Bab.6. Siang Dosenku, Malam Pacarku
"Can ... Candy, kok kamu bengong sih?! Lagi mikirin apa?" tegur Yolanda seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah sahabatnya yang sedang larut dalam lamunan.
Dengan sedikit gelagapan gadis berambut panjang yang dicepol di pucuk kepalanya tersebut menjawab, "Ehh ... ohh, aku mesti pulang cepet nih abis ini, Yola, Devi. Si papa ngajakin ke acara pesta koleganya sesama lawyer beken!"
Sedikit kebohongan demi kebaikannya sendiri dilontarkan oleh Candy. Dia ada rencana berkencan makan malam bersama Prof. Joseph Levine beberapa jam lagi.
"Ohh ... gitu, bilang dong kirain ada apa kok kamu jadi kebanyakan bengong, nggak fokus diajakin kami ngobrol!" sahut Devi maklum.
Sesaat kemudian Prof. Joseph justru lewat di dekat meja mereka bertiga lalu menyapa para mahasiswinya ramah, "Asyik bener kalian ngobrolnya. Semangat kuliah ya, Adik-adik!"
Yolanda yang ngefans berat kepada Prof. Joseph segera bangkit dari kursinya dan menjawab, "Pasti dong semangat, Prof!"
Namun, Josh justru melirik singkat ke arah Candy lalu berkata, "Duluan ya, Adik-adik!"
Wajah Candy merona karena bersitatap dengan Josh selama beberapa detik lalu menunduk mengaduk-aduk gado-gado di piringnya. Sepasang mata biru milik Josh memang sangat indah mempesona dan sanggup membuat jantungnya berdetak tak tentu.
Tatapan mata Yolanda mengikuti sosok beberapa dosennya yang meninggalkan kantin kampus. Kemudian dia duduk kembali di bangku seberang Candy. "Ternyata Prof. Josh itu ramah ya? Aku naksir dia deh!" ucap Yolanda yang sontak membuat Candy tersedak lalu terbatuk-batuk hebat.
"Minum dulu, Can!" Devi mengangsurkan gelas milik Candy.
Sementara Yolanda menatap sahabatnya dengan penuh curiga. "Kamu kenapa, Candy? Nggak naksir sama Prof. Joseph juga 'kan?" cecarnya.
"Nggak deh, ngapain pula aku naksir dosen killer kayak dia. Udah ya, Guys, aku pulang duluan ntar keburu kesorean!" balas Candy sekaligus berpamitan. Dia mencangklong tas ranselnya di bahu kanan sembari tersenyum tipis ke dua sahabatnya sebelum melenggang pergi.
Pengawal pribadi Candy membukakan pintu mobil berjenis Alphard warna putih lalu duduk di kursi samping sopir. "Kita ke mana, Nona Candy?" tanya Paul singkat saja.
"Pulang ke rumah, Paul. Aku nanti ada janji pergi bersama temanku pukul tujuh malam, sendiri saja. Kamu tak perlu menemaniku!" jawab Candy sekalian memberi tahu pengawal pribadinya.
"Baik, Nona Candy!" sahut Paul tanpa banyak tanya. Namun, dia tetap harus mengikuti putri bosnya diam-diam seperti biasanya meskipun tidak akan ikut campur dengan urusan Candy bersama teman kencannya nanti.
Papa dan mama Candy sama-sama berprofesi di bidang hukum, sang papa berprofesi sebagai lawyer, sementara mamanya adalah seorang notaris di bawah firma hukum yang sama. Mereka pasangan yang workaholic sehingga jarang berada di rumah. Bahkan, sejak dua hari lalu Pak Hans Sebastian Wijaya dan Bu Wynona Arlina Wijaya sedang menangani urusan klien mereka di Bali mengenai pembebasan tanah warisan sengketa.
Sesampainya di rumah, Candy langsung bergegas menapaki anak tangga kayu melingkar menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada. Di lorong depan kamar kakak perempuannya, dia mendengar jelas suara janggal desahan wanita.
"Ckk ... dasar Kak Kelly, dia giliran papa mama pergi ke luar kota jadi liar begini!" lirih Candy sembari menggeleng-gelengkan kepala tak setuju.
Kamar mereka bersebelahan persis, untungnya tembok pembatas keduanya cukup tebal untuk meredam suara berisik pergumulan panas sang kakak perempuan bersama pasangannya entah siapa. Meskipun Candy dan Kelly kakak beradik kandung, tetapi sifat kedua perempuan muda itu jauh berbeda. Kelly di usia tujuh belas tahun sudah lepas segel dengan teman sekelasnya yang dipacarinya sekalipun berakhir kandas.
Di kamar sebelah Candy, kakak semata wayangnya itu sedang menggeliat penuh napsu di bawah tindihan klien yang tajir melintir. Sudah menjadi rahasia umum di kantor bahwa putri sulung Pak Hans sering terlibat affair dengan klien yang berparas tampan dan masih terbilang muda.
"Fee kamu sudah kutransfer plus bonus tadi siang ya, Sayang!" ujar Yoga Reksatama sembari memilin-milin pucuk merah kecoklatan lawyer favoritnya itu. Bibirnya mengecupi bulatan kembar berkulit mulus nan putih milik Kelly.
"Ough ... makasih, Mas Yoga. Kapan-kapan kalau ada kasus lagi yang bisa kubantuin, kontak aja ... okehh?" Suara Kelly yang serak-serak basah menanggapi sentuhan intim kliennya yang tajir melintir tersebut. Mereka sama-sama tahu batasan karena Yoga sudah punya anak istri, jadi hubungan affair itu sepenuhnya rahasia dan tanpa ikatan, sekadar hiburan semata.
Sekitar pukul 18.00 WIB, Candy sengaja dijemput oleh Josh lebih awal. Mereka tak ingin kencan candle light dinner terlalu malam lantaran terjebak kemacetan lalu lintas. Gadis itu menunggu teman kencan rahasianya di teras depan rumah. Tak lama sebuah sedan Honda Civic warna hitam berhenti tepat di depan Candy. Pengemudinya turun menjemput seraya bertanya, "Apa papa mama kamu ada di rumah?"
Candy menggelengkan kepalanya. "Papa dan mama lagi di Bali sejak dua hari yang lalu. Ada kerjaan di sana. Yuk langsung berangkat saja, Josh!" jawab gadis itu lalu menggandeng lekuk lengan dosennya.
Josh membukakan pintu mobil di sisi penumpang samping pengemudi. Dia memang tak pernah memakai sopir ke mana pun dengan alasan lebih bebas dan hemat.
Mobil itu meluncur meninggalkan kediaman Wijaya yang megah berpagar tinggi. Di dalam perjalanan, Joseph berkata, "Percaya nggak kalau dulu aku pernah mau direkrut jadi lawyer di firma Grup Wijaya sama papamu?"
"Hmm ... kok nggak diterima tawaran papaku, Josh? Setahuku gaji di sana besar lho, kliennya pun bukan orang sembarangan, kaum jetset, crazy rich, pejabat, dan semacamnya sih!" sahut Candy penasaran.
"Aku nggak suka terkekang karena harus tunduk pada bos seperti papamu ketika harus membela perkara orang yang miskin. Apa kamu tahu kalau ada lawyer lebih suka membela secara pro bono?" ujar Joseph sambil sesekali melirik Candy yang duduk di samping kirinya.
"Membela tanpa dibayar? Wow, keren kalau kamu mau bekerja sukarela demi membela kebenaran dan keadilan, Josh. Ternyata selain wajahmu tampan, hatimu juga baik!" puji Candy.
"Terima kasih untuk sanjungannya, Pacar Baruku!" tukas Josh seraya terkekeh.
Mereka pun sampai di restoran yang telah direservasi oleh Joseph, sebuah fine dining restoran bergaya klasik Victoria dengan penataan interior dominan warna putih.
"Yuk kita turun, Candy. Ini restoran milik temanku, masakan chefnya lezat, kamu dijamin pasti suka, Beibeh!" ajak Josh lalu dia turun menjemput Candy di sisi lain mobilnya.
Gadis itu tersenyum manis sambil melingkarkan tangan di lengan Joseph. Mereka melangkah berdampingan memasuki restoran. Seorang waitress berseragam merah maroon dan rok hitam selutut menyambut kedatangan pasangan itu lalu mencarikan meja yang telah direservasi oleh Josh tadi siang.
Hanya dua kursi yang saling berhadapan di sebuah meja persegi. Sebuah lilin bercahaya dan hiasan bunga mawar merah segar terletak di tengah meja.
Candy mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berkomentar, "Suasana di sini romantis deh, cucok buat ngedate ya!"
"Iya, benar makanya aku ajakin kamu malam ini ke mari. Btw, nanti sehabis dinner, ikut ke apartemenku sebentar ya?" ujar Josh yang sontak membuat Candy tertegun karena tak menduga ajakan dosennya.
