mereka'. Mungkin aku memang tidak. Tapi aku paham ketika seseorang sedang dihapus."

Aku menekan jurnal itu ke dadaku. "Aku sudah bangun sekarang, Mama," bisikku. "Aku berjanji."

Lalu aku menemukannya. Tagihan dokter hewan atas nama Bella Laurent. Bertanggal enam bulan lalu. Deskripsi: "Perawatan korban gigitan. Serangan tanpa provokasi oleh Doberman (insiden ketiga). Pemilik menolak pelatihan perilaku."

Insiden ketiga. Anjing Bella telah menyerang tiga orang sebelum ibuku.

Aku menemukan nama Gabriel di catatan penagihan: "Kontak darurat: Gabriel Moreau (pacar pemilik)."

Dia tahu. Dia tahu, dan dia tidak melakukan apa pun.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel