Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10- Merasa Bersalah

“Ouchh…” Natasya terlihat meringis kesakitan ketika sedang mengompres memar di pipinya saat ini. “hari ini benar-benar hari yang buruk,” keluh Natasya sambil menghela nafasnya.

Tok-tok

“ Hmm… siapa yang datang bertamu, ya? Jangan-jangan Kak Wade lagi..” Natasya menggaruk tengkuknya dengan canggung. Kalau Wade sampai melihat memar ini, dia pasti akan diomeli lagi. Natasya mengerang pasrah.

“Sia- ehh Ethan!!” pekik Natasya terkejut.

“Apa kau baik-baik saja?” Ethan terlihat panik sekali. “aku sudah mendengar semua ceritanya dari Aiden. Harusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian tadi. Maafkan aku!” Ethan membungkukkan tubuhnya dengan perasaan penuh bersalah.

“Tidak perlu sampai seperti itu lagipula aku juga sudah baik-baik saja kok..” Natasya merasa tidak enak.

Lagipula ini semua adalah salahnya karena dia juga terlalu lemah. Mungkin…

“Harusnya aku mengantarmu sampai ke apartemen dengan selamat. Aku bahkan tidak bisa memenuhi amanat Wade dengan baik.” Mendengar Ethan mencemaskannya hanya karena janjinya pada Wade tanpa sadar malah membuat Natasya menjadi merasa kecewa. Jadi hanya karena itu, Ethan mencemaskannya sekarang.

“Sudahlah… ini semua sudah terjadi. Lagipula aku baik-baik saja kok. Tidak ada yang perlu dikhawatir- aww apa yang kau ssh-“ Natasya meringis kesakitan ketika Ethan menyentuh memar di pipinya. Rasanya sakit sekali.

“Kau terluka,” gumam Ethan dengan cemas. “aku akan mengobati lukamu. Ayo!!” Tanpa seizin pemiliknya, Ethan langsung menarik Natasya masuk ke dalam ruang apartemennya sendiri dan menyuruh gadis itu untuk duduk. Setelahnya, Ethan langsung mengompres memar itu menggunakan air es dan mengambil obat salep yang ada di kotak P3K.

Natasya tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat Ethan yang saat ini sedang mengobati lukanya dengan lembut seakan takut untuk menyakitinya. “ Selesai.” Ethan tersenyum dan menempelkan perban pada pipi Natasya yang terlihat memar.

“Terima kasih.” Natasya tersenyum.

Ethan menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu berterima kasih. Luka ini disebabkan karena aku.” Ethan berkata dengan nada sendu.

“Ethan, sudahlah! Jangan terus merasa bersalah seperti ini! Lagipula lukaku juga sudah diobati kan? Ahh… bagaimana kalau kita makan malam bersama saja? Kebetulan aku ingin memasak masakan dari negaraku. Apa kau mau mencobanya?” tawar Natasya sambil tersenyum.

“Woah… benarkah? Kau tahu saja kalau aku sedang lapar.” Ethan cengengesan.

Natasya tertawa.

Wade benar. Sepertinya hubungan ia dan Ethan menjadi semakin dekat saja meski dia juga baru mengenal pria ini sehari.

Dengan bahan seadanya, Natasya langsung merubah bahan-bahan di hadapannya menjadi sebuah masakan tradisional dari Indonesia yang bisa kita sebut sebagai gulai. Memang bahan-bahan yang tadi dibelinya menjadi berkurang banyak karena jatuh saat bertarung melawan pria itu tapi beruntung masih ada bahan-bahan tersisa yang masih bisa dia masak.

Sedangkan Ethan sendiri terlihat sedang sibuk memperhatikan Natasya yang sedang memasak sambil tersenyum. Selama ini belum pernah ada gadis yang mau memasak makanan untuknya bahkan Sakura yang notabene adalah kekasihnya sendiri pun tidak pernah mau memasakkan sesuatu untuknya. Tunggu!! Kenapa dia jadi membandingkan Natasya dengan Sakura sih?

Aroma harum mulai menyeruak dari arah dapur. Ethan yang mencium aroma harum tersebut langsung terlihat tergiur dan memilih untuk menghampiri sang gadis. “Kau memasak apa?”

Natasya menyuapkan sesendok kuah coklat ke mulutnya dan mencicipi rasanya apa sudah pas atau belum. Natasya langsung tersenyum mendengar pertanyaan Ethan saat ini. “Ini namanya gulai. Masakan tradisional dari Indonesia.”

“Gulai?” Ethan terlihat penasaran.

“Umhh…” Natasya langsung memindahkan gulai yang sudah dimasaknya ke dalam piring yang sudah disiapkannya dari tadi. “Mau mencobanya?”

“Tentu.”

Natasya langsung tersenyum melihat Ethan yang begitu lahap memakan masakannya. Makanan yang berada di piring itu juga sudah terlihat ludes begitu saja. Padahal Natasya saja, baru menghabiskan setengahnya saja.

“Ini enak sekali…” Ethan berdecak kagum. “Kau memang hebat, Natasya.” Ethan mengedipkan sebelah matanya.

Wajah Natasya terlihat merona ketika Ethan mengatakan hal tersebut.

Jantung Ethan terasa berdetak dua kali lebih cepat ketika melihat wajah Natasya yang memerah. Ada apa dengannya? Tidak berbeda dengan Ethan sekarang, tampaknya Natasya juga merasakan hal yang sama. Mereka sama-sama sibuk dengan perasaan mereka masing-masing.

.

.

.

Keesokan harinya adalah hari pertama Natasya bersekolah di sekolah Geshika. Hari pertama bersekolah memang selalu membuat semua orang menjadi gugup. Hal itulah yang sedang dirasakan oleh Natasya saat ini. Dia bahkan belum bisa percaya kalau dia akan bersekolah di sekolah nomor satu di Jepang saat ini.

“Sudah sampai. Baik-baik selama di sekolah, oke? Kalau aku ada waktu, aku akan menjemputmu nanti siang.” Wade tersenyum.

“Baiklah,” jawab Natasya dengan lesu.

“Hey…kenapa kau lesu begitu sih? Bukankah harusnya kau bersemangat karena ini hari pertama kau bersekolah?” Wade tertawa.

“ A-aku merasa gugup…” Natasya berkata dengan takut-takut.

“Kenapa harus gugup?” Wade tertawa. “Aku yakin kau bisa menghadapi semuanya. Tenang saja. Semua akan berjalan baik-baik saja.” Wade mencoba menyemangati Natasya yang terlihat tertekan sekarang.

“Kuharap begitu…” Natasya menghela nafasnya dengan muram.

“Berjuanglah!! Aku akan selalu mendukungmu.”

Natasya yang mendengarnya terlihat langsung mengangguk. Setelah berpamitan dengan Wade, Natasya memutuskan untuk memasuki gedung sekolah barunya. Natasya sendiri berusaha mencari kelasnya yang terletak di gedung SMA IPA. Sekolah ini memang benar-benar sangat luas. Sepertinya dia membutuhkan waktu untuk bisa menghafal seluruh area di sekolah ini.

Setelah bertanya kepada para murid yang berada di sekitarnya, akhirnya Natasya berhasil menuju tempat yang ditujunya. Kelas XII-IPA-A. Kelas ini terletak di gedung SMA Barat di lantai dua yang terletak di ujung lorong. Kelasnya memiliki ruangan yang sangat luas yang membuat Natasya yang melihatnya langsung merasa terkesima.

Diabaikannya beberapa pandang mata yang sedang menatapnya saat ini. Natasya memilih untuk duduk di bangku bagian belakang karena dia tidak terlalu menyukai keramaian.

Sambil menunggu sensei yang belum datang, Natasya memilih untuk membaca sebuah buku novel yang sedang dibawanya. Itu terus berlangsung selama beberapa saat sampai perhatiannya teralihkan kepada seorang pria yang terlihat sedang menghampirinya.

“Maaf! Ini adalah tempat dudukku.”

Natasya langsung terkejut mendengarnya. “Ahh… benarkah? Maafkan aku! Kalau begitu, aku akan pindah.” Natasya berniat membereskan barang-barangnya sebelum pemuda itu kembali mencegatnya.

“Ehh... tidak apa-apa kok. Kebetulan kursi di sebelahku sedang kosong dan kau bisa memakainya. Perkenalkan! Namaku adalah Andrew. Salam kenal.” Pemuda bernama Andrew itu terlihat memperkenalkan dirinya sambil tersenyum.

“Namaku Natasya. Salam kenal juga, Andrew.” Natasya membungkukkan tubuhnya dengan sopan.

Andrew melihat Natasya dari atas sampai ke bawah dengan tatapan penasaran sampai Andrew terlihat berdecak membuat Natasya menjadi merasa kebingungan melihat tingkah Andrew saat ini.

Apa ada yang salah dengannya?

“Kau… kau bukan berasal dari Jepang, ya?” terka Andrew tepat sasaran.

“Begitulah. Aku berasal dari Indonesia…” Natasya tersenyum manis.

“Indonesia? Benarkah??” Andrew terlihat begitu bersemangat. “ Aku tidak menyangka bisa memiliki teman dari luar negeri.” Andrew tertawa kecil. “Pantas saja wajahmu itu, Indonesia banget. Pokoknya jangan merasa sungkan disini! Teman-teman kita sangat bersahabat kok..”

“Oke. Terima kasih, Andrew...” Natasya tersenyum. Andrew benar-benar mirip dengan Ethan. Sepertinya pria Jepang banyak yang ramah dan juga ceria, ya.

Syukurlah kalau dia juga sudah berhasil mendapatkan teman di hari pertamanya.

TBC

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel