Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rencana Yang Kembali Terlaksana

"Roni, kamu harus lihat ini, Ibu ngga nyangka kalau ternyata istri kamu itu ada main sama laki-laki lain di belakang kamu, keliatannya aja baik tapi ternyata .... " ucap Fatimah seraya memberikan beberapa lembar foto pada Roni. Kali ini Fatimah yakin jika Roni akan marah dengan Zahra.

Perlahan Roni meraih foto itu dan matanya melebar setelah ia melihat gambar apa yang ada di hadapannya saat ini. Namun, Roni masih berusaha menahan amarahnya karena ia belum mendengar jawaban dari Zahra sendiri. Sebagai suami Roni mencoba untuk selalu percaya dengan Zahra, dan selalu ingin mendengar jawaban langsung setiap masalah yang ada diantaranya.

"Jadi Ibu nyuruh aku pulang cuma buat ini, Bu? Mungkin ini cuma salah paham, Bu, atau mungkin cuma foto editan, aku percaya, kok, sama istriku, dia ngga mungkin berbuat hal seperti ini," jawab Roni yang membuat Fatimah terbelalak karena jawaban Roni ternyata tak sesuai harapannya.

"Roni-Roni udah jelas-jelas dia selingkuh, ada buktinya, tapi kenapa kamu masih terus belain dia, sih? Kamu ini jangan terlalu bodoh, dong, jangan terlalu percaya, kalau kamu seperti ini Zahra akan dengan mudah macem-macem di belakang kamu."

"Udah lah, Bu, aku capek, aku mau istirahat dulu, ya," ucap Roni yang kini meninggalkan tempat dan memasuki ruang kamarnya.

"Roni-Roni kenapa susah banget, sih, buat misahin kamu dari istri ngga berguna itu?" gumam Fatimah setelah kepergian Roni.

Sebenarnya saat ini Roni terfikir akan foto mesra yang diberikan Fatimah padanya, kembali kini Roni memperhatikan foto yang masih ada digenggamannya itu.

"Apa ini beneran? Tapi aku ngga mau mikir yang aneh-aneh dulu sebelum aku denger jawaban dari Zahra sendiri," gumam Roni seraya melepas pakaian kantornya.

Beberapa menit kemudian.

"Mas, kamu udah pulang?"

"Kamu dari mana?"

"Dari pasar, Mas, tadi abis anter tas ke rumah temen Ibu, aku langsung pergi ke pasar, maaf, ya, Mas aku pulang telat."

"Ngga papa, Zahra, aku mau tanya sesuatu, apa kamu bisa jelasin apa maksud semua ini?" Tanya Roni seraya memberikan foto foto tersebut pada Zahra melihat itu membuat Zahra terbelalak.

"Ini apa sih, Mas? Kamu dapet foto ini dari mana?"

"Dari ibu."

"Mas, aku bisa jelasin soal ini, laki-laki ini adalah anak dari temen Ibu yang tasnya aku anterin tadi, semua ini ngga seperti yang kamu lihat, Mas, kejadian sebenarnya adalah laki-laki ini tadi sakit dan mau jatuh jadi aku spontan tolongin dia, udah itu aja ngga lebih," jawab Zahra yang membuat Roni terdiam.

"Dan kenapa ibu bisa dapet gambar itu, Mas? Berarti ini sebuah rencana. Apa jangan-jangan …? "

"Jangan-jangan apa?"

"Jangan-jangan ini rencana ibu lagi yang sengaja nyuruh laki-laki itu buat jalanin rencananya, biar kamu marah sama aku dan kamu ninggalin aku, masalahnya ngga biasanya Ibu nyuruh aku anter barang ke rumah temennya kayak tadi, Mas, tapi aku ngga tahu juga sih, Mas, aku takut aku salah, aku ngga mau suudzon sama Ibu. udahlah biarin aja, ya, yang terpenting kamu tetep percaya sama aku, kan? Kalau aku ngga akan mungkin macem-macem di belakang kamu, Mas," ucap Zahra yang membuat Roni menghela nafas.

"Iya, Sayang, aku percaya sama kamu, kok," jawab Roni yang membuat Zahra tersenyum.

Bagaimana tidak percaya dengan ucapan Zahra, toh, memang nyatanya Fatimah sangat membenci Zahra jadi mungkin saja jika itu memang terjadi, dan bahagianya adalah saat dimana sang suami sepenuhnya percaya pada semua ucapan istri. Karena kunci sebuah hubungan adalah adanya rasa saling percaya, jika itu tidak ditanamkan jangan harap hubungan itu akan berjalan.

••••

"Hay, Tante," sapa Jesika kala kini bertamu ke rumah Roni.

"Hay, Jes, kok, ngga bilang kalau mau datang?" sambutnya dengan sambutan hangat.

"Ngga ada rencana, sih, Tan, tapi tiba-tiba aja aku pengen ke sini, oiya, aku bawain ini buat Tante, tadi aku ngga sengaja lewat, jadi sekalian aja aku beliin ini buat Tante, Tante suka?"

"Wah, suka banget, ini bagus banget, makasih, ya, Jes, kamu baik banget, yaudah duduk dulu, ya, Tante panggil Roni dulu," ucap Fatimah yang kini berlalu.

"Ron, Roni," panggil Fatimah mengetuk pintu ruang kerja Roni.

"Masuk, Bu."

Mendengar jawaban itu membuat Fatimah kini membuka pintu.

"Ada apa, Bu?"

"Ron, ada Jesika, tuh, di bawah," ucap Fatimah yang membuat pandangan Roni kini berpaling dari layar laptopnya.

"Jesika? Mau ngapain, sih, Bu? Ibu aja deh yang nemuin aku lagi sibuk banyak kerjaan."

"Jangan gitu dong! Ron, temui sebentar, ya, kasihan, loh, Jesika," paksa Fatimah yang membuat Roni menghela nafas.

"Yaudah aku temuin, deh," ucap Roni yang membuat Fatimah kini tersenyum.

Ia berharap ini adalah awal yang baik untuk Roni dan Jesika.

"Ada apa?" Tanya Roni kala kini menemui Jesika di ruang tamu.

Mendengar suara itu membuat Jesika seketika menoleh, kali ini penampilannya sangat cantik, wajah yang dipoles dengan make up tipis itu tampak begitu mempesona.

"Hay, Ron." Sapa Jesika dengan ekspresi wajah bahagia.

"Langsung aja, deh, ada perlu apa kamu mau ketemu saya? Karena saya lagi sibuk saya harus kembali dengan kerjaan saya."

"Sabar, dong, Ron, baru juga kamu dateng, duduk dulu, ya, aku mau bicara sama kamu," pinta Jesika yang membuat Roni akhirnya terpaksa duduk.

"Jadi gini aku bermaksud mau buat hotel di Surabaya, tapi aku ngga tahu tempat yang strategis buat hotel aku nanti di mana, apa aku bisa minta tolong sama kamu? Please, ya, tolongin aku ‘kan kamu pakarnya properti jadi aku percaya banget sama kamu kalau kamu pasti bisa," ucap Jesika yang membuat Roni berpikir.

Ia hanya ingin memastikan jika ini bukan sebagian dari rencananya, rencana buruk atas hubungannya dengan Zahra. Ya, karena bisa dilihat Jesika adalah wanita yang memang mencintai Roni, walau hadirnya hanya karena sebuah perjodohan itupun bertepuk sebelah tangan.

"Gimana, Ron, kamu bisa bantu aku, kan?" tanya Jesika kembali, yang akhirnya membuat Roni mengangguk.

"Oke, saya bantu," jawab Roni yang membuat Jesika tersenyum.

Ya, tersenyum puas karena langkah awal dalam rencananya berjalan mulus.

"Tapi saya mau bantu kamu cuma karena provesionalitas saya saja, ya, bukan karena yang lain, jadi kalau kamu berpikir yang aneh-aneh. Kamu salah!"

"Iya, Ron, aku ngerti, kok. Makasih banyak, ya, Ron, yaudah aku pulang besok aku akan datang ke kantor kamu buat bicarain proyek kita ini."

"Ya, setelah saya selesai meeting kamu bisa langsung ke ruangan saya."

"Oke, yaudah aku pamit, ya, by Ron," ucap Jesika yang membuat Roni mengangguk, kini Jesika pun meninggalkan rumah Roni.

•••

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel