Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1 Penguasa Bayangan

Matahari terbenam di Dubai selalu menjadi pertunjukan yang memukau. Dari lantai 80 Ardian Tower, Arka Ardian berdiri di depan jendela kaca raksasa, memandang kota yang berkilauan di bawah sinar jingga. Gedung-gedung menjulang langit menjulang seperti kristal emas, sementara suara keramaian-pikuk kota yang tak pernah tidur terdengar samar dari kejauhan.

Namun Arka tidak melihat keindahan itu. Yang ia lihat adalah wilayah—wilayah kekuasaannya yang membentang hingga mata memandang. Setiap lampu yang berkedip, setiap suara yang terdengar, semuanya adalah bagian dari kerajaan yang telah ia bangun selama sepuluh tahun terakhir.

"Tuan Ardian," suara Oliver, asisten pribadinya, memecah keheningan. "Laporan keuangan bulan ini sudah siap. Laba naik 15 persen dari kuartal sebelumnya."

Arka tidak berubah dari jendela. Mata yang berwarna kuning berkilau seperti mata predator yang sedang mengawasi mangsanya. “Bagaimana dengan proyek Al Hajar?”

"Izin konstruksi sudah turun. Pembangunan bisa dimulai minggu depan."

"Baiklah." Arka akhirnya berbalik, menampilkan wajah yang sempurna dengan rahang tegas dan senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Dan bagaimana dengan... urusan lainnya?"

Oliver mengerti maksudnya. Pria berusia 45 tahun itu sudah bekerja untuk Arka cukup lama untuk mengetahui bahwa bosnya bukan manusia biasa. "Klan Silver Claw masih menunggu keputusan Anda tentang wilayah di Marina District. Dan ada laporan aktivitas Hunter di sekitar Creek."

Rahang Arka membeku. Hunter—pemburu supernatural yang selalu menjadi duri dalam dagingnya. "Tingkatkan patroli. Pastikan tidak ada yang terluka."

"Sudah diurus, Alpha."

Kata 'Alpha' terdengar natural di bibir Oliver, meskipun ia adalah manusia. Sudah bertahun-tahun ia mengabdi pada raja serigala ini, dan loyalitasnya tidak pernah tergoyahkan.

Arka kembali memandang keluar jendela. Di suatu tempat di luar sana, di antara jutaan manusia yang berseliweran, ada seseorang yang bisa mengubah takdirnya. Seseorang dengan tanda lahir bintang yang berkilau perak di bawah sinar bulan purnama.

Medelin Sari.

Ia telah mencari gadis itu selama bertahun-tahun, mengikuti jejak ramalan kuno yang diwariskan nenek moyangnya. Seorang gadis bermata hijau dengan darah penyihir putih yang mengalir di nadinya, satu-satunya yang bisa membebaskannya dari kutukan yang mengikat.

"Sir," Oliver berdehem pelan. "Ada hal lain yang perlu Anda ketahui."

Arka menoleh, mengangkat alisnya.

"Kami menemukan dia."

Waktu seakan berhenti. Selama 35 tahun hidupnya, Arka telah menunggu saat ini. Lima tahun lagi, jika dia tidak menemukan cara untuk memecahkan kutukan, nyawanya akan berakhir di hari ulang tahunnya yang ke-40.

“Dimana?” suaranya terdengar serak.

"Universitas Dubai. Arsitektur, semester tiga. Nama lengkapnya Medelin Sari, berusia 22 tahun. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun yang lalu. Dia bekerja paruh waktu Fakultas di tiga tempat untuk membiayai kuliah."

Arka menerima peta yang diulurkan Oliver. Di sana, sebuah foto menunjukkan gadis cantik dengan mata hijau zamrud dan senyum yang memperlihatkan wajahnya meskipun terlihat lelah. Ada sesuatu dalam mata itu—kekuatan yang tersembunyi, keberanian yang belum ia sadari.

"Tanda lahirnya?" tanya Arka.

"Bintang di bahu kanan, tetap seperti dalam ramalan."

Napas Arka tertahan. Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya dia ditemukan. Gadis yang akan menjadi kunci kebebasannya, atau kehancurannya.

"Siapkan mobil," perintahnya. "Aku ingin bertemu dengannya."

“Sekarang, Pak? Ini sudah malam.”

Arka menatap Oliver dengan mata yang berkilau seperti emas cair. "Sekarang."

Sementara itu, di sebuah apartemen kecil di Deira, Medelin Sari duduk di depan meja belajar yang penuh dengan buku-buku arsitektur dan tumpukan tagihan yang belum terbayar. Lampu meja yang redup menerbitkan wajahnya yang pucat karena kelelahan.

Ia membuka amplop surat dari universitas yang terletak di ujung meja. Ultimatum terakhir untuk melunasi biaya kuliah atau menghadapi putus sekolah. Uang dari tiga pekerjaan paruh waktu-nya tidak cukup untuk menutupi biaya hidup dan kuliah sekaligus.

"Bagaimana ini?" gumamnya pada diri sendiri.

Angin malam yang berhembus dari jendela apartemen yang terbuka membawa aroma misterius—seperti hutan pinus dan sesuatu yang pembohong, primitif. Medelin menoleh ke jendela, merasa aneh karena Dubai adalah kota gurun, bukan hutan.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nomor yang tidak diketahui.

"Lingkaran cahaya?"

"Selamat malam, Nona Sari. Nama saya Arka Ardian. Saya ingin bertemu dengan Anda.”

Suara di ujung telepon terdengar dalam dan magnetik, dengan sedikit aksen yang tidak dapat dikenali. Ada sesuatu dalam suara itu yang membuat bulu kuduknya meremang.

"Maaf, siapa? Saya tidak mengenal Anda."

"Saya CEO Ardian Corporation. Saya memiliki tawaran yang mungkin menarik bagi Anda."

Medelin mengerutkan dahi. Ardian Corporation adalah salah satu perusahaan terbesar di Dubai. Kenapa CEO-nya menelepon mahasiswa biasa seperti dirinya?

"Tawaran apa?"

"Lebih baik kita berdiskusi secara langsung. Saya di lobi apartemen Anda sekarang."

Jantung Medelin berdetak kencang. "Kamu dimana?"

"Di bawah. Bisakah Anda turun? Atau jika Anda lebih nyaman, saya bisa naik."

Medelin menarik ke jendela dan mengintip ke bawah. Sebuah Rolls Royce hitam berkilau terparkir di depan gedung apartemennya yang kumuh. Sosok tinggi berdiri di bawahnya, wajahnya tidak terlihat jelas dalam kegelapan.

"Saya... saya tidak bisa bertemu dengan orang asing di tengah malam."

"Saya mengerti kekhawatiran Anda. Tapi percayalah, saya datang dengan niat baik. Saya tahu Anda sedang menghadapi masalah finansial untuk kuliah."

Medelin menjawab. Bagaimana orang asing ini mengetahui tentang masalah finansialnya?

"Lima menit," lanjut suara itu. "Berikan saya lima menit untuk menjelaskan. Setelah itu, keputusan ada di tangan Anda."

Medelin menatap surat ultimatum dari universitas. Masa depannya sebagai arsitek, impian untuk membangun gedung-gedung indah, semuanya terancam hancur karena uang. Apa yang bisa dia lakukan?

"Baiklah," akhirnya dia menjawab. "Lima menit."

"Terima kasih. Saya akan menunggu di lobi."

Medelin menutup telepon dan memindahkan jaket. Saat ia berjalan menuju pintu, sesuatu yang aneh terjadi. Tanda lahir di bahu situasi tiba-tiba terasa hangat, berdetak seperti jantung. Ia mengusapnya dengan bingung, tidak menyadari bahwa tanda lahir berbentuk bintang itu berkilau samar dalam gelap.

Di lobi, Arka menunggu dengan sabar. Insting serigalanya memberitahu bahwa gadis itu sedang mendekat. Aromanya—bunga melati bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam, lebih kuat—memenuhi hidungnya. Darah penyihir putih.

Saat lift terbuka dan Medelin melangkah keluar, waktu seakan berhenti. Gadis itu lebih cantik dari fotonya. Mata hijau zamrudnya bersinar dengan kecerdasan dan keberanian yang tersembunyi. Rambut cokelatnya bergelombang lembut hingga ke pinggang, dan meskipun mengenakan jeans lusuh dan jaket tipis, ia mencerminkan penampilan alami.

“Nona Sari,” Arka maju sambil mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah mau bertemu."

Medelin menatap pria di hadapannya dengan terpesona. Tinggi, tampan dengan cara yang hampir tidak manusiawi, dengan mata amber yang seolah bisa melihat langsung ke jiwa. Ada aura kekuasaan yang memancarkan dari dirinya, sesuatu yang primitif dan berbahaya.

“Tuan Ardian,” ia menjabat tangan yang diulurkan. Sentuhan itu seperti sengatan listrik yang mengalir ke seluruh tubuhnya.

Arka merasakan hal yang sama. Sentuhan gadis itu seperti api yang membakar dan menyembuhkan sekaligus. Ini dia—mate-nya, satu-satunya yang bisa menyelamatkannya dari kutukan.

"Kita bicara di mobil," katanya. "Lebih privat."

Medelin ragu-ragu, tapi mengikuti Arka ke Rolls Royce yang mewah. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah ini adalah keputusan yang bijak.

Saat mereka duduk di kursi belakang yang nyaman, Arka langsung masuk ke topik. "Saya tahu Anda memerlukan dana untuk melanjutkan kuliah."

"Bagaimana Anda—"

"Saya memiliki banyak sumber informasi." Arka mengambil sebuah cek dari sakunya. “Ini cukup untuk melunasi biaya kuliah Anda hingga lulus, ditambah biaya hidup yang layak.”

Medelin menatap cek itu dengan mata terbelalak. Jumlahnya lebih dari cukup untuk menyelesaikan kuliah dan hidup nyaman selama bertahun-tahun.

"Apa yang Anda inginkan sebagai gantinya?" tanyanya waspada.

Arka tersenyum, menampilkan gigi putih yang sempurna. "Menikah denganku."

Medelin hampir membuat penasaran. "Apa?"

"Pernikahan kontrak. Tiga tahun. Setelah itu, Anda bebas pergi dengan sejumlah uang yang cukup untuk memulai hidup baru."

"Anda gila."

"Saya sangat waras. Ini adalah proposal bisnis, bukan proposal cinta."

Medelin menatap pria di hadapannya dengan tidak percaya. "Kenapa saya? Anda bisa memilih wanita mana saja di dunia ini."

"Karena Anda istimewa, Medelin. Lebih istimewa dari yang Anda kira."

Ada sesuatu dalam cara dia mengucapkan namanya yang membuat jantung Medelin berdetak kencang. Suaranya terdengar seperti doa, seperti mantra.

"Saya butuh waktu untuk melakukan rekonstruksi."

"Tentu saja. Tapi jangan terlalu lama. Tawaran ini memiliki batas waktu."

Arka memberikan kartu namanya. "Hubungi saya dalam 48 jam. Keputusan ada di tangan Anda." Medelin keluar dari mobil dengan pikiran yang kacau. Ia menonton Rolls Royce hitam yang menghilang di kegelapan malam, meninggalkan aroma misterius yang membuatnya memusingkan.

Di apartemennya, ia menatap cek yang masih tergenggam di tangannya. Surat ultimatum dari universitas yang tergeletak di mejanya, mengingatkan bahwa waktu hampir habis.

Pernikahan kontrak dengan pria yang bahkan tidak ia kenal. Kedengarannya gila, tapi jumlah uang ini bisa mengubah hidup selamanya.

Saat ia meletakkan cek di meja, tanda lahir di bahunya berdetak lagi, lebih kuat kali ini. Ia mengusapnya dengan bingung, tidak menyadari bahwa di langit malam, bulan purnama mulai mengintip dari balik awan.

Di Ardian Tower, Arka berdiri di depan jendela dengan segelas wine di tangan. Mata berkilau dalam gelap, refleksi bulan purnama yang membuat pupilnya melebar seperti mata serigala.

"Dia akan mengatakan ya," gumamnya pada dirinya sendiri. "Dia tidak punya pilihan."

Tapi di dalam hatinya, ada sesuatu yang lebih dari sekedar keputusan strategi. Gadis itu telah membangkitkan sesuatu dalam dirinya yang telah lama tertidur—sesuatu yang berbahaya dan indah sekaligus.

Ia melihat ke arah bulan purnama yang kini bersinar terang di langit Dubai. Masih lima tahun lagi sebelum kutukan mengambil nyawanya. Lima tahun untuk membuat gadis itu mencintainya dengan tulus, karena cinta sejati adalah satu-satunya yang bisa memecahkan kutukan yang mengikat.

“Medelin,” namanya terdengar seperti doa di bibir.

Sementara itu, di apartemen kecilnya, Medelin terjaga sepanjang malam, menatap cek yang bisa mengubah nasibnya. Ia tidak tahu bahwa keputusan yang akan ia ambil akan membawanya ke dalam dunia yang penuh dengan bahaya, sihir, dan cinta yang akan mengejutkan fondasi semua yang pernah ia percayai.

Bulan purnama bersinar terang di atas Dubai, berakhirnya takdir yang akan menyatukan dua jiwa yang terpisah oleh spesies namun dikelilingi oleh ramalan kuno yang lebih kuat dari segalanya.

Permainan telah dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel