Bab 5
Namun meski disertai dengan bentakan Nyonya Tua Shen, Shen Miao tetap tidak bergerak.
Semua orang memandangnya dengan terkejut. Shen Xin yang sering berada di medan perang jarang di rumah, sehingga Shen Miao dibesarkan di bawah asuhan Nyonya Tua. Nyonya Tua selalu bersikap keras padanya, dan Shen Miao tumbuh dengan kepribadian penurut dan pemalu, tak pernah membantah perintah sang nenek. Tapi hari ini… dia benar-benar tidak berlutut?
Benarkah hanya karena hal yang berkaitan dengan Pangeran Ding, dia bisa memiliki keberanian sebesar ini?
“Nenek, aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kulakukan,” jawab Shen Miao dengan tenang.
“Adik Kelima, apa kau terbakar demam sampai kehilangan akal?” Shen Yue adalah yang pertama angkat suara, wajahnya menunjukkan kekhawatiran, “Nenek hanya sedang marah sesaat, bukan benar-benar ingin menghukummu. Sekarang ini hanya tinggal mengakui kesalahan dan semuanya akan beres, kenapa kau justru makin keras kepala?”
Satu kalimat, tapi langsung menyematkan kesalahan kepada Shen Miao sebagai cucu yang tak tahu diri dan melawan orang tua.
“Kurang ajar! Benar-benar tak tahu tempat!” Nyonya Tua Shen begitu marah hingga duduk tegak, suaranya meninggi dengan nada tajam. Shen Yuanbo yang sedang makan kudapan manis ketakutan dan menjatuhkan makanannya ke lantai, lalu menangis kencang.
“Jangan menangis, Anak Ketujuh,” Ren Wanyun segera menghampiri anak bungsunya dan menggendongnya, lalu menatap Shen Miao dengan pandangan tak setuju penuh teguran, “Anak Kelima, apa kau sudah gila? Siapa yang mengajarkanmu untuk melawan orang tua seperti ini?”
Shen Miao memandangi Ren Wanyun.
Nyonya kedua dari keluarga Shen ini bertubuh subur, mengenakan jubah panjang dari brokat biru kehijauan, wajahnya kemerahan dan tampak sehat, tubuhnya gemuk dan tampak ramah. Biasanya selalu tersenyum, memegang kendali rumah tangga, dan dihormati oleh seluruh penghuni kediaman Shen sebagai sosok menantu yang adil dan bijaksana, benar-benar citra “menantu ideal”.
Shen Miao dulu pun berpikir seperti itu—sampai pada hari pernikahannya. Saat itu, Shen Xin hampir menghabiskan separuh kekayaan keluarga untuk dijadikan mas kawin. Tapi ketika tiba di kediaman Pangeran Ding, mas kawinnya sangat sedikit. Kenapa? Tentu saja karena Ren Wanyun menahan sebagian besar harta itu.
Ren Wanyun menyimpan sendiri barang-barang berharga dari mas kawin, bahkan toko-toko yang seharusnya menjadi milik Shen Miao pun telah berpindah tangan. Karena Shen Xin tidak ada di ibu kota, dan Shen Miao yang polos saat itu hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan dari keluarga Pangeran Ding, mendapat hinaan dari atas hingga bawah. Semua itu berkat “keadilan” dari bibi tersayang ini.
“Apakah menurut Bibi Kedua aku juga bersalah?” tanya Shen Miao dengan suara lembut. “Tapi aku sungguh tidak tahu kesalahan apa yang telah kulakukan.”
“Bodoh!” Nyonya Tua Shen tak bisa menahan diri lagi dan langsung memaki, “Kau masih muda sudah tak tahu malu, diam-diam mengintip Pangeran Ding! Kau telah mencoreng nama baik keluarga Shen! Dan sekarang kau masih berani membantahku? Siapa yang mengajarimu aturan seperti itu? Sungguh tak tahu sopan santun!”
Shen Miao diam-diam menghela napas dalam hati. Nyonya Tua Shen memang selalu membawa diri dengan sikap tinggi dan angkuh, tetapi sekali berbicara, langsung memperlihatkan tabiat lamanya sebagai penyanyi panggung. Perempuan dari keluarga terpandang mana yang akan memaki orang dengan begitu kasar? Benar-benar seperti wanita jalanan rendahan.
Di kehidupan sebelumnya, Shen Miao tak merasa aneh. Namun setelah menjadi permaisuri, saat mengingat kembali semua ini, ia merasa bahwa berbicara dengan Nyonya Tua Shen saja sudah menjatuhkan derajatnya.
“Mengintip Pangeran Ding?” Shen Miao memiringkan kepala, tampak bingung dan bertanya.
Shen Yue akhirnya tak tahan dan angkat suara: “Adik Kelima, kami tahu kau menyukai Pangeran Ding, tapi jatuh ke dalam air karena mengintip beliau sungguh memalukan dan mencoreng nama baik keluarga kita. Lagi pula, pasti Pangeran Ding juga merasa tak senang. Adik Kelima, sebaiknya kau cari kesempatan untuk meminta maaf pada Pangeran Ding.”
Menyukai Pangeran Ding, lalu meminta maaf padanya. Perempuan mana yang rela mempermalukan diri sendiri di hadapan pria yang ia sukai? Di kehidupan sebelumnya, Shen Yue pun mengatakan hal yang sama. Nyonya Tua Shen pun sangat setuju. Shen Miao merasa malu dan menolak keras, tapi akhirnya dihukum kurungan oleh sang nenek karena dianggap membangkang.
Satu kalimat saja cukup untuk menuduhnya sebagai perempuan tak tahu malu yang mencoreng nama baik keluarga karena cinta buta pada Pangeran Ding. Shen Yue tampak lembut dan anggun, namun isi hatinya benar-benar licik. Shen Miao tak bisa menahan diri untuk menatapnya sejenak.
Begitu ucapan Shen Yue selesai, ia melihat Shen Miao menatap ke arahnya. Mata Shen Miao yang hitam seperti buah anggur itu tampak sangat jernih, seolah mengandung makna tertentu, membuat Shen Yue tanpa sadar terpaku sejenak.
Detik berikutnya, terdengar suara tenang Shen Miao, “Kakak kedua, apa maksudnya menyukai Pangeran Ding? Perkataan semacam itu tak bisa diucapkan sembarangan. Kini aku juga sudah gadis yang beranjak dewasa, ucapan seperti itu bisa merusak reputasiku.”
Shen Yue tertegun.
Semua kalangan bangsawan di ibu kota tahu bahwa Shen Miao menyukai Pangeran Ding. Meskipun Shen Miao tak pernah menyatakannya secara langsung, tapi sikap dan tindak-tanduknya sama sekali tak berusaha menyembunyikan hal itu. Mengapa sekarang ia justru menyangkal sekeras ini?
Shen Yue tersenyum dan berkata, “Adik Kelima, di sini semuanya adalah keluarga sendiri, hal seperti ini tidak perlu disembunyikan…”
“Kakak Kedua!”
Baru saja Shen Yue berkata begitu, Shen Miao tiba-tiba memotong dengan suara lantang, tegas berkata,“Kakak Kedua harap hati-hati dalam berbicara. Kata-kata bisa membawa bencana. Pangeran Ding adalah keturunan keluarga kekaisaran, dan kita berasal dari keluarga pejabat berpengaruh. Maka kita harus lebih menjaga ucapan dan tindakan. Dulu aku masih muda dan kurang mengerti, mungkin pernah melakukan hal yang menimbulkan kesalahpahaman. Tapi kejadian tempo hari sudah menjadi pelajaran. Mulai sekarang, aku akan lebih menjaga sikap. Mohon Kakak Kedua jangan berkata demikian lagi.”
Ucapannya membuat semua orang di ruangan, termasuk Nyonya Tua Shen, terkejut.
Shen Miao biasanya bersikap lembut dan pemalu, bahkan jarang sekali berbicara dengan suara keras. Ia selalu penurut dan mudah dikendalikan. Kapan pernah berbicara dengan nada setegas ini?
Cahaya melintas di mata Chen Ruoqiu. Shen Yue masih muda, tentu tak setajam dirinya. Meskipun berasal dari keluarga terpelajar, ia bukan orang bodoh. Selama ini ia juga dikenal sebagai orang yang berprinsip tinggi dan tak suka mengalah. Melihat putrinya ditundukkan, tentu hatinya tidak senang.
Maka ia pun membuka mulut dengan nada lembut, “Urusan suka atau tidak, cukup diucapkan satu kalimat saja, karena siapa pula yang bisa menebak isi hati seorang gadis? Tapi, Anak Kelima tetap harus dengarkan perkataan bibi ketigamu: yang dikatakan Kakak Kedua mu memang benar. Pangeran Ding memiliki status yang tinggi, bagaimana pun juga, kau tetap harus pergi meminta maaf padanya.”
“Benar,” Nyonya Tua Shen juga tersadar dan berkata, “Besok buatkan surat, kirim ke kediaman Pangeran Ding, dan datang sendiri untuk meminta maaf.”
Shen Miao nyaris tertawa karena kesal. Kata-kata ini hanya bisa menipu dirinya yang dulu, yang masih polos dan belum tahu apa-apa. Tapi sekarang? Ia adalah putri sah dari keluarga jenderal militer, dengan status tinggi dan terhormat—mengapa harus ia yang datang meminta maaf ke rumah seorang pangeran kekaisaran? Jika itu benar-benar terjadi, lalu wajah Shen Xin mau ditaruh di mana? Bisa-bisa besok seisi ibu kota punya bahan tertawaan baru.
Ia pun akhirnya benar-benar menyadari, bahwa sang Nyonya Tua sejak awal memang tak suka dengan cabang utama keluarga, anak dari istri pertama, Shen Xin. Dia berharap cabang utama ini selalu malu-maluin, bahkan lebih bagus lagi kalau bisa cepat-cepat runtuh dan hancur. Karena Shen Xin dan istrinya tidak berada di ibu kota, maka Shen Miao-lah yang dijadikan tumbal.
Tapi, dunia mana bisa selalu semudah itu?
Shen Miao tersenyum tipis, dan pandangannya jatuh ke arah Shen Qing yang sejak awal diam tak bersuara. Ia berkata, “Kakak Besar, saat aku jatuh ke air hari itu, hanya kaulah yang ada di sampingku.”
Shen Qing mengangkat kepala, wajahnya tenang dan mengangguk. Ia sudah menduga Shen Miao akan menyebut dirinya sebagai pelaku yang mendorongnya ke dalam air. Tapi ia sama sekali tidak takut. Sekarang yang berkuasa di keluarga adalah sang Nyonya Tua dan Ren Wanyun. Shen Miao meskipun berstatus putri sah, tapi pada kenyataannya hanyalah anak dari cabang utama yang tidak diurus.
Asal bersikeras menyangkal, Nyonya Tua dan Ren Wanyun pasti akan berpihak padanku. Saat itu, Shen Miao akan dianggap berbohong dan pasti akan sangat dibenci oleh Nyonya Tua, bahkan bisa dihukum berat. Memang pantas! Siapa suruh gadis kasar dan bodoh seperti dia berani bersaing denganku memperebutkan Pangeran Ding? Sayang sekali hari itu dia tidak tenggelam sekalian!
“Tapi Kakak Besar, apakah kau juga melihat Pangeran Ding saat itu?” Namun yang ditanyakan Shen Miao ternyata bukan soal itu.
“Lihat,” jawab Shen Qing.
“Kalau begitu, jelaslah sudah. Hari itu, aku dan Kakak Besar sedang bermain di tepi kolam. Karena tidak hati-hati, aku jatuh ke air, lalu kebetulan Pangeran Ding yang lewat di halaman belakang melihat kejadian itu. Dia masuk ke kediaman kita karena hendak meminta lukisan pada Paman Kedua,” ujar Shen Miao sambil menggeleng pelan.“Kalau aku memang berniat mengintip Pangeran Ding, dari mana aku tahu bahwa dia akan datang? Tak mungkin para pelayan Paman Kedua dan Paman Ketiga sengaja menyampaikan kabar ke halaman belakang, bukan? Bagaimana aku bisa tahu bahwa Pangeran Ding akan tiba-tiba datang ke rumah untuk minta lukisan, apa aku peramal? Atau mungkin…” Ucapannya mengulur pelan, “Jangan-jangan Pangeran Ding malah sudah kirim surat resmi ke kediaman kita lebih dulu?”
Shen Qing tidak mengerti apa maksud semua ucapan Shen Miao ini, dan hendak segera membantah—namun belum sempat bicara, ibunya, Ren Wanyun, tiba-tiba memotong dengan suara lantang, “Qing’er!”
Nada suaranya terdengar sangat cemas, sulit disembunyikan.
Shen Miao melirik ke arah Ren Wanyun yang wajahnya pucat dan Chen Ruoqiu yang ekspresinya tiba-tiba menjadi cemas.
Shen Miao sedikit tersenyum. Ia sudah menduga, dengan banyaknya orang pintar di dalam rumah ini, bagaimana mungkin mereka tidak bisa menangkap maksudnya.
Fu Xiuyi datang ke kediaman Shen beberapa hari lalu, kebetulan saat lewat, ia teringat tentang taruhan yang pernah dibuatnya dengan Shen Gui saat bermain catur, dan ingin meminta sebuah lukisan dari Shen Gui.
Sekarang Shen Miao mengatakan tentang surat yang sudah dikirimkan sebelumnya... Saat ini, Kaisar paling membenci jika pejabat dan pangeran terlalu dekat. Jika surat resmi benar-benar dikirimkan, lantas apa yang akan dibicarakan dalam surat tersebut? Rencana untuk calon pewaris takhta masa depan?
Ada ribuan pasang mata di dunia ini, siapa yang tahu apakah di kediaman Shen tidak ada mata-mata dari keluarga kerajaan? Beberapa hal, memang ada kalanya tidak bisa diungkapkan begitu saja.
Dengan satu kalimat, Shen Miao berhasil mengaitkan perbuatan seorang gadis dengan kesetiaan seorang pejabat. Shen Xin yang berada di Barat Laut tentu tidak ada masalah, tetapi di kediaman Shen masih ada Shen Gui dan Shen Wan yang keduanya masih bekerja di pemerintahan.
Pemahaman ini tentu saja tidak dimengerti oleh Shen Yue dan Shen Qing, namun Ren Wanyun dan Chen Ruoqiu pastinya paham betul.
Shen Miao menyeringai dalam hati, jika mereka ingin menginjakkan harga dirinya, ia akan mempertaruhkan nyawa Shen Gui dan Shen Wan. Tidak tahu apakah bibi kedua dan ketiganya itu mengerti, rela, atau berani melakukannya?
