Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Janang

Mobil Li Juan terus melaju dengan santai di dalam kompleks rumah mewah.

“Rumah-rumahnya bagus. Pasti harganya sangat mahal,” puji Brian Won sambil melihat barisan rumah mewah di sisi jalan.

“Komandan Won, rumah-rumah itu masih tergolong biasa di kompleks ini. Jika Komandan Won tidak percaya, tunggu saja sampai kita tiba di rumah besar keluarga Wan,” jelas Li Juan dengan nada serius.

“Hem, benarkah?” tanya Brian Won dengan ekspresi penasaran.

“Tentu saja,” balas Li Juan singkat namun tegas.

“Hem… kalau begitu aku jadi sedikit menantikannya,” ucap Brian Won dengan nada datar.

Li Juan kembali memacu mobilnya agar melaju lebih cepat di jalan kompleks. Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Li Juan tiba di ujung kompleks, dan Brian Won sudah dapat melihat sebuah bangunan super mewah dari kejauhan.

“…”

Jadi seperti ini penampakan rumah keluarga Wan. Pantas saja dulu dia memiliki sifat manja. Kehidupannya sebelum masuk tentara pasti sangat dimanjakan, gumam Brian Won dalam hati sambil mengingat kembali sosok temannya yang telah meninggal.

“Bagaimana, Komandan Won? Rumah keluarga Wan sangat mewah, bukan?” tanya Li Juan dengan senyum main-main.

“Ya, aku cukup terkejut. Sejujurnya, rumah ini bahkan lebih mewah daripada rumah kepresidenan negara super power itu,” jawab Brian Won dengan nada santai.

Namun Li Juan justru sedikit terkejut. Hem, dengan kemampuan Komandan Won, tidak mengherankan jika dia bisa masuk ke rumah kepresidenan negara itu, pikir Li Juan dengan perasaan ngeri.

Mobil berhenti tepat di depan rumah besar keluarga Wan. Brian Won keluar dari mobil dengan wajah datar.

Ia mengambil barang-barangnya lalu berkata kepada Li Juan, “Terima kasih. Jika suatu saat kamu membutuhkan bantuanku, jangan ragu untuk memanggilku.”

“Terima kasih, Komandan Won. Saya pamit kembali sekarang,” jawab Li Juan dengan nada penuh syukur.

Brian Won mengangguk pelan. Li Juan memutar balik mobilnya dan melaju pergi dengan kecepatan sedang.

“Hah… perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya sampai juga,” gumam Brian sambil menghela napas lega.

Pintu rumah terbuka, dan seorang pelayan lelaki tua—seorang butler—muncul sambil sedikit membungkukkan badan.

“Apakah Anda Tuan Brian Won?” tanya butler tua itu dengan sopan.

“Benar,” jawab Brian Won dengan nada datar.

“Nama saya Janang. Saya adalah kepala pelayan di rumah besar keluarga Wan ini,” jelasnya dengan penuh hormat.

“…” Brian Won hanya mengangguk dengan ekspresi serius.

“Mari, Tuan Brian. Saya akan mengantar Anda ke kamar,” ucap Janang sopan.

“Baik, mohon bantuannya,” balas Brian Won sambil mengangguk sekali.

Janang kemudian memanggil pelayan lain untuk membantu membawa barang bawaan Brian Won.

“Janang, dari mana kamu tahu kalau aku akan datang ke sini?” tanya Brian Won ragu saat mereka berjalan menuju kamar.

“Itu Tuan Besar dan Nyonya Besar yang memberi tahu saya. Mereka mengatakan bahwa Tuan Brian datang kemari untuk menjadi pengawal Nona Kecil,” jelas Janang.

“Hem… apa mereka tidak mengatakan hal lain kepadamu?” tanya Brian Won kembali dengan ekspresi penasaran.

“…” Janang terdiam.

“Sepertinya ada. Kamu boleh menceritakannya jika mau. Jika tidak, tidak apa-apa,” ucap Brian Won santai.

“…”

“Sebenarnya saya juga diberi tahu bahwa Tuan Brian merupakan anggota pasukan khusus inti. Saya memiliki sedikit pengetahuan tentang pasukan khusus Negara Naga. Karena itu saya ragu untuk menyampaikannya, takut menyinggung perasaan Tuan Brian,” jelas Janang dengan nada serius.

“Hehe… ternyata kamu cukup tahu. Jangan khawatir, selama kamu tidak menyinggung hal-hal sensitif, aku tidak akan tersinggung,” ujar Brian Won santai.

Janang mengangguk. “Terima kasih atas pengertiannya. Saya berjanji tidak akan membicarakan hal sensitif yang bisa memicu kemarahan Tuan Brian.”

Brian Won mengangkat bahu.

“Masih lama sampai ke kamarku?”

“Hampir sampai. Mohon bersabar sebentar,” jawab Janang santun.

“Hah, punya rumah besar seperti ini terkadang malah merepotkan penghuninya sendiri,” gumam Brian Won kesal.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan pintu kamar Brian Won.

Brian melirik pintu di sebelahnya. “Apakah itu kamar Nona Kecil?”

Janang mengangguk.

“Kamar ini telah dipesan oleh Tuan Besar untuk Anda. Semoga Tuan Brian merasa nyaman tinggal di sini.”

Brian Won mengangguk lalu bertanya lagi, “Di mana Nona Kecil sekarang? Kenapa aku tidak merasakan keberadaannya?”

“…” Janang membeku sesaat sebelum menjawab,

“Nona Kecil belum kembali. Saat ini beliau masih berada di kampus.”

“Begitu,” ujar Brian Won sambil mengangguk.

Ia membuka pintu kamar dengan kunci yang diberikan Janang. Begitu masuk, Brian Won langsung membeku.

Ia tersenyum pahit dan bergumam, “Kamar ini terlalu mewah untukku. Apa aku boleh menggantinya?”

“Maaf, Tuan Brian. Permintaan itu sepertinya mustahil,” jawab Janang menyesal.

“Begitu… baiklah. Kamu bisa keluar sekarang. Aku akan berganti pakaian.”

Janang mengangguk dan berjalan menuju pintu, tetapi tiba-tiba berhenti lalu berbalik.

“Apa?” tanya Brian Won.

Janang merogoh sakunya, mengambil sebuah dokumen, lalu menyerahkannya.

Brian membaca sekilas.

“Hem, ini surat rekomendasi?”

“Benar. Tuan Besar berharap Tuan Brian dapat melindungi Nona Kecil saat berada di universitas. Soal biaya, semuanya telah diurus,” jelas Janang.

“Ini cukup mempermudah pekerjaanku. Baiklah, aku akan pergi ke universitas setelah berganti pakaian,” ujar Brian Won santai.

Janang mengangguk dan keluar.

…..

Beberapa saat kemudian, Brian Won selesai berganti pakaian. Ia mengenakan kaus hitam lengan pendek dan celana chino pendek.

Saat keluar kamar, ia melihat Janang yang ternyata sudah menunggunya.

“Ada apa lagi?” tanya Brian Won dengan ekspresi aneh.

Entah mengapa, ia merasa sedikit tidak nyaman dengan butler yang satu ini.

“Saya hampir lupa. Ini kunci mobil yang dititipkan kepada saya. Tuan Besar berpesan agar Tuan Brian menggunakan mobil milik almarhum Tuan Kecil,” jelas Janang sambil menyodorkan kunci mobil Lamborghini.

Brian Won tertegun. Ia menatap kunci itu sejenak lalu menggeleng.

“Tidak perlu. Aku akan naik kendaraan umum saja.”

“Tidak bisa, Tuan Brian. Itu perintah Tuan Besar. Perintah tersebut tidak boleh dilanggar, baik oleh saya maupun Tuan Brian,” kata Janang tegas.

“Memangnya kenapa?” tanya Brian Won ragu.

“Bagi Tuan Brian mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Namun bagi saya, akan ada hukuman berat yang menanti,” jawab Janang dengan ekspresi sedih.

“…” Brian Won terdiam.

Akhirnya, ia mengambil kunci mobil dari tangan Janang dan berjalan menuju area parkir di bawah arahan Janang.

---

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel