
Ringkasan
Jonas Alex Pramudya melakukan kesalahan besar yang membuat seorang gadis mengalami trauma sepanjang hidupnya. Penyesalan datang karena suatu kejadian dan sebagai penebusan dosa, Jonas berjanji untuk menjaga dan memberikan kebahagiaan seutuhnya untuk gadis itu. Hingga ia rela bertaruh nyawa untuk menjaga wanita yang secara otomatis ia klaim sebagai miliknya. Dengan paksaan dan tipuan, Jonas akhirnya berhasil menikahi seorang Alesha Astari Wicaksana. Bukan untuk niat jahat, melainkan karena ingin mewujudkan niatnya membahagiakan Alesha, namun sayang niat baiknya justru semakin membuat kebencian Alesha semakin besar. Tak mudah untuk Jonas dalam menaklukkan hati wanita yang sangat membencinya hingga jatuh hati padanya. Di hari pertama menjadi seorang suami, ia sudah dihadapkan dengan ancaman Alesha yang ingin mengakhiri hidupnya. Jonas yang khawatir serta panik pada akhirnya mencetuskan ide untuk membuat perjanjian nikah kontrak.
1. Mimpi Buruk
"Aarrgggghhh!" Alesha terperanjat dari posisi tidurnya, jadi terduduk. Napasnya terengah. Detak jantungnya tak beraturan. Keringat dingin pun membasahi sebagian wajah gadis cantik berkulit putih bersih tersebut.
"Ya Tuhan, mimpi itu lagi," ucapnya lirih seraya mengusap pelan dadanya. Kemudian punggung tangannya menyeka keringat dingin yang mengalir di dahinya.
"Ck cowok sialan! Sampai kapan kamu berhenti menghantui hidup aku. Brengsek!" Alesha menggeram penuh emosi.
Satu tangannya mengepal kuat, meremas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, sementara tangan satunya masih mengusap-usap pelan dadanya. Berusaha menenangkan detak jantungnya yang terus menggila.
"Aku benci kamu, Jonas Pramudya! Aku sangat benci kamu! Mati saja kamu!" Alesha berteriak lantang, meluapkan emosinya.
"Lihat saja, suatu saat aku akan balas perlakuan jahat kamu ke aku!" tekad Alesha sungguh-sungguh.
Efek dari mimpi buruk yang dialami, membuat suasana hati Alesha tak cukup baik. Kepalanya juga mendadak pening. Ingin berbaring saja di atas ranjang tidurnya yang nyaman, tapi tidak bisa. Ia harus datang ke cafe.
Bukan untuk bekerja karena cafe itu usaha miliknya. Ia datang hanya untuk menggantikan kasir yang izin berangkat siang karena ada urusan penting. Jadi mau tak mau ia harus menggantikan peran pekerjanya sementara waktu. Karena memang kasir di cafe miliknya ada dua saja. Yang satu bertugas pagi sampai sore dan satunya melanjutkan hingga malam hari. Sampai cafe tutup, tepat pukul 23.00.
Dengan malas Alesha beranjak untuk bersiap-siap. Karena kedatangannya untuk menggantikan pekerjanya, ia mengenakan seragam kerja. Seperti karyawan lain.
Dan disela waktunya itu, ia menyempatkan menerima panggilan telepon yang terus berdering di ponselnya.
"Iya, halo, Mama!" sapanya begitu telepon tersambung.
"Tumben lesu sekali suara kamu, Sayang? Apa kamu sedang tidak dalam suasana hati yang baik? Kenapa? Ayo cerita sama mama, Nak!" bujuk suara dari sambungan telepon yang Alesha panggil "mama" tersebut begitu mendengar suara Alesha tak seceria biasanya.
"Hm, sedikit tidak enak badan--"
"Eh, kamu sakit, Sayang? Cepat pulang ke rumah biar nanti diperiksa dokter keluarga kita!" seru mama Alesha ini memutus kalimat Alesha. Terdengar panik.
Alesha berdecak pelan, lalu menghela napas panjang. "Cuma pusing aja kok, Ma. Kurang tidur aja aku."
Sungguh tak ada niatan Alesha untuk berbohong, ia seperti itu karena memang harus menenangkan hati sang mama yang mudah khawatir jika menyangkut masalah kesehatan dirinya. Biar ia sendiri yang rasakan rasa tidak nyaman ini, daripada melihat kekhawatiran mamanya.
"Huh, kamu ini terlalu bekerja keras di cafe. Pulang malam terus, jadi kelelahan kan sekarang?" omel wanita paruh baya itu tidak suka.
Alesha terkekeh pelan. "Mumpung masih muda, Ma. Memang harus bekerja keras, Mama sejak muda juga begitu, iya kan?"
Terdengar helaan napas panjang dari ujung sambungan. "Susah payah Mama dari muda kerja keras mengelola perusahaan keluarga, biar kamu bisa menikmati semuanya dengan bahagia. Eh kamunya malah milih buka usaha sendiri dari nol. Harusnya kamu bergabung ke perusahaan dan menempati posisi yang tinggi di perusahaan!"
"Hm, jangan mulai lagi, Ma. Kan waktu itu Mama sudah setuju sama keputusan aku untuk membangun bisnis aku sendiri. Kenapa sekarang berubah pikiran sih?" Ganti Alesha yang protes.
Desahan kasar kembali terdengar dari ujung sambungan telepon. "Huh, bukan begitu, Sayang. Mama cuma enggak tega kamu terlalu sibuk di cafe sampai waktu istirahat kamu berkurang. Lagi pula, selalu pulang malam juga bahaya, bikin Mama selalu khawatir dengan keselamatan kamu. Kamu itu perempuan dan anak Mama satu-satunya, Sayang!"
"Iya-iya, maaf Ma. Aku janji sama Mama akan lebih hati-hati dan menjaga kesehatan. Mama enggak perlu khawatir lagi ya?" Memaklumi perasaan sang mama, Alesha berusaha menenangkan wanita yang telah melahirkannya tersebut.
Memang tidak ada yang salah dengan yang dikhawatirkan ibu Alesha. Sebagai anak tunggal orang tuanya, Alesha maklum dengan yang ditakutkan mamanya. Pilihan hidup yang ia pilih memang cukup beresiko.
Ia kerap pulang malam dari cafe. Ia juga sekarang tinggal seorang diri di rumah minimalis yang dibeli hasil kerja kerasnya membuka cafe selama ini, ditambah uang bulanan dari kedua orang tuanya.
Cafe sudah berjalan sejak ia lulus dari sekolah menengah atas. Dengan bermodal uang tabungannya, ia membuka cafe kecil-kecilan. Ia mengelola seraya meneruskan pendidikan di bangku kuliah. Ia menolak tawaran mama dan papanya yang sudah menawarkan bisnis masing-masing untuk Alesha kelola. Alesha tak mau cara instan. Alesha ingin berusaha sendiri.
Alesha orang yang tertutup, ia tak terlalu suka keramaian, makanya memutuskan untuk tinggal menyendiri di rumah miliknya yang berada di salah satu kawasan elit. Sementara di rumah mewah keluarganya, ia seorang putri yang teramat dimanja. Apa pun yang ia inginkan, selalu dituruti dan diusahakan oleh mama atau nenek kakek yang sangat menyayanginya. Alesha jadi merasa kurang mandiri.
***
Sesaat setelah ia memarkir mobilnya di pelataran cafe, ia merasakan ada sesuatu hal yang mendadak membuatnya takut. Ada rasa tak enak, yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Tiba-tiba saja datangnya.
Ia juga mendadak terpikirkan mimpi buruk yang dialami pagi tadi, takut dipertemukan lagi dengan sosok Jonas Pramudya. Sosok yang hadir mengusik tidurnya hampir setiap malam.
Orang yang sangat tidak ingin Alesha jumpai lagi di sisa umurnya. Sosok yang memberikan pengaruh besar dalam perubahan hidup Alesha.
Butuh beberapa saat untuk Alesha menyiapkan diri sebelum turun dan masuk ke dalam cafe.
"Bismillah! Semoga semuanya baik-baik saja!" ucapnya lirih namun penuh penekanan. Dengan harapan bisa lebih tenang lagi setelah ini.
Rasa tak enak Alesha perlahan tapi pasti mulai terabaikan, ia sibuk di balik meja kasir. Bersyukur karena pengunjung cafe ramai seperti biasa, hingga perhatiannya teralihkan.
Alesha harus sering-sering menebar senyuman dengan disambung rangkaian ucapan terima kasih kepada para pengunjung, sumber uangnya. Sebagai salah satu upaya pelayanan terbaik yang ada di cafenya.
Cafe sejak awal buka memang selalu saja ramai. Tak pernah sepi. Alesha sebenarnya bingung. Ia merasa diberi kemudahan dalam menjalankan bisnisnya, seperti ada yang memberinya jalan untuk sukses. Terasa ada yang membantu langkahnya, tapi entah siapa.
Tanya pada keluarga, mereka bilang tidak ada yang ikut campur pada bisnis Alesha, termasuk kedua orang tuanya. Hingga pada akhirnya Alesha setuju saja dengan kata-kata sang mama jika ini memang buah dari kerja keras Alesha selama ini.
"Ehm-ehm!" Alesha merasa tenggorokannya tiba-tiba terasa gatal, maka ia menundukkan kepala untuk meraih masker kesehatan dari laci meja di bawahnya.
"Mbak, kita mau pesan!"
Alesha yang masih menunduk dikejutkan dengan suara pria yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya.
"Eh iya. Mau pesan apa...?" Kepala Alesha terangkat dan menatap lurus orang yang berdiri di hadapannya. Masker kesehatan yang diambilnya sudah terpasang sempurna menutup sebagian wajahnya. Tangannya terulur untuk memberikan buku menu.
"Apa yang ingin Anda pesan, Tuan?" Orang di depan Alesha ini bersuara, namun bukan tertuju untuk Alesha, melainkan pria yang berdiri di sampingnya.
"Menu terbaik di cafe ini!"
Seketika tubuh Alesha menegang. Suara ini tak asing untuknya. Dengan takut-takut, Alesha melayangkan pandangan ke arah wajah pria tersebut.
Kedua bola mata Alesha membeliak lebar. Hampir-hampir lepas dari tempatnya karena sangat terkejut. Tak menyangka dengan apa yang dilihatnya sekarang ini.
Dengan suara bergetar, Alesha menyahuti. "Ee i-ya, t-tunggu sebentar, kami s-siapkan! Du-duk dulu!"