Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8. BE!

Tidak ada yang lebih menjengkelkan bagi Juna daripada mendapat pesan dari Tasya, pagi-pagi seperti ini. Ketika ia membuka mata, mengecek ponselnya kalau-kalau ada pesan atau panggilan telepon yang penting, dari sekian pesan yang masuk, salah satunya adalah dari Tasya.

Juna tidak mengerti apa yang dipikirkan wanita itu. Sudah ditolak berkali-kali Tasya tetap kekeuh. Dia tipe wanita yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu. Sangat keren memang, dan sebenarnya ia membutuhkan wanita seperti itu sebagai pendamping. Dalam berbisnis, bukan sebagai pasangan hidup.

Juna yakin, sepanjang harinya akan buruk nantinya. Apalagi hari ini ia tidak ke mana-mana. Maksudnya, tidak ada pertemuan yang harus dihadirinya sehingga ia akan berada di kantornya seharian.

Tasya mengajaknya untuk makan siang. Ajakan yang tak bisa diterimanya. Ia tak berminat untuk makan berdua dengan wanita mana pun kecuali rekan bisnisnya, itu pun jika memang ada pembicaraan bisnis penting yang mereka lakukan. Jika tidak, ia akan makan siang hanya ditemani Kevin.

Juna melempar ponselnya begitu saja. Beruntung ponsel itu mendarat di atas sofa sehingga tidak ada yang rusak baik bagian luar ataupun bagian dalamnya. Ia menyeret kakinya menuju kamar mandi. Seharusnya ia berolahraga pagi dulu, tetapi pagi ini ia bangun terlambat sehingga langsung mandi.

Ia kembali bermimpi tentang Diva dan bayi mereka. Bayi yang bahkan belum sempat ia lihat. Jangankan melihat, mengetahuinya saja setelah Diva sekarat.

Kedua tangan Juna mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dadanya selalu saja terasa sesak bila mengingatnya, meskipun itu kenangan manis mereka. Matanya menghangat, sedetik kemudian bulir-bulir air mata tumpah bersamaan dengan air yang mengucur dari keran shower.

Beberapa detik Juna masih pada posisinya. Kepala tertunduk, bahu berguncang. Sudah sering ia seperti ini, saking seringnya hingga menjadi sebuah kebiasaan. Setiap pagi di kamar mandi, ia akan menangis. Begitu pun setiap kali ingatan tentang Diva menyeruak masuk. Juna tidak lagi menahan air matanya seperti dulu, ia akan menumpahkannya tanpa merasa malu.

"Be, aku kangen."

Tiga kata itu yang selalu menyertai tangisnya. Seandainya waktu bisa diputar kembali. Seandainya saja ada teknologi yang bisa membawanya kembali ke masa lalu, ia rela membayar berapa saja asalkan dapat bertemu lagi dengan gadisnya. Tidak ada rasa yang paling menyakitkan selain rasa rindu pada seseorang yang tidak bisa lagi bertemu selamanya.

Lima belas menit di dalam kamar mandi, Juna keluar setelah puas menumpahkan air mata. Mungkin ia seperti seorang wanita yang selalu menangis setiap kali teringat kekasih yang tiada, Juna tidak peduli. Ia merindukan Diva, ingin bertemu dengannya.

Rasanya sangat sakit setiap kali bayangannya hadir. Sepuluh tahun bukalah waktu yang sebentar, tetapi Juna masih tetap setia dengan sakitnya. Baginya, tak ada yang dapat menggantikan Diva. Kekasihnya abadi di hatinya.

Bunyi ketuk satu kali dari ponselnya memecah lamunan Juna. Mengembalikannya ke dunia nyata yang tak pernah lagi terasa bersahabat dengannya. Juna melangkah malas ke tengah kamar, membungkuk untuk meraih ponsel sekedar memeriksa. Seandainya Tasya yang kembali mengiriminya pesan, ia akan memblokir nomor wanita itu untuk yang kesekian kalinya.

Ia sudah memperingatkan Tasya untuk tidak mengganggunya. Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Dasar Tasya keras kepala dan bandel, dia tetap melakukannya. Setiap kali diblokir, Tasya akan menghubunginya dengan nomor yang baru. Ia sendiri tidak bisa mengganti nomor ponselnya begitu saja, semua rekan bisnis dan keluarga dekat mengetahui nomor itu. Nomor ponselnya sangat penting.

Jangan lupa hari ini lu ada janji sama Arsyi

Sepasang alis tebal Juna berkerut. Ia tidak ingat pernah membuat janji dengan Arsyi. Benarkah itu, mereka akan bertemu hari ini? Mungkin saja benar, Kevin tidak pernah berbohong padanya bila itu mengenai pekerjaan.

Jika Kevin menghubunginya di nomor ini berarti bukan dia tidak berbohong. Juna mengusap wajah kasar, kembali melempar ponselnya ke tempat semula tanpa membalas. Jujur saja, ia sangat lega karena tidak harus bertemu dengan Tasya hari ini. Sungguh, wanita itu sangat mengganggu.

Juna mempercepat mengenakan pakaian. Ia tidak akan sarapan di apartemen hari ini, tidak mau makan sendiri. Kevin pulang ke rumahnya. Ia akan sarapan di kantor saja, makan sambil menyelesaikan pekerjaan bukan ide yang buruk. Apalagi harinya sepertinya akan menyenangkan.

Ia akan ikut pulang bersama Arsyi hari ini ke rumah sahabatnya itu, dan menemui Helen dan Roma –putri Helen dan Arsyi. Sudah cukup lama ia tidak bertemu mereka berdua. Kerinduannya akan sosok Diva sedikit berkurang setiap kali ia bertemu Roma.

***

Cuaca ibu kota selalu terik sejak dia kembali. Rasanya seperti terbakar Jika sedikit saja dia berada di bawah paparan sinar matahari. Cuaca ibu kota masih belum mau bersahabat dengannya, mungkin karena dia masih baru sehingga belum bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan iklim. Satu minggu bukan waktu yang lama, Diva yakin dia pasti akan bisa menikmati kehidupannya di ibu kota seperti dulu, saat masa remajanya.

Angin semilir menerbangkan anak rambut Diva yang menjuntai. Dia memilih untuk menghabiskan waktu di balkon kamarnya sore ini, menikmati sinar matahari sore yang tidak sepanas saat siang. Diva menyandarkan punggung pada sandaran kursinya, memejamkan mata, dan menghirupnya napas dalam-dalam.

"Be!"

Cepat Diva membuka mata. Suara itu terdengar sangat dekat dengan telinganya. Astaga! Apakah dia kembali bermimpi, ataukah itu hanya ilusi? Namun, rasanya tak mungkin. Tidak mungkin dia berhalusinasi seseorang memanggilnya. Iya, Diva kini yakin jika 'Be' adalah nama panggilannya. Entah siapa yang memanggilnya demikian dia tidak tahu, atau mungkin masih belum ingat. Nama panggilan itu terdengar sangat familiar, sama seperti suara pria yang selalu didengarnya dalam mimpi setiap tidurnya.

"Be, aku kangen."

Mata Diva menatap liar sekelilingnya, tetapi tidak ada siapa-siapa.

"Be!"

Diva menutup telinga menggunankan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng kuat beberapa kali. Dia berharap bisa mengusir suara-suara itu yang terus terdengar berulang-ulang.

"Aku sayang kamu, Be. Aku kangen."

Denyutan kecil mulai dirasakan Diva menyerang kepalanya. Tangan yang tadi menutup telinga sekarang berpindah ke kepala. Semakin lama denyutan nyeri semakin menjadi, seiring suara-suara yang terus terdengar. Diva memejamkan mata, sekelilingnya terasa berputar. Cairan hangat terasa mengalir pelan dari hidungnya. Napasnya berpacu.

"Be! Ingat aku, Be!"

Diva mendongak. Dia harus melawan rasa sakit yang menghantam kepalanya. Dia yakin suara itu merupakan salah satu ingatan penting yang berusaha dilupakan oleh otaknya. Namun, akhirnya dia menyerah. Diva jatuh di atas sofa panjang di balkon kamarnya dalam keadaan hidung mengeluarkan darah, dia kembali mimisan. Samar dia melihat seorang pria menghampirinya, mengusap pipinya, dan berbisik di telinganya.

"Aku sayang kamu, Be. My future wife."

Diva perlahan memejamkan mata. Kesadarannya diambil alih oleh gelap perlahan. Namun, sebelum benar-benar pingsan, bibirnya menyebutkan sebuah nama, tanpa dia sadari.

"Juna."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel