Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 Usia Rawan

Bab 1 Usia Rawan

Siang itu, Warung Lesehan Jogja yang terletak di pinggir kota Malang tampak begitu ramai, karena bertepatan dengan jam makan siang. Selain itu, di komplek warung lesehan ini merupakan area perkantoran.

Gedung-gedung bertingkat berada di sepanjang jalan. Harga makanan di warung lesehan juga cukup terjangkau, sehingga warung

lesehan ini tak pernah sepi pengunjung terutama di siang hari, karena para karyawan yang bekerja di perusahaan sekitar warung lesehan pada siang hari akan istirahat dan berkumpul untuk makan siang di warung lesehan Jogja tersebut. Terutama untuk perusahaan yang tidak menyediakan layanan makan siang untuk karyawannya.

Di salah satu meja, tampak sepasang kekasih sedang menikmati makan siang mereka. Sang wanita tampak tidak berselera menikmati makan siangnya, di piringnya, masih utuh nasi putih dan ayam kremes kesukaannya. Sedangkan sang pria tampak dengan lahapnya menyantap nasi dan ayam kremesnya.

"Mas Genta, kapan kamu akan melamarku?" Kaylila memulai pembicaraan setelah sekian lama berdiam diri.

Genta terdiam, dan menghentikan suapan nasinya, terkejut. Beberapa detik kemudian, seolah sudah menguasai suasana, Genta melanjutkan suapan nasinya lagi.

"Kok tiba-tiba kamu bertanya begitu, Yang? Kenapa? Bukannya kamu masih ingin berkarir dulu, ingin kuliah lagi?"

Kaylila menghembuskan nafasnya dengan kasar, kemudian menyeruput Es Degan Jeruk kesukaannya.

"Aku hanya butuh kepastian, Mas. Sewaktu kita lulus kuliah, saat kita wisuda dan kamu bertemu dengan kedua orangtuaku, kamu mengatakan ingin bekerja dulu, baru kemudian akan memintaku secara resmi. Setelah 1 tahun kamu bekerja di Ekspedisi, kamu bilang, tunggu kamu dapat pekerjaan yang mapan dulu. Nah, sekarang setelah kamu mendapatkan pekerjaan mapan di Bank, kamu tidak kunjung menghalalkanku. Padahal kalau dihitung-hitung kita sudah menjalani hubungan sudah hampir 6 tahun."

Kaylila berbicara terburu-buru, dengan luapan emosi. Sementara Genta, tampak tenang menghadapi sikap kekasihnya yang terkadang bisa bersikap manja, dewasa, bahkan tak jarang seperti anak kecil. Tapi kali ini Kaylila serius dengan ucapannya.

"Sayang, bukannya aku tidak serius sama kamu. Aku serius, aku tidak ingin main-main dengan hubungan kita. Kalau aku hanya ingin main-main saja, tentu hubungan kita tidak akan bertahan sampai sekarang. Iya kan?"

"Iya, aku tahu itu mas. Tapi aku ini perempuan, aku butuh kepastian. Semalam mama menelponku, dan lagi-lagi bertanya tentang hubungan kita. Ya, aku bilang hubungan kita baik-baik saja, dan masih berjalan seperti biasanya."

"Nah, begitu lebih baik. Memang hubungan kita baik-baik saja kan? Terus kenapa lagi, kok tiba-tiba kamu bertanya tentang kepastian hubungan kita lagi?"

"Mama mengultimatumku. Tahun ini usiaku 27 tahun, mama dan papa ingin aku segera mengakhiri masa lajangku."

"Hahahahahahaha. Sayang, emang umurmu berapa sekarang? Masih tahun depan kan umurmu 27? Udah deh, jangan dipikirin."

"Mas, kamu lupa ya kalau November nanti usiaku 27 tahun?"

"Benarkah? Coba kuhitung dulu."

Genta berpura pura mengetuk-ngetuk jarinya untuk sekedar menghitung berapa kira-kira usia Kaylila. Padahal, ada rasa gundah di dalam hatinya, saat menyadari bahwa memang benar tahun ini Kaylila berusia 27 tahun. Genta berusaha menutupi kegundahan hatinya dengan tersenyum manis di hadapan Kaylila.

"Eh, ternyata benar ya, Yang. Maafkan aku yang kurang perhatian."

Mereka berdua terdiam. Nasi di piring Genta tinggal beberapa suapan lagi, namun tidak dilanjutkan memakannya lagi. Genta mencuci tangannya, dan menyeruput es teh manisnya. Genta menyudahi makan siangnya. Tampaknya dia sudah tidak berselera lagi.

"Sayang, kali ini aku janji akan segera menghalalkanmu. Tapi, tolong berikan aku waktu selama 2 tahun lagi ya. Kurasa 2 tahun cukup bagiku untuk mematangkan dan memantapkan pikiranku untuk mulai berumah tangga. Saat ini aku masih belum siap, aku masih takut untuk memulai ikatan pernikahan. Aku mohon, tolong sampaikan kepada mama dan papamu. Aku serius, aku tidak akan meminta waktu lagi. Sekarang bulan Maret kan? Bulan Maret 2 tahun yang akan dating aku akan segera meminangmu. Aku akan segera terbang ke Jambi, melamarmu. Aku janji!"

Genta menggenggam tangan Kaylila. Tampak bias kecewa di wajah Kaylila. Dia gagal mendapatkan kepastian bahwa tahun ini dia harus menikah. Kaylila takut jika tahun ini Genta tidak segera menikahinya, mama dan papa akan segera mencarikan jodoh untuknya. Dan sudah pasti, papa dan mama akan mencarikan jodoh di Jambi, kota kelahiran Kaylila, dan otomatis, Kaylila harus pulang ke Jambi. Itu tidak mungkin, Kaylila sangat mencintai Genta. Genta adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama bagi Kaylila. Kaylila tidak akan sanggup berpisah dengan Genta. Sejak kuliah, mereka selalu bersama. Perkenalan mereka saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) berlanjut ke hubungan kekasih yang bertahan hingga sekarang. Genta yang perhatian, lembut dan begitu menyayangi Kaylila, membuat Kaylila bertekuk lutut dan membalas cinta Genta. Genta bintang kampus, dia kuliah di jurusan Akuntansi, sementara Kaylila di jurusan Psikologi. Teman-teman mengatakan bahwa Kaylila dan Genta berjodoh, dan cocok. Dan setiap kali bertemu dengan teman-teman, hanya satu pertanyaan yang selalu dilontarkan, "Kapan kalian

menikah? Jangan kelamaan, nanti dibawa angin lho!" Pertanyaan itu selalu dijawab dengan senyuman oleh Kaylila.

"Dua tahun bukan waktu yang singkat, Mas Genta. Aku ini perempuan, semakin berumur perempuan itu, maka kekhawatiran mama dan papa akan semakin bertambah. Apalagi di Jambi, sepupuku sudah pada menikah, bahkan sudah punya anak. Terus kapan diriku punya anak kalau menikah saja belum?"

"Sayang, sampaikan kepada mama dan papa, jangan khawatir, aku akan bertanggung jawab untuk masa depan kita. Sudah ya, jangan membahas ini lagi. Kamu juga jangan cemberut gitu dong, nanti ga cantik lagi lho."

Genta memasang senyum manis, yang membuat Kaylila tak sanggup menahan senyum. Genta memang selalu dapat melebur kekesalan dan kegundahan Kaylila. Tapi kali ini Kaylila benar-benar putus asa. Tidak tahu harus bagaimana menyampaikan apa yang dikatakan Genta kepada mama dan papa nantinya.

"Nah, gitu dong. Kamu kalo tersenyum begitu makin cantik. Yang, sepertinya aku harus segera kembali ke kantor, karena ada janji temu dengan klien. Kamu kuantar ke kantor atau pergi sendiri? Terburu-buru nih."

"Ga usah dianter, aku bisa pulang sendiri, tinggal menyeberang jalan aja kok."

"Ya udah, aku ke kasir dulu, langsung ke kantor. Kamu hati-hati nyeberangnya, jam segini di jalan pasti ramai orang lalu lalang. Jangan lupa, nanti sore aku ga bisa jemput kamu. Kamu naik taksi aja ya?"

"Ya. Mas juga hati-hati di jalan."

Genta berlalu menuju kasir, sedangkan Kaylila berjalan menuju pintu keluar. Tampak Genta berjalan menuju kearah Kaylila, pamit, sambil melambaikan tangannya menuju mobil Honda milik Genta. Genta berlalu, sementara Kaylila masih berdiri di parkiran warung lesehan. Kaylila kecewa, karena tidak bisa membujuk Genta untuk segera

menikahinya tahun ini juga. Kaylila berada di parkiran, berjalan dengan pikiran kalut, tentu membuat konsentrasinya pun terganggu. Tanpa melihat kanan kiri jalan, Kaylila langsung menyeberang jalan yang saat itu tampak ramai hiruk pikuk orang yang akan segera kembali ke kantor.

Ciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttttttttttttttttt… Bruk.

"Aduh…!"

Kaylila tidak melihat bahwa ada Honda berwarna hitam yang akan berbelok kearah kanan, sementara Kaylila akan ke arah kiri. Sontak Kaylila tersenggol bagian depan mobil dan terjatuh terduduk. Tukang parkir warung lesehan segera mendatangi Kaylila.

"Mbak ga papa?"

"Iya mas, ga papa kok, cuma kaget aja."

Pemilik Honda itu keluar dari mobil. Seorang pria, tampan, bertubuh tinggi, atletis, dibalut kemeja berwarna abu-abu muda press body, dan celana hitam, menampilkan siluet dada bidangnya dengan kisaran usia sekitar 30 tahunan. Penampilannya yang modis, sungguh menawan. Membuat Kaylila terpana. Kaylila segera menepis rasa kekagumannya.

"Maaf, mbak, saya tidak melihat kalau mbak mau menyeberang."

Suara bass pria ini terdengar seksi di telinga Kaylila.

Tanpa ba bi bu, Kaylila langsung mengomel, meluapkan emosinya yang sedari tadi tertahan karena Genta.

"Mas ga lihat apa kalau saya mau menyeberang? Saya segede ini lho mas. Kalau saya sekecil burung, baru mas nya bilang begitu. Lain kali kalau berkendara hati-hati, lihat-lihat dong. Biar tidak menyebabkan kecelakaan dan merugikan orang lain. Masak mobil bagus begini ga ada lampu sign dan klakson sih. Atau masnya yang sengaja ya mencoba menabrak saya. Sungguh menyebalkan sekali."

"Apa mbak? Saya tidak hati-hati? Seharusnya saya yang bilang begitu. Saya sudah menyalakan lampu sign, dan menglakson lho mbak. Tapi mbaknya yang tidak mengindahkan, dan sekarang saya yang mbak salahkan karena tidak hati-hati? Yang benar saja."

"Lho kan emang mas yang salah, dan korbannya itu saya lho mas, bukan masnya. Coba deh dipikir dengan baik ya mas. Yang rugi itu sebenarnya siapa. Jangan mencoba menempatkan diri mas sebagai korban. Sekali lagi, saya korban disini."

"Maaf, saya tidak punya waktu melayani omelan mbak, ini kartu nama saya, bila terjadi sesuatu silakan hubungi nomor itu, sekretaris saya yang akan mengurus sisanya. Saya terburu-buru."

"Apa? Maksudnya masnya mau melimpahkan kesalahan mas sama sekretaris mas? Yang harus tanggung jawab itu mas lho. Jangan pura-pura ga ada waktu. Anda benar-benar bikin saya kesal."

Si Pria yang ternyata di ketahui bernama Nosa hanya bisa berkacak pinggang sambil matanya menatap ke atas, kesal sekaligus marah menjadi satu karena wanita di hadapannya ini menghalanginya dengan omelan yang menjengkelkan.

Cantik cantik gini galak, cerewet pula. Ada ternyata makhluk yang begini.

"Udah deh mbak, saya tidak mau panjang lebar. Silakan hubungi nomor saya kapanpun. Saat ini saya tidak bisa meladeni omelan mbak. Terima kasih."

Kaylila ingin melanjutkan omelannya lagi, namun si pria tampan segera masuk ke mobil setelah sebelumnya memberikan kartu namanya kepada Kaylila, kemudian langsung melajukan mobilnya. Kaylila bertambah kesal dan menggemeretakkan giginya.

"Menjengkelkan sekali."

"Mbaknya tidak apa-apa kan?"

Mas penjaga parkir menanyakan keadaan Kaylila. Tanpa Kaylila sadari, mas penjaga parkir sedari tadi berada disampingnya.

"Oh, ga papa kok mas. Maaf, sudah merepotkan. Saya pamit dulu."

"Syukurlah kalo begitu, saya bantu menyeberang jalan mbak."

"Terima kasih, mas."

****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel