Chapter 9: Titik Balik
Serina menunjukkan berkas yang dicarinya dalam beberapa hari ini, wajahnya tegang. Mencari informasi tentang Mateo Paiton bukanlah tugas yang mudah. Berulang kali dia harus bolak-balik ke kantor polisi hanya untuk memastikan kebenaran dari setiap serpihan data yang dia temukan.
"Apa ini?" tanya Stuart—redaktur pelaksana di Meteor Media, dengan alis yang terangkat.
"Seharusnya aku yang bertanya! Bagaimana mungkin kau menyembunyikan hal sepenting ini?!"
Stuart memandang Serina tanpa bisa memahami amarahnya. Dia meraih berkas yang dilemparkan Serina ke atas meja, membukanya, dan mulai membaca. Ekspresinya berubah seiring halaman yang dibalik. Wajahnya menegang ketika dia selesai membaca.
"Dari mana kau mendapatkan semua ini?" tanya Stuart.
"Bukan dari mana aku mendapatkannya yang penting, yang perlu kau pikirkan sekarang adalah bagaimana kalian memperlakukan klien! Kau tahu? Aku bahkan membela kalian! Betapa bodohnya aku telah percaya sepenuhnya pada kalian ...." Suara Serina melemah, kepalanya terasa berat seakan ingin pecah.
Stuart menghela napas panjang, meletakkan berkas di tangannya sebelum mendekati Serina yang tampak begitu frustrasi. "Serina, tenangkan dirimu dulu."
"Aku tak menyangkalnya, Meteor Media memang pernah terlibat dalam kegiatan ilegal. Tapi itu semua terjadi sebelum perusahaan ini diambil alih," lanjut Stuart.
"Kalau begitu, kenapa kau tak memberitahuku lebih awal ketika kau sendiri sudah mengetahuinya?"
"Kita tak bisa membiarkan Meteor Media hancur jika informasi yang kau temukan bocor ke publik. Selain itu, penyelidikan kita terkait kasus pembunuhan berantai akan gagal jika skandal ini terbongkar. Kita tak bisa bisa membiarkan itu terjadi."
Serina menghela napas panjang, lalu memijat pangkal hidungnya dengan pasrah. "Kau membuat posisiku jadi sangat sulit."
"Apa sesuatu telah terjadi?"
"Ya. Pria yang kau minta untuk aku dekati menolak untuk bekerja sama. Dia memiliki pandangan yang sangat buruk tentang wartawan. Seharusnya kau bisa memprediksi hal ini sebelumnya." Serina terdiam sejenak, sebelum kemudian tatapannya menajam. "Kita harus menghentikan penyelidikan ini. Aku akan mundur. Kau bisa melanjutkannya dengan orang-orangmu yang sudah terlibat dalam tindakan ilegal itu."
"Serina, ini bukan dirimu. Kau selalu menyukai tantangan. Lagi pula, kita tak melakukan kesalahan apapun sekarang. Kita hanya berusaha memperbaiki kesalahan masa lalu."
"Kau tahu berita apa yang sedang kita gali? Ini tentang kasus pembunuhan berantai! Banyak orang yang akan terlibat. Jika kau tak ingin Meteor Media hancur, kubur saja kasus ini dalam-dalam. Jangan bertindak seolah-olah kau seorang pahlawan yang mencoba mengungkap kebenaran. Bukankah itu sudah jadi ciri khasmu?"
Stuart tertawa, meski matanya tak menyiratkan humor. "Jadi, kau selama ini menganggapku seperti itu?"
"Memangnya bukan begitu?"
Ketegangan di antara mereka dipotong oleh suara ketukan. Seorang pegawai wanita muncul dari balik pintu. "Mr. Stuart, pemimpin redaksi memanggil Anda untuk segera datang."
Stuart melirik Serina, yang alisnya mengernyit. Pertengkaran mereka sudah membuat emosi keduanya memuncak. Akhirnya, Stuart memutuskan untuk meninggalkan ruangan, memberi Serina waktu untuk meredakan kemarahannya.
Begitu atasannya pergi, Serina meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata. Dia kembali ke mejanya, mengambil tas, lalu berjalan keluar dari Meteor Media. Banyak mata mengikuti langkahnya, memandang dengan rasa heran. Di tempat kerjanya, Serina dikenal sebagai sosok tegas, membuat rekan-rekannya segan padanya. Tak satu pun dari mereka berani menghalangi kepergiannya, meskipun jam kerja belum usai.
***
Serina membuka kaleng soda, meneguk isinya hingga setengah habis, lalu meletakkannya di meja dapur dengan kasar hingga sedikit tumpah. Dia menunduk, menahan meja dengan kedua tangannya, punggungnya melengkung ke belakang. Pikirannya terus dipenuhi oleh kasus pembunuhan berantai. Meskipun dia sudah memutuskan untuk berhenti dari kasus Mateo, pikirannya tak bisa lepas dari masalah tersebut.
Ponselnya berdering, mengalihkan pikirannya sejenak. Setelah melihat siapa yang menelepon, wajah Serina sedikit melunak. "Hillary," gumamnya.
Serina mengangkat panggilan dan berkata, "Halo?"
"Will! Aku tadi ke kantormu, tapi mereka bilang kau tak ada di tempat."
"Hmm, ya ... Aku sudah pulang ke rumah."
"Serius? Bikin iri saja! Kau bisa pulang kapan pun kau mau, sedangkan aku seperti akan membusuk di kantor."
Serina tersenyum tipis. "Jadi, kenapa kau menelepon?"
"Oh, awalnya aku mau mengajakmu makan siang. Ada restoran baru yang menyajikan makanan China. Tapi sepertinya lain kali saja."
Tin, tin!
Terdengar suara klakson mobil dari seberang, diikuti oleh makian dari Hillary.
"Sialan! Tak tahukah dia waktu yang tepat untuk membunyikan klakson? Telingaku sakit!"
"Kau harus beli mobil dengan sistem peredam suara."
"Jangan gila! Kalau aku tak bisa dengar suara dari luar, bagaimana aku tahu kalau ada yang harus diwaspadai? Itu sebabnya klakson diciptakan, tahu!"
"Ya, ya. Hillary memang selalu cerdas. Untung saja tak ada lelaki yang melihat betapa bodohnya kau sekarang, atau mereka akan berpikir dua kali sebelum tergila-gila padamu."
"Aku yakin itu bukan pujian!"
Perdebatan kecil dengan Hillary membuat otak Serina kembali bekerja dengan baik. Dia menyadari bahwa kerumitan yang dialaminya sekarang hanyalah bagian dari risiko pekerjaannya sebagai wartawan, bukan sesuatu yang harus dia tinggalkan begitu saja.
"Jadi, kau benar-benar ingin mengajakku makan makanan China?"
"Tentu saja. Aku tadi mengatakannya, kan?"
"Kalau begitu, jemput aku. Kita akan makan makanan China."
***
Hillary memandang bangunan di depan mereka dengan kebingungan. Nama Honolulu terpampang jelas di depan mata, sebuah tempat yang sudah sering mereka kunjungi. Namun, itu bukanlah restoran China yang ada dalam bayangannya.
"Will, apa kau hanya mengenal tempat ini saja?"
"Kenapa? Bukankah ini juga menyajikan makanan China?"
"Kau bercanda? Tempat ini lebih mirip gudang atau ... bangunan terbengkalai. Aku sudah sering melihatnya sampai mataku lelah. Lebih baik kita cari tempat lain yang lebih layak."
Saat Hillary berbalik, Serina langsung menarik lengannya. "Jangan lupa bahwa mi berasal dari China."
"Mi bukan dari China, tapi dari Italia. Jadi, kita jelas takkan makan di sini."
"Asal kau tahu, arkeolog menemukan mi tertua di China. Umurnya mencapai empat ribu tahun. Tak ada yang bisa menyangkal kalau mi berasal dari China."
"Tetap saja ini bukan restoran China!"
Pada akhirnya, Hillary harus menyerah. Meskipun sudah mencoba melepaskan diri, dia tak bisa menandingi kekuatan maupun pengetahuan sahabatnya itu.
