Bab 2. Kembali Ke Ibukota
Hae-rin yang sudah satu Minggu berada ditenda Jendral Kang Yi, ia merasa sedikit demi sedikit bisa beradaptasi, disana ia diperlakukan dengan sangat baik dan masa itu juga kakinya sudah sembuh dengan sempurna.
Setiap pagi ia melihat Kang Yi melatih semua prajuritnya, pria yang terlihat garang dan tegas bersama prajuritnya namun saat bersama dirinya menjadi pribadi yang sangat berbeda, lembut dan pengertian.
Hae-rin menghampiri mereka, membawa seteko air untuk membantu menghilangkan dahaga, Hae-rin membawa minuman itu untuk Jendral Yi.
"Tuan, ini minuman untukmu" ucap Hae-rin lembut
Jendral Yi menerima minuman itu dengan senang hati,
"Terima Kasih Hae-rin"
Gleg..gleg..gelg
Air itu turun membasahi tenggorokan Kang Yi, Hae-rin yang melihat itu terpesona akan sosok manusia fana yang ada didepannya ini.
"Kakimu sudah lebih baik Hae-rin?"
"Sudah, tuan Kang"
"Syukurlah, baiklah ikutlah denganku dan hal penting yang harus aku bicarakan padamu"
Hae-rin mengangguk sebagai balasan, Kang Yi kemudian menyuruh Sang-min meneruskan tugasnya memimpin latihan fisik bersama prajuritnya.
Kang Yi yang memiliki postur tinggi dan gagah langkahnya lebar dan sangat cepat, Hae-rin yang berada dibelakang berlari kecil untuk mengimbangi langkah Kang Yi.
Saat tiba di tenda, nafas Hae-rin terdengar kasar naik turun seperti selesai berlari.
"Kamu tidak apa Hae-rin, kamu seperti terlihat kelelahan"
"Tidak apa tuan, jadi apa yang ingin tuan bicarakan?"
" Panggil saja Kang Yi, aku tidak suka kamu memanggilku dengan sebutan tuan didepan namaku"
"Apakah tidak masalah, itu kurang sopan"
"Tidak masalah, aku lebih senang kamu hanya memanggilku Kang Yi"
"Kang Yi" ucap Hae-rin lirih
"Baiklah kita kembali ke bahasan utama, hal yang ingin aku bicarakan denganmu adalah, dua hari lagi rombongan kita akan kembali ke Ibukota, jadi aku berencana membawamu ke Ibukota, apakah kamu keberatan?"
"Tidak Kang Yi, aku tidak keberatan selama itu bersamamu"
"Syukurlah aku senang mendengarnya" Kang Yi secara spontan memeluk erat Hae-rin
Pelukan itu membuat tubuh Hae-rin membeku, desiran aneh terlintas dihatinya, ia tidak tau harus membalasnya seperti apa.
Moment yang sangat manis itu harus segera berakhir saat Sang-min tiba-tiba menerobos masuk ketenda mereka.
"Jendral..." Ucapan Sang-min terpotong saat melihat pemandangan didepannya itu
Kang Yi yang mendengar suara Sang-min dengan segera melepaskan pelukannya bersama Hae-rin, kemudian ia menoleh dengan wajah garang seperti seekor harimau yang akan memakan mangsanya. Sang-min datang disaat yang tidak tepat, dalam hati ia berkata,
"Tamatalah riwayatku, aku menganggu tuan yang sedang bermesraan dengan nona Hae-rin"
"Maaf tuan, hamba tidak melihat apapun" ucap Sang-min sambil berbalik kebelakang
"Ada apa Sang-min?"
" Waktunya makan siang tuan, semua prajurit sudah menunggu tuan"
" Baiklah, kita kesana, sebelum itu kamu harus lari seratus putaran sebelum makan siang, ini hadiah untukmu"
Dengan sangat lesu Sang-min menjawab,
"Baik tuan"
Sang-min sangat menyesal karena telah menganggu moment manis sang tuannya itu.
Kang Yi membawa Hae-rin keluar dan berkumpul dengan prajurit yang sudah menunggu disana, makanan sudah disajikan dengan sempurna, Hae-rin tidak bisa makan selain buah buahan, untuk itu Kang Yi memerintahkan bawahannya untuk menyediakan buah-buahan segar yang banyak.
Saat pertama kali datang ditenda ini, Kang Yi membawakan makanan sepotong daging rusa panggang dipiring dan pelengkapnya, terlihat lezat untuk manusia fana namun untuk Hae-rin itu sangat menjijikan seperti makan kaumnya sendiri, ia menjadi mual dan muntah melihat itu. Hae-rin mengatakan bahwa ia tidak bisa makan danging, ia hanya bisa makan buah. Semenjak itu Kang Yi selalu memberikan dan menyediakan buah segar untuknya.
Hae-rin duduk manis disamping Kang Yi, makan buah segar yang sudah ia sediakan, kang Yi yang melihat itu merasa lucu dan menggemaskan, hari demi hari ia selalu terpikat dengan wanita disampingnya ini.
"Tuan, dimana Sang min? Apakah tidak ikut makan bersama kita?" Tanya Yong-hwa
" Dia sedang menerima hadiah dariku"
Mendengar itu, semua prajurit terdiam, hadiah dari sang jendral bukalah hadiah yang seperti dibayangkan, mereka merasa miris dan prihatin dengan nasib yang diterima Sang-min.
Dua hari kemudian..
Rombongan Jendral Kang Yi berkemas dan meyiapkan perbekalan untuk kembali ke Ibukota, sudah enam bulan lamanya mereka menjaga perbatasan dihutan belantara ini untuk mencegah dan memberantas pemberontakan, kini saatnya mereka harus kembali.
Kang Yi melihat Hae-rin sudah siap berdiri anggun dan cantik seperti biasanya, tetapi raut wajahnya terlihat kawatir, meski hanya sesaat Kang Yi dapat menangkap itu dengan jelas.
Kang Yi menghampirinya, membawanya ketandu, dan berkata dengan suara yang menenangkan,
"Aku selalu menjagamu, tidak perlu takut dan kawatir, sekarang masuklah ketandumu, rombongan kita akan segera berangkat"
Hae-rin mengikuti dengan patuh, di dalam tandu ia duduk dengan tenang
Disamping tandunya ia mendengar Kang Yi memberikan instruksi ke semua prajuritnya,
"Segera berangkat, kita kembali ke Ibukota" ucap Kang Yi lantang
Sorak ramai dari prajurit mengawali langkah mereka menuju Ibukota.
Rombongan dari Jendaral Kang Yi kembali ke Ibukota, suara langkah kuda bergema meninggalkan area tenda mereka, perjalanan menuju Ibukota membutuhkan waktu tiga hari dua malam, waktu yang terbilang lama dan jarak tempuh yang jauh.
Kang Yi sedikit kawatir dengan Hae-rin, ia takut Hae-rin tidak nyaman selama perjalanan, untuk itu setelah beberapa meter ia selalu bertanya Hae-rin apakah baik-baik saja.
Prajurit yang melihat sikap sang jendral tersenyum geli sendiri. Tuanya sudah tergila-gila dengan nona Hae-rin.
"Hae-rin, apa kamu merasa tidak nyaman, kita akan beristirahat jika kamu lelah?"
"Tidak Kang Yi, aku baik-baik saja, kita jangan menunda perjalanan demi diriku"
"Kamu harus melapor jika kurang nyaman"
Hae-rin membalas dengan anggukan kepala
Perjalanan pun dilanjutkan, waktupun terus berjalan, hari terlihat mulai gelap, Kang Yi memerintahkan prajuritnya untuk membangun tenda agar mereka bisa bermalam disana.
Setelah mendapatkan instruksi dari sang Jendral, dengan sangat cekatan mereka membangun tenda dengan waktu satu jam.
Malam pun tiba, lolongan serigala menjadi melodi malam itu yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
Kang Yi sudah menyiapkan bunga Marigold untuk mengusir hewan srigala itu. Kang Yi membawa bunga itu ketenda tempat dimana Hae-rin bermalam.
Saat Hae-rin mencium bau bunga itu, tubuhnya terasa panas, inting hewanya keluar, ia ingin berubah wujud menjadi gumiho namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak menyukai bunga Marigold itu namun dengan terpaksa menerimanya agar Kang Yi tidak curiga bahwa ia sebenarnya bukan manusia.
"Hae-rin, ini bunga Marigold untukmu, ini akan melindungimu dari serangan srigala"
"Terima kasih Kang Yi" ucap Hae-rin dan menerima itu dengan tangan gemetar
Kang Yi menyadari itu, namun ia salah menduga jika Hae-rin mungkin takut dengan serangan srigala.
" Aku akan melindungimu di depan, sekarang istirahatlah"
Kang Yi meninggalkan Hae-rin seorang diri di tenda, Hae-rin sudah menahan dirinya untuk tidak berubah wujud dihadapan Kang Yi, beberapa menit kemudian Hae-rin berubah menjadi Gumiho namun hanya sesaat, ia memastikan Kang Yi tidak melihat apa yang terjadi, Hae-rin kemudian menghancurkan bunga itu dengan kekuatannya magic nya.
Namun..
" Hae-rin"
