Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.04.

 Bab.04.

Dengan tenang Yi Zhen mulai menstabilkan pondasinya, setelah beberapa saat ia membuka matanya sambil merasakan kondisi dirinya.

“Jadi ini yang dinamakan kekuatan spiritual…ranah!” 

“Teknik yang berkebalikan dengan hukum alam dimana penggunanya bisa menggunakan energi alam dan merubahnya menjadi energi Qi tubuh!” 

“Ranah sendiri mengacu pada domain yang dimiliki, semakin besar ranahnya maka semakin besar pula domain yang dimiliki untuk bisa menyerap energi alam!” ujarnya menyimpulkan situasi dirinya.

Yi Zhen yang banyak belajar kini mengetahui secara praktek atas teori yang dipelajarinya.

Ia merasakan sendiri jika ranahnya yang sekarang memiliki domain seluas dua Zhang ( Satu Zhang setara dengan 3.33meter).

Dalam lingkup tersebut semua energi alam yang berada dalam domainnya akan terus mengalir ke dalam tubuhnya.

“Jadi kenapa pemilik ranah tinggi bisa menekan pemilik ranah rendah itu karena domain ranah tinggi lebih kuat menyerap energi alam sehingga pemilik ranah tidak berkutik di hadapan pemilik ranah yang lebih tinggi.” 

“Ini seperti dua tumbuhan dengan ukuran yang berbeda, tumbuhan kecil pastinya akan kalah bersaing dengan sebuah pohon dalam menyerap makanan di tanah. Karena itu pohon besar bisa menindas tumbuhan kecil tersebut,” ujarnya menggambarkan dengan mudah.

Kini pikirannya mulai berjalan mencari cara  untuk menutupi celah tersebut. Namun, segera ia menghilangkan pemikiran itu karena belum saatnya untuknya memikirkan hal itu.

“Yang harus kupikirkan saat ini adalah melatih kemampuanku sendiri, mempertajamnya dan jika mungkin menaikan tingkatan ranahku!” ujarnya penuh tekad.

Diketahui olehnya, ada sembilan tingkatan ranah yang digunakan sebagai tolak ukur kekuatan seorang kultivator, ranah tersebut yaitu 

Ranah Petarung

Ranah Tubuh emas

Ranah bumi

Ranah Raja Bumi

Ranah Langit

Ranah Raja Langit

Ranah Pertapa Sakti

Ranah Saint.

Ranah Immortal.

Setiap ranah terdiri dari empat tingkatan yaitu tingkat awal, menengah, atas dan akhir dimana setiap tingkatan memiliki kesulitan tersendiri untuk diterobos yang mana hal itu tergantung dari cultivator itu sendiri.

Lumrahnya hambatan yang dialami bisa diatasi dengan banyak jalan, pengasingan diri, pertarungan dan yang paling banyak dilakukan adalah dengan menggunakan pil dan obat yang biasa dibuat para alkemis yang tentunya sangat mahal untuk dibeli.

Yi Zhen menatap ke seberang sungai tempat hutan angin berada, dengan tekad kuat ia pun pergi kesana untuk bisa melatih dirinya dengan lebih keras lagi.

Ia berenang melewati sungai untuk sampai di tepian hutan angin, sesampainya di sana ia pun bersiap untuk menghadapi apapun yang terjadi.

Meski sekarang ia seorang kultivator namun dirinya tidak memiliki dasar dalam pertarungan. Namun, ia bersyukur memiliki otak yang cerdas karena dengan hanya melihat saja ia bisa mengingat ilmu yang didapatnya itu.

“Aku harus mulai melatih pukulan dan tendanganku dan memadukannya dengan teknik spiritual juga dengan teknik tenaga dalam yang kupelajari.” 

“Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk bertahan hidup di tempat ini,” ujarnya bermonolog.

Ia pun berlatih terlebih dahulu agar tubuhnya tidak kaku dan bisa beradaptasi dengan baik.

Kekuatan pukulannya sebelumnya adalah teknik mengumpulkan energi tubuh pada satu titik yang dilepaskan dalam sekali serangan, itu adalah teknik tenaga dalamnya.

Adapun teknik pukulan dengan menggunakan kekuatan spiritual atau ranah adalah menyerap energi alam yang diubah di dalam dantian menjadi Qi tubuh di mana energi Qi tersebut bisa dibentuk menjadi bentuk elemen.

Hanya saja perubahan bentuk energi tersebut baru bisa dilakukan ketika seorang kultivator telah mencapai ranah bumi.

Untuknya saat ini, teknik pelepasan dan perubahan elemen seperti itu belum bisa dilakukan.

Cultivator ranah petarung dan ranah tubuh emas hanya mampu menggunakan qi untuk melapisi beberapa bagian tubuhnya sebagai alat pertahanan dan penyerangan.

Yi Zhen melapisi kedua tangannya dengan qi miliknya, tampak kedua tangannya itu kini diselimuti energi putih seperti api yang membakar.

Ia kemudian memukul batang pohon dengan tangannya itu.

Duaakk.

Pukulannya menembus batang pohon besar tersebut lalu tak lama batang pohon tersebut terbelah menjadi dua.

“Sepertinya ini cukup untuk bertahan hidup selama berada di tempat–” 

Srakkk.

Yi Zhen belum sempat menyelesaikan kata-katanya, ia merasakan bahaya datang ke arahnya, refleks ia menghindar namun pergerakannya terlalu lambat.

Yi Zhen berguling ke samping, satu tangannya memegangi pundaknya yang terluka, pandangannya tertuju pada satu tempat di mana satu sosok menatap ke arahnya.

Tampak seekor hewan berbulu putih yang memiliki sepasang telinga panjang dengan sepasang mata merah darah dan memiliki gigi taring di depan menatapnya dengan tatapan membunuh yang kuat.

“Beast kelinci taring merah!” ujar Yi Zhen dengan serius sambil menatap Beast yang ukurannya sebesar kambing dewasa itu.

Yi Zhen menelan salivanya, tampak ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini untuk menghadapi Beast yang diketahuinya memiliki kecepatan dalam menyerang tersebut.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Sial, aku tidak bisa berpikir!” batinnya.

Seketika matanya membulat, ketegangan yang membuat pikirannya buntu langsung hilang setelahnya.

“Benar, tidak perlu berpikir. Lawan saja, itu yang harus kulakukan!” ujarnya dengan tenang.

Yi Zhen bangkit dari posisinya, ia menatap sang beast tingkat satu itu dengan tatapan mengintimidasi.

Melihat ketenangan Yi Zhen langsung membuat sang Beast bergerak. Dengan cepat ia bergerak mengitari Yi Zhen sebelum melakukan serangannya.

Yi Zhen tak bergeming, ia diam di tempatnya sambil menajamkan instingnya. Tak hanya itu saja, ia juga memunculkan aura ranahnya sehingga ia bisa merasakan pergerakan energi dari apapun yang berada dua Li dari posisinya.

Apa yang dilakukannya memberikan gambaran situasi di kepalanya. Tanpa ia melihat pun ia bisa merasakan pergerakan semua benda yang ada di daerah domainnya.

“Angin yang berhembus…tanaman yang daunnya bergoyang…daun yang jatuh…dan Beast yang menyerang!” batinnya menggambarkan apa yang ia rasakan.

Dengan gerakan cepat Yi Zhen segera memutar badannya sambil bersiap menyerang. Gerakan terukurnya yang dibarengi dengan kepercayaan pada instingnya nyatanya memberikan hasil positif untuknya.

Dugaannya benar, sang Beast Kelinci Taring Merah itu benar menyerangnya dari titik butanya. 

Gerakannya yang lebih unggul satu langkah membuat sang beast kini berada dalam jalur serangannya.

Wush…duaakk.

Satu tendangan berputar Yi Zhen mendarat telak di kepala sang beast yang membuat beast tersebut menghantam tanah dengan keras.

Tendangan Yi Zhen yang kakinya dilapisi Qi itu membuat kepala sang beast remuk dan rata dengan tanah.

Yi Zhen tertegun, sesaat kemudian ia tersenyum dengan lebar.

“Aku berhasil!” ujarnya dengan sumringah.

Menang pada percobaan pertama membuat kepercayaan dirinya meningkat. Kini ia tahu apa yang harus dilakukannya untuk bisa bertahan hidup di hutan angin tersebut.

“Sepertinya aku tahu apa yang harus dilatih selama berada di hutan angin ini!” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel