Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Universitas Yazart

Saat tiba di parkiran, pandangan Brian langsung terfokus pada sebuah mobil yang ditutupi oleh terpal hitam.

“Apakah itu?” gumam Brian Won tanpa sadar.

Janang mengangguk lembut lalu berjalan ke depan mobil yang ditutupi terpal tersebut.

Klibat!

Janang menarik terpal itu, dan sebuah Lamborghini Aventador berwarna hitam langsung muncul di depan mata mereka.

“...” Brian terdiam.

“Tuan Brian, mobil ini termasuk salah satu mobil langka. Hanya ada lima unit di dunia ini, dan ini juga merupakan mobil favorit almarhum Tuan Kecil,” jelas Janang dengan nada serius.

“Apa aku benar-benar harus menggunakan mobil ini? Aku rasa mobil itu jauh lebih baik,” jawab Brian Won sambil menunjuk ke arah mobil Supra yang harganya hanya beberapa ratus ribu.

“...” Janang terdiam.

Ia menatap Brian dengan tatapan aneh lalu berkata, “Tuan Brian, mobil itu khusus bagi pelayan seperti saya. Tuan Besar telah mengharamkan penghuni rumah ini memakai mobil murah seperti itu.”

“...

Baiklah, kalau begitu aku akan mengendarainya menuju Universitas Yazart,” ucap Brian Won dengan nada tak berdaya.

Janang tersenyum puas lalu mengeluarkan sebuah remote dari sakunya.

Klik!

Dengan sekali tekan, pintu garasi terbuka secara otomatis dan perlahan memperlihatkan cuaca di luar yang sedang cerah.

Brian Won menaiki Lamborghini Aventador itu dan mulai menyalakan mesinnya beberapa saat kemudian.

Brom! Brom!

Suara mesin Lamborghini Aventador terdengar sangat dalam dan menghentak telinga.

Namun Brian tidak menyadarinya karena ia berada di dalam mobil tersebut.

Brom!

Setelah beberapa saat memanaskan mesin, Brian Won langsung menginjak gas dan mengendarai Lamborghini itu keluar dari parkiran rumah keluarga Wan.

.....

Mobil Lamborghini melaju di jalanan kompleks secepat angin. Orang-orang yang melihat kemunculan Lamborghini Aventador itu merasa terkejut dan tak lupa mengabadikan momen tersebut.

Sementara itu, Brian Won di dalam mobil terlihat tenang sambil mengamati dekorasi interior dengan ekspresi rumit.

Begitu melihat gantungan kunci bertuliskan Fang Xue, Brian Won kembali teringat percakapannya dengan Wan Juna saat itu.

Wan Juna pernah curhat bahwa ia sangat menyukai Fang Xue, seorang bintang hiburan lini pertama di Negara Naga.

Saat itu Brian Won cukup terkejut sekaligus merasa aneh.

Soalnya, Wan Juna saat itu sedang menjalin hubungan dekat dengan seorang perempuan satu angkatan di sekolah militer. Brian mengira Wan Juna menyukai perempuan tersebut, namun ternyata dugaannya salah.

Karena hubungan mereka yang sangat akrab, Wan Juna sering mencurahkan segala macam kejadian di sekitarnya kepada Brian.

Terutama soal urusan wanita. Pernah suatu kali, obrolan mereka bocor dan terdengar oleh perempuan satu angkatan itu.

Saat itu terjadi banyak hal yang membuat Brian Won bingung, apakah harus tertawa atau menangis saat mengingatnya.

“Banyak hal telah terjadi selama ini, Juna. Kamu bisa tenang beristirahat di alam sana. Aku pastikan Vivian dan orang tuamu aman di sekitarku.

Meskipun kamu berpesan agar aku tidak membalas dendam, maaf, aku tidak bisa menahannya.

Jika aku memiliki kesempatan di masa depan, aku akan membongkar seluruh fakta dari kejadian saat itu. Aku akan memastikan orang-orang jahat itu mendapatkan balasan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan,” ucap Brian Won dengan nada dingin.

Universitas Yazart.

Brom! Brom!

Begitu Lamborghini Aventador hitam memasuki area universitas, kedatangannya langsung menarik perhatian semua orang dan membuat puluhan mahasiswa serta mahasiswi bergegas mendekat untuk melihatnya dari dekat.

Brian Won membawa mobil itu ke area parkir universitas dan langsung memarkirkannya saat melihat tempat kosong.

“Baiklah, waktunya melapor terlebih dahulu...” gumam Brian Won pelan setelah keluar dari mobil.

Brian Won berkeliling area Universitas Yazart untuk mencari seseorang bernama Wu Yun. Orang itu adalah salah satu dosen yang bertanggung jawab atas mahasiswa baru atau mahasiswa pendatang sepertinya.

Setelah bertanya kepada beberapa mahasiswi yang ia temui, akhirnya Brian Won tiba di depan ruangan milik Wu Yun.

Saat Brian Won hendak mengetuk pintu, ia tiba-tiba membeku dan menatap pintu di depannya dengan ekspresi aneh.

“Suara ini... Apa aku tidak salah datang ke tempat ini?” gumam Brian Won ragu.

Brian Won menghentikan seorang mahasiswi yang lewat dan bertanya, “Permisi, Nona. Apakah ini benar-benar ruangan dosen Wu Yun?”

Mahasiswi itu terkejut, wajahnya memerah, lalu mengangguk dengan ekspresi malu-malu.

“Itu benar, Tampan. Ruangan ini memang milik dosen Wu Yun,” jawab mahasiswi itu dengan nada menggoda.

“...” Brian Won terdiam.

Ia mengangguk pelan dan berkata, “Terima kasih sudah mau menjawab.”

“Sama-sama. Ngomong-ngomong, apakah si tampan ini mahasiswa baru? Sepertinya baru kali ini aku melihatmu,” tanya mahasiswi itu ragu.

“...” Brian Won mengangguk tanpa sadar.

“Kalau begitu, apakah kamu mau bertukar nomor telepon denganku?” kata mahasiswi itu sambil mengayunkan ponselnya beberapa kali.

“Maaf, ponselku baru saja jatuh di jalan, jadi aku tidak memiliki nomor telepon saat ini,” ucap Brian Won dengan nada menyesal.

Aktingnya sangat meyakinkan hingga membuat mahasiswi itu langsung percaya.

“Begitu... sayang sekali,” ucap mahasiswi itu kecewa.

“Kalau begitu sampai jumpa, aku harus segera melapor pada dosen Wu Yun,” kata Brian Won cepat.

Ia berjalan pergi dan membuka pintu ruangan dosen Wu Yun tanpa ragu.

Mahasiswi itu masih ingin berbicara, namun tidak sempat melakukannya karena Brian Won sudah pergi.

.....

Begitu masuk ke dalam ruangan, Brian Won melihat ada dua orang di dalam.

Satu adalah pria paruh baya, sementara yang satunya lagi seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh satu tahun.

Wajah gadis muda itu memerah, dan pakaiannya terlihat sedikit kacau.

“Kamu siapa?” tanya pria paruh baya itu, Wu Yun, dengan suara berat.

Dari ekspresi wajahnya, terlihat jelas bahwa ia sedang kesal terhadap Brian Won.

“He he he, sepertinya Tuan Wu Yun sedang sibuk. Apa saya harus kembali lagi nanti?” tanya Brian Won dengan nada main-main.

“Tidak! Tunggu dulu, jawab siapa namamu,” balas Wu Yun dengan nada serius.

“Brian, namaku Brian Won!” ucap Brian santai.

“Apa?! Brian Won?!” Wu Yun berteriak kaget.

Ekspresi buruknya menghilang dan berganti dengan senyum antusias.

“Jadi Anda Tuan Brian? Saya sudah menunggu kedatangan Tuan sejak kemarin. Silakan duduk, Tuan Brian. Tuan tidak perlu merasa sungkan,” ucap Wu Yun penuh semangat.

“...” Brian Won duduk di sofa tanpa berkata apa-apa.

“Lina, cepat ambilkan minum untuk Tuan Brian! Jangan sampai Tuan Brian merasa haus dan tidak nyaman,” kata Wu Yun cepat.

Gadis muda bernama Lina itu mengangguk ragu. Ia tampak penasaran dengan sosok Brian, namun tidak berani bertanya.

Lina pun pergi mengambilkan minuman.

Brian menatap kepergian Lina lalu melirik Wu Yun dengan ekspresi menggoda.

“Dia gadis yang cantik. Pasti nyaman melakukan itu bersamanya,” ucap Brian dengan nada bercanda.

Wajah Wu Yun memerah. “A-Apa maksud Tuan Brian? Kenapa saya tidak memahaminya?” tanyanya polos.

“He he, sudah, jangan membicarakan hal tidak berguna lagi. Tuan Wu Yun, ini surat rekomendasi milik saya. Tolong baca dengan teliti dan selesaikan urusan ini secepatnya,” ucap Brian Won datar.

“Baik, Tuan Brian.” Wu Yun menerima dokumen itu lalu duduk dan mulai membacanya.

Baru beberapa baris dibaca, pikirannya sudah kacau.

Ini aneh. Kenapa Tuan Brian bisa tahu apa yang sedang aku lakukan bersama Lina? Setahuku ruangan ini didesain kedap suara. Bagaimana mungkin Tuan Brian mengetahuinya?

Wu Yun tidak tahu bahwa Brian bukanlah orang biasa. Jangankan hanya menguping suara dari ruangan kedap suara, jika Brian benar-benar memfokuskan diri, ia bahkan bisa mendengar suara jarum jatuh dari jarak puluhan meter.

---

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel