Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

WORKSHOP KECIL DAN RENCANA EKSPANSI

Sebelum melangkah ke tangga menuju lantai dua yang berfungsi sebagai gudang penyimpanan stok dan ruang potong sekunder, Rian berjalan menghampiri Pak Jono yang baru saja mematikan mesin jahitnya.

“Gimana, Pak Jono? Kain brokat buat pesanan butik di Tebet aman semua?” tanya Rian dengan nada ramah, menghormati pekerjanya yang lebih tua.

Pak Jono melepas kacamata bacanya lalu tersenyum, memperlihatkan guratan halus di wajahnya. “Aman, Mas Rian. Ini tinggal penyelesaian bagian bawahnya saja. Kainnya kualitas bagus, jadi seratnya gak gampang lepas pas dijahit cepat. Besok siang sudah siap dikirim pakai kurir.”

“Alhamdulillah. Makasih banyak ya, Pak Jono. Kalau cape istirahat aja dulu, jangan dipaksain lembur. Kesehatan nomor satu,” ucap Rian perhatian.

“Siap, Mas Rian. Ini tanggung sedikit lagi selesai, setelah itu saya mau langsung beres-beres pulang,” jawab Pak Jono sopan.

Rian melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Ruangan di atas terasa agak lebih hangat karena sirkulasi udara yang hanya mengandalkan beberapa jendela besar, namun tertata sangat rapi. Di sisi kiri ruangan, berjejer rak besi tinggi yang dipenuhi gulungan kain berbagai warna dan tekstur yang terbungkus plastik transparan agar terhindar dari debu. Di sudut lain, terdapat tumpukan pipa rel gorden berbahan kuningan dan aluminium serta kotak-kotak berisi aksesori seperti pengait, cincin gorden, dan mesin penggerak otomatis.

Rian berjalan mendekati tumpukan kain beludru impor yang baru datang. Ia merobek sedikit plastik pembungkusnya, lalu meraba permukaan kain tersebut menggunakan telapak tangannya. Teksturnya sangat lembut, tebal, dan memiliki bobot yang pas—kualitas nomor satu yang biasa dicari oleh kalangan kelas atas.

“Bahan kayak begini kalau dipasang di ruangan dengan pencahayaan yang pas, hasilnya pasti kelihatan mewah banget. Gak memalukan kalau ditawarin ke orang-orang komplek Nirwana nanti,” pikir Rian sambil memeriksa lembar manifes pengiriman untuk memastikan jumlah yard yang datang sesuai dengan pesanan admin.

Ia kemudian berjongkok di depan rak aksesori, menghitung sisa stok mesin rel otomatis yang menggunakan kendali jarak jauh. Rian mencatat jumlahnya di ponsel pintarnya untuk kemudian disinkronkan dengan data milik Dimas di lantai bawah. Kegiatan memeriksa inventaris seperti ini sudah menjadi rutinitas harian yang ia lakukan dengan teliti demi menjaga kelancaran bisnisnya. Bagi Rian, usaha yang ia rintis dari nol ini adalah masa depannya, dan ia tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun yang merusak reputasi yang sedang ia bangun dengan susah payah.

Setelah sekitar lima belas menit berada di lantai atas, Rian kembali turun ke lantai satu. Suara mesin jahit Pak Jono sudah berhenti, digantikan kesibukan pria paruh baya itu yang sedang merapikan potongan kain sisa ke dalam wadah khusus.

Rian kembali menghampiri meja kerja Dimas. “Dim, bahan beludru yang baru datang jumlahnya udah pas. Terus buat stok mesin rel otomatis kita masih ada sisa empat unit lagi. Masih aman buat inventaris minggu ini.”

Dimas mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Oke, udah gua input ke sistem. Eh, Yan, ngomong-ngomong soal target ekspansi kita tahun ini, gua rasa kita perlu mulai mikirin buat nambah satu orang kurir atau asisten lapangan buat lo deh.”

Rian menaikkan sebelah alisnya, agak tertarik dengan usulan sahabatnya itu. “Kenapa emangnya? Gua ngerasa masih sanggup kok kalau cuma pasang-pasang sendiri kayak tadi.”

Dimas memutar kursinya agar menghadap Rian sepenuhnya. “Sanggup sih sanggup, Yan. Tenaga lo emang kayak badak, gua gak ragu soal itu. Tapi masalahnya, kalau nanti rekomendasi dari Cluster Nirwana ini beneran pecah dan pesanan masuk barengan, lo bakal keteteran kalau harus ngukur, survei lokasi, ngambil barang, sampai pasang sendirian di lapangan sementara gua gak bisa ninggalin urusan administrasi ruko dan klien korporat. Waktu lo bakal habis di jalan, padahal lo harusnya bisa fokus ke negosiasi sama pengawasan kualitas proyek yang skalanya lebih gede.”

Rian diam sejenak, mencerna kata-kata Dimas. Apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya. Selama ini, ia memang terlalu memaksakan diri untuk menangani semua urusan fisik sendirian demi menghemat pengeluaran operasional. Namun, jika ingin usahanya naik kelas dari sekadar vendor rumahan menjadi kontraktor interior skala menengah yang profesional, delegasi tugas adalah hal yang mutlak dilakukan.

“Pikiran lo bener juga, Dim,” ucap Rian sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi janggut tipis terawat. “Tapi kalau mau nambah orang sekarang, apa kondisi keuangan kita udah stabil buat bayar gaji tetap tiap bulan? Gua gak mau kita rekrut orang tapi malah jadi beban buat arus kas usaha.”

Dimas tersenyum tipis lalu membalikkan laptopnya ke arah Rian, memperlihatkan sebuah grafik pembukuan digital dengan garis yang bergerak naik dalam tiga bulan terakhir. “Lo lihat sendiri nih. Arus kas kita dari proyek tender mini di kantoran kemarin masih menyisakan surplus yang lumayan. Ditambah pelunasan dari Bu RT tadi dan beberapa DP yang masuk minggu ini, kita punya dana cadangan yang lebih dari cukup buat ngegaji satu asisten lapangan dengan sistem kontrak awal tiga bulan. Kalau performanya bagus dan proyek makin ramai, baru kita angkat jadi karyawan tetap.”

Rian memperhatikan angka-angka di layar tersebut dengan saksama. Sebagai seorang pria muda yang visioner, ia tahu kapan harus mengambil risiko yang terukur. Grafik positif itu memberinya rasa percaya diri tambahan bahwa usaha mereka memang sedang berjalan di jalur yang tepat.

“Oke, kalau datanya kayak gini gua setuju,” kata Rian akhirnya sambil mengangguk mantap. “Tapi kriterianya harus ketat, Dim. Gua butuh orang yang jujur, gak banyak tingkah, sopan kalau ketemu klien, dan yang paling penting punya fisik yang kuat karena kerjanya bakal sering angkat-angkat material bareng gua. Gak masalah dia belum punya keahlian interior, yang penting mau belajar dan cepat tanggap kalau dikasih tahu.”

Dimas langsung mengetik sesuatu di ponselnya. “Siap, kriteria dicatat. Gua bakal coba bikin pengumuman lowongan kerja kasual di grup komunitas atau pasang status lowongan kerja besok pagi. Nanti kalau ada kandidat yang masuk, lo yang wawancara langsung biar tahu cocok atau enggaknya.”

“Sip, atur aja dulu administrasinya,” jawab Rian puas.

Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore ketika Pak Jono pamit untuk pulang setelah menyelesaikan seluruh pekerjaannya hari itu. Suasana di dalam workshop kini menjadi lebih tenang, hanya menyisakan suara ketukan jari Dimas di papan ketik laptop dan helaan napas Rian yang sedang memeriksa kembali desain portofolio usaha mereka di tablet grafisnya.

Rian memanfaatkan waktu luang ini untuk menyusun beberapa konsep desain dekorasi kamar pakaian (walk-in closet) minimalis mewah. Walaupun ia belum dihubungi oleh Bu Diana—wanita sosialita yang direkomendasikan oleh Bu Rahma tadi—Rian memilih untuk mencuri start. Ia ingin ketika wanita tersebut benar-benar menghubunginya nanti, ia sudah siap dengan presentasi konsep yang matang, modern, dan berkelas yang sulit untuk ditolak oleh selera orang kaya.

“Kalau tipe rumah di Cluster Nirwana itu rata-rata pakai struktur plafon tinggi, berarti desain lemarinya harus dibikin menjulang sampai atas memanfaatkan ruang vertikal. Pakai pintu kaca hitam transparan dengan bingkai aluminium anoda, ditambah lampu LED strip hangat di tiap sekatnya. Kelihatan elegan tapi fungsional,” analisis Rian dalam hati sambil jemarinya dengan lincah membuat sketsa kasar menggunakan pena digital di atas layar tablet.

Ia begitu tenggelam dalam pekerjaannya, merencanakan setiap detail teknis mulai dari ketebalan kayu lapis yang akan digunakan hingga jenis engsel pintu yang tidak menimbulkan suara saat ditutup. Dedikasi seperti inilah yang membuat Rian menonjol dibandingkan penyedia jasa interior sejenis di sekitarnya; ia tidak pernah menganggap remeh sebuah proyek, sekecil apa pun itu.

Dimas yang melihat Rian begitu serius menggambar, melirik dari balik layar laptopnya. “Serius amat lo, Yan. Belum juga dapet panggilan dari Bu Diana, udah bikin sketsa aja.”

Rian mendongak, lalu terkekeh pelan tanpa menghentikan goresan penanya. “Lebih baik siap sebelum perang daripada gelagapan pas maju, Dim. Orang kaya itu biasanya gak punya banyak waktu buat dengerin kita mikir di tempat. Kalau begitu mereka nanya dan kita langsung bisa nunjukkin visualisasi konsep yang matang beserta perkiraan biayanya, peluang kita buat dapet kesepakatan langsung naik delapan puluh persen.”

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya kagum dengan pandangan bisnis sahabatnya itu. “Sumpah, Yan, kadang gua lupa kalau lo baru umur dua empat. Cara berpikir lo udah kayak kontraktor senior yang udah makan asam garam puluhan tahun.”

“Ah, bisa aja lo. Gua cuma gak mau kehilangan kesempatan emas aja. Kompetisi sekarang ketat, kalau kita gak selangkah lebih maju, kita bakal kegulung sama vendor-vendor gede,” sahut Rian merendah, walaupun di dalam hati ia membenarkan bahwa ambisinya untuk sukses memang sangat besar.

Tepat pukul lima sore, suara notifikasi pesan masuk terdengar berdering nyaring dari ponsel pintar milik Rian yang tergeletak di atas meja admin. Rian meletakkan pena digitalnya lalu meraih ponsel tersebut. Di layar beranda, muncul sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal dengan foto profil menampilkan sosok wanita berhijab modis dengan latar belakang sebuah mobil sedan mewah.

Rian membuka pesan tersebut, membiarkan Dimas ikut memperhatikan dengan rasa penasaran yang memuncak.

“Selamat sore, Mas Rian. Saya Diana dari Cluster Nirwana Blok A Nomor 12. Tadi saya dapat kontak Mas Rian dari Bu Rahma RT. Katanya Mas Rian baru selesai pasang gorden di rumahnya dan hasilnya rapi sekali. Kebetulan saya ada rencana mau renovasi ruang pakaian di lantai atas rumah saya. Kira-kira besok sore sekitar jam empat ada waktu luang untuk survei lokasi dan ukur ruangan?”

Rian membaca pesan tersebut dengan saksama. Karakter tulisan yang formal namun langsung pada intinya menunjukkan bahwa pengirimnya adalah tipe wanita mandiri yang terbiasa mengatur segala sesuatunya dengan efisien.

Rian melirik ke arah Dimas, memberikan isyarat lewat mata yang langsung disambut senyuman lebar oleh sahabatnya itu.

“Nah, apa gua bilang? Umpan dari Ibu RT langsung disamber, Yan. Besok sore kosong kan jadwal lo?” tanya Dimas setengah berbisik penuh semangat.

Rian memeriksa kalender digital di ponselnya sejenak sebelum membalas pesan tersebut. “Kosong. Garapan fabrikasi di ruko bisa gua tinggal sebentar sore-sore.”

Jemari Rian dengan cepat mengetik balasan di layar ponselnya dengan susunan kalimat yang sangat sopan, profesional, namun tetap memberikan kesan ramah yang bersahaja.

“Selamat sore, Bu Diana. Salam kenal kembali. Iya betul, saya Rian. Terima kasih banyak sebelumnya atas kepercayaan Bu Diana menghubungi kami. Kebetulan untuk besok sore pukul empat saya ada waktu luang untuk survei lokasi. Saya akan datang membawa katalog bahan dan beberapa contoh sampel pengerjaan untuk kita diskusikan di lokasi. Alamatnya di Blok A Nomor 12 ya, Bu? Besok sebelum meluncur saya akan kabari kembali.”

Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan menit, balasan singkat kembali masuk dari Bu Diana.

“Baik, Mas Rian. Sampai ketemu besok sore di rumah saya ya. Terima kasih.”

Rian mengunci layar ponselnya lalu meletakkannya kembali di meja dengan senyuman puas yang menghiasi wajah tampannya. Pintu gerbang menuju proyek kedua di perumahan elite itu kini telah terbuka secara resmi melalui jalur yang sangat profesional.

“Gua bilang juga apa, Dim. Persiapan gua gak sia-sia kan?” ucap Rian sambil memamerkan sketsa desain walk-in closet di tabletnya yang kini sudah setengah jadi. “Malam ini gua bakal selesaiin desain visual ini sampai rapi, biar besok pas ketemu Bu Diana, gua bisa langsung kasih lihat opsi konsep terbaik kita.”

“Sip, Yan. Gua dukung penuh. Gua bagian doa sama nyiapin berkas penawaran harga standar aja di laptop, nanti tinggal kita sesuaikan angkanya setelah lo dapet ukuran pastinya besok,” kata Dimas penuh semangat, ikut merasakan optimisme yang mengalir dalam rintisan usaha mereka.

Sore itu, di dalam ruko kecil yang menjadi saksi bisu perjuangan mereka, Rian kembali melanjutkan pekerjaannya dengan fokus yang semakin tajam. Langkah pertamanya di kawasan hunian elite tersebut telah membuahkan hasil, dan ia bertekad untuk memberikan performa terbaik demi masa depan bisnisnya, tanpa pernah menduga bahwa setiap jengkal ruang baru yang akan ia datangi besok akan membawa jalinan cerita baru yang jauh lebih kompleks dalam kehidupannya sebagai seorang pria muda di tengah lingkungan sosial kluster tersebut.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel