Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 – Konspirasi di Balik Tirai Naga

Lin Yue menarik napas, meneguhkan tekadnya: besok akan menjadi hari yang lebih sulit, tetapi ia siap menghadapi apa pun bersama Kaisar Li Tianhao.

Namun fajar bahkan belum sempat menyentuh langit ketika suara lonceng darurat menggema di seluruh istana.

Dentangannya berat. Panjang. Mendesak.

Lin Yue langsung membuka mata. Ia tidak benar-benar tidur; nalurinya tetap siaga sejak kejadian penyusup tadi malam. Tanpa membuang waktu, ia mengenakan pakaian tempur ringan yang selalu ia siapkan di dekat tempat tidur. Dalam hitungan detik, ia sudah berdiri di lorong, bergerak cepat menuju aula utama.

Para pelayan berlarian. Pengawal elit berbaris dengan wajah tegang.

“Laporan apa?” tanya Lin Yue singkat pada salah satu komandan penjaga.

“Gudang senjata barat terbakar, Nona Lin. Api muncul tiba-tiba. Dan… ada tanda sabotase.”

Sabotase.

Mata Lin Yue menyipit.

Ini bukan kebetulan. Penyusup semalam. Lonceng fajar ini. Semua terlalu terkoordinasi.

Begitu memasuki aula utama, ia melihat Kaisar Li Tianhao sudah berdiri di depan peta kerajaan. Wajahnya tenang, tetapi aura dingin yang memancar darinya berbeda dari biasanya. Ini bukan hanya kemarahan—ini kesiapan perang.

Tatapan mereka bertemu.

Hanya satu detik.

Namun cukup untuk saling memahami.

“Lin Yue,” ucap Kaisar dengan suara rendah, “ini bukan sekadar api. Gudang itu menyimpan persenjataan cadangan untuk provinsi timur. Jika kita kehilangan suplai itu, pemberontak akan bergerak lebih cepat.”

Lin Yue mendekat ke peta. “Api hanyalah pengalih perhatian.”

Kaisar menoleh.

“Mereka ingin memancing pasukan keluar dari istana. Mengosongkan pertahanan dalam. Penyusup semalam mungkin bukan target utama—dia hanya pengintai.”

Keheningan turun sesaat.

Kemudian Kaisar tersenyum tipis. “Pikiranmu selalu selangkah lebih maju.”

“Karena musuh tidak pernah berhenti di satu langkah saja,” jawab Lin Yue tenang.

Kaisar memberi perintah cepat. Setengah pasukan dikirim mengendalikan api. Setengah lainnya tetap menjaga perimeter dalam. Tidak ada yang keluar tanpa izin langsung.

Lin Yue sendiri bergerak menuju gudang barat.

Api sudah hampir padam ketika ia tiba. Asap tipis masih mengepul. Bau kayu terbakar bercampur minyak memenuhi udara. Ia berjongkok, memeriksa lantai yang hangus.

Ada bekas serbuk halus.

Bubuk peledak primitif.

Ia berdiri perlahan.

“Mereka ingin menghancurkan suplai, tapi tidak sepenuhnya,” gumamnya. “Hanya cukup untuk menciptakan kekacauan.”

Langkah kaki mendekat di belakangnya.

Kaisar.

Ia jarang turun langsung ke lokasi seperti ini, tetapi hari ini berbeda.

“Kau menemukan sesuatu?”

Lin Yue mengangguk. “Ini serangan terencana. Dan mereka tahu struktur dalam istana. Orang luar tidak mungkin memahami jalur gudang seakurat ini.”

Artinya jelas.

Ada pengkhianat di dalam.

Tatapan Kaisar mengeras.

Untuk pertama kalinya sejak Lin Yue mengenalnya, ia melihat bukan hanya seorang pemimpin karismatik—tetapi naga yang terluka.

“Aku akan menyelidiki pejabat dalam,” ucap Kaisar pelan.

Lin Yue menatapnya. “Izinkan aku membantu.”

Kaisar terdiam sesaat.

“Kau sudah mempertaruhkan nyawamu cukup banyak.”

“Dan aku akan melakukannya lagi,” jawab Lin Yue tanpa ragu.

Keheningan singkat.

Lalu, tanpa diduga, Kaisar mengangkat tangan dan menyentuh ujung jarinya ke pergelangan tangan Lin Yue. Sentuhan itu ringan, hampir tak terlihat.

Namun bagi Lin Yue, rasanya seperti percikan listrik halus yang menjalar hingga ke dada.

“Aku tidak ingin kehilanganmu,” ucapnya lirih.

Bukan sebagai bawahan.

Bukan sebagai pelindung.

Tapi sebagai seseorang yang berarti.

Untuk sesaat, dunia seolah mengecil hanya menjadi mereka berdua, berdiri di antara asap tipis dan bara yang masih menyala.

Lin Yue menahan napas.

Ia adalah prajurit. Ia terbiasa menghadapi peluru dan ledakan. Namun satu kalimat itu membuat pertahanannya goyah.

“Aku tidak akan kalah semudah itu, Yang Mulia,” jawabnya pelan, tetapi kali ini suaranya lebih lembut.

Hari itu, penyelidikan dimulai secara diam-diam.

Lin Yue menggunakan metode interogasi psikologis modern—mengamati bahasa tubuh, pola napas, gerakan mata. Beberapa pejabat tinggi dipanggil satu per satu dengan alasan audit keamanan.

Dan di antara mereka…

Perdana Menteri Zhao tampak terlalu tenang.

Terlalu sempurna.

“Api adalah musibah yang tidak terduga, Yang Mulia,” ucapnya dengan wajah penuh simpati.

Lin Yue berdiri di samping Kaisar, memperhatikan.

Tidak ada keringat.

Tidak ada perubahan nada.

Namun satu hal kecil—denyut halus di pelipis kiri saat ia menyebut kata musibah.

Ia berbohong.

Tapi belum cukup bukti.

Malam kembali turun.

Lin Yue berdiri di koridor luar ruang kerja Kaisar. Ia tahu permainan ini baru dimulai. Musuh mereka bukan hanya pemberontak bersenjata, tetapi juga pikiran licik yang bergerak di balik tirai kekuasaan.

Pintu ruang kerja terbuka perlahan.

Kaisar keluar, tanpa mahkota, hanya mengenakan jubah sederhana. Tanpa atribut kebesaran, ia terlihat lebih muda… lebih manusiawi.

“Lin Yue.”

“Hm?”

“Kau lelah?”

“Tidak.”

Kaisar tersenyum kecil. “Kau selalu menjawab seperti itu.”

Angin malam berembus pelan. Lentera bergoyang lembut.

“Kau tahu,” lanjut Kaisar, “sebelum kau datang, istana ini terasa seperti sangkar emas. Penuh aturan, penuh kepalsuan.”

Ia menatap langsung ke mata Lin Yue.

“Tapi sekarang… aku merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di sisiku. Bukan karena jabatan. Bukan karena kewajiban.”

Jantung Lin Yue berdegup lebih cepat.

Ia ingin tetap rasional.

Tetap profesional.

Namun dunia ini perlahan mengikis jarak yang ia bangun.

“Kaisar—”

“Li Tianhao,” potongnya pelan.

Ia jarang menggunakan namanya sendiri tanpa gelar.

Hanya pada orang yang ia percayai.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain angin.

“Aku tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan,” lanjutnya. “Tapi satu hal yang pasti… aku ingin kau tetap di sisiku.”

Bukan perintah.

Bukan permintaan kekuasaan.

Tapi keinginan tulus.

Lin Yue menatapnya lama.

Di dunia lamanya, ia tidak pernah punya ruang untuk cinta. Hidupnya adalah misi demi misi. Target demi target.

Namun di dunia ini…

Ada seseorang yang memandangnya bukan sebagai senjata.

Melainkan sebagai wanita.

“Aku akan tetap di sisimu,” jawabnya akhirnya.

Bukan sebagai janji politik.

Tapi sebagai keputusan hati.

Namun di saat yang sama—

Di kediaman pribadi Perdana Menteri Zhao, sebuah lilin dipadamkan perlahan.

“Langkah pertama berhasil,” gumamnya.

Seorang pria berjubah hitam berlutut di hadapannya.

“Bagaimana dengan Lin Yue?” tanya pria itu.

Zhao tersenyum tipis.

“Dia lebih berbahaya dari yang kuduga. Jika perlu… singkirkan dia sebelum Kaisar benar-benar menyerahkan hatinya.”

Malam itu, angin berubah arah.

Dan untuk pertama kalinya, ancaman bukan hanya pada tahta—

Tetapi pada cinta yang baru saja tumbuh.

Babak baru telah dimulai.

Dan Lin Yue belum tahu… bahwa dalam permainan ini, ia bukan hanya bidak—

Melainkan target utama.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel