Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Penantian

Bab 2 Penantian

Kaylila tiba di depan kantor yang berseberangan dengan warung lesehan. Jalan dengan dua jalur sudah mulai padat dengan seliwerannya kendaraan, yang berpacu karena jam makan siang telah berakhir. Kaylila masuk ke dalam kantor menuju ruangannya di lantai 3, satu lantai namun berbeda ruangan dengan Pak Wibisono, Pimpinan perusahaan.

Kaylila adalah sekretaris pimpinan di perusahaan jasa ini. Sudah dua tahun Kaylila bekerja, dan Pak Wibisono selalu puas dengan hasil kerja Kaylila yang selalu sempurna.

Sampai di lantai dua, Kaylila berpapasan dengan Mbak Della, teman sekantornya, dan juga teman dekatnya. Melihat wajah Kaylila yang tidak seperti biasanya, Mbak Della menyapa Kaylila.

"Wajahmu kenapa Kay? Kok kayaknya suntuk amat sih? Bukannya barusan kamu makan bareng sama Mas Genta? Harusnya bahagia dong. Bukannya muka ditekuk begitu."

"Gimana ga ditekuk mbak, barusan habis ada cowo keren yang menyebalkan. Aku lho ditabrak, tapi dia ga mau mengakui kalau habis menabrakku. Aku sampai terjatuh. Untung ada mas tukang parkir yang membantuku."

Mbak Della melotot sambil membuka mulutnya.

"Apa?? Kok bisa? Tanggung jawab ga orangnya? Kamu gimana, mana yang luka, mana yang sakit, sini kuobatin."

Mbak Della memang sudah seperti saudara bagi Kaylila, wajar bila dia begitu khawatir dengan kejadian yang menimpa Kaylila.

"Aku ga papa sih mbak, ga ada yang lecet, cuma pinggulku aja aga nyeri terbentur bagian depan mobilnya. Dia sih langsung pergi habis ngomelin aku, yang katanya menuduh dia. Katanya terburu-buru. Dia cuma ninggalin kartu nama doing. Untungnya cakep tuh orang, lumayanlah untuk cuci mata. Hahahaha…"

Kaylila tertawa sambil nyengir, wajahnya sudah tidak ditekuk lagi. Sepertinya dia sudah melupakan kemarahannya dengan si pria tampan yang menabraknya.

"Huh, dasar kamu ini. Mata keranjang juga, ga bisa lihat barang bagus. Inget lho, kan udah ada Genta. Nanti bisa-bisa kalian berantem lagi gara-gara cowok lain."

Kaylila hanya terdiam mendengar celoteh mbak Della. Kaylila masih mengingat tentang pernyataan Genta yang meminta waktu selama 2 tahun untuk melamarnya.

"Kenapa lagi? Berantem lagi sama Genta?"

"Mbak Della menikah umur berapa mbak? Aapakah Mbak Della yang ingin dilamar atau Mas Arif yang langsung melamar mbak tanpa diminta?"

Mbak Della mengerutkan keningnya. Mbak Della selisih 7 tahun umurnya dengan Kaylila. Mbak Della sudah menikah selama 7 tahun dan memiliki sepasang putra putri yang sangat lucu. Terkadang bila sedang bosan, mbak Della mengajak anak-anaknya keluar untuk sekedar bermain di Playgroun mall terdekat, dan tidak tidak lupa selalu mengajakku, karena Mas Arif yang selalu dinas luar, jarang bisa diajak jalan-jalan menemani.

"Mbak menikah waktu umur 23 tahun, punya anak pertama si lanang umur 24 tahun, dan punya anak si gadis umur 25 tahun. Mas Arif yang melamar mbak, langsung menemui orangtua mbak. Mbak sendiri kaget waktu mas Arif dating bersama keluarganya tanpa pemberitahuan, langsung melamar. Kaget sih, sekaligus senang banget rasanya."

Wajah mbak Della berseri-seri bahagia mengingat kisah cintanya. Bahagia sekali mbak Della bisa menikah dengan orang yang sangat dicintainya. Apakah aku juga bisa begitu? Batin Kaylila.

"Wah, pasti bahagia banget ya mbak, rasanya. Ga bisa dibayangin deh."

"Kenapa kok tiba-tiba bertanya begitu? Ada masalah sama Genta?"

Tiba-tiba telpon di meja mbak Della berbunyi, mbak Della segera menjawabnya.

"Baik, Pak. Saya sampaikan sama Kaylila."

Mbak Della menutup telponnya sambil netranya memberikan isyarat kepada kaylila bahwa Pak Wibisono memanggilnya. Kaylila segera beranjak menuju ruangan Pak Wibisono di lantai 3.

"Nanti dilanjutkan ya mbak."

"Oke."

***

Kaylila mengetuk pintu ruangan Pak Wibisono.

"Masuk."

"Bapak memanggil saya?"

"Iya Kay, begini, malam ini ada jamuan makan malam dirumah Pak Sasongko. Kamu tahu kan siapa Pak Sasongko?"

"Pemilik perusahaan retail dan jasa terbesar di Malang kan, Pak?"

"Betul. Beliau meminta berkas kerjasama kita untuk dibawa sekalian malam ini. Apakah sudah kamu persiapkan?"

"Sudah saya siapkan, Pak. Nanti saya cek lagi. Jam berapa berkas itu akan dibawa, Pak, biar saya bisa segera mempersiapkannya?"

"Nanti jam 7 malam jamuannya dimulai, kamu nanti saya tunggu jam 06.30 di rumah Pak Sasongko. Biar Pak Fauzi yang mengantarkanmu kesana. Kalau sudah selesai berkasnya kamu boleh pulang dulu, untuk mempersiapkan diri ke acara jamuan. Jangan lupa, malam ini malam penting agar kerjasama kita dapat terjalin. Oke?"

"Baik, Pak. Segera saya persiapkan."

"Saya ada pertemuan dengan Pak Agung, jadi tolong dipersiapkan semaksimal mungkin. Saya pergi dulu, kalau ada apa-apa tolong kabari saya."

"Baik, Pak. Segera saya kerjakan."

Pak Wibisono pun berlalu dari ruangannya. Kaylila segera menuju ruang kerjanya sendiri yang bersebelahan dengan ruang Pak Wibisono. Kalau ada acara jamuan begini, Kaylila harus mempersiapkan diri lebih awal. Pak Wibisono selalu mempercayakan Kaylila untuk mengikuti acara jamuan seperti ini.

Kaylila duduk di kursi kerjanya, kemudian memasukkan tangannya dalam saku celananya, ada kartu nama si pria menyebalkan itu. Tertulis disana Nosa Pranubata. Nama yang unik pikir Kaylila.

Pukul 15.00 Kaylila telah menyelesaikan pekerjaannya. Pesan Pak Wibisono, Kaylila bisa pulang lebih awal untuk mempersiapkan diri ke acara jamuan makan malam di kediaman Pak Sasongko di Pondok Belimbing Indah. Kaylila pun segera turun kelantai bawah untuk segera pulang. Tampak Mbak Della sedang sibuk didepan komputernya saat Kaylila mengintip kedalam ruangan mbak Della.

"Mbak Della, aku pulang duluan ya. Ada jamuan makan malam di rumah Pak Sasongko malam ini. Yang rajin kerjanya ya."

Kaylila tersenyum meringis. Sedangkan mbak Della hanya bisa nyengir.

"Oke, see you tomorrow. Be success!"

Kaylila melambaikan tangannya dan kemudian berjalan menuruni tangga. Tak lupa Kaylila mengirimkan pesan kepada Genta bahwa dia pulang lebih awal, tidak perlu dijemput, karena ada jamuan makan malam. Pesan terkirim.

***

Pukul 18.00 setelah selesai sholat maghrib, Kaylila bersiap-siap berangkat ke acara jamuan makan malam di rumah Pak Sasongko. Disana nanti pasti banyak tamu penting, jadi Kaylila mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Karena, kesan pertama yang akan menentukan keberhasilan. Kaylila mengenakan dress berwarna merah maroon dengn jilbab senada dengan aksen benang emas yang menjadi aksesorisnya. Polesan tipis Kaylila berikan di wajahnya, agar tampak lebih berbeda. Karena biasanya Kaylila lebih suka tanpa make up. Setelah selesai, tak lupa Kaylila mengecek lagi berkas kerjasama yang diminta Pak Wibisono. Setelah lengkap, Kaylila berkemas. Tak lama kemudian Pak Fauzi membunyikan bel rumah. Kaylila bergegas berangkat.

Pada jam segini, jalanan sudah mulai berkurang kemacetannya karena jam pulang kantor telah berakhir, jadi Pak Fauzi mengendarai dengan pelan, karena bila diperhitungkan jarak dari rumah kaylila menuju rumah Pak Sasongko hanya membutuhkan 30 menit perjalanan. Jadi, bisa dipastikan sebelum jam 19.00 Kaylila akan segera tiba disana.

Tiba di rumah Pak Sasongko di perumahan elit Pondok Belimbing Indah, Kaylila segera turun dari mobil dan segera memasuki rumah yang megah ibarat istana itu. Pak Wibisono menunggunya di ruangan jamuan makan malam yang dilaksanakan di taman samping rumah. Sudah banyak sekali tamu undangan yang berdatangan. Hiasan bunga warna warni, dan semerbak aroma bunga menggelitik hidung. Mewah sekali, baru kali ini Kaylila datang ke sebuah acara jamuan makan malam yang mewah sekali. Di pintu depan, dipersiapkan saung untuk beraneka minuman dan makanan ringan. Agak lebih di tengah, terdapat meja besar dengan jamuan hidangan yang tampak lezat, dari aromanya. Pasti perusahaan catering milik Pak Sasongko yang memperisiapkan makanan mala mini. Kaylila berjalan mencari-cari Pak Wibisono, kemudian netranya menangkap sosok pak Wibisono dengan balutan setelan jas berwarna hitam melambaikan tangannya. Kaylila segera menghampiri pak Wibisono yang sedang bercengkrama dengan para pengusaha yang juga rekan bisnis perusahaan yang dikelola oleh Pak Wibisono.

"Om, kebelutan sekretaris saya sudah datang, berkas permohonan kerjasama sudah dipersiapkan, seperti yang bapak minta tempo hari."

Pak Sasongko yang Kaylila kenal hanya di surat kabar, saat ini berhadapan langsung dengan Kaylila. Senyum yang selalu membingkai di wajahnya, membuat siapapun yang berbicara dengan beliau akan merasa nyaman. Karena, wajahnya ramah, dan familiar sekali. Pak Wibisono adalah anak dari sahabat Pak Sasongko, sehingga beliau memanggilnya dengan sebutan Om.

"Sudah ya. Saya terima, nanti kita bicarakan lagi ya. Sekarang acara jamuannya seharusnya kamu dan sekretarismu menikmatinya terlebih dahulu. Bukan begitu mbak?"

"Oh, eh, iya Pak."

"Namanya Kaylila, Om. Dia sekretaris yang pernah saya ceritakan. Pekerjaannya nyaris sempurna, tanpa cela, bahkan belum pernah mengecewakan saya."

Kaylila tersipu malu dipuji sedemikian rupa oleh pimpinannya.

"Oh ya? Bagus itu, lulusan dari mana mbak Kaylila ini kok bisa sesempurna itu?"

"Saya dahulunya sekolah di SMK jurusan sekretaris pak. Kemudian kuliah jurusan Psikologi. Saya banyak belajar dari Pak Wibisono, beliau yang selalu membimbing saya."

"Ah, kamu bisa saja Kay."

Pembicaraan terputus saat ada seseorang yang datang mendekat, menyalami Pak Sasongko dan mencium tangannya, lalu berangkulan dengan Pak Wibisono. Kaylila seolah tidak merasa asing dengan sosok tampan yang tingginya sekitar 180an cm, dengan balutan jas berwarna navy yang memberikan kesan kemandirian dan menebar pesona ketampanannya. Kaylila mencoba mengingat, dimana dia pernah berjumpa dengan pria tampan ini.

"Nosa, apa kabarmu. Lama betul kita tidak bertemu. Sepulang dari Singapura kamu tidak pernah menghubungiku. Gimana, apakah sudah bertemu dengan pujaan hati?"

"Ah, kamu bisa aja Wib. Banyak harus dipersiapkan untuk mendirikan perusahaan baru, jadi repot. Bila sudah senggang, saya pasti mempir kerumah. Apa kabar dengan jagoanmu?"

"Mbok ya dikenalin sama temanmu atau sama siapa gitu lo Wib. Om bingung, apa sih yang sebenarnya dicari sama Nosa, ga kunjung mendapatkan calon. Padahal kakak-kakak dan adik-adiknya sudah pada menikah, dan sudah pada punya anak. Kapan coba om bisa punya anak dari Nosa?"

Nosa, Nosa, siapa ya? Dalam hati Kaylila bertanya-tanya. Sementara netranya masih menatap lekat sosok itu, mencoba mengingat-ingat. Sedangkan Nosa segera mengulurkan tangan kepada Kaylila.

"Nah, itu dia Om. Nosa terlalu pemilih. Saya juga bingung mau mengenalkan yang seperti apa."

"Halo mbak, apakah moodnya sudah lebih baik? Saya menantikan telpon dari anda tapi tidak kunjung ada panggilan, itu artinya anda baik-baik saja."

Nosa mengulurkan tangannya pada Kaylila yang masih bengong mengingat-ingat siapakah gerangan pria tampan ini.

Yah, si pria itu, yang menabrakku siang tadi. Si pria tampan, ah, iya, mengapa aku lupa, padahal baru tadi siang aku sempat mengomelinya. Batin Kaylila. Kaylila mengulurkan tangannya. Jabatan tangan Nosa sangat mantap, penuh kepercayaan diri.

"Lho, saling kenal ya?"

Pak Wibisono dan Pak Sasongko tampak terkejut melihat Nosa menyapa Kaylila. Kaylila hanya menunundukkan kepala, malu, atas apa yang terjadi siang tadi.

"Ga sengaja ada aksiden tadi siang. Tapi sepertinya tidak terjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan."

Nosa menjawab sambil mencibir. Membuat Kaylila bertambah malu. Untung saja, Bu Sasongko mendekat, dan perhatianpun teralihkan. Nosa mencium tangan ibunya, dan mereka berbincang mengenai hal yang tidak dapat kumengerti.

Untung saja. Perhatian teralihkan. Aku malu sekali. Mengapa pria menyebalkan itu bisa-bisanya putra dari Pak Sasongko, dan kenapa pula harus bertemu lagi disini. Sungguh menyebalkan. Batin Kaylila, sambil menundukkan dan mengelengkan kepalanya.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel