4. Perkara Balas Budi
Pagi-pagi sekali, sebelum banyak orang beraktifitas, Alesha sudah meninggalkan rumahnya. Bukan untuk datang ke cafe, ini masih terlalu pagi, melainkan ia melarikan diri dari Jonas. Ia akan kabur ke luar kota.
Beruntung semalam ia bisa lolos dari Jonas dan para penjaga. Semua itu berkat pisau buah yang ia ambil dan sembunyikan secara diam-diam kemudian ia tempelkan di lehernya. Sebagai ancaman agar bisa lepas dari dominasi pria pemaksa itu.
Awalnya ia ragu jika akan berhasil, mengingat sifat Jonas yang tidak mau kalah. Namun melihat reaksi panik luar biasa pria itu, berhasil membuat Alesha lolos sekaligus keheranan. Iya, ia dibuat melongo bingung beberapa detik melihat reaksi berlebihan Jonas.
Alesha terpaksa nekat, sungguh ia muak berhadapan dengan pria otoriter dan tidak punya hati seperti seorang Jonas.
Ia tak ingin mengorbankan hidupnya untuk menikah dengan seorang Jonas Pramudya. Persetan dengan ketampanan serta kekayaan melimpah ruah yang dimiliki, Alesha tak tertarik. Keluarganya juga kaya raya. Ia tak perlu repot menggaet seorang pria kaya.
Mobil yang dikendarai melaju cepat di jalan raya yang masih sangat lengang, karena masih pukul 4 pagi.
Dingin, namun Alesha menyukai sejuk dan segarnya udara pagi yang belum banyak polusi. Anggap saja ini sekaligus jalan-jalan. Lagi pun, Alesha cukup jenuh dengan rutinitasnya tiap hari. Anggap saja perginya untuk refreshing.
Tak begitu jauh sebenarnya tempat yang dituju, jika dari kediamannya hanya perlu sekitar 2 jam saja. Dan beruntung ini bukan akhir pekan atau waktu liburan, jadi perjalanan Alesha cukup lancar.
Alesha tiba di sebuah vila milik seorang teman. Jihan adalah teman yang paling dekat dan sudah seperti saudara bagi Alesha.
Alesha merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang tengah. Lumayan lelah setelah mengendarai sendiri mobilnya.
Kehadiran Alesha disambut hangat oleh asisten rumah tangga yang bertugas mengurus vila milik keluarga Jihan. Namanya Bi Atin, wanita paruh baya yang sudah beberapa kali ditemui saat diajak Jihan berkunjung ke sini sebelumnya.
Alesha dilayani dengan baik. Keperluannya disiapkan. Dari kamar yang akan ditempati selama menginap sudah dibersihkan dan siap digunakan. Urusan makanan pun Alesha tak perlu khawatir. Agaknya Jihan sudah memberikan tugas khusus pada ART-nya tersebut jika dirinya datang.
Alesha berjalan-jalan keliling kampung yang masih sangat asri tersebut. Ia juga melihat perkebunan teh yang membentang luas di sana. Sungguh menyegarkan mata. Dan bisa melepas penat dari rutinitas kerja yang melelahkan.
Alesha berencana untuk tinggal beberapa hari di kampung ini sampai kondisi kondusif. Aman dari gangguan Jonas.
Namun rencana menguap begitu saja. Alesha dikejutkan dengan kedatangan orang yang paling dihindarinya. Siapa lagi kalau bukan Jonas. Pria itu datang menyusulnya.
Ingin kabur lagi dan bersembunyi, namun keberadaan Alesha sudah terlihat oleh kedua anak buah Jonas yang menunggunya di pintu gerbang. Jadi, mau tak mau ia harus menemuinya.
"Mau apa sih kamu ke sini?" Alesha berkacak pinggang di depan Jonas yang berdiri menyambutnya.
"Jemput kamu. Udah puas jalan-jalannya?" tanya Jonas diikuti senyum manis di belakang kalimatnya.
"Ck enggak mau!" Alesha lebih dahulu menepis tangan Jonas sebelum berhasil meraih lengannya.
"Ayo pulang, besok kita menikah."
Kedua bola mata Alesha terbelalak lebar. "Apa?"
"Iya, besok kita menikah, Alesha. Seharian ini aku udah urus surat-surat buat pernikahan kita."
Seperti disambar petir, Alesha dibuat kaget sekaget-kagetnya. Ia tercekat syok, tak berbicara apa-apa selama beberapa detik, sebelum kemudian berteriak lantang. "Enggak! Aku enggak mau nikah sama kamu, Jonas!"
"Tapi mama dan keluarga kamu sudah setuju."
Seketika tubuh Alesha melemah, tenaganya hilang. Beruntung Jonas cukup sigap menangkap tubuh Alesha. Tak membiarkan Alesha terluka.
Sekarang, Alesha menyesali keputusannya lari ke luar kota, karena waktu kaburnya justru dimanfaatkan Jonas untuk menyiapkan pernikahan mereka. Bahkan sampai meminta restu pada kedua orang tuanya pun sudah dilakukan.
Jonas membawa Alesha kembali ke kota. Mobil Alesha dikendarai salah seorang anak buah Jonas yang ikut.
Alesha memilih diam sepanjang perjalanan. Percuma melayangkan protesnya pada Jonas, pria itu sangat keras kepala jika sudah punya keinginan. Sulit dirubah.
"Istirahat yang cukup, besok pagi aku dan keluarga besar aku akan datang melamar kamu...."
Alesha memilih tak menanggapi kata-kata Jonas, ia langsung masuk ke dalam kediaman sang mama.
"Ma...." Alesha berhenti di depan ruang keluarga, ia melihat keberadaan sang mama yang tengah sibuk memberi instruksi pada beberapa orang yang tengah sibuk melakukan ini-itu dan Alesha sama sekali tak kenal.
"Eh Sayang, sudah pulang? Ayo-ayo sini, Mama mau ngomong sama kamu!" sambut wanita cantik berusia paruh baya itu dengan raut ceria.
Alesha menurut saja. Ia tak menolak ketika diajak sang mama duduk.
"Sayang, kok enggak pernah bilang kalau kamu ada hubungan sama Pak Jonas eh em Nak Jonas maksud mama?"
Alesha menghela napas panjang, sebelum kemudian menjawab pertanyaan mamanya. "Sebenarnya enggak seperti yang mama pikir, Ma. Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia!"
Dahi wanita cantik di depan Alesha ini mengernyit dalam. "Enggak ada hubungan apa-apa? Tapi Nak Jonas bilang--"
"Ma, please jangan percaya sama apa yang dia bilang. Dia itu orang jahat, Ma!"
Alih-alih langsung percaya, sang mama justru memukul pelan punggung tangan Alesha. "Ish kamu ini! Jangan bicara sembarangan. Mama sudah kenal lama sama dia, Sayang. Dia orang yang sangat sopan dan baik."
"Ck itu palsu, Ma! Dia itu orang yang sangat jahat. Dia yang sudah menghancurkan kebahagiaan aku!"
Sang mama terbelalak kaget. "Apa maksud kamu, Sayang?"
Alesha menarik napas dalam-dalam. Ini saatnya ia menceritakan kejadian yang pernah menimpanya yang selama ini ia pendam seorang diri. Ini kesempatan terakhirnya, agar bisa lepas dari Jonas.
"Ya Tuhan! Kenapa kamu baru cerita ke Mama, Sayang?" Ibu Alesha tampak syok begitu selesai mendengar pengakuan putrinya.
"Maafin aku, Ma...."
Kepala wanita itu menggeleng perlahan. "Enggak-enggak, ini bukan salah kamu, Sayang. Mama yang harusnya minta maaf, karena kurang perhatian ke kamu. Mama sampai tidak peka dengan perubahan kamu. Maafkan Mama, Sayang!"
Ibu dan anak itu saling berpelukan. Saling mengungkapkan permintaan maaf.
"Ma, tolong batalkan acara besok. Aku enggak mau menikah sama manusia jahat itu!" pinta Alesha sungguh-sungguh.
Tampak ragu-ragu, mama Alesha menggeleng pelan. "Mama tidak bisa berbuat banyak, Sayang."
"Mama enggak mau bantu aku?" Alesha berdecak protes.
"Mama sudah terlanjur mengiyakan permintaan Tuan dan Nyonya Pramudya. Mereka orang yang sudah menyelamatkan nyawa kita."
"Apa?" Kedua mata Alesha terbelalak kaget.
"M-Maksud Mama apa?"
Sama seperti yang Alesha lakukan tadi, sang mama pun menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan semuanya. "Tuan dan Nyonya Pramudya yang dulu membawa Mama ke rumah sakit saat kecelakaan terjadi, yang mengharuskan kamu dilahirkan lebih cepat karena benturan yang mengenai perut mama, Nak. Berkat kebaikan mereka kamu bisa dilahirkan dengan selamat...."
Tubuh Alesha melemah seketika. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk membatalkan acara sepihak yang disiapkan Jonas. Kehancurannya tinggal menunggu waktu. Cepat atau lambat, pasti akan terjadi.
"Ya Tuhan, kesalahan apa yang aku lakukan ke kamu, Jonas ... sampai kamu ingin menghancurkan aku seperti ini?" Alesha meracau lemah setelah lelah menangis di kamarnya menjelang dini hari ini, beberapa jam sebelum acara pernikahan dilakukan.
"Tuhan, tolong...." Suara Alesha semakin melemah dan pada akhirnya jatuh pingsan.