Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Alesha, Ayo Kita Menikah!

Ada untungnya juga Alesha mengenakan masker kesehatan, hingga ia yakin tak akan dikenali oleh orang yang dipanggil "tuan" tersebut. Sungguh ia tak ingin lagi berjumpa dengan orang ini.

"Ya Tuhan, kenapa dia ada di sini?" Alesha berbisik pelan. Tangannya mengusap pelan dadanya, kedua matanya terarah menatap punggung lebar kedua pria berbadan tegap yang sedang berjalan ke arah dalam untuk memilih kursi yang akan ditempati.

Seketika ingatan Alesha kembali pada mimpi buruk yang mengusik tidurnya malam tadi. Pria itu pria yang sama yang ada di mimpinya. Jonas Pramudya.

"Enggak. Dia enggak boleh tau kalau aku ada di sini. Aku enggak mau berurusan lagi sama manusia jahat itu!"

Buru-buru Alesha meninggalkan meja kasir dan menyuruh karyawan yang lain untuk bertugas menggantikannya. Alesha bergegas pergi.

"Huh Jonas Pramudya, mau apa kamu datang ke cafe aku? Belum puas kamu bikin hidup aku menderita selama ini?" Alesha mengomel sendiri setelah duduk di belakang kemudi mobilnya.

Satu tangannya kembali ia letakkan di atas dada, merasakan degup jantungnya yang berdetak kencang seperti baru bertemu hantu. Ah salah, ini lebih menyeramkan dari hantu. Melihat Jonas sama seperti sedang melihat monster.

Pria itu akan selalu Alesha anggap jahat karena pelaku utama yang membuat hidupnya berubah drastis. "Kamu orang yang sudah tega membuat aku menderita karena sudah menculik aku. Kamu yang bikin aku selalu ketakutan setiap ketemu orang asing yang mencurigakan. Kamu jahat, Jonas!"

Ya, Alesha pernah mengalami penculikan ketika usianya beranjak 14 tahun, ketika pulang sekolah. Alesha juga mengalami pengancaman, yang sampai sekarang meninggalkan memori buruk dalam pikirannya.

"Huh, belum puas apa gara-gara dia hidup aku berantakan? Mau apa lagi sekarang dia muncul di depan aku? Mau bikin aku mati berdiri?"

"Jangan harap, kamu bisa menghancurkan aku lagi, Jonas. Aku yang sekarang bukan lagi Alesha yang lemah seperti 10 tahun lalu. Aku akan melawan kamu sampai titik darah penghabisan!" tekadnya kuat.

Alesha melajukan mobilnya pulang ke rumah. Tak ada lagi niatan untuk bekerja hari ini. Harinya kacau gara-gara Jonas yang merusak mood baiknya.

Alesha merebahkan tubuhnya yang memang sebenarnya sedang tidak enak badan dari bangun tidur tadi. Lagi-lagi, semua karena Jonas. Mimpi buruk dan sekarang ditambah bertemu langsung dengan pria itu. Double kill!

Seketika bayangan Jonas muncul dalam benak Alesha. Meski bertemu hanya beberapa detik saja, tapi nyatanya fisik Jonas yang masih menawan seperti 10 tahun lalu, mampu menarik atensi Alesha. Muka pria itu tak berubah sama sekali.

Tak munafik, Alesha mengakui keunggulan fisik pria itu yang tidak berubah. Jonas sekarang tampak semakin matang. Tubuh kekar, atletis, wajah rupawan. Dan jangan lupakan senyum tipis yang tercetak saat di hadapannya tadi sangat manis sekali.

"Bukannya aku ge-er, tapi kayaknya tadi dia senyum ke aku. Eh tapi apa hanya perasaan aku aja ya? Aku kan tadi pakai masker, pasti dia enggak mengenali aku!" Gumaman Alesha terhenti karena dering nyaring terdengar dari ponselnya.

"Iya, kenapa Ji?" Alesha menyapa seseorang di ujung panggilan telepon, sesaat setelah menggeser tanda hijau di layar ponselnya.

"Hm, sekarang? Enggak. Di rumah aja sih. Ya udah deh, aku ke sana sekarang. Aku juga lagi suntuk ini. Iya, bye!" Alesha menyahuti pertanyaan lawan bicaranya secara beruntun.

Melupakan pesona Jonas, Alesha meraih kunci mobilnya dan kembali melajukannya pergi. Kali ini ke tempat bertemu dengan temannya itu.

Usai memarkir mobil kesayangannya di basement, Alesha segera menemui sang teman yang menghubunginya tadi. Temannya sudah menunggu di lantai tiga, sebuah pusat perbelanjaan bertingkat delapan.

Menyusuri lantai tiga, kedua mata Alesha sibuk dengan ponsel di tangannya, hingga kurang fokus dengan keadaan sekitar. Perhatiannya teralih ketika tanpa sengaja ponsel di tangannya terjatuh karena bersenggolan dengan seseorang yang berjalan buru-buru.

"Ck ya ampun, minta maaf dulu kek, abis nabrak orang!" Alesha menggerutu geram karena orang yang menabraknya pergi begitu saja setelah membuat ponselnya terlempar ke lantai.

Alesha memungut sendiri ponselnya, mengeceknya sebentar lalu kembali melanjutkan jalan. Namun baru beberapa langkah, Alesha kembali berhenti.

Kedua bola matanya terbelalak lebar. Sempat terpaku beberapa detik, namun Alesha masih bisa bereaksi cepat dengan berbalik arah dan berlari pergi. Menjauh dari seseorang yang tengah berjalan dari lawan arah.

Seolah mengulang kejadian pagi tadi, sekarang Alesha kembali berlari cepat seperti sedang dikejar setan.

"Huh ya ampun, kok dia lagi sih?" Alesha berhenti di samping mobilnya dengan napas terengah.

"Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Sudah dua kali ketemu dia. Ck kenapa dia ada dimana-mana? Ya ampun Jonas Pramudya, maunya apa sih?" Alesha menggerutu protes.Menghindari bertemu musuh bebuyutan, Alesha memutuskan untuk pergi saja dari mall itu. Ia tak mau mengambil resiko bertemu apalagi sampai berinteraksi dengan musuh bebuyutannya.

Dalam perjalanan, Alesha menyempatkan diri berhenti sebentar untuk mengetik pesan pada sang teman. Buru-buru, Alesha membatalkan pertemuan mereka karena tak ingin temannya itu menunggu terlalu lama.

Dengan terpaksa Alesha membuat alasan palsu, karena bicara yang sejujurnya pun pasti teman baiknya itu tak akan percaya. Apalagi Alesha tak pernah menceritakan kejadian buruk yang berhubungan dengan Jonas beberapa tahun lalu pada siapapun.

Alesha menggigit bibirnya. Merasa bersalah sekali setelah pesan terkirim. "Maaf, Jihan... aku terpaksa bohong sama kamu."

Perasaannya sedikit lega setelah membaca balasan sang teman yang selalu bisa memaklumi kondisinya. Dan sering menyelipkan pesan penuh perhatian padanya.

Senyum Alesha tercetak lebar. "Thank you, Jihan! Kamu emang satu-satunya teman terbaik yang aku punya!"

Alesha bersyukur sekali punya teman seperti Jihan yang baik dan tulus berteman dengannya.

Pertemanan mereka sudah terjalin sejak awal masuk universitas 5 tahunan yang lalu.

Jihan adalah satu-satunya teman dekat yang ia punya. Jihan pula-lah yang sering ia repotkan untuk membantu saat kewalahan mengurus cafe disela sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Jihan benar-benar teman yang bisa diandalkan.

Setelah beberapa jam Alesha menenangkan diri dari dua kejadian tak terduga yang membuatnya syok, kini ia berniat untuk mengecek kembali kondisi cafe yang ia tinggalkan begitu saja pagi tadi. Maka ia langsung bergegas ke sana.

Yakin sekali, si manusia jahat alias Jonas pasti sudah tak ada lagi di sana, Alesha melajukan mobilnya dengan perasaan lebih baik. Alesha bersenandung kecil mengikuti irama musik yang ia putar.

Tiba di cafe, Alesha yakin semuanya akan baik-baik saja, ia menyelesaikan pekerjaannya di salah satu meja yang berada di paling ujung. Sampai tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan seseorang.

"Alesha…."

"Ya!" Mendengar namanya dipanggil reflek Alesha menyahut, pun dengan kepalanya yang tadi tertunduk jadi terangkat.

Melihat siapa pemilik suara yang baru saja memanggilnya dan sekarang sudah berjalan ke arahnya, kedua bola mata gadis 24 tahun itu terbeliak lebar. Ia juga bergerak cepat dengan berdiri dari duduknya.

"M-Mau apa kamu? Jangan mendekat!" Alesha tak bisa menutupi rasa terkejut sekaligus ketakutannya. Ia melangkah mundur dan bersikap waspada.

Melihat ketakutan Alesha, pria bertubuh tegap serta tinggi itu berhenti berjalan. Lalu menatap dalam kedua bola mata Alesha. "Alesha, ayo kita menikah!"
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel