Bab 7. Baik-baik Saja
"Kamu mimpi apa, sih, Sayang, tadi malam? Kok, kayaknya kaget banget pas Mama bangunin."
Seperti biasa, sarapan mereka selalu diwarnai dengan percakapan hangat Seputra yang terjadi tadi malam.
Diva meringis, kepalanya menggeleng. Sebenarnya dia ingin menceritakan mimpinya, tetapi baik Mama maupun Papa pasti tidak akan percaya. Mereka juga tidak akan mau menanggapi, seperti yang sudah-sudah, apalagi mimpinya tetap saja seperti dulu, tentang seseorang yang memanggilnya 'Be'.
Seorang pria tanpa sosok, hanya suaranya saja yang terdengar. Suara yang terasa familiar, tetapi dia tidak ingat di mana pernah mendengarnya. Orang tuanya akan menganggap mimpinya tidak berarti apa-apa. Mereka selalu mengatakan itu hanyalah bunga tidur saja. Padahal dia yakin mimpinya pasti berhubungan dengan masa lalunya. Seolah kedua orang tuanya menutupi. Tak ingin membuat Mama khawatir, Diva menyunggingkan senyum.
"Nggak apa-apa, kok, Ma. Diva nggak mimpi. Cuman kaget aja pas liat Mama udah ada di samping Diva pagi-pagi."
Alasan yang tidak terlalu dibuat-buat, 'kan? Dalam hati Diva berharap semoga Mama percaya. Namun, Mama justru menatapnya curiga, seakan Mama memiliki antena dengan cakupan sinyal yang tertuju khusus padanya.
Diva berusaha untuk tidak memedulikan itu. Perutnya yang lapar sudah berteriak meminta untuk diisi sejak dia bangun tidur tadi. Tadi malam dia melupakan makan malamnya karena terlalu lelah. Memang tidak ada yang dikerjakan fisiknya, semingguan ini dia menjadi seorang pengangguran.
Hanya psikisnya yang bekerja ekstra. Berbagai macam bayangan berkelebat di kepalanya yang dia yakin potongan masa lalunya. Gadis kecil yang bermain dengan gembira di ruang tengah. Kemudian dengan cepatnya bayangan gadis kecil itu berubah menjadi seorang gadis remaja dengan seragam SMA swasta.
Semua kilasan bayangan itu membuat kepalanya berdenyut, tetapi Diva menahannya. Dia juga tidak memberitahu Mama karena tak ingin Mama khawatir. Mama memiliki kekhawatiran berlebih bila itu menyangkut dirinya. Rasa pusing dan denyutan kecil masih bisa ditahannya. Kecuali jika sudah terlalu parah seperti mengalami mimisan, dia tidak akan sanggup bertahan.
Yang paling buruk jika diteruskan, dia bisa pingsan. Jika denyutan kepalanya semakin menjadi, Diva akan berhenti untuk mengingat. Jika merasa lebih baik, dia akan kembali membuka pikirannya, membiarkan potongan-potongan ingatan itu memasukinya.
"Diva jangan bohong, ya, sama Mama. Mama nggak suka, lho."
Naluri seorang Ibu memang sangat tajam, terutama menyangkut anak-anak mereka, tidak ada yang dapat mengalahkannya. Diva mengakui itu. Dia tak ingin berdebat, tak ingin membuat Mama cemas. Oleh karena itu dia kembali menggeleng.
"Diva nggak bohongin Mama, kok." Diva tersenyum manis. Senyum terbaik yang dimilikinya. Dia harus bisa membuat Mama berhenti curiga dan mencemaskannya. Dia harus terlihat baik-baik saja karena memang begitu kenyataannya. "Tadi malam tidur Diva nyenyak banget sampe lupa nggak makan malam." Dia meringis.
"Makan malam aja sampai lupa. Kamu gimana, sih, Va?" Ronny ikut bertanya. Ia yang sejak tadi hanya diam mengikuti obrolan anak dan istrinya akhirnya ikut bersuara juga. Makan malam merupakan sesuatu yang penting, jika sering melupakannya akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. "Jangan ulangi lagi, ya, Papa nggak suka."
Diva meneguk ludah susah payah. Bahaya jika Papa sudah ikut berbicara. Lebih baik dia menurut saja, daripada nanti mendapat ceramah panjang lebar dari Papa.
Diva melakukannya, dia menganggukkan kepala tanpa suara. Pikirannya sibuk berkelana, dari mana dia tahu tentang Papa yang biasa bersikap lebih keras dalam menegurnya. Mungkinkah itu juga bagian dari ingatan masa lalunya?
Diva menatap Papa sekilas kemudian melanjutkan sarapannya. Masakan Mama selalu enak, sangat cocok di lidahnya. Sudah terlalu lama dia menyantap hidangan barat, sampai hampir lupa kelezatan masakan negaranya sendiri.
Bukan tanpa alasan Ronny menegur putrinya sedikit lebih keras. Sama seperti Ibu, seorang Ayah juga memiliki insting melindungi yang kuat terhadap anak-anaknya. Tak ada seorang pun orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya sengsara.
Itulah sebabnya ia menyetujui usul Della, istrinya, yang melarang Diva untuk pulang ke tanah air. Baik fisik maupun psikis Diva masih sangat lemah, jika dipaksakan untuk mengingat akan berakibat fatal baginya. Ia tak ingin kehilangan putri satu-satunya sehingga membiarkan Diva tinggal dan menetap di negeri Paman Sam. Sampai akhirnya Diva pulang tanpa memberi kabar lebih dulu.
Sekarang, ia harus lebih berhati-hati agar putrinya tidak kenapa-kenapa lagi. Diva harus diawasi dengan ekstra ketat. Ia bahkan memasang kamera pengawas tambahan di dan sekitaran rumahnya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap Diva membuatnya sangat protektif terhadap Sang Anak.
Bahaya itu ada di sini, sangat dekat dengan mereka. Bahaya itu adalah sosok yang bernama Arjuna. Diva tak boleh bertemu dengan pria itu atau putrinya akan kembali mengalami kejadian seperti dulu. Terlalu banyak wanita di sekeliling Juna, sampai sekarang. Meskipun Juna tidak menanggapi mereka, wanita-wanita itu tetap berbahaya bagi putrinya yang masih belum mengingat semuanya.
Mereka masih berhubungan –dirinya dan Juna, perusahaan mereka bekerja sama. Juna yang menawarkannya, dan sebagai seorang pebisnis tentu saja ia tidak melewatkan peluang emas itu. Bekerjasama dengan perusahaan yang lebih besar adalah impian semua pebisnis, begitu juga dengannya. Menjalin kerjasama dengan Will's Enterprise yang merupakan perusahaan berskala internasional mendongkrak perusahaannya.
Mungkin terdengar ia memanfaatkan kelemahan Juna yang sampai sekarang masih terkurung dalam bayang-bayang putrinya, tetapi tidak seperti itu yang sebenarnya. Mereka sama-sama diuntungkan dalam kerjasama ini. Kerjasama mereka murni bisnis, tidak ada embel-embel apa pun.
Ronny melirik Diva, tersenyum melihatnya makan dengan lahap. Diva benar, dia kelaparan. Dalam waktu sepuluh menit isi di piringnya sudah habis. Pemandangan seperti ini yang sangat dirindukannya dalam sepuluh tahun terakhir.
Selama ini ia selalu hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan keselamatan putrinya. Ada lega saat Diva kembali, di samping rasa khawatir yang juga sama besarnya.
Bagaimana jika seandainya Diva bertemu dengan Juna? Apa yang akan terjadi? Apakah seluruh ingatan Diva akan kembali, ataukah Diva akan mengalami hal terburuk dalam hidupnya? Kehilangan nyawa.
Ronny tak ingin itu terjadi. Sudah cukup selama sepuluh tahun mereka tinggal terpisah. Ia tidak akan bisa bertahan lagi jika benar-benar kehilangan putrinya. Diva adalah satu-satunya yang bisa menguatkan mereka, ia dan istrinya. "Makan yang banyak, Nak, kamu perlu tenaga yang lebih biar pas ada yang kamu ingat, kamu bisa kuat."
Diva mengangkat kepala mendengar perkataan Papa. Gerakan tangannya yang ingin menyuap nasi goreng terhenti. Dadanya menghangat, haru menyeruak. Diva tahu, meskipun Papa terlihat keras, tetapi Papa sangat menyayanginya.
Sendok kembali di letakkan di atas piring, Diva mengusap sudut matanya yang berair. Dia mengangguk sehingga bulir-bulir lain berjatuhan. Kali ini Diva tidak mengusapnya, dia membiarkannya terjatuh di atas meja. Kata-kata Papa merupakan dukungan untuknya mengingat kembali semuanya.
"Iya, Papa!" Sekali lagi Diva mengangguk. Disertai senyum manis terbaiknya.
