Rencana Jahat Ibu Mertua
"Sayang, aku berangkat dulu, ya, assalamualaikum."
"Iya, Mas, Waalaikumsalam. Mas, hati-hati, ya," jawab Zahra yang kini mencium tangan suaminya, sebuah kebiasaan yang tak pernah tertinggal sebelum meninggalkan rumah mencium tangan suami dan mengecup kening istri.
Kini Roni pun meninggalkan rumah, ia melaju menuju PT Zahni Group, perusahaan yang berdiri dibidang properti yang dikelola Roni mulai dari nol, dan sekarang perusahaan itu berdiri dengan kokoh dan mempunyai banyak pemasukan.
"Buat apa kerja mati-matian kalau ngga punya anak? Hartanya kelak siapa yang akan mewarisi?"
Tiba-tiba terdengar suara itu yang membuat ekspresi wajah Zahra seketika berubah, senyumnya menghilang setelah apa yang ia rasa saat ini tak lagi sama.
"Seharusnya kamu mikir, Zahra, Roni itu butuh penerus kelak dia akan butuh seseorang yang bisa meneruskan usahanya saat ini. Kamu jangan egois, dong, yang ngga mau pergi dari Roni, karena ngga mau menderita di luar sana. Jangan mentang-mentang dia selalu membelamu, kamu juga harus mikirin perasaan suamimu, dong, asal kamu tau, ya, ngga ada suami yang ngga kecewa dan ngga sedih kalau tahu kenyataan istrinya mandul, begitu juga sama Roni walaupun dia bilang ngga sedih, tapi itu ngga mungkin, dia juga rindu kehadiran seorang anak, loh," cerocos Fatimah yang membuat Zahra terdiam.
"Tapi ini kamu malah ngga tau diri dan ngga mau berfikir bagaimana caranya membuat suamimu bahagia."
Mendengar semua ucapan itu, Zahra hanya menghela nafas dan melangkah satu langkah lebih dekat dari Fatimah.
"Ibu fikir aku mau ada diposisi ini? Ngga, Bu, Ibu fikir aku juga ngga sedih? Sedih. Aku juga rindu seorang anak, bukan cuma Ibu dan Mas Roni yang kecewa tapi aku juga kecewa, Bu."
"Ya, itu tahu, kamu aja kecewa sama diri kamu sendiri gimana Ibu dan suamimu?"
"Kalau bukan karena Mas Roni aku ngga akan melakukan ini, Bu," ucap Zahra yang membuat Fatimah mengerutkan dahi ia berfikir apa maksud dibalik ucapan itu.
"Apa maksudmu Zahra?" Tanya Fatimah yang membuat Zahra terdiam, ia tak akan memberitahu masalah ini pada siapapun termasuk Fatimah, ibu mertuanya.
Tanpa berkata Zahra kini meninggalkan tempat, dari pada ia harus menahan emosi tingkat tinggi yang hampir tak dapat terbendung. Sementara di kantor, Roni yang kini telah memasuki ruangan kerjanya ia kembali memulai aktivitasnya setelah dua hari ia tak datang.
Tok tok tok!
"Masuk," ucap Roni setelah mendengar suara ketukan pintu itu.
Kini pintu pun perlahan terbuka, seorang wanita yang tampak memasuki ruangan ber-AC ini.
"Roni," panggil wanita itu yang membuat Roni kini menegakan pandangannya, seketika matanya melebar setelah ia tahu siapa wanita yang kini berada di hadapannya itu.
"Kamu," ucap Roni pada wanita yang ternyata adalah Jesika, wanita yang dijodohkan Fatimah untuknya.
"Hay," sapa Jesika dengan senyuman manis.
"Ngapain kamu ke sini, disuruh ibu lagi?" Tanya Roni yang pandangannya kembali tertuju pada beberapa berkas yang ada di hadapannya.
"Ngga, kok, aku ke sini atas kemauanku sendiri."
"Lalu kamu mau apa? Kalau kamu mau bahas soal perjodohan itu, maaf saya ngga bisa."
"Kenapa, Ron? Kenapa kamu menolak perjodohan itu?" Tanya Jesika yang kali ini membuat Roni memandangnya dengan tajam.
"Apa, sih, maksudmu? Kamu ‘kan tahu saya udah punya istri, kenapa kamu masih berharap untuk saya menerima perjodohan itu?"
"Tapi istri kamu itu mandul, Ron, emang ada yang bisa kamu harapin lagi dari dia?"
"Jaga mulutmu Jesika, kamu ini orang lain jangan ikut campur masalah rumah tangga saya," jawab Roni dengan nada sedikit tinggi.
Ia tak terima jika istrinya dibicarakan tidak baik pada orang lain, termasuk Jesika. Jika ibunya pun bisa ia tentang mengapa Jesika tidak? Jangan harap bisa menjelek-jelekan Zahra di hadapannya, karena itu tidak akan mungkin ia biarkan.
"Bukannya itu kenyataannya, Ron? Tante Fatimah sendiri, loh, yang cerita sama aku. Udah lah, Ron, dari pada kamu berharap yang ngga pasti dari istri kamu itu, mendingan kita nikah kita akan segera punya anak, karena aku bisa kasih keturunan buat kamu."
"Tidak! Saya tidak akan meninggalkan istri saya dalam kondisi apapun, sekalipun sekarang dia mandul, saya tetap mencintainya," jawab Roni yang membuat Jesika menggelengkan kepala.
Tak dapat berkata apa-apa lagi di hadapan Roni, kini Jesika pun dengan cepat meninggalkan tempat dan membuat Roni menggelengkan kepala lalu kembali dengan aktivitasnya.
"Susah, ya, bicara sama orang yang buta karena cinta, Roni-Roni masih aja kamu perjuangin istri yang udah jelas-jelas ngga ibu kamu suka," gumam Jesika setelah kini berada di dalam mobilnya.
Ia sedikit kecewa dan malu di hadapan Roni karena apa yang ia katakan ditepis mentah-mentah olehnya.
"Kamu lihat aja aku ngga akan tinggal diam kamu tolak aku kaya gini, aku akan manfaatin tante Fatimah untuk bisa dapetin kamu," tambah Jesika dengan tersenyum sinis.
•••
"Zahra, Zahra," panggil Fatimah yang membuat Zahra kini berlari mendekat.
"Iya, Bu, kenapa?"
"Ini tolong kamu antar tas ini ke rumah teman Ibu, ya," ucap Fatimah seraya mengulurkan sebuah tas berwarna coklat kehadapan Zahra.
"Rumahnya dimana, Bu, aku ngga tahu?"
"Ini alamatnya udah ibu tulis, kok, buruan, ya, keburu dia nunggu," jawabnya yang membuat Zahra mengangguk.
Kini ia pun meninggalankan tempat dan melaju menuju sebuah alamat yang dimaksut Fatimah, kepergian Zahra membuat Fatimah tersenyum entah apa yang sedang ia rencanakan kali ini.
"Aneh banget biasanya Ibu selalu berangkat sendiri, kenapa ini suruh anter aku?" Gumam Zahra kala kini berada di dalam taxi online yang akan mengantarnya ke alamat tersebut.
Sesampainya di tempat, kini Zahra mengetuk pintu yang sesuai dengan alamat yang diberikan Fatimah padanya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang kini muncul di hadapannya.
"Maaf apa ini rumah Bu Erni?"
"Iya, itu ibu saya, ada apa, ya?"
"Oh, ini saya disuruh ibu anter tas ini untuk Bu Erni," ucap Zahra yang mengulurkan tas itu pada laki-laki yang kini ada dihadapannya.
Akan tetapi, saat laki-laki itu hendak menerimanya tiba-tiba ia seperti ingin terjatuh dan membuat Zahra spontan menolongnya, dari kejauhan tampak sebuah kamera kini mengabadikan pemandangan itu, posisi di mana Zahra dan laki-laki itu tampak seperti berpelukan.
Ternyata ini adalah rencana licik yang dilakukan oleh Fatimah dan ia akan memberikan gambar itu pada Roni, anaknya, tujuannya sudah pasti agar mereka bermasalah dan akhirnya berpisah.
Tidak menyangka jika Fatimah akan tega melakukan hal ini pada Zahra, kebencian memang mengubah segalanya karena kebenciannya membuat Fatimah kini menutup mata akan tindakan yang benar atau salah.
Baginya membuat Zahra hancur adalah kebahagiaannya saat ini membuat Zahra ditinggalkan Roni adalah tujuannya saat ini dan menikahkan Roni dengan Jesika adalah keinginannya saat ini.
•••
