
Ringkasan
Seorang Pemuda yang hidup dengan bayangan kematian orang tuanya dan penghianatan orang yang dia sayangi dengan bayangan itu membuatnya jadi orang yang terkuat.
Bab 1 Gudang Tua di Pinggir Kota
"Hei! Apa yang kalian inginkan?" seru Monica.
"Tenang, Nona. Kami hanya ingin bermain denganmu sebentar," jawab salah satu preman itu.
"Jangan mendekat! Saya akan menghubungi polisi jika kalian berani macam-macam," ancam Monica.
"Tidak ada gunanya, Nona. Tempat ini jauh dari pusat kota. Meskipun kamu menghubungi polisi, Nona sudah selesai 'menari' di bawah tubuhku," sahutnya dengan nada melecehkan.
Mendengar hal itu, Monica semakin ketakutan. Tangannya gemetar hebat saat menutupi bagian dadanya, sementara air mata mulai mengalir deras di sudut matanya. Di dalam hatinya, Monica sangat berharap ada seseorang yang bersedia datang menolongnya. Merasa tidak ada jalan lain, Monica mencoba berlari menjauh dari tempat itu, namun kekuatannya tidak sebanding dengan para preman yang sedang mengejarnya.
Salah satu preman itu mencoba memegang Monica dengan kuat. Tidak butuh usaha keras, preman itu berhasil meringkus kedua tangan Monica.
"Bawa dia ke gudang tua! Biarkan kita bermain dengannya di sana," perintah sang ketua.
"Baik, Bos," kata preman yang memegangi kedua tangan Monica tersebut.
Monica kemudian digiring ke sebuah gudang yang lokasinya tidak jauh dari tempat ia ditangkap. Gudang itu berada cukup jauh dari pusat kota, sehingga jarang sekali orang melewati tempat itu, kecuali beberapa pemancing yang biasa datang ke danau di belakang gudang tua tersebut.
"Jangan lakukan ini kepadaku! Saya akan memberikan uang, berapa pun yang kalian minta," isak Monica.
"Gadis pintar. Kami memang butuh uang, tetapi melihat kecantikanmu, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menikmati setiap inci tubuhmu, Nona," kata Sandi, pemimpin preman itu.
Mendengar perkataan tersebut, seluruh tubuh Monica gemetar karena ketakutan. Ia tidak bisa lagi berpikir jernih. Ia hanya memikirkan kesucian yang selama ini ia pertahankan, apakah akan dirusak oleh preman-preman di depannya. Bahkan, ia tidak memberikannya kepada pacarnya meskipun lelaki itu sudah berkali-kali merayu dan memberi janji manis. Ia selalu menolak dan tetap teguh mempertahankan kesuciannya.
"Kenapa tubuh Nona gemetar? Apakah ini yang pertama bagi Nona?" tanya Sandi menyeringai.
"Tolong lepaskan saya. Saya akan memberikan uang kepada kalian asalkan kalian melepaskan saya," mohon Monica dengan amat sangat.
"Nona tidak perlu mengiming-imingi kami dengan uang. Sebaiknya Nona berhenti melawan dan nikmati saja kesenangan ini."
Tiba-tiba, seseorang masuk ke dalam gedung tua itu dengan langkah yang tidak stabil sambil membawa botol minuman di tangannya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Adrian.
"Kamu siapa? Berani sekali datang merusak kesenangan kami!" bentak Sandi.
"Saya Adrian, pemilik gedung ini. Sebaiknya kalian segera tinggalkan tempat ini."
"Sekarang gedung ini sudah menjadi milik kami. Kamu mau apa sekarang?" tantang Sandi mengancam.
Adrian, yang aslinya adalah sosok pendiam dan tidak suka berdebat saat sadar, menundukkan kepalanya sejenak sebelum menyerang Sandi dan kawan-kawannya. Meskipun dalam keadaan mabuk, gerakan Adrian begitu lincah dan gesit sehingga tidak memberi kesempatan bagi Sandi dan kawan-kawannya untuk mengelak dari serangan tersebut.
Setelah melumpuhkan Sandi beserta teman-temannya, Adrian duduk di atas meja yang sudah kusam. Karena masih dalam kondisi mabuk, ia menundukkan kepala hingga rambutnya sedikit menutupi pandangannya.
"Jika kemampuan kalian hanya sebatas itu, jangan pernah mencoba mencari masalah denganku," kata Adrian sebelum melangkah pergi dengan gaya berjalan yang tidak teratur.
Monica yang masih terduduk di lantai dengan rasa takut, melihat Sandi dan teman-temannya berhasil dikalahkan. Ia pun berusaha berdiri dengan sisa tenaganya dan mengejar Adrian untuk meminta perlindungan.
"Tunggu aku! Saya belum mengucapkan terima kasih kepada Anda," ucap Monica.
Namun, Adrian tidak memedulikannya. Ia terus melangkah masuk ke sebuah ruangan sempit di dalam gudang tua itu. Sebelum kembali mengejar Adrian, Monica sempat menoleh ke arah Sandi dan kawan-kawannya. Ketika ia melihat mereka sedang berusaha bangkit, Monica dengan cepat mengejar Adrian masuk ke dalam ruangan sempit tersebut.
Melihat gadis yang tadi masuk dengan pipi basah karena air mata, Adrian mengangkat kepalanya dan menatap tanpa berkedip.
"Apa yang Nona lakukan di sini?" tanya Adrian.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan Anda."
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Saya melakukan ini karena mereka ingin mengotori tempat ini," jawab Adrian dingin.
"Tetapi saya harus tetap berterima kasih kepada Anda. Jika Anda tidak datang tepat waktu, maka mereka akan merusak saya."
"Apa yang kalian lakukan bukan urusanku. Jika kalian ingin melakukan hal kotor, sebaiknya cari tempat lain saja, jangan di sini."
"Anda jangan salah paham. Apa yang Anda lihat tidak seperti apa yang Anda pikirkan. Mereka mencoba menodaiku," jelas Monica.
"Jika tidak ingin terjadi apa-apa dengan Nona, sebaiknya cepat tinggalkan tempat ini."
"Tapi mereka masih ada di luar. Saya takut mereka akan kembali memaksaku melayani mereka."
"Itu bukan urusanku," kata Adrian sambil berdiri.
Melihat Adrian berdiri, Monica merasa takut dan memeluk erat dadanya sendiri. Sementara itu, tanpa memedulikan keberadaan Monica, Adrian melangkah ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Melihat apa yang dilakukan Adrian, Monica memperhatikan setiap sudut ruangan itu. Barulah ia menyadari bahwa ruangan tersebut adalah tempat tinggal pemuda yang menyelamatkannya.
Meskipun Adrian terlihat berantakan, rasa takut Monica terhadapnya tidaklah besar karena pemuda itu telah menyelamatkannya. Melihat pemuda di depannya tertidur pulas dengan hanya diterangi lampu pelita, Monica mencoba mengintip ke luar pintu. Ia melihat Sandi dan teman-temannya masih berada di luar dan sedang mencari sesuatu, sehingga Monica tidak berani keluar.
Monica menutup kembali pintu itu dan ingin menguncinya, tetapi ternyata pintu tersebut tidak memiliki pengait kunci sama sekali. Monica mencari benda di sekeliling kamar yang bisa digunakan untuk menahan pintu. Melihat kursi dan meja, ia dengan cepat menggeser benda-benda itu untuk mengganjal pintu. Setelah merasa cukup aman, Monica mencari tempat untuk duduk. Malam semakin larut, Monica sudah tidak bisa menahan kantuknya. Ia pun tertidur dalam posisi duduk sambil menyandarkan kepalanya pada kedua lutut.
Sementara itu di luar kamar, Sandi dan teman-temannya masih mencari keberadaan Monica di sekitar gedung. Keberanian mereka muncul kembali karena Adrian yang menghajar mereka tadi dianggap sudah pergi tanpa memedulikan Monica.
"Cepat kalian cari! Saya yakin gadis itu masih berada di sekitar gudang ini," perintah Sandi.
"Tapi bagaimana jika orang tadi kembali, Bos?" tanya anak buahnya cemas.
"Setelah menemukan gadis itu, kita bawa dia ke tempat lain. Sepertinya gembel itu marah karena kita berada di gudang yang menjadi tempat tinggalnya."
Mereka kemudian menyisir area di sekitar gudang tua itu, namun pencarian mereka sia-sia.
"Sepertinya gadis itu sudah pergi jauh, Bos. Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Gadis sialan itu berhasil lolos kali ini. Lain kali jika bertemu dengannya, saya pastikan tidak akan semudah ini lepas dari dekapanku!" geram Sandi.
"Apa perlu kita mencari wanita lain saja, Bos?"
"Kita ke klub malam saja. Malam ini sangat disayangkan, padahal gadis muda itu adalah salah satu wanita tercantik di provinsi ini," kata Sandi kecewa.
Sandi dan teman-temannya lalu meninggalkan tempat itu. Mereka berangkat ke sebuah klub malam untuk melampiaskan hasrat yang sempat tertunda.
