Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab.5. Kencan Pertama Pacar Rahasia

"Ayo ... tunggu apa lagi?!" seru Profesor Joseph Levine ke Candy yang masih duduk terdiam di pangkuannya.

"Saya mau pakai baju dulu, Prof. Nanti masuk angin bugil-bugil di ruang ber-AC!" sahut Candy seraya beringsut mencari bra serta kemejanya di lantai bawah meja dosen.

Di luar dugaan, Joseph membuka sabuk dan resleting celana panjangnya. Dia mulai mengeluarkan bagian kebanggaannya sebagai kaum Adam di hadapan Candy yang sedang berjongkok.

"Ehm ... coba lihat ini, Cantik!" ucap Josh berdehem meminta perhatian Candy.

Gadis yang sedang merangkak di lantai sembari mencoba meraih tali bra miliknya dekat kaki meja itu mendongak dan sontak terkesiap menutup mulutnya dengan telapak tangan. Kepalanya nyaris terantuk bagian bawah meja jika tidak ditahan oleh telapak tangan Joseph.

"Ckk ... hati-hati, hampir aja kepala kamu benjol!" tegur Joseph, dia pun melanjutkan, "jadi gimana nih? Suka nggak sama yang gede begini?"

Candy memelototi perangkat keras dosennya yang dalam kondisi siap tempur itu dan menelan kasar air liurnya. Ada rasa penasaran seperti apa kalau dia menyentuhnya.

"Kok diam?" desak Joseph tak sabar melihat tingkah Candy yang malah mematung di bawah meja kerjanya.

"Emhh ... punya Prof. Joseph terlalu besar, saya takut mual!" kilah Candy dengan wajah merona karena membayangkan yang tidak-tidak.

"Kamu keluar dulu deh jangan di bawah meja nanti kepentok kepalamu, Candy!" perintah Josh. Dia sulit menahan napsu ketika melihat buah dada ranum mahasiswinya yang tergantung bebas tanpa penutup.

Candy pun merangkak dari bawah meja dosen lalu mengenakan kembali bra miliknya dalam posisi masih bersimpuh di lantai. Tanpa diduga tangan Joseph membantu memasangkan kait bra di bagian punggungnya. Kemudian tengkuknya dikecup lembut oleh bibir pria itu hingga bulu romanya meremang karena terkejut.

"Jadi pacarku ya, Cantik? Syarat kamu yang tadi akan kupenuhi. Hanya menjaga keperawanan, itu mudah. Kita bisa bermesraan dengan banyak cara kok!" ujar Joseph seraya membalik badan Candy dan membantu mengenakan lagi kemeja gadis tersebut.

Ketika jemari panjang nan kokoh itu memasangkan kancing kecil kemeja sutranya satu per satu, Candy memperhatikan raut wajah tampan dosen blasteran yang bermata biru itu. Dari jarak dekat sungguh menawan hati, pesona Prof. Joseph nggak kaleng-kaleng. "Ya, aku mau jadi pacar kamu, Prof!" ucapnya spontan.

"Good girl! Kalau kita berdua gini, panggil aku Josh aja biar nggak terdengar kaku. Sebagai tanda jadi, kita rayakan dengan sebuah kencan romantic dinner ya?" balas Joseph lalu membantu Candy berdiri.

'Lho, udah nggak pamer benda keramat lagi si emprof? Kapan betulin celana ya, cepet banget!' batin Candy sedikit menyesal karena kurang lama melihat batang panjang berurat milik Josh yang membuatnya penasaran.

"Ehm ... kamu ini suka melamun ya, kenapa sih? Pertanyaanku tadi belum dijawab juga!" tegur Josh gemas.

Candy pun segera menjawab sambil salah tingkah. "Iya, Prof—"

"Hmm ... kan sudah kubilang kalau hanya berdua panggil aku dengan nama saja!" potong Josh lalu memerangkap Candy di tembok ruang kerjanya.

Kepala gadis itu terdongak dengan wajah terkejut, dia gelagapan saat bibirnya dipagut rakus penuh hasrat oleh Josh sekali lagi. Tak ada yang dapat dilakukan oleh Candy selain menyerah pasrah dalam dekapan Josh.

Joseph mengelap bibirnya dengan tissu di meja kerjanya karena kuatir lipstick Candy menempel dan membuat penampilannya jadi aneh. "Aku suka menciummu, Beibeh. Bibir kamu nikmat!" ucapnya dengan tatapan buas.

"P–Prof ... Josh, aku harus pergi sekarang. Ada kuliah Undang-undang dan Peraturan Pemerintah jam sebelas. Nanti telat masuk kelas!" jawab Candy segera mengalihkan pembicaraan mereka. Makin gila dia bila terlalu lama seruangan dengan dosen tampan dan hot itu.

Pria bermata biru tersebut tersenyum miring lalu mengusap bibir bawah Candy yang lembab. "Kamu nggak bohong 'kan?" ujarnya.

"Sueer, Prof ... ehh Josh. Udah dulu ya!" sahut Candy.

Akhirnya, Josh meremas bokong Candy lalu menepuknya pelan. "Jangan lupa kencan kita nanti malam. Kujemput di rumahmu, kirim share loc ke nomor HP-ku. Catat dulu nomorku lalu telepon sekarang!"

Karena tak ada alasan untuk tak bertukar nomor telepon, Candy pun mengambil ponsel miliknya di tas ransel lalu memasukkan nomor yang didikte oleh Josh. Handphone di meja Josh berdering dan pria itu segera melihat nomor yang masuk. "Okay, akan kusimpan nomor kontak kamu, Sayang. Ya sudah, sana kuliah dulu daripada nggak lulus dapat nilai jelek!" ujar Josh seraya membukakan pintu ruang kantornya.

"Permisi, Prof!" pamit Candy cepat-cepat lalu berlari-lari kecil menuju ke lift.

"BRUKK!"

Karena terburu-buru Candy bertabrakan dengan kakak seniornya di kampus. Pemuda itu idola para adik kelas dan nyaris semua gadis di Fakultas Hukum Universitas Dharmapala Buana.

"Hati-hati dong, Dek!" tukas Alex Versailes. Dia masih ada keturunan darah Perancis dari nenek buyutnya jadi memang menarik penampilannya.

"Maaf, Kak Alex. Aku hampir telat masuk kelas nih!" sahut Candy lalu masuk lift dan menekan tombol lantai dua.

Jantungnya masih berdetak kencang pasca bertemu Prof. Joseph Levine yang ternyata agresif. Memori mereka berduaan di ruang dosen benar-benar membuat pikiran Candy berkabut. Dia pun memukul-mukul jidat dengan kepalan tangannya. "Wake up, Candy. Fokus yuk ... bisa!" gumamnya dalam lift sendirian.

"TING." Pintu lift terbuka dan memperlihatkan mahasiswa-mahasiswi yang sedang menunggu kuliah selanjutnya di koridor ruang kelas.

Yolanda dan Devi bergegas menyambut sahabat mereka yang baru muncul setelah begitu lama menemui dosen killer legendaris di kampus mereka.

"Gimana tadi, Candy? Prof. Josh bilang apa?" tanya Devi penasaran.

Sedikit ragu-ragu antara menjawab jujur atau berbohong saja ke sahabat-sahabatnya. Namun, Candy merasa kesepakatan dengan dosennya itu hal yang sensitif dan berpotensi menjadi gosip tak sedap. Dia harus menyimpan rahasia ini sendiri saja.

"Diomelin aja sih sama si dosen galak. Yaa ... aku dengerin, meskipun bosen dan bertele-tele!" jawab Candy seraya tersenyum kecut, melangkah bertiga menuju ruang kelas 2-C.

Yolanda menyeletuk, "Ckk ... kalau aku sih bawa asyik aja, sekalian cuci mata ngadepin cowok seganteng beliau!"

"Idiiih, Yola ... jangan-jangan kamu naksir ya sama Prof. Joseph?" sahut Candy. Dia merasa lega tidak bercerita jujur tentang kesibukannya di kantor dosen killer tersebut.

"Hey, kalau yang naksir Prof. Joseph mah banyak. Aku cuma kagum aja sama dia, udah ganteng, pinter, dan kabarnya dia juga aktif jadi pengacara lho selain mengajar. Keren nggak tuh?!" celoteh Yolanda dengan semangat berapi-api.

Mendengar betapa sempurna pria agresif yang nampaknya mulai terobsesi kepadanya itu dari Yolanda. Rasa penasaran Candy mulai bangkit, dia pun senyum-senyum sendiri.

'Hmm ... kalau Josh sudah janji untuk tetap jaga keperawananku, seliar apa pun tingkahnya, bakal aku jabanin. Permainan ini akan makin menarik saja sepertinya!' batin Candy dengan antusias.

Tak lama kemudian dosen wanita yang tua dan kolot masuk ke kelas mereka. Semua mahasiswa menyimak kuliah siang yang diberikan Profesor Arimbi Kinasih dengan terkantuk-kantuk. Istirahat makan siang terpaksa mereka lewatkan hingga pukul 13.30 karena kelas baru berakhir jam segitu.

Ketiga sahabat itu berjalan bersama menuju ke kantin kampus karena perut mereka keroncongan. Mereka memesan menu berbeda kesukaan masing-masing lalu membawa nampan menu mencari meja kosong.

Tanpa disengaja, tatapan mata Candy bertemu dengan Profesor Joseph Levine yang sudah duduk bersama dua dosen pria di meja pojok kantin. Memang pacar rahasianya itu sudah mengamatinya sejak Candy memasuki kantin kampus.

"Ehh ... ada emprof ganteng, kita duduk di meja sebelahnya yang kosong aja yuk!" ajak Yolanda.

Devi memutar bola mata dan berkomentar, "Mulai deh ganjennya si Yola!"

Sementara Candy tertawa kering menanggapi kedua sahabatnya. 'Duh, gawat ... siapa yang diincer Prof. Joseph jangan sampai Yola dan Devi tahu deh!' batinnya.

Sengaja Candy duduk membelakangi pria itu agar tidak makin grogi dan jadi salah tingkah. Mereka berada di ruang publik, banyak pasang mata akan memperhatikan gerak gerik yang tak wajar di antara keduanya.

Saat menikmati gado-gado telor, menu makan siangnya, ponsel Candy berbunyi notifikasi pesan masuk. Dia memeriksanya dan membaca id Cowok Gelo, itu nama pemberiannya untuk kontak Josh.

'Hai Cantik, met makan siang ya. Jangan lupa kencan kita nanti malam!' Isi pesan dari Josh yang membuat jantungnya berdetak kencang sambil melirik tegang ke arah Yolanda.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel