Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

7 Berusaha Membuat Nyaman

Hasan menelpon ditempat kampus yang jarang orang datang ke tempat yang paling ujung itu,"hallo."ucap Nina saat mengangkat telpon dari yang menelpon nya.

"Hallo bu, saya pengen ibu menjauhi laki laki yang mendekati Aisyah."ucapnya Pada Nina dengan serius.

"Lelaki ."ucap Nina sambil terheran heran saat mendengar ucapan Hasan.

"Saya sudah bilang beberapa kali bahwa Aisyah tidak pernah punya temen deket pria."jelas Nina pada Hasan.

"Tapi saya sekarang saya sekarang pindah kuliah, saya kuliah bersama putri ibu, saya tidak mau tahu. Ibu harus tepati omongan ibu. Bahwa ibu ingin menjadikan saya menantu,

dan ibu harus menjauhi lelaki itu dari Aisyah."decak Hasan pada Nina sambil memutuskan telponnya.

"Iya nak Hasan."sahut Nina tapi tak terdengar oleh Hasan karena sebelum menjawab obrolan Hasan sambungan telpon itu diputuskan terlebih dahulu.

"Jadi Hasan punya saingan."gumam Nina.

Hasan pun tersenyum menyeringai sesaat mematikan telponnya,"kamu tidak bisa menjauh dariku, karena aku punya alat untuk membuatmu selalu berada genggamanku."monolog dalam Hati Hasan sambil menyimpan handphone disaku nya.

"Padahal kamu tuh masih kelihatan cantik Aisyah."seru Arya pada Aisyah yang memakai bedak di mukanya.

"Kelihatan luntur."timpal Aisyah pada Arya sambil mengoleskan lipstik ke bibirnya dengan warna orange peach.

Sedangkan Aisyah dan Arya sedang berada didalam kelas,"sekarang kamu terlihat begitu cantik Aisyah."puji Arya sambil tersenyum tipis.

"Makasih Arya."ucap Aisyah sambil memasukkan alat kosmetik nya kedalam tas make up dan tas make up itu ke tas yang dia pakai untuk ke kampusnya.

"Sama - sama."jawab Arya dengan tersenyum tipis.

Hasan sudah merasa lega,

sudah menelpon Nina untuk menjauhi lelaki saingan nya untuk mendapatkan Aisyah. Hasan kembali ke kelas dengan membawa kantong plastik berwarna hitam, Arya melirik ke arah Hasan dengan tatapan sinis. Sedangkan Aisyah sendiri tidak memperhatikan Hasan, Hasan duduk di bangkunya,"Syah, nih buat kamu."sambil menggeserkan kantong plastik itu ke depan Aisyah.

"Ini buat Aku, San."celetuk Aisyah sambil mata terbuka lebar karena telah membuka kantong plastik itu yang isinya makanan yang disukai banyak para cewek.

"Makasih yah."Ucap Aisyah lagi dengan menoleh ke Hasan yang berada di samping dengan tersenyum ceria.

"Cuma buat Aisyah ajah nih,

gua gak dibagi."kata Arya dengan tersenyum sinis.

"Beli aja sendiri."ucap Hasan dengan tertawa meledek.

"Gue juga bisa kok beliin makanan yang lebih banyak dari itu."ucap Arya dengan sinis lalu kembali ke tempat bang ku nya dengan penuh emosi dan tangan yang mengepal.

"Buktikan jangan ngomong aja yah."ucap Hasan dengan menoleh ke Arya sambil Memberi jempol kebalik.

"Aku bakal kok beliin makanan sebanyak mungkin."sahut Arya dengan sinis dengan tatapan yang mau terkam mangsa.

"Kalian ini kok malah mau bertengkar, jadi makanan ini gak jadi aku terima deh, San."kata Aisyah sambil memberikan kantong plastik itu.

"Kok gitu sih Syah, kan kamu udah mau nerima. Kok dikembalikan lagi sih."ucap Hasan dengan nada kecewa.

"Makannya jangan pada ribut mulu, malah saingan lagi untuk mendapatkan perhatian ku,"decak Aisyah pada Hasan dan Arya.

"Dia aja yang lebay, gak terima karena aku bisa beliin makanan yang banyak juga enak enak,"umpat Hasan pada Arya.

"Sosoan perhatian, alay banget ih."ucap Arya sambil bergidik geli.

"Shuutt."umpat Aisyah.

"Bisa diem gak sih."kata Aisyah dengan agak suara keras.

Arya Dan juga Hasan diam tak bersuara lagi. Waktu untuk belajar pun dimulai, semua mahasiswa dan mahasiswi pun berjalan masuk ke ruangan dan dosen pun masuk untuk mengajar. Hasan pun diam diam memasuki kan kantong plastik yang terdapat banyak makanan, sesaat tiba dirumah Nina duduk diruang tamu sambil memasang muka penuh kesal.

"Aisyah, lelaki yang sering bersama mu siapa ,"tanya Nina dengan nada yang keras dan terdengar sangat menakutkan bagi Aisyah yang mendengar nya.

"Lelaki yang selalu bersama ku,"lirih Aisyah sambil memandang ke ibunya penuh ketakutan.

"Iya siapa , "tanya Nina masih ingin mengetahui Siapa lelaki yang dimaksud Hasan.

Aisyah menghela nafasnya sambil menutup kedua matanya setelah itu dia berjalan untuk duduk disamping ibunya,"aku tidak pernah punya pacar bu, aku cuma punya teman dekat saja."jawab Aisyah dengan gugup tapi terdengar jelas oleh Nina.

"Siapa namanya Aisyah, dan kamu tahu dia berasal dari mana , apakah dia anak orang kaya juga sama seperti Hasan."ucap Nina dengan suara keras dan menatap dengan tajam sang anak.

"Dia Arya bu, dia satu jurusan sama aku, dan dia orang nya asik dan baik."kata Aisyah mengenalkan Arya.

"Gak peduli dia baik, ganteng, asik, keren. Kalau gak kaya mah percuma, gak akan ibu berikan restu."ucap Nina dengan sinis sambil membuang muka.

"Kalau soal materi bisa dicari bu,

tapi hati Aisyah lebih memilih pria yang seperti Arya dibandingkan Hasan. Entah kenapa hati Aisyah lebih sreg ke Arya."celetuk Aisyah dengan spontan saat mendengar ucapan Nina.

"Ibu pengen sementara kamu ini jaga jarak sama si Arya."perintah Nina pada Aisyah.

"Ibu, Arya itu baik banget.

Aku kayaknya gak bisa jauhin dia."ucap Aisyah dengan nada serius setelah itu langsung berjalan ke kamar.

"Aisyah pokoknya ibu pengen kamu jauhin Arya."teriak Nina pada Aisyah yang membuat aisyah menghentikan langkah kaki.

Aisyah pun menoleh ke Nina yang sedang mau menyalakan televisi. Dan memasang muka kesal terhadap ibunya selalu mengatur nya.

"Ibu jangan bilang yang memberi tahu ibu itu Hasan Pratama,

lalu dia menyuruh ibu untuk aku menjauhi Arya."ucap Aisyah dengan lantang.

"Oh rupanya kamu sudah menyadari siapa dalang yang menyuruh mu untuk menjauhi lelaki itu."ujar Nina dengan berdiri dari duduknya.

"Ibu, kenapa sih ibu lebih berpihak ke Hasan. Lagian ibu tahu sendiri aku tidak pernah menyukai Hasan sedikitpun."decak Aisyah pada Nina sambil membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkah nya untuk ke kamarnya.

"Karena Hasan itu anak orang kaya, ibu tidak mau kehilangan kesempatan untuk punya menantu kaya raya. Lagian ibu ini melakukan yang baik kok untuk kamu,jika kamu menikah dengan Hasan kehidupan kamu akan bahagia. Dan akan terjamin sekali, apapun keinginan yang kamu dambakan pasti akan semua terpenuhi. Kamu bisa tiap hari beli gamis yang mahal dan kerudung yang mahal. Dan penampilan kamu lebih memukau, pokoknya kamu nanti akan sangat terlihat cantik sekali karena outfit kamu harganya mahal mahal."teriak Nina pada Aisyah sambil memindahkan chanel ke chanel ke lain untuk memilih film yang bagus untuk dia tonton.

Sedangkan Aisyah yang masih mendengar perkataan Nina sangat merasa sedih,

karena Nina sangat terobsesi sekali untuk mempunyai menantu orang kaya.

Dan tidak memikirkan anaknya yang tidak suka pada Hasan.

Aisyah pun membuka tas nya,

karena mau mengeluarkan buku yang ditasnya untuk diganti ke buku yang lain.

"Ini kantong plastik kok ada disini."gumam Aisyah dengan heran.

"Ini kan makanan dari Hasan."celetuk Aisyah dengan saat saat membuka kantong plastik yang isinya makanan.

"Tapi makanan ini semuanya aku suka lagi,makan aja kali ya."gumam Aisyah lagi sambil memandang makanan yang masih dikantong plastik itu.

"Makan aja deh."monolog dalam hati Aisyah lalu dia mengeluarkan semua makanannya ke meja belajarnya.

Aisyah membuka kemasan Pocky, akhirnya dia memakan pocky nya.

"Enak banget."ucap Aisyah sambil mengunyah makanan tersebut sambil tersenyum ceria.

"Drrttt..Drttt."bunyi telpon berasal dari meja,

lalu Nina megambil handphone nya dan mengangkat nya.

"Ada apa lagi Nak. "ucap Nina dengan agak berbisik.

"Ibu lagi dimana sih." tanya Hasan heran dengan Nina yang berbicara berbisik.

"Itu ada Aisyah, takut dia denger telponan kamu dan saya."jawab Nina menjelaskan.

"Bu, saya mau memastikan yang saya suruh itu ibu kerjakan."ucap Hasan pada Nina.

"Tentu saja aku sudah membicarakan itu pada putri ku."kata Nina meyakinkan Hasan.

"Bagus."ucapnya lalu tertawa dengan merasa puas dengan apa yang dilakukan Nina atas perintah nya.

"Bu, pastikan Aisyah tidak chattan degan lelaki itu."ucap Hasan pada Nina.

"Ibu akan mengecek chat whatsapp nya , apakah Aisyah sering komunikasi bareng Arya."kata Nina pada Hasan.

"Percakapan kita cukup disini."ucap Hasan lalu mematikan telponnya.

Hasan pun menelpon Aisyah dengan video call. Aisyah yang sedang Asyik mengunyah makanan ringan pemberian Hasan pun langsung mengambil handphone yang bergetar disaku jaketnya.

"Hasan."ucap Aisyah saat melihat siapa pemilik penelpon nya tersebut.

"Angkat gak yah."ucap Aisyah dengan ragu.

"Angkat sajalah, nanti dia ngadu ke ibu kalau aku selalu tidak ramah ke dia."ucap Aisyah lalu mengangkat video call tersebut.

"Hallo Aisyah."ucap Hasan tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.

"Lagi makan yang aku kasih yah,

senangnya akhirnya kamu makan pemberian dari aku."ucap Hasan karena melihat Ada 2 makanan yang terbuka saat video call dan posisi Aisyah sedang mengunyah makanan.

"Sayang makanannya kalau gak dimakan itu saja sih alasannya."ucap Aisyah sambil menahan malu.

"Karena makanan pemberian aku itu banyak yang kamu suka kan."timpal Hasan sambil mengedipkan jarinya dan mengangkat alis satu keatas dengan so ganteng.

Aisyah menghela nafas lalu menggelengkan kepala karena Hasan selalu percaya diri sekali atas dirinya.

"Besok aku akan belikan sesuatu lagi yang lebih banyak dan mahal."ucap Hasan dengan penuh percaya diri.

"Ini juga sudah sangat banyak,

berbagai varian juga.Aku gak mungkin makan semuanya kali,

ya kali makanan sebanyak ini aku ke makan semua."ucap Aisyah dengan agak jutek.

"Yah gak papalah, biar kamu selalu ngemil tapi gak ngeluarin uang. Uang kamu kan bisa kamu tabungin, uang aku mah buat nelaktirin kamu terus."ucap Hasan setelah itu tersenyum genit.

"Terserah deh, makasih yah Hasan untuk makanan ringan nya."ucap Aisyah pada Hasan sambil tersenyum kaya dipaksa gitu.

"Senyum nya jangan kaku gitu,

ayo ulangi senyumnya."kata Hasan pada Aisyah.

"Nih."kata Aisyah lalu tersenyum sangat manis membuat Hasan dibikin terpesona saat Aisyah tersenyum pada dirinya.

"Hasan."ucap Aisyah saat melihat Hasan mematung saat melihat dia tersenyum.

"Hasan sekali, aku berterima kasih kamu ngasih makanan ke aku. Tapi kalau besok gak usah deh yah, aku gak mau kamu ngeluarin uang terus demi mendapatkan perhatian ku."ucap Aisyah pada Hasan sambil benerin kerudung nya.

Hasan sangat terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Aisyah sehingga dia terus memandangi sangat dalam.

"Hasan, kalau kamu tidak ada yang dibicarakan lagi. Lebih baik kita tutup saja video call nya."ucap Aisyah dengan tersenyum simpul.

"Yaudah, besok aku jemput kamu. Bye."ucap Hasan lalu mematikan telponnya.

"Hasan, aku kan bisa berangkat sendiri."ucap Aisyah tapi keburu dimatikan telpon nya oleh Hasan.

"Sial, dia udah memutuskan telpon nya."ucap Aisyah saat tau dimatikan telpon oleh Hasan.

Sedangkan Hasan sendiri tersenyum bahagia, karena Aisyah sudah mau videocall dengan nya dan juga memakan makanan pemberian nya. Arya merasa diikuti oleh seseorang,

Setiap gerak gerik nya diawasi oleh seseorang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel